Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 124 : Hadiah Untuk Lin'er


__ADS_3

Setelah berjam jam mengolah tanaman herbal menjadi pill, Zhou Fan akhirnya selesai.


Meskipun terdapat beberapa pill yang tidak jadi, setidaknya terdapat 5 pill kultivasi tingkat enam yang terbentuk dengan sempurna.


Seharusnya, setiap rumput jendral dapat menghasilkan sebuah pill kultivasi tingkat enam. Namun dikarenakan Zhou Fan yang merupakan percobaan pertamanya dia hanya bisa membuat lima butir pill kultivasi tingkat enam dari sepuluh rumput jendral.


Untuk ukuran seorang yang beruntung pertama kali itu sungguh hasil yang sangat menakjubkan, tapi Zhou Fan masih terlihat sedih karena telah menyia-nyiakan tanaman herbal yang dua dapatkan dengan susah payah.


"Lin'er!"


Zhou Fan berdiri dan duduk di samping Wei Guanlin.


"Huh!" Wei Guanlin memalingakn wajahnya. "Kau mengatakan akan memberimu hadiah, tapi kau ... "


Wei Guanlin sungguh malu untuk mengatakannya.


"Hehe... Bukankah kau juga menikmatinya?" tanya Zhou Fan dengan kerlingan menggoda.


"Bisakah kau tidak membahasnya! Kau itu benar benar cabul." Wei Guanlin mengatakannya dengan wajah cemberut.


"Hem." Zhou Fan menyerahkan dua pill kultivasi tingkat keenam kepada Wei Guanlin.


Wei Guanlin mengernyitkan dahinya, lalu manatap Zhou Fan bingung.


"Ini adalah hadiah yang kau maksud?" Wei Guanlin sungguh tak percaya.


Zhou Fan mengangguk yakin, "Kenapa?"


"Meskipun aku tahu ini adalah barang berharga, tapi aku tak tertarik dengan pill." Wei Guanlin berkata dengan nada kecewa.


Zhou Fan menghela nafas, kemudian bertanya apa yang gadis itu mau.


"Sekarang apa yang bisa membuatmu tertarik?"


Wei Guanlin menggsok dagu mulusnya, layaknya orang yang sedang dalam pilihan hidup mati.


"Emm... Bagaimana kalau kau tunjukkan aku sebuah teknik pedang yang cocok untukku," seru Wei Guanlin dengan semangat.


Zhou Fan baru teringat akan teknik yang memang sudah ia persiapkan untuk Wei Guanlin.


"Baiklah! tapi kita sebaiknya ke tempat yang sedikit luas juga sepi," saran Zhou Fan.


.


.


.


"Kau harus mengingatnya dengan jelas, aku akan melakukannya dengan perlahan."


Zhou Fan mulai memperagakan gerakan teknik pedang yang dia maksud.


Setelah beberapa saat kemudian Zhou Fan kembali dan mendekati Wei Guanlin yang masih terlihat serius.


"Apakah kau sudah memahaminya?" tanya Zhou Fan.

__ADS_1


"Kau terlalu cepat, aku tak bisa mengikutinya." Wei Guanlin menggeleng, dan menyalahkan semuanya kepada Zhou Fan.


"Haih.. " Zhou Fan menghela nafas pasrah.


Zhou Fan kembali berniat mengulang gerakannya di hadapan Wei Guanlin.


"Lin'er, kau harus memerhatikannya dengan cermat," pesan Zhou fan.


"Ya iya... Kau ini sangat cerewet, aku kan juga berusaha," balas Wei Guanlin tak terima.


Sekali lagi Zhou Fan hanya bisa menghela nafasnya panjang panjang.


"Kenapa dia yang marah!"


***


Malam hari tiba dengan tanpa diduga...


Zhou Fan sedang berada dalam ruangannya, duduk bersila dengan kedua tangan diletakkannya di lututnya.


Dia sedang berkultivasi. Setelah mengkonsumsi pill kultivasi tingkat enam, dia merasa energi dalam tubuhnya berfluktuasi.


Dengan bantuan beberapa pill kultivasi tingkat enam yang dia miliki, seharusnya bukan masalah jika dia menerobos ke tingkat petarung grand master bintang 7.


Satu dua hari telah terlewati. Tapi Zhou Fan tak kunjung memperlihatkan tanda tanda dia akan membuka matanya.


Di tempat lain...


"Kenapa kalian begitu tidak berguna, untuk menemukan sampah kecil saja tak bisa!"


Tuan besar Shang melempar sebuah porselen yang berada di samping tempat duduknya.


Salah satu bawahan Keluarga Bangsawan Shang yang tadinya berlutut pun berdiri, dan melangkah mendekati tuannya.


