
"Maaf..."
"Kenapa kau meminta maaf, kau menyesal?" Quinzi menatap remeh Zhou Fan, ia sudah tahu ini akan terjadi.
"Menyesal?! Tidak mungkin! Aku hanya meminta maaf sebelum memberikan seorang wanita pelajaran," Ucap Zhou fan, seolah melihat wanita dihadapannya begitu lemah di matanya.
Semua orang dapat menyimpulkan dia sombong, tapi itulah kenyataannya. Dia yang berada di tingkat petarung grand master bintang tiga, mengalahkan seorang petarung master bukanlah hal yang sulit baginya.
"Membiarkanmu bagitu saja, membuat harga diri wanita begitu rendah. Apakah kau pantas disebut wanita?!" Tanya Zhou Fan.
"Kau!!" Quinzi berteriak marah.
Pertanyaan Zhou Fan membuat Quinzi terdiam, wanita itu hanya bisa mengepalkan tangannya.
Sementara itu, semua orang khususnya perempuan, menatap Zhou Fan seperti seorang pahlawan. Sebenarnya tidak sedikit yang orang yang ingin sekali memberikan pelajaran kepada wanita itu, tetapi mereka tidak mempunyai sedikit pun keberanian untuk melakukannya.
Ingin sekali mereka berteriak menyemangati pemuda tampan berpakaian serba kuning itu, tapi mengingat ini adalah daerah kekuasaan klan Bai membuat mereka tak berani menyuarakan suaranya.
"Kau harus mati sekarang!" Quinzi berteriak marah, dengan sebuah sabit di tangannya wanita itu menerjang Zhou Fan.
"Mati kau!"
Slash... BOOM!
Tempat Zhou Fan hancur menjadi berantakan. Namun ada yang aneh, seharusnya pemuda itu tak akan bisa menahan serangannya, tapi pemuda itu masih berdiri tanpa luka, dia hanya bergesera beberapa langkah dari tempatnya semula.
Quinzi menyipitkan matanya, lalu mengambil jarak beberapa langkah.
Dalam hati wanita itu bertanya tanya, bagaimana bisa?
Semua orang yang sebelumnya mengira Zhou Fan mati, terbesit perasaan lega setelah melihat kejadian itu.
Saat Quinzi merasa tinggi hati, Zhou Fan melesat dan dengan cepat menyerang Quinzi yang masih sedikit lengah.
Zhou Fan mengayunkan tangannya yang membawa pedang, namun Bai Quinzi masih sempat bereaksi, membentangkan senjatanya untuk menangkis serangan Zhou fan.
Clang...
__ADS_1
Serangan pedang Zhou Fan dapat di tahan dengan baik oleh Bai Quinzi, tapi Zhou Fan masih menahan kekuatannya.
"Jangan lengah saat sedang bertarung, atau kau tidak menyadari kepalamu sudah terpisah dari tubuhmu." Zhou Fan menambah kekuatannya dan membuat Bai Quinzi terdorong mundur.
Sring... Srett...
Zhou Fan mendorong pedangnya dan membuat Bai Quinzi terhuyung ke belakang, Zhou Fan tidak menyia-nyiakan kesempatan, pemuda itu melesat memburu Bai Quinzi, pedangnya lurus kedepan berniat menusuk.
Namun saat hendak menyelesaikannya, sebuah belati dengan kecepatan tinggi mengarah ke arahnya. Mau tidak mau Zhou Fan harus mengurungkan niatnya, menghindari serangan belati itu dengan melompat ke samping.
swush...
"Sepertinya Klan Bai kami sudah menurun, bahkan di daerah kekuasaannya sendiri, masih ada yang dengan berani menyerang anggota kami." Sebuah suara terdengar bersamaan dengan munculnya seorang pria paruh baya berkumis panjang.
"Anak muda, aku menghargai bakatmu. Sebaiknya ini sampai di sini saja, atau kau tidak akan mendapatkan kesempatan untuk pulang dengan nyawa di tubuhmu," Ucapnya lagi sambil memilin kumis panjangnya.
"Kau sungguh bijak senior, tapi sayang tidak semua pohon menghasilkan buah yang segar." Zhou Fan berkata sinis, tapi pemuda itu tetap melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Zhou fan sebenarnya masih sanggup menghadapi pria paruh baya itu yang berada di tingkat petarung grand master bintang 6, tapi ia khawatir akan menarik begitu banyak perhatian.
Pria paruh baya itu menghela nafas, lalu memutar tubuhnya dan melihat Quinzi terduduk di tanah dengan darah mengalir di sudut bibirnya. Pria itu menghampiri Quinzi dengan wajah pucat.
