
Crash...
Gludak!
Sekali tebasan kepala serta tubuh pria yang menyeret ibunya seketika jatuh terpisah di lantai.
Dengan mata masih memerah karena marah dia menggotong ibunya, membawanya ke tempat yang menurutnya jauh dari kerumunan.
Sebelum kembali, Zhou Fan menatap ibunya sedu, tanpa sadar air mata telah menembus pertahannya.
Masih dalam kondisi bersimpuh di samping sang ibu, dia meraih tangan wanita yang telah melahirkannya, meletakkannya di atas kepalanya.
"Maafkan Fan'er ibu, aku akan membalas semua yang kau rasakan, kau istirahat saja disini, dan biarkan putramu yang menyelesaikan." Zhou Fan menurunkan tangan ibunya, kemudian menciumnya.
Sambil menatap tajam ke depan dia bangkit, kemudian memandang ke kerumunan orang berpakaian gelap.
Zhou Fan mengerutkan kening, tanpa sengaja pandangannya mengarah ke salah seorang yang tak asing dalam kepalanya.
"Klan Bai, Klan Yu!" Zhou Fan mengeram marah, tangannya mengepal sangat kuat.
Posisi keduanya yang berada di sebelah obor membuat wajah dua pria tua itu terlihat jelas, Patriark Bai dan Patriark Yu.
Zhou Fan memutar kepalanya, dan melihat begitu banyak anggota klan Zhou yang telah tak bernyawa.
Matanya terus berputar, satu persatu orang yang dia kenal terlihat dalam bayangan matanya.
Kepalanya begitu panas kala melihat Ayahnya terbaring lemah diantara tetua lainnya yang juga dalam kondisi sama seperti ayahnya.
Dalam hati Zhou Fan terus berpikir, apakah ini karenanya yang telah memprovokasi kedua klan tersebut?
Jika benar sesuai apa yang ada dalam pikirannya, sungguh dia merasa berdosa kepada orang tuanya dan juga klan Zhou.
Zhou Fan melihat Zhou Han yang terduduk selonjor dengan mulut penuh darah, bahkan tubuhnya banyak sekali sayatan.
Zhou Fan dapat melihat ratusan anggota klan Zhou yang masih hidup dalam kungkungan para bawahan kedua Patriark tersebut.
Ingin rasanya dia langsung keluar dan menyerang mereka, namun karena nyawa klannya berasa di tangan mereka Zhou Fan tak ingin bertindak gegabah.
"Setidaknya terdapat ratusan orang dari pihak lawan, jika aku menyerang secara langsung, akan membahayakan nyawa mereka," ucap Zhou Fan dengan wajah serius.
"Hem..." Zhou Fan berpikir dengan wajah kaku, pemuda yang biasanya sangat santai tidak lagi terlihat tenang, kepribadiannya seolah terganti dengan orang lain.
Tiba tiba Zhou Fan telah berada di atap sebuah bangunan yang tergolong beruntung, karena tidak ikut hancur oleh brutalnya pertarungan.
Di tangannya secara ajaib muncul sebuah pill, pill yang sengaja ia buat saat pertama kali menjadi alkemis, saat berada di hutan mati.
Karena saat itu dia merasa sangat lemah, ia mencari pill yang bisa menyembunyikan keberadaannya, dan saat mencarinya dalam 'kitab emperor' dia mendapati sebuah resep bernama 'pill bayangan'.
__ADS_1
Pill yang dapat menghilangkan keberadaan, tak bisa di rasakan layaknya sebuah bayangan.
Hawa keberadaan Zhou Fan seketika lenyap saat dia menelan pill bayangan.
"Mari kita bermain!" Zhou Fan mengatakan dengan nada dingin, dia mulai bergerak layaknya monyet yang bergelayut dari batang pohon ke batang pohon lainnya.
Meskipun telah menghilangkan hawa keberadaannya, dia harus tetap berhati-hati, karena penglihatan petarung raja sangatlah tajam.
Shut...
Zhou Fan mendarat di samping bangunan sebelah kiri aula klan, tempat di mana para anggota klan yang selamat ditempatkan.
Aula yang tadinya berdiri kokoh, sekarang telah menjadi puing puing berantakan.
Zhou Fan mengintip, menjulurkan setengah kepalanya.
Tiba tiba dia merasakan beberapa orang mendekat dari arah berlawanan.
Wush...
Zhou Fan melompat ke kanan untuk bersembunyi, tak lama tiga orang lewat di depan tempatnya bersembunyi.
Zhou Fan mengeratkan pedangnya, bersiap menerkam ketiga orang tersebut, dia berniat menyelesaikannya hanya dalam satu kali tebasan, atau dia yang akan ketahuan.
Zhou Fan mulai menghitung, kaki kanannya mundur beberapa inci, bersiap melompat.
Crash....
Dalam sekali ayunan, petarung grand master bintang tujuh tewas. Sebelum jatuh dan menimbulkan suara, Zhou Fan menangkap ketiganya dan menjatuhkannya perlahan.
