Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 158


__ADS_3

Tetua pertama langsung masuk ke dalam kediamannya, tapi langkahnya terhenti saat dia mendapati seseorang tengah berdiri di ruang keluarga.


"Malam, tetua pertama?"


Tetua pertama menyipitkan matanya, dia memasang sikap waspada, dia tidak membiarkan pandangannya teralihkan dari sosok di hadapannya.


"Tetua pertama begitu ramah dalam menyambut tamu, baru bertemu sudah memberikan tatapan 'perhatian'." Zhou Fan mengatakan sambil mendekat ke tetua pertama.


Tetua pertama semakin waspada, tangan kanannya meraih belati yang menggantung di pinggang.


Semakin Zhou Fan mendekat, tetua pertama semakin mengeratkan pegangannya.


Saat Zhou Fan hendak berkata, tetua pertama menodongkan belatinya dan berjalan maju.


"Siapa kau? Kenapa kau bisa berada di kediamanku?!" Tetua pertama bertanya dengan suara meninggi, dia tidak peduli penyusup itu masuk dari mana, yang ada dalam pikirannya adalah cepat mengalahkannya.


"Wosh... Santai tetua, jika aku berniat menyerangmu, tentu aku tidak akan menyapamu." Zhou Fan berkata santai, meskipun wajahnya tidak terlihat akibat terhalang jubah, perkataannya dapat membuat orang tahu ekspresinya.


"Lalu apa maumu, tidak mungkin kau hanya sekedar iseng!" Tetua pertama masih tidak mau menurunkan belatinya.


Zhou Fan terkekeh pelan, kemudian tangannya meraih tangan tetua pertama yang memegang belati.


"Sepertinya kurang sopan jika bertanya dengan senjata berada di leher." Zhou Fan menurunkan tangan kanan tetua pertama, kecepatannya bahkan tidak bisa diprediksi oleh tetua pertama, pria tua itu belum sempat bereaksi terhadap cekalan tangan sosok di hadapannya.


"Dia sangat kuat, setidaknya dia tidak lebih lemah dariku." Tetua pertama bergumam dalam hati.


Meskipun dia baru saja naik ke tingkat petarung raja bintang dua, dia tetaplah petarung raja bintang dua, dia dapat merasakan kekuatan sosok berjubah di hadapannya tidak lebih lemah darinya.


Tetua pertama tidak lagi mengangkat senjatanya, dia tidak ingin menyinggung orang yang menurutnya lebih kuat darinya.


"Tetua, apakah kau memiliki niat untuk memberontak terhadap kaisar?" Zhou Fan bertanya untuk memastikan pria tua di hadapannya bukan salah satu diantara anggota pemberontak.


"Apa maksudmu! Aku tidak memberontak, bahkan dalam pikiran aku tidak pernah memikirkannya, meskipun aku bukan lah orang baik, aku adalah orang Kekaisaran Wei, tidak mungkin mengkhianati tanah airku!" Tetua pertama berkata marah.


Zhou Fan menarik sudut bibirnya, dia dapat melihat emosi yang ditunjukkan tetua pertama sangat murni, dia tidak berpura-pura.


"Sepertinya, Klan Yu masih ada harapan," ujar Zhou Fan dalam benaknya.

__ADS_1


"Jika kau mendapati anggota Klan Yu memiliki niat, bahkan sudah merencanakan pemberontakan apa yang akan kau lakukan?" tanya Zhou Fan.


"Itu tidak mungkin, Klan Yu adalah Klan terpandang, tidak mungkin malakukan pemberontakan, kaisar wei merupakan kaisar teladan, tidak mungkin ada yang berniat buruk dengannya." Tetua pertama menyangkal ucapan Zhou Fan tanpa ragu.


Hahaha...


Zhou Fan tertawa, membuat tetua pertama mengerutkan keningnya.


"Apakah kau pikir, Kekaisaran begitu damai? Kau sungguh naif ... Banyak pergerakan yang sudah mulai terlihat, beberapa keluarga bangsawan mulai melakukan gerakan,"


"Kau mungkin tidak tahu, beberapa orang Klan Yu ikut terlibat, kau boleh mempercayaiku jika kau mau, abaikan ucapanku jika kau merasa aku hanya membual." Zhou Fan berpura-pura akan pergi.


Tetua pertama memasang wajah ragu, dia tidak ingin percaya, tapi dia sungguh khawatir dengan Klan Yu.


Saat Zhou Fan akan pergi, tetua pertama menghentikannya.


"Jangan pergi!"


