Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 112 : Hadiah Kemenangan


__ADS_3

Zhou Fan yang baru saja tersadar, tiba tiba dihadapkan dengan sebuah pedang yang mengarah ke lehernya.


Sial!


Dengan cepat Zhou Fan menggunakan pedang darah malam untuk melawan tebasan itu.


Dhar!


Zhou Fan berhasil menangkis serangan yang membahayakan nyawanya.


Sedangkan untuk Patriark Bai, dia harus terpental beberapa meter. Dia yang tak menyangka akan mendapatkan perlawanan mengendurkan tingkat kewaspadaannya dan pada akhirnya dia harus membayar mahal kecerobohannya.


Hening...


Suasana yang tadinya penuh dengan lontaran teriakan anggota Klan Qing yang berusaha membangunkan Zhou Fan, kini hening seketika saat sebuah ledakan terjadi tepat dari tempat Zhou Fan tergeletak.


Arena dipenuhi asap yang membuat semua orang berharap cemas.


Tak lama asap memudar, dan mata mereka semua seakan mau keluar dari tempatnya.


Bukan karena apa. Patriark Bai yang seharusnya telah berada di atas angin malah sekarang dalam keadaan terbatuk darah.


Dan yang membuatnya semakin terkejut adalah pelakunya tak lain adalah Zhou Fan, pemuda yang beberapa detik lalu masih terbaring dalam kondisi tak sadarkan diri.


Jangan lupakan tingkat kutivasinya yang hanya berada di tingkat petarung grand master bintang 5 dapat memberikan luka berarti pada seorang petarung raja bintang 1.


Zhou Fan kini berdiri dengan gagah dengan membawa sebilah pedang yang berwarna merah kehitaman.


Keluar aura merah darah dari pedang tersebut yang membuat Zhou Fan semakin terlihat gagah.


"Pertarungan baru saja dimulai. Mohon waktunya Patriark Bai~." Zhou Fan berkata dengan nada mencibir.


Patriark Bai berdiri, lalu menunjuk Zhou Fan dengan marah.


"Kau bajingan kecil. Kau menyerangku secara diam diam, aku sekarang tahu mengapa anakku dapat terbunuh, karena kau melakukan apa yang baru saja kau lakukan kepadaku, kepada anakku," ujarnya dengan yakin.


Zhou Fan terkekeh, lalu mengibaskan pedangnya asal.


"Kau terlalu memandang terlalu tinggi anak payahmu itu. Bahkan masih terngiang di kepalaku bagaimana anakmu bersujud dan meminta belas kasihanku." Zhou Fan berkata jujur, matanya memancarkan cibiran keras.


Patriark Bai mengerang marah, kemudian pria tua itu mendengus.


"Hng.." Patriark Bai melesat tepat setelah dengusan singkat tersebut.


Zhou Fan kali ini memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi, dengan pedang darah malam di tangannya dia yakin dapat mengimbangi, bahkan mengalahkan Patriark Bai, meskipun harus berjuang dengan sangat keras.


Menggunakan pedangnya, Zhou Fan mengeluarkan teknik yang sama seperti sebelumnya, teknik dewa pedang.


Shut... Tranng...


Adu senjata tak dapat terelakan, kedua pedang saling bertubrukan, tak terlihat jelas siapa yang lebih unggul.


Setelah bertukar beberapa tebasan, Patriark Bai mulai merasakan perubahan pada Zhou Fan dan padangnya.


"Kenapa aku merasa dia semakin kuat, dan pedangnya..." Patriark Bai menatap lekat pedang yang Zhou Fan gunakan.


Karena terlalu memerhatikan pedang Zhou Fan, Patriark Bai tak sengaja terkena goresan pedang darah malam.


Sreettt...


Akh!


Patriark Bai tersentak, kemudian dengan cepat dirinya mengambil jarak dengan Zhou Fan.

__ADS_1


Patriark Bai melompat dua kali ke belakang sambil mengelap pipinya yang tergores.


"Sial!" umpat Patriark Bai setelah melihat darah di telapak tangannya.


Sementara Zhou Fan menyeringai menatap Patriark Bai.


Melihat seringai Zhou Fan, Patriark Bai semakin marah. Dia meraung kemudian kembali menerjang Zhou Fan dengan cepat.


"Aku tak percaya akan kalah dengan bocah ingusan semacamnya?!" batin Patriark Bai seraya melakukan tebasan ke bahu Zhou Fan.


Zhou Fan tak panik ataupun khawatir, dia hanya menundukkan badannya, kemudian membalas dengan ayunan pedang darah malam.


Wush....


Zhou Fan mengayunkan pedangnya ke atas, yang memaksa Patriark Bai harus melompat ke samping.


Zhou Fan mengeluarkan jurus tebasan gandanya karena melihat Patriark Bai masih berada di udara.


Sush..


Sebuah siluet tebasan berbentuk silang mengarah cepat ke arah Patriark Bai.


"Tidak!"


Patriark Bai tak bisa menghindar, karena dia sedang berada di udara.


Duar!!


Patriark Bai terlempar keluar dari arena dengan sekujur tubuh penuh luka.


Bahkan dia kesulitan untuk menjaga kesadarannya dan akhirnya pingsan seketika.


Saat Zhou Fan akan memberikan sentuhan akhir, seseorang memegang pundaknya.


" ... Karena dengan terbunuhnya Patriark Bai, tentu akan membuat seluruh kota kapur putih kacau. Dan tuan kota tak akan membiarkannya dengan begitu saja."


Zhou Fan menoleh, ternyata yang disampingnya adalah Patriark Qing.