Zhou Fan kemudian menarik mayat ketiga orang itu menjauh, agar tak di temukan oleh temannya.
Dengan memanfaatkan mereka yang bertugas mengumpulkan jarahan, Satu persatu pasukan yang dibawa Patriark Bai dan Patriark Yu jatuh ke tangan Zhou Fan.
Perlahan tapi pasti pasukan kedua Patriark berkurang, namun tidak ada yang menyadari kejadian tersebut.
Patriark Bai dan Patriark Yu berdiri dengan tangan di punggung, matanya memandang rendah kumpulan orang klan Zhou di hadapannya.
"Ingin melawan? Kau pasti bergurau, dengan hanya dua petarung raja bintang satu kau mau mengusirku!" Patriark Bai mengatakan dengan nada angkuh.
"Lihat! Mulai malam ini, Klan Zhou akan menjadi sejarah. Sejarah di kota batu hitam. Hahaha..." Patriark Yu membentangkan tangannya sembari tertawa sangat keras, menampilkan wajah kesetanan.
"Dengan kabar kemusnahan klannya, aku tak percaya dia akan diam saja." Patriark Bai tersenyum sinis.
"Sebaiknya dia mendengar lebih cepat, dan datang sendiri mencari kematiannya," ujar Patriark Yu menyahuti perkataan Patriark Bai.
"Disaat itu, tak akan ada yang dapat menghalangiku untuk membunuhnya. Dendam kematian putraku akan aku tuntaskan di saat dia muncul di hadapanku," ucap Patriark Bai dengan pancaran mata terbakar, dendam dalam dirinya telah melewati batas wajar.
__ADS_1
"Untuk jarahan yang akan kita dapatkan, kau ambil saja, aku tak membutuhkannya, asalkan jika kau menemukannya, bawa kepadaku hidup hidup, aku tak akan tenang jika tak membunuhnya dengan tangan ku sendiri...," tambahnya lagi sambil melirik Patriark Yu.
"Hehee... Kau memang mengerti diriku, aku akan menangkapnya hidup hidup dan membawanya kepadamu jika aku bertemu dengannya," balas Patriark Yu dengan mata berbinar.
"Huh... Kau masih sama, selalu memandang harta sebagai pola hidup tertinggi," dengus Patriark Bai.
"Tentu saja tidak, sebagai seorang kultivator tentu aku mengutamakan tingkatan kekuatanku, tapi kekayaan juga tidak harus di lupakan, karena tanpanya kau akan kekurangan." Patriark Yu mengatakan dengan begitu yakin, dia sangat percaya diri dengan pola pikirnya.
Patriark Bai mengerutkan keningnya saat melihat gelagat aneh beberapa orangnya.
"Apa yang kalian lakukan?!" Patriark Bai berteriak dari tempatnya berdiri.
Mereka terkejut mendapat teriakan dari Patriark Bai, "Ah... Patriark, kami... kami..."
Sebelum dia menyelesaikan penjelasannya, Patriark Yu tertawa kemudian berkata. "Lanjutkan kerja kalian! Hahaha... "
Patriark Yu kemudian melirik ke arah Patriark Bai, dan berkata. "Biarkan mereka bersenang senang."
Patriark Bai memandang Patriark Yu, kemudian dia memalingkan wajah acuh.
"Sialaaan, lepaskan pu.. triku!" teriak lemah tetua ketiga, kepalanya semakin sakit saat ia gunakan untuk berteriak. Namun, dia tidak mungkin diam melihat Zhou Yin dikerumuni para bawahan dua patriark
Melihat putrinya di gotong beberapa pria dia merasakan kepalanya akan pecah.
"Yin'er...," seru tetua ketiga yang kemudian pingsan.
Sedangkan Zhou Yin dalam keadaan pingsan, dia tidak mengetahui apa yang akan dilakukan kepadanya.
Hahaha...
Tawa beberapa pria yang mulai mengais pakaian Zhou Yin, hingga tersisa balutan tipis pada tubuhnya.
Saat tangan mereka akan meraih lebih, sesosok bayangan keluar dari kegelapan dengan tendangan.
Bruak!
terlempar ke segala arah, mengelilingi Zhou Fan yang berdiri gagah.
Setelah berhasil melesakan tendangan, dengan cepat Zhou Fan mengayunkan pedang darah malam, memenggal kumpulan orang tak berguna yang masih belum hilang keterkejutannya.
Cras... Jleb...
Seketika kumpulan pria yang tak lebih dari lima orang tersebut terjatuh tak bernyawa dengan kepala terpisah juga jantung terkoyak.
Kejadian begitu cepat, membuat kedua Patriark tidak dapat bereaksi, mereka hanya menyaksikan kejadian tersebut di depan mata kepalanya.
Bugh!
__ADS_1
Zhou Fan mengangkat pedangnya, menempatkannya di bahu sebelah kanan, kemudian menatap dua pria tua di hadapannya.