"Maafkan kami tuan! Tapi kami telah mengetahui beberapa informasi tentang pemuda itu," ucapnya dengan nada rendah.


Tuan Besar Shang menaikkan sebelah alisnya, kemudian melambaikan tangan memberi tanda agar melanjutkan pesannya.


"Pemuda itu di yakini merupakan pendatang dari Kota Kapur Putih. Tidak ada laporan bahwa dia memiliki hubungan dengan sakte ataupun keluarga bangsawan di ibukota...,"


"Terakhir dia terlihat, adalah di dekat gedung paviliun obat, lalu tidak ada lagi yang melihatnya."


Pria paruh baya yang merupakan bawahan Keluarga Bangsawan Shang itu membungkuk, kemudian kembali ke tempatnya semula.


Tuan Besar Shang yang masih belum melepaskan penghinaan pada saat lelang beberapa hari lalu, terus mencari pemuda itu.


Tapi dia tk menemukan keberadaannya, bahkan setelah dua hari mencari.


Tuk tuk tuk...


Tuan Besar Shang mengetuk pegangan kursinya, terlihat jelas dia sedang berpikir keras.


"Penghinaan kepada Keluarga Bangsawan Shang harus di balas kontan," batin Tuan Besar Shang.


Brak!

__ADS_1


Tuan besar berdiri setelah menghancurkan tempat duduknya.


"Kalian harus menemukannya! Aku tidak percaya dia begitu cepat lenyap tanpa jejak."


Tuan besar Shang kembali berpikir, kemudian menatap bawahannya dengan sengit.


"Cari di setiap rumah makan, penginapan, toko toko, pasar. Telusuri semua, jangan biarkan satupun terlewat," ucapnya lantang sebelum pergi meninggalkan beberapa orang yang masih duduk diantara dua sujud.


"Baik, tuan!" Para bawahan atau pengawal bayaran keluarga bangsawan Shang berseru kompak.


**


Malam, kembali terlewati dengan begitu mudahnya....


Zhou Fan yang masih dalam posisi terduduk lotus nampak memiliki aura yang lebih kuat dari sebelumnya.


Tekanan dalam ruangan itu terasa berat, andai seseorang berada di dalamnya.


Meskipun begitu, Zhou Fan masih terlalu setia dengan kondisi mata terpejam, bagaikan seorang yang tak menyadari lamanya waktu berputar.


Tapi beberapa saat kemudian, tekanan udara semakin kuat berkali kali lipat.


Whust... Whust...


Selimut yang tadinya terlipat rapi di atas tempat tidur mulai berterbangan, meja di sampingnya juga tak kalah heboh, berlari ke sana kemari.


Rambut Zhou Fan yang tergerai mulai menari berhamburan, menambah kesan tampan pada pemuda itu.


Perlahan Zhou Fan mulai menggerakkan kelopak matanya, dan secara bertahap mulai terbuka.


Ruangan yang tadinya riuh itu pun menjadi tenang seketika. Angin yang berhembus kencang seketika lenyap berasamaan dengan terbukanya mata Zhou Fan.


"Aku tak mengira akan melakukan terobosan besar besaran." Zhou Fan mengulum senyum dalam bibirnya.


Dia tak menyangka tiga pill kultivasi tingkat enam akan membuatnya menerobos beberapa kali.


Memang tak wajar jika itu terjadi, bahkan Zhou Fan masih tak mengerti kanapa dirinya sangat cepat dalam peningkatan kultivasinya.


Zhou Fan yang mempunyai sikap acuh hanya memikirkan apa yang menurutnya baik, dia tak memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi kepada dirinya.


Zhou Fan memandang ke sekitar, dan melihat begitu 'rapi' ruangannya sekarang.


Mulut Zhou Fan sudah tak bisa dikondisikan, bertanya siapa yang membuatnya seperti ini.


Zhou Fan yang memang tidak mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya saat memejamkan mata pun, memaki dengan kesal.


"Sial, siapa yang berani memporak porandakan ruanganku!" gerutunya sambil meraih beberapa barang yang tergeletak di lantai ruangannya.


"Jangan sampai aku mengetahuinya, atau dia akan mendapatkan pelajaran dariku," ucap Zhou Fan bersungut-sungut.


Rasa jengkel diakibatkan mengetahui ruangannya berantakan tak menutupi rona kebahagiaan dari wajahnya.


Keberhasilannya menerobos ke tingkat petarung grand master bintang 8 membuat suasana hatinya dalam kondisi baik.


Dengan kekuatannya saat ini, Zhou Fan setidaknya akan dapat bertarung imbang dengan petarung raja bintang dua.

__ADS_1


__ADS_2