Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 254 : Hadangan


__ADS_3

Zhou Fan memasukkan semua botol itu ke dalam cincin penyimpanan, mata pria berambut keriting tak lagi bisa berpaling.


Cih...


Bin Tuang melangkah pergi tanpa peduli pandangan semua orang, kini wajahnya benar benar tercoreng. Dia seakan tak mempunyai keberanian untuk tetap berada di sana.


Semua yang ada di sana masih memandang Zhou Fan dengan terkejut, mereka tak menyangka keberuntungan yang telah hilang kembali begitu cepat.


Sebenarnya itu bukanlah keberuntungan semata, kartu kartu itu memiliki warna putih di bagian luarnya, jika lama dipegang tentu akan sedikit membekas dan menciptakan sebuah tanda.


Dengan pengamatan yang lebih teliti, Zhou Fan dapat membedakan kartu kartu tersebut, meskipun tidak semua dia ketahui.


"Tuan muda, ini adalah kunci ruangan anda, jika anda berkenan biarkan saya mengantar anda." Pria paruh baya yang juga menyaksikan permainan, begitu melihat Zhou Fan hendak beranjak dengan segera mendekat.


Zhou Fan mengangguk, membiarkan pria paruh baya memimpinnya jalan. Keduanya menaiki tangga, beberapa pintu ruangan dia lewati, dan akhirnya berhenti di salah satunya.


"Ini adalah ruangan yang tuan muda pesan, terdapat kamar mandi juga di dalam." Pria paruh baya itu hendak pergi, tapi tangan Zhou Fan terangkat mengambil sesuatu dari balik pakaian.


"Paman, ini adalah hadiah dariku. Anggap saja sebagai perayaan atas keuntungan yang aku dapatkan. Di dalamnya terdapat dua pill bulan tingkat ke delapan."


Pria paruh baya itu meraih botol di tangan Zhou Fan dengan tangan gemetar, dia yang merupakan petarung rendahan tentu mengerti akan pentingnya pill bulan yang dimaksud, terlebih itu adalah pill tingkat ke delapan.


Pria paruh baya itu menyimpan botol dengan wajah haru, baru pertama kali dalam pengabdiannya untuk melayani sebuah penginapan dia mendapatkan hadiah dari tamu.


"Tuan muda, anda harus lebih berhati hati. Tuan Bin Tuang terlihat pergi dengan wajah tak enak, dia mungkin akan melakukan sesuatu terhadap anda." Pria paruh baya itu tak tahan untuk tidak mengingatkan.


Pemuda di hadapannya begitu baik terhadapnya, tidak mungkin dia tidak tahu bagaimana cara untuk membalasnya. Setidaknya dengan mengingatkan, dia memberikan Zhou Fan kesempatan untuk lebih waspada.


"Baiklah paman, aku akan mengingatnya." Zhou Fan menarik pintu dan masuk ke dalam, saat hendak menutup, pria paruh baya kembali berkata.


"Tuan Bin Tuang merupakan pimpinan bandit di desa ini, oleh sebab itu meskipun acap kali menimbulkan masalah bagi kami, tidak ada yang berani melarangnya."


Setelah berkata pria paruh baya itu pergi dengan wajah senang, tak lupa dia berharap agar Zhou Fan dapat terhindar dari masalah yang disebabkan oleh Bin Tuang.


Masuk ke ruangan, Zhou Fan tak langsung merebahkan tubuhnya. Dia masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri sambil berpikir tentang Bin Tuang.


"Bandit?" Zhou Fan mengelus dagu sambil tangan lain mencuci rambutnya, tak jarang dia memijat kepala yang membuatnya sedikit keenakan.


Hem...

__ADS_1


Senyuman terbit di bibirnya, entah apa yang akan dia lakukan, yang jelas hanya dia sendiri yang mengetahuinya.


Setelah puas menyibukkan diri dengