
Selepas kepergian Zhou Fan, Kota Kapur Putih dihebohkan dengan seorang pemuda bermarga Zhou yang memiliki kultivasi tingkat petarung Raja.
Kekalahan patriark Bai di tangan pemuda tersebut menambah kecepatan kabar itu menyebar. Bagai kobaran api yang terkena angin, kabar itu sudah mencakup seluruh kota kapur putih hanya dengan waktu beberapa hari saja.
Pemuda bermarga Zhou, dengan selongsong pedang gelap di punggungnya menjadi topik yang sangat diperbincangkan.
Tak hanya di Kota Kapur Putih, kehebohan juga terjadi di kediaman Klan Zhou di Kota Batu Hitam.
Para pedagang ataupun pengelana yang baru saja kembali, membawa kabar seorang pemuda bermarga Zhou itu sebagai buah tangan.
Seketika Patriark Zhou, Zhou Fei. Mengadakan pertemuan diantara petinggi Klan Zhou.
"Menurut kalian, apakah kabar pemuda bermarga Zhou di Kota Kapur Putih itu benar?" Patriark Zhou bertanya sambil mengelus janggut putihnya.
Semua orang yang sudah mengetahui maksud pertemuan ini, hanya diam tak menjawab.
Sebenarnya mereka tak mau percaya, tapi melihat bagaimana kabar itu menyebar membuat mereka kembali berpikir.
"Kami tak begitu yakin patriark. Tapi dalam hatiku mengatakan kabar ini tidak sepenuhnya benar." Tetua Kedua, atau ayah Zhou Yu angkat bicara.
"Seorang pemuda yang memiliki kultivasi tingkat raja? Heh, aku rasa mereka melebih lebihkan," tambahnya dengan nada mencibir.
Suasana yang tadinya senyap, mulai terdengar bisikan bisikan yang sependapat dengan tetua kedua.
"Memang masuk akal yang kau katakan, tetua." Patriark Zhou mengangguk.
"Tapi, apakah semua orang begitu luang dengan menyebarkan berita bohong!" sela Tetua Ketiga.
Suasana kembali hening, memikirkan apa yang di katakan tetua ketiga.
"Kau terlalu naif jika kau percaya sebuah rumor, tetua ketiga?" sanggah Zhou Kay. Si tetua pertama itu mendengus mendengar ucapan tetua ketiga.
"Seseorang ingin menyebarkan berita tersebut pasti mempunyai maksud tertentu.... Dan itu adalah sensasi! Apakah kalian pernah melihat petarung raja di usia di bawah 30 tahun?" Zhou Kay bertanya kepada semua orang.
Secara serentak semua yang ada di dalam aula pertemuan menggeleng.
"Bahkan di Ibukota, yang dikatakan sebagai generasi emas berada di tingkat petarung grand master. Apakah kalian pikir Kota Kapur Putihlebih baik daripada Ibukota?!" tambah Zhou Kay.
Sekali lagi semua orang hanya menggeleng, membuat Zhou Kay tersenyum sinis.
"Meskipun kabar itu benar, akankah pemuda itu bagian dari kita? Tidak mungkin seorang jenius sepertinya akan sudi menjadi bagian dari kita yang merupakan klan di kota terpencil." Zhou Kay terus berkoar koar.
Sedangkan semua orang menatap Zhou Kay dengan pandangan mata berbinar, membenarkan ucapannya.
__ADS_1
Namun tidak untuk tetua kelima, Zhou Hu.
Dia tahu betul apa yang ada dipikiran pria licik itu. Zhou Kay berusaha memuluskan jalan putranya untuk menjadi penerus Klan Zhou.
Zhou Kay tidak ingin semua orang memikirkan pemuda yang dikatakan memiliki kultivasi tingkat petarung Raja tersebut.
Zhou Kay berusaha menekan kabar tersebut dengan terus membuat kabar tersebut seolah hanyalah sebuah cerita belaka, agar jalan putranya menuju kursi Patriark Klan Zhou senantiasa terbuka.
Pertemuan pun berakhir tak lama setelah Zhou Kay membuat semua orang percaya apa yang dia katakan.
Tentu saja kecuali Zhou Hu. Dia tak akan sejalan dengan rubah berwujud manusia itu, karena dia sudah melihat bagaimana rubuh tersebut menampakkan ekornya.
Di kediaman Klan Yu...
Setelah mendengar kabar pemuda yang mengalahkannya, bahkan sekarang mengalahkan Patriark Bai, membuat Yu San sangat tertekan.