"Kau berkata di Klan Yu terdapat orang yang berniat memberontak, apakah kau dapat membuktikan ucapanmu?" Tetua pertama berkata lebih hati hati.


"Lebih tepatnya mereka terhasut, jika kau dapat menemukan biang keladinya, tentu kau dapat menarik kembali orang orang Klan Yu agar tidak bertindak."


"Ya, aku rasa di Klan Yu ada penyusup, mereka pasti telah memanasi orang Klan Yu. Kemungkinan yang terburuk tetua kedua telah menjadi bagian dari mereka," ujar Zhou Fan.


"Meskipun aku berpikir kau terdengar jujur, aku tidak sepenuhnya mempercayai ucapanmu." Tetua pertama masih sedikit ragu dengan sosok di hadapannya.


"Bahkan aku tidak mengetahui siapa kau, bisa saja kau adalah musuh Klan Yu yang berniat mengadu domba kami." Tetua pertama menatap tajam Zhou Fan.


"Kau bisa menilai saat semuanya terungkap, mereka mempunyai kelompok bernama perkumpulan gerhana, setiap anggotanya akan memiliki tato matahari dan bulan sabit di telapak tangannya. Kau dapat menggunakan petunjuk itu untuk memastikannya."


"Perkumpulan gerhana, sepertinya aku pernah mendengar, tapi aku tidak mengingat dimana aku mendengarnya, nama itu terdengar akrab," gumam tetua pertama


Tetua pertama menatap Zhou Fan, kemudian berkata. "Baik, aku akan percaya kepadamu, tapi jika perkataanmu tidak terbukti ... "


"Apa, kau ingin melakukan apa, apakah kau pikir kau dapat berbuat macam macam terhadapku? Kau terlalu memandang tinggi dirimu." Zhou Fan tak suka dengan perkataan tetua pertama.


"Jika kau tidak percaya ya terserah, tapi kau akan menyesal jika kau terlambat menanganinya." Zhou Fan memasang wajah misterius, walau itu dibalik jubah bertudungnya.

__ADS_1


Zhou Fan pergi entah kemana, dia tak lagi berada di kediaman tetua pertama, bahkan pria tua itu begitu terkejut melihat kecepatan Zhou Fan.


"Dia kuat!"


....


,


Hari hari berlalu, sekarang adalah saatnya pertarungan untuk menentukan pemilik kursi Patriark Klan Yu.


Pertarungan akan di adakan di aula Klan, dengan alasan keamanan, setiap orang yang memasuki aula klan, termasuk tetua akan diperiksa.


"Mohon tetua kedua untuk diperiksa." Pria paruh baya yang merupakan orang tetua pertama berkata setelah melihat tetua kedua hendak memasuki aula klan.


Tetua kedua beserta beberapa orangnya seketika memasang wajah tak sedap, alisnya berkedut membentuk guratan.


"Apa maksudmu? Apakah kau mencurigaiku akan berbuat curang? Aku tak perlu berbuat curang untuk memenangkan pertarungan." Tetua kedua berkata dengan wajah tersulut emosi.


"Hanya sekedar formalitas, meskipun hanya pertarungan internal, tentu harus sesuai aturan." Tetua pertama berjalan menghampiri tetua kedua, kemudian tanpa banyak omong langsung melakukan pemeriksaan.


"Tidak perlu membuat semuanya menjadi rumit, jika tidak melakukan kesalahan untuk apa begitu cemas." Tetua pertama mengatakan kalimat yang terdengar menyindir.


Meskipun ia tidak begitu percaya dengan perkataan sosok yang ditemuinya kemarin, melihat bagaimana sikap tetua kedua dia mulai sedikit curiga.


Tetua pertama masuk ke dalam aula dengan beberapa orangnya yang masih mengekor dari belakang.


Sambil terus berjalan dia melirik tetua kedua beserta orangnya.


Beberapa orang di belakang tetua kedua terlihat maju dan melewati pemeriksaan tanpa beban.


Wajah orang yang memeriksa pun terlihat biasa, menunjukkan tidak ada yang aneh dari kedua orang itu.


Namun saat orang tetua kedua lainnya melakukan pemeriksaan, wajah orang yang memeriksa seketika banjir dengan keringat.


"Kau kanapa?" tanya heran pria yang tangannya masih terangkat.


"Ti.. Tidak ada, hanya sedikit panas." Pria itu mengatakan dengan terbatas, tangannya mengelap keringat di dahinya yang sungguh tak ada habisnya.

__ADS_1


Tetua pertama yang melihat ekspresi buruk orangnya pun menyipitkan mata, wajahnya terlihat suram.


"Apakah sungguh ada?"


__ADS_2