"Nona, apakah kau baik baik saja?" tanya pria paruh baya itu dengan nada cemas, ia adalah orang yang diutus untuk menjaga nona mudanya, ia tidak mengira kepergiannya yang hanya ingin menyapa teman lama akan membuat nona mudanya dalam bahaya.
Pria paruh baya itu sampai merinding membayangkan apabila ia telat beberapa detik, mungkin kepalanya sudah tidak dapat dipertahankan bersama dengan kematian nonanya.
"Kenapa kau melepaskannya begitu saja?!" Bai Quinzi yang memang sangat arogan tidak terima jika tidak dapat membunuh orang yang telah menghinanya.
"Nona, dia adalah pemuda yang sangat misterius. Kekuatannya setidaknya setingkat dengan petarung grand master bintang satu. Pemuda biasa tidak akan bisa mencapai tingkatan seperti itu," Ucap pria paruh baya itu berusaha menenangkan nona mudanya.
Bai Quinzi terlihat berpikir, kemudian ia bangun dan pergi tanpa mempedulikan wajah puas semua orang.
"Siapapun kau, aku akan membalasmu." Bai Quinzi tetap bersikukuh ingin mencabut nyawa Zhou Fan.
Sementara pria paruh baya itu hanya menggelengkan kepala, melihat nona mudanya pergi begitu saja, bahkan tanpa mengucapkan terimakasih kasih kepadanya.
Meskipun ia tidak begitu mengharapkan ucapan terimakasih, pria paruh baya itu tetaplah seorang manusia biasa yang akan senang jika usahanya dihargai.
__ADS_1
Di jalanan kota kapur putih....
Zhou Fan mengganti pakaiannya yang menurutnya terlalu mencolok. ia tidak mengira, kebiasaan di kotanya dan kota ini begitu berbeda. Jika di kota batu hitam, rata rata semua orang memakai pakaian berwarna cerah. Maka kota ini merupakan kebalikannya, sepanjang jalan yang dilaluinya, hanya ada orang berpakaian gelap.
"Sepertinya ini sudah tidak masalah." Zhou Fan memutar mutar tubuhnya.
Pemuda itu masih terlihat tampan dengan pakaian berwarna coklat menempel di tubuhnya.
Zhou Fan juga mengubah tampilan rambutnya, jika sebelumnya dia mengikat ke belakang seluruhnya dan terlihat seperti ekor kuda, sekarang Zhou Fan hanya mengikat sebagian rambutnya saja dan membiarkan bagian rambut belakangnya terurai.
Zhou Fan kembali melanjutkan perjalannya, mencari sebuah pengalaman dan juga kekuatan.
Zhou Fan hinggap dari satu kedai ke kadai lainnya, tujuannya hanya satu, informasi.
"Hei, kawan. Apakah kau mendengar, beberapa hari lagi akan dia adakan suryasena. Pasti akan ramai suasana kota ini, setelah lima tahun aku menunggu akhirnya acara ini tiba juga." Seorang pemuda berbincang dengan pemuda yang ia sebut kawan.
Zhou Fan yang mendengar senyap senyap percakapan kedua pemuda itu, dengan cepat berdiri dan melangkahkan kakinya ke arah meja kedua pemuda itu.
Dengan sebuah kendi arak di tangannya, Zhou Fan menyapa kedua pemuda itu. "Kawan?! Apa yang kalian bicarakan? sepertinya menarik."
"Siapa kau, dan siapa yang kau panggil kawan?" Salah satu diantaranya nyolot dengan ucapan Zhou Fan.
"Hei, kawan. Biarkan aku bergabung, ini ada hadiah kecil dariku." Zhou Fan menaruh kendi arak kualitas tinggi itu di atas meja, sedangkan dirinya mengambil sebuah kursi dari meja lain dan segera duduk di meja itu.
"Apa kau menyogok kami? apakah tampang tampang seperti kami ini mudah disogok!" ucapnya tak terima, sedangkan yang lainnya terlihat sedikit acuh.
Zhou Fan tersenyum kecut, lalu memanggil pelayan. "Keluarkan arak terbaik yang kalian punya, berikan satu kendi."
"Hei, kenapa hanya satu?" Pemuda itu semakin kesal.
"Aku hanya membelikan saudaraku yang tidak menolak, bukankah kau menolaknya?" Ucap Zhou Fan santai.
"Mm... Siapa yang bilang aku menolak! Aku hanya bercanda kawan. Haha." Nada bicara pemuda itu dengan cepat berubah, dari singa pemberani menjadi kucing penurut.
Zhou Fan menggeleng sambil terkekeh, kemudian kembali mengangkat tangannya.
"Baiklah baiklah, pelayan tambah satu kendi lagi."
__ADS_1