
Malam berlalu dan hati berganti, Zhou Fan setelah melihat matahari mulai menampakkan diri langsung keluar kediaman.
Selama di kediaman, Zhou Fan sama sekali tidak istirahat, dia terus memperdalam pemahamannya tentang formasi.
Pada saat ini, pemuda itu yakin dapat membuat sebuah formasi seukuran arena pertarungan. Namun kekuatan formasi itu belum bisa dikatakan sempurna, bahkan masih sangat jauh dari kata sempurna.
Di halaman sudah ada Yin Cun, Wu Zetian bersama dengan Miao Ling. Tidak ada Wei Guanlin, membuat mata Zhou Fan sedikit berkedut.
"Senior, di mana Lin'er?" Zhou Fan menatap Miao Ling. Wanita itu adalah kakak seperguruan Wei Guanlin, tidak mungkin kan jika tidak tahu.
Namun jawaban yang dikeluarkan membuat Zhou Fan menghela nafas. Hanya angkatan bahu, Miao Ling bahkan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Mungkin dia ada suatu urusan.
Zhou Fan tidak terlalu memikirkannya, dia hadis fokus terhadap pertandingan selanjutnya. Meski tidak berambisi menempati posisi pertama, siapa yang menolak jika mendapatkannya.
Zhou Fan bukan orang munafik, dia juga menginginkan posisi pertama. Namun pemuda itu lebih menerima apa yang dia capai, bebannya seolah telah hilang, karena misi sebenarnya hanya mendapatkan token murid dalam.
Mereka menuju altar pertandingan di arena murid dalam. Tak sengaja Zhou Fan melihat Wei Guanlin sudah berada di sana, tanpa menunggu lagi dia langsung menghampirinya.
__ADS_1
Belum juga Zhou Fan mendekat, Wei Guanlin melangkah pergi. Dia seolah menyadari kedatangan Zhou Fan, tetapi bersikap seolah tidak tahu.
Zhou Fan yang sempat berhenti kembali mendekat, tapi lagi lagi Wei Guanlin melangkah.
"Apa yang terjadi kepadanya." Zhou Fan membatin dengan nada mengeluh, dia tidak lagi mengikuti istrinya, kerena pertarungan akan segera di mulai dan peserta tiga besar harus berkumpul.
Sama seperti sebelumnya, Zhou Fan menaiki arena dan berdiri berdampingan dengan dua orang lainnya.
Sementara itu di bawah arena, Wei Guanlin memandang acuh tak acuh. Dia masih kesal karena memikirkan alasan kenapa Zhou Fan tidak datang menemuinya, dan ditambah Zhou Fan tidak mencoba menjelaskan, membuat kekesalan semakin menjalar.
Aneh, wanita memang aneh. Bukankah dia sendiri yang menghindar, kenapa selalu menyalahkan seorang pria.
Wei Guanlin melirik sekilas, kemudian memalingkan pandangan kembali ke depan.
"Jangan terlalu keras, kau akan menyesal ketika dia tidak lagi peduli."
Wei Guanlin masih bergeming di tempatnya, tapi dia mendengar apa yang dikatakan kakak seperguruannya.
"Pikirkan baik baik, aku tidak akan mengganggu." Miao Ling melangkah pergi kembali ke tempat Yin Cun dan Wu Zetian.
__ADS_1
Wei Guanlin masih memikirkan perkataan kakak seperguruannya. Sementara itu Zhou Fan maju pertama, dia akan melawan Te Sha-murid luar peringkat dua.
Yung Lao akan menunggu siapa yang kalah, dan langsung menantangnya untuk bertarung.
Te Sha adalah seorang pria berumur tiga puluhan tahun, rambut botak dengan pakaian laksana biksu senantiasa menjadi ciri khasnya.
Dia tidak membawa senjata, karena senjatanya adalah kedua tangan dengan sarung tangan kulit baja.
Zhou Fan mengeluarkan pedang darah malam, dia merasa kekuatan lawan sekarang sungguh tidak bisa dipandang remeh. Jika membandingkan dengan peringkat pertama, Te Sha ini juga tidak kalah dalam segi kultivasi.
Zhou Fan mungkin di bawah Te Sha, tapi dia tidak percaya akan kalah dengan mudah, dia akan berusaha untuk menang, mengimbangi setiap gerakan yang lawannya keluarkan.
"Kalian siap?"
Zhou Fan mengangguk, Te Sha pun demikian.
Karena mendapati kesiapan dalam diri kedua peserta, wasit itu memulai pertarungan. Namun kedua murid luar itu tidak kunjung menyerang.
"Aku mengagumimu, aku akan mengeluarkan semuanya sejak awal." Te Sha merapalkan sebuah gerakan, bersamaan dengan itu tubuhnya bersinar kekuningan.
__ADS_1
Zhou Fan mengerutkan kening, dia menatap lawan di hadapannya. "Aura yang kuat."