Zhou Fan terdiam sesaat, kemudian menoleh ke tempat Patriark Bai, yang sekarang dikelilingi para pengawalnya.


"Membiarkannya hidup, sama dengan memelihara ular di pekarangan," ujar Zhou Fan.


"Setidaknya kau tak bermusuhan dengan klan besar lainnya, dan juga tuan kota ... "


" ... Abaikan klan Qing dan klan Bai, selain kedua klan tersebut masih terdapat 3 klan besar dan puluhan klan kecil. Jika mereka semu .... "


Perkataan Patriark Qing disela Zhou fan.


"Ya baiklah. Terserah Patriark saja." Zhou Fan meninggalkan tempat tersebut dan berjalan ke kediaman tetua Qing dengan tubuh penuh luka.


Dengan terpaksa Zhou Fan melepaskan Patriark Bai, dia merasa tidak enak jika tak mendengarkan saran Patriark Qing yang selama ini baik kepadanya.


Jika Patriark Bai mencari masalah kepadanya di masa depan nanti, Zhou Fan berjanji tak akan membiarkannya berakhir dengan mudah.


.


.


.


Di sebuah kamar berdekorasi serba hijau muda, seorang wanita muda sedang terbaring di atas ranjang dengan di temani seorang pemuda di sampingnya.


Terlihat pemuda itu memegangi tangan kanan wanita muda itu, mereka berdua tak lain adalah Zhou Fan serta Qing Yuwei.

__ADS_1


"Kenapa dia pingsannya sangat lama?" Zhou Fan menggosok punggung tangan Qing Yuwei.


Zhou Fan melihat sekitar, tak nampak ada gelas ataupun sejenisnya.


"Sebaiknya aku mengambilkan nya minum, siapa tahu saat sadar nanti dia haus," batin Zhou Fan seraya mengangkat bokongnya.


Eh!


Zhou fan berhenti saat ada sebuah tarikan di lengan pakaiannya.


Zhou Fan menoleh dan mendapati Qing Yuwei telah membuka matanya.


"Kau baik baik saja?" Kata pertama yang di keluarkan Qing Yuwei saat melihat Zhou Fan.


"Heem" Zhou Fan tersenyum sambil bergumam dan kembali duduk di tepi ranjang.


"Kau haus? Aku akan mengambilkannya untukmu." Zhou Fan hendak pergi, tapi Qing yuwei kembali menarik lengan pakaiannya.


Qing Yuwei menggelengkan kepalanya, lalu memberikan isyarat kepada Zhou Fan untuk duduk kembali.


Zhou Fan dengan patuh melakukannya, lalu membelai puncak kepala Qing Yuwei.


Qing Yuwei kemudian memeluk Zhou Fan, terdengar isakan dari gadis itu.


"Kenapa?" tanya Zhou Fan lembut sambil mengelus punggung Qing yuwei.


"Aku... Aku takut... Kau akan hiks..." Qing Yuwei tak meneruskan ucapannya. Membayangkan saja dia tak berani apalagi untuk mengatakannya.


"Tenanglah, aku sekarang berdiri disini dengan selamat. Kau lihat?!" Zhou Fan melepaskan pelukan Qing Yuwei, lalu memutar tubuhnya dan memperlihatkan bahwa dia baik baik saja.


"Emm..." Qing Yuwei mengangguk senang, kemudian kembali memeluk Zhou Fan. "Syukurlah."


Keduanya melepas pelukan, mata Qing Yuwei menajam kala menjumpainya luka sayatan di tubuh tunangannya.


"Kau terluka!" serunya spontan, dia dengan cepat mendudukkan Zhou Fan di ranjang sedangkan dirinya berlari keluar untuk mencari perban.


Zhou Fan tersenyum, hatinya menghangat saat Qing Yuwei bagitu mengkhawatirkannya.


Tak lama Qing yuwei datang dengan beberapa peralatan di tangannya, dahi Zhou Fan mengerut menjumpai peralatan yang begitu banyak.


"Apa yang ingin kau lakukan, Wei'er?" tanya Zhou Fan.


"Kau diam saja, biar aku balut lukamu." Qing Yuwei menarik lengan Zhou Fan yang terdapat luka sayatan.


"Aku tak apa, hanya luka kecil saja, lagi pula pill pemulihan telah..." Sebelum Zhou Fan berkata lebih, Qing Yuwei menatapnya tajam.


"Meski pill pemulihan dapat membantumu, itu tidak akan terlalu berpengaruh untuk luka luar." ujar Qing Yuwei tegas.


"Kau mau tahu bagaimana aku bisa seketika sembuh?" tiba tiba Zhou Fan bertanya dengan wajah menyeringai.


"Heem, bagaimana?" gumam Qing Yuwei tanpa menoleh, dia yang tengah fokus dengan luka yang ada di lengan Zhou Fan tidak mengetahui niatan pemuda itu.


"Apakah kau mau membantuku?" tanya Zhou Fan sekali lagi.


"Jika itu membuatmu lebih baik, kenapa tidak?" jawab Qing yuwei masih dengan pandangan terarah ke luka Zhou Fan.


Zhou Fan menyeringai, kemudian menarik lengan Qing Yuwei, membuat gadis itu terjatuh dalam pelukannya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Qing Yuwei dengan wajah memerah.


"Apa yang aku lakukan? Tentu saja melakukan apa yang sudah kau setujui." Zhou Fan membalik posisinya, sekarang dia berada di atas.


"Tap... Tapi... Kau masih terluka, bagaimana jika luk..." Sebelum menyelesaikan perkataannya, bibirnya sudah disumpal dengan bibir oleh Zhou Fan.

__ADS_1


Peristiwa hebat pun terjadi....


__ADS_2