"Ayah... Si brengsek itu bahkan bisa mengalahkan Patriark Bai, apakah kita bisa membalas perlakuannya kepada Klan Yu kita?"
Yu San memang tak bisa mengalahkan Zhou Fan sendiri, tapi dia mempunyai seorang ayah yang sangat menyayanginya.
Dia tak akan melepaskan pemuda yang mengalahkannya dengan begitu mudah.
Patriark Yu berpikir sejenak, dia memejamkan matanya saat berpikir.
Seketika terlukis senyum cerah dari wajah Yu San, dia pun meninggalkan ayahnya sendiri di ruangannya dan pergi berlatih.
Sepergian putranya, patriark Yu memikirkan pertarungan Zhou Fan dengan patriark Bai.
"Aku yakin saat itu, saat di taman kota. Bahkan dia tak dapat melepaskan cengkraman tanganku dari lehernya, apakah dia sudah begitu kuat hanya selang beberapa minggu saja!"
Patriark Yu mengingat kejadian dia mencekik Zhou Fan di taman kota, andai saat itu tak dihentikan oleh tuan kota, tak mungkin pemuda itu masih berkeliaran di luar.
"Aku rasa si tua Bai, terlalu meremehkan bajingan Zhou." Patriark Yu mengelengkan kepalanya.
Meskipun kekuatan Patriark Bai masih berada di bawah kekuatannya, dia sendiri tak yakin akan bisa mengalahkan patriark Bai jika bertarung serius.
Setelah menimang masalah tersebut, patriark Yu mendapat kesimpulan.
Pertama, patriark Bai meremehkan lawannya dan tak menggunakan kekuatan aslinya, saat menyadari lawannya bukanlah lawan lemah, dia sudah terlambat.
Kedua, terjadi konspirasi di pertarungan tersebut.
Patriark Yu mengganguk anggukan kepalanya. "Ya, aku rasa seperti itu."
__ADS_1
"Hheh... Memang bodoh si tua Bai, sudah tua masih saja meremehkan lawannya. Heheh."
Patriark Yu terkekeh membayangkan kondisi patriark Bai saat di pukuli pemuda yang bahkan usianya tak lebih dari setengah umurnya.
Mereka tidak mengetahui, bahwa pemuda yang mereka bicarakan sekarang tengah bertamasya di kota lain.
***
Paviliun obat!
Zhou Fan membaca dengan jelas nama gedung di hadapannya. Kemudian melangkah masuk tanpa peduli beberapa orang yang memerhatikannya.
Saat Zhou Fan masuk tak ada sama sekali yang datang menyambutnya, tak sama seperti beberapa orang berpakaian mewah yang saat baru melangkah masuk sudah disambut pelayan muda nan cantik.
Zhou Fan melirik ke arah pemuda berpakaian mewah yang kebetulan masuk tak lama setelahnya.
Baru langkah pertama, pemuda itu seketika dikerumuni 2 pelayan wanita.
Kedua pelayan itu menjilat pemuda berpakaian mewah layaknya anjing pada majikannya.
Pujian demi pujian mereka berdua lontarkan, tak peduli akan pandangan beberapa orang.
Tuan Muda Shang! Begitulah kedua pelayan itu menyebutnya.
"Tuan Muda Shang, kau terlihat lebih tampan dengan pakaian ini."
"Kau sungguh jenius, tuan muda Shang. Kau telah naik lagi setalah beberapa minggu tak berkunjung. Pelayan rendahan ini tak lagi bisa melihat kultivasi Tuan Muda Shang."
Kata kata manis senantiasa keluar dari kedua mulut pelayan tersebut.
Merasa ada yang memerhatikannya, tuan muda Shang memutar bola matanya.
Dan pandangannya tertuju ke arah pemuda berpakaian sedikit kumal yang juga sedang menatap ke arahnya.
"Heh! Seorang pemuda tak berguna yang memimpikan bulan," cibir Tuan Muda Shang pada pemuda yang tak lain adalah Zhou Fan dalam hatinya.
Dia melihat Zhou Fan layaknya seorang pemuda dari kalangan biasa di ibukota, dia memandang Zhou Fan dengan tatapan remeh.
Mengerti tatapan pemuda yang di panggil Tuan Muda Shang, Zhou Fan melengos pergi.
Dia yang tak gila sanjungan, dengan acuh melangkah lebih ke dalam, meninggalkan Tuan Muda Shang yang sudah berwajah kesal.
Tak pernah ada dalam hidupnya, seorang kasta rendah mengacuhkan dirinya. Kemudian dengan tatapan mata tajam dia berkata seru lantang.
__ADS_1
"Hei kau! Pemuda jelata?!"