
"Semuanya Diam!" Ciang Gu meninggikan suaranya untuk mencegah keributan yang akan terjadi.
Seketika semua orang diam, dan memandang takut Ciang Gu yang berdiri di atas panggung lelang.
Sementara Tuan Besar Shang menahan amarahnya. Wajahnya memerah, uratnya keluar layaknya cacing blesteran, merah kehijauan.
"Apakah ada yang menawar?" tanya Ciang Gu.
"Kalau begitu, rumput jendral ini akan menjadi milik tuan di ruangan utama nomor lima." Ciang Gu mengetuk palu tiga kali.
Zhou Fan tersenyum senang, sedangkan Wei Guanlin tampak khawatir.
Sementara di ruangan nomor dua, muka Tuan Besar Shang memerah padam.
"Tuan, tenang tuan. Kita masih bisa merebutnya setelah lelang berakhir ... "
Orang kepercayaan Tuan Besar Shang memberikan masukan kepada tuannya.
"Mendengar dari suaranya, dia masihlah seorang pemuda yang seumuran dengan tuan muda, dan aku yakin dia tak lebih baik dari tuan muda dalam hal kultivasi."
"Kau benar." Tuan Besar Shang melepaskan amarahnya dengan menghembuskan nafasnya kasar.
"Pemuda tak tahu tingginya langit akan mati pada akhirnya," seru Tuan Besar Shang dengan tenang, tapi kebencian dan kemarahan dapat sekali di rasakan oleh orang di dekatnya.
Meskipun Keluarga Shang merupakan keluarga bangsawan, mereka juga tak ketinggalan dalam dunia kultivasi.
Bahkan Tuan Besar Shang telah mencapai tingkat petarung raja bintang dua.
Meskipun tidak dapat dibandingkan dengan sakte sakte yang ada di ibukota yang para tetuanya bahkan setingkat dengannya, keluarga bangsawan Shang tidak bisa dianggap enteng.
Latar belakang sebagai seorang saudagar membuat keluarga bangsawan Shang mempunyai kekayaan yang tak bisa di bilang sedikit, dan mereka memanfaatkan kekayaannya untuk keperluan generasi muda mereka.
"Apa yang kau khawatirkan Lin'er?" tanya Zhou Fan yang melihat wajah cemas Wei Guanlin.
"Kau telah menyinggung Keluarga Bangsawan Shang, kenapa kau begitu tenang?" Wei Guanlin mengernyitkan dahinya.
"Bukankah disisiku ada seorang Putri Kaisar, kenapa aku harus takut?" ucap Zhou Fan santai dengan kerlingan matanya.
"Ap... Apa yang kau katakan." Wei Guanlin terbata seketika, pipinya terasa panas.
Sementara Zhou Fan malah terkekeh, kemudian membelai puncak kepala Wei Guanlin.
"Tenang saja, meskipun mereka menginginkannya, mereka tak akan pernah mendapatkannya." Zhou Fan mengeluarkan seringai.
Tak berselang lama, pelelangan pun telah selesai. Rumput jendral juga sudah berada di tangan Zhou Fan.
Wei Guanlin yang tak mendapat apapun memasang wajah cemberut.
Zhou Fan yang tak tahu alasan Wei Guanlin pun bertanya.
"Kenapa kau memasang wajah seperti itu, Lin'er." tanya Zhou Fan.
"Bodoh!" Desis Wei Guanlin dalam hati.
"Aku tak mendapat apapun, tidak ada yang menarik bagiku." Wei Guanlin berkata dengan nada mengeluh.
__ADS_1
Huh? Zhou Fan seketika menoleh ke Wei Guanlin.
"Aku punya sesuatu untukmu, anggap saja sebagai pengganti, tapi nanti saja di penginapan," bujuk Zhou Fan pada Wei Guanlin.
Wei Guanlin dengan cepat mengubah raut wajahnya.
"Baiklah, ayo kita kembali ke penginapan," ajak Wei Guanlin yang tak sabar melihat hadiahnya.
"Kenapa kau begitu tak sabar mengajakku ke penginapan?" Zhou Fan terkekeh.
"Apa yang kau pikirkan dasar mesum!" Wei Guanlin memukul lengan Zhou Fan pelan.
"Hei hei, aku hanya bertanya, tapi kau mengataiku mesum, sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan." Zhou Fan mendekatkan wajahnya pada Wei Guanlin sambil mengedip sebelah mata.
Wajah Wei Guanlin memerah, kekasihnya itu sangat lihai membolak balikan perkataannya.
Dengan kesal Wei Guanlin meninggalkan Zhou Fan sendiri.
Zhou Fan tak khawatir karena melihat Wei Guanlin mengarah ke arah penginapannya berada.
Siapa yang akan menolak sebuah hadiah, pikir Zhou Fan.
Zhou Fan sampai di depan pintu ruangannya yang sudah terbuka, kemudian masuk dan menutupnya perlahan. Dia masuk tanpa permisi, karena dialah pemilik sementara ruangan tersebut.
Di dalam ruangan itu ternyata kosong, tak ada orang. Zhou Fan yang tadinya berpikir Wei Guanlin berada di dalam mulai mencari dimana gadis itu.
Saat hendak membuka pintu ingin mencari keluar, seorang wanita keluar dari kamar mandi ruangan tersebut.
