Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 67 : Turnamen Kota... 10 (Melawan Shui Hen)


__ADS_3

"Hei kuda hitam, kau nanti akan melawan siapa?" Seorang pemuda di sampingnya yang mengenali Zhou Fan bertanya dengan menetap lekat wajah Zhou Fan.


Zhou Fan melirik sejenak pemuda di sampingnya, lalu menjawab dengan singkat padat dan jelas.


"Shui Hen!" Jawab Zhou Fan dengan acuh.


Dalam babak empat besar turnamen kota batu hitam, penentuan lawannya tidak seperti sebelumnya yang diundi. Beberapa juri yang berasal dari perwakilan kediaman tuan kota akan memilih siapa yang akan bertanding.


"Owh... kau harus menjaga jarak darinya saat bertarung nanti, dari pengamatan ku, si Shui Hen itu selalu menjaga jaraknya supaya tidak terlalu jauh dari lawannya," Ucap pemuda yang kebetulan duduk di samping Zhou Fan itu dengan bersemangat.


"Heem..." Zhou Fan sudah mengetahui hal itu, Shui hen yang merupakan seorang petarung tangan kosong tentu memiliki jangkauan serangan yang terbatas.


Beberapa saat kemudian...


Zhou Fan sudah di atas arena, dan di hadapannya terlihat seorang pemuda yang berdiri dengan kepercayaan diri yang tinggi. Yang tidak lain adalah Shui Hen.


Keduanya tengah bersiap untuk memulai pertarungannya, Zhou Fan sudah mengeluarkan pedangnya dan menggenggam erat pedang tersebut.


Sementara itu, Shui Hen yang menggunakan pakaian lengan panjang, menggulung lengan bajunya sampai ke atas siku dan terlihatlah sarung tangan baja yang terlihat sangat mengkilap.


Zhou fan tidak mau meremehkan musuhnya meskipun ia dapat dengan mudah mengalahkannya, ia akan bertanding dengan serius meskipun tidak mengeluarkan seluruh kemampuannya.


"Ku akui, kau lebih kuat dariku, tapi jangan anggap aku enteng!" Ucap Shui Hen.


Meskipun merasa sedikit tidak nyaman, mengakui pemuda di hadapannya lebih kuat darinya, ia tidak dapat mengelak dari kenyataan.


Ia tidak akan sanggup merobohkan lawan yang berada di tingkat petarung mahir tanpa menyentuhnya, tapi pemuda dihadapannya itu dapat melakukannya.


"Tidak akan aku lakukan, beberapa pertandingan awal aku memang sedikit terlalu terbawa suasana, tapi kali ini aku akan melawanmu dengan sungguh sungguh," Ucap Zhou Fan.


Zhou Fan mengakui bahwa dia telah meremehkan lawannya pada pertandingan awal, tapi sekarang ia telah menyadari kesalahannya.


Meskipun telah menjadi yang terkuat, itupun hanya di wilayah kota batu hitam saja.


Dunia ini masih luas, jika dia tidak bisa rendah hati, tentu dia akan mudah kehilangan arah, Zhou Fan tidak menginginkannya.


Semakin padi berisi semakin dia menunduk, akan bertindak jika di ganggu, membunuh jika perlu, pikir Zhou Fan.

__ADS_1


Shui Hen tersenyum, entah mengapa ia merasa senang mendengar Zhou Fan akan melawannya dengan serius.


"Mari kita mulai!" Shui Hen melesat cepat kearah Zhou Fan sambil mengayunkan tangannya.


Perbedaan kultivasi memang sangatlah berpengaruh, gerakan Shui hen yang menurut pemuda itu sudah sangat cepat, terasa masih lambat di pandangan Zhou Fan.


Dengan santai Zhou Fan mengarahkan pedangnya berusaha menghadang serangan Shui Hen.


Blaarrr....


Suara ledakan menggema di arena, Zhou Fan tidak menduga lawannya itu akan menggunakan peledak di sarung tangannya, meskipun tidak melukainya, ia terpental beberapa langkah.


"Haha... kau sangat cerdik, kau menggunakan serangan sebagai pengalihan dan mengunakan tangan lainnya yang membawa peledak untuk menyerangku," Ucap Zhou Fan.


Semua orang menatap Zhou Fan dengan tatapan penuh tanya, bukannya terlihat marah ataupun kesal setelah terkena serangan, ia malah tertawa nyaring.


Aneh, pikir semua orang.


"Hehe, aku juga tidak menduga, kau masih terlihat baik baik saja setelah terkena ledakan itu." Shui Hen tertawa kecut.