Zhou Fan bernafas lega saat mengetahui siapa wanita tersebut. Rambut panjang yang basah tergerai membuat Zhou Fan berdesir, tapi dia berusaha bersikap biasa.
"Aku masih menunggu hadiah yang kau katakan. Sekarang mana hadiahnya." Wei Guanlin menyodorkan sebelah tangannya ke arah Zhou Fan.
Hehe...
Zhou Fan menyeringai, kemudian meraih tangan Wei Guanlin sehingga gadis itu terjerembab dalam pelukannya.
"A...apa yang kau la...lakukan?" tanya Wei Guanlin gugup, kini dia membelakangi Zhou Fan yang tengah memeluknya dengan erat.
"Menurutmu?!" Zhou Fan berbisik tepat di telinga Wei Guanlin, sesekali dia mencium rambut kekasihnya yang baru saja selesai karamas.
Selesai berkata, Zhou Fan membalikkan tubuh Wei Guanlin, sekarang keduanya berdiri berhadapan.
Zhou Fan menatap kekasihnya lekat, seolah meminta persetujuan darinya. Wei Guanlin hanya diam tapi dia tidak menolak.
Merasa kekasihnya memberikan lampu hijau, Zhou Fan mulai mengangkat tubuh kekasihnya, kemudian membawanya ke atas ranjang.
Zhou Fan menindih Wei Guanlin dengan tangan kiri sebagai penopang, wajah keduanya saling bersentuhan, memainkan bibir menggapai kenikmatan.
Setelah beberapa saat beradu mulut, Zhou Fan semakin gencar melancarkan serangan, tangannya tak bisa duduk diam di tempatnya, terus menjamah ke seluruh bagian.
Suara khas keluar dari mulut sang tuan putri, seakan dia melupakan sikap dingin yang selalu ia tunjukkan. Dalam pikirannya sekarang hanya ada kekasihnya, pemuda yang sanggup membuatnya terus memikirkan nya.
.
.
__ADS_1
.
"Sebaiknya aku membuat pill kultivasi tingkat 6," gumam Zhou Fan, kemudian turun dari ranjangnya.
Zhou Fan mengeluarkan bahan bahan untuk pill kultivasi tingkat enam, karena ini adalah kali pertamanya untuk membuat pill kultivasi tingkat tersebut, Zhou Fan akan sedikit bertaruh.
Bagaimanapun pill kultivasi tingkat enam, tidak semudah membuat pill tingkat enam lainnya.
Di ruangan yang tidak terlalu luas itu, Zhou Fan duduk bersila dan mulai mengeluarkan kekuatan kontrol apinya.
Percikan api yang semula semu, mulai membesar dan semakin liar, tapi tak membuat ruangan itu terbakar, karena Zhou Fan bisa mengontrol tekanan apinya tersebut.
Tanaman herbal yang terletak di depannya perlahan mulai melayang diterbangkan api pemuda itu.
Shut.... Shut...
Udara disekitarnya menjadi sedikit berat dan hangat, yang membuat Wei Guanlin yang tengah terlelap di atas ranjang seketika terbangun.
Ugh...
Wei Guanlin meregangkan badannya yang terasa sakit, gadis itu meyusur ke sekitar dan menemukan Zhou Fan terduduk lotus di lantai ruangan tersebut.
Tanpa sadar terukir senyuman di bibir manis Wei Guanlin, dengan tubuh terbalut selimut, dia memandang Zhou Fan yang tengah membuat pill.
Bukankah dia tampan saat membuat pill? pikirnya.
Wei Guanlin menggeleng kuat saat teringat perlakuan pemuda itu kepadanya.
"Apakah itu yang dia katakan sebagai hadiah," gerutu kesal Wei Guanlin.
"Lebih seperti dia yang mendapat hadiah dari pada diriku." Wei Guanlin kembali berpikir.
Beberapa saat berlalu, tapi Zhou Fan baru menyelesaikan 25 persen dari proses keseluruhannya.
Keringat dingin sudah mulai merembes di keningnya.
Wei Guanlin sudah berpakaian seperti semula, dia yang melihat keringat dingin mulai menyelimuti dahi kekasihnya dengan segera mengelapnya.
Tak ketinggalan, dia juga memberikan pill pemulihan kepada Zhou Fan.
Zhou Fan yang tadinya terlihat gemetaran mulai terlihat stabil.
Meskipun dalam kondisi mata terpejam, dia bisa menebak siapa yang menyuapinya pill pemulihan dan mengelap keringat di dahinya.
Zhou Fan meneruskan prosesnya tersebut tanpa terpengaruh oleh apapun.
Zhou Fan fokus, sedangkan Wei Guanlin sesekali mengulangi apa yang telah ia lakukan sebelumnya.
***
Di sekitar gedung paviliun obat...
"Dimana dia, kenapa cepat sekali sudah tak terlihat." Tuan Besar Shang marah karena tak menemukan pemuda yang menyinggungnya.
"Cari tahu latar belakangnya, kemudian dimana dia tinggal. Cepat!" Perintah Tuan Besar Shang pada beberapa bawahannya.
__ADS_1
Beberapa orang yang tadinya berlutut di hadapan Tuan Besar Shang dengan cepat menyebar, mencari pemuda yang telah menyinggung tuannya.