Melihat senjata rahasia yang ia anggap sebagai penentu kemenangan tidak bisa melukai Zhou Fan, ia tidak lagi mempunyai kesempatan untuk menang.


Jika di tanya apakah ia ingin memprovokasi Zhou fan, tentu dia akan menggeleng dengan cepat, setelah melihat kekuatan Zhou Fan, ia tersadar betapa luasnya dunia, di dalam hati terdalamnya ia sangat berterimakasih kepada pemuda yang sekarang menjadi lawannya.


Shui hen kembali bersiap dengan memasang kuda kudanya, begitupula dengan Zhou Fan yang terlihat bersiap menerjang lawannya.


dalam hitungan detik, mereka berdua melesat secara bersamaan.


Klank.... trang.... Tring....


Semua teknik tangan kosong yang Shui Hen kuasai sudah ia keluarkan, dia sempat berpikir akankah dia dapat mendesak Zhou Fan, tapi melihat apa yang terjadi sekarang, bahkan ujung pakaian Zhou Fan pun tidak dapat ia raih.


Dengan tenaga dalamnya yang ia miliki Shui Hen mencoba memberikan beberapa serangan, tapi seberapa sering ia mencoba, serangannya itu selalu tertahan oleh pedang Zhou Fan yang memang sudah dilapisi orleh tenaga dalamnya.


Menyalurkan tenaga dalam ke sebuah senjata tidaklah mudah dilakukan, membutuhkan pemahaman yang sangat tinggi untuk bisa menguasainya.


Jangan tanya lagi dari mana Zhou Fan mempelajarinya, tentu ia belajar dari Kitab Emperor.

__ADS_1


Mereka masih terus beradu jurus dan teknik, Shui Hen sudah mengeluarkan jurus andalannya sedangkan Zhou Fan masih tetap konsisten dengan teknik dewa pedangnya.


Melihat sebuah celah, Zhou Fan melompat maju dan mendaratkan pukulan tepat di perut lawannya.


Dugh...


Shui Hen yang tidak bisa bereaksi cepat harus terkena pukulan telapak tangan Zhou Fan, pemuda itu terpental beberapa meter dan hampir keluar.


"Tidak aku sangka, kekuatannya berjarak sangat jauh dariku." Shui Hen kembali berdiri dan menatap pemuda di hadapannya.


Semua orang kini sadar, siapa jenius sesungguhnya.


"Kakak Fan sangat kuat! andai a..." Zhou Yin menepuk nepuk wajahnya.


Gadis itu berandai andai jika hubungannya dengan Zhou Fan tidak merenggang, tapi ia menyadari hal tersebut tidaklah mungkin.


Meskipun telah mendapatkan luka yang bisa dibilang cukup parah, Shui Hen tidak berniat untuk menyerah, menurutnya bertarung dengan pemuda seperti Zhou Fan merupakan suatu yang langka, ia tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang telah ia dapatkan.


Mereka kembali bertarung, lagi lagi seseorang dari mereka terpental, sedangkan satunya masih tetap berdiri tegak di tengah tengah arena.


Melihat Shui hen kembali berdiri, Zhou Fan bersiap untuk memberikan serangannya lagi.


"Tidak, tidak, sudah cukup!" ucap Shui hen lemah saat melihat pemuda dihadapannya itu akan melesatkan serangan kepadanya.


"Kau sungguh memiliki tekad yang kuat," Puji Zhou Fan tulus kepada Shui Hen.


"Mendapat pujian seperti itu membuatku sedikit terhibur, setidaknya aku dikalahkan oleh pemuda yang akan menjadi juara, tidak! pemuda yang akan menjadi legenda." Shui Hen mengatakannya dengan tulus.


Di tempat duduk para patriark klan besar...


"Aku belum pernah melihat Shui Hen menundukkan kepala selain berhadapan dengan ku dan para tetua klan Shui," Ucap Patriark Shui sambil melirik ke arah Patriark Zhou.


Kekagumannya terhadap Zhou Fan pun bertambah, tidak hanya seorang jenius pedang, tetapi kultivasinya juga tidak bisa dianggap remah.


Pantas saja murid langsungnya itu bersedia mengakui kekalahannya, bahkan ia terlihat masih tersenyum setelah mengakui kekalahannya.


"Patriark Zhou aku tidak tahu apa yang terjadi dengan penglihatan kalian, Klan Zhou. Pemuda sejenius itu, tidak kau perhatikan." Patriark Ling menyindir Zhou Fei.

__ADS_1


Zhou Fei mendengus, lalu memberikan ucapan yang monohok.


"Huh, urusan Klan Zhou tidak ada hubungannya dengan klan lain."


__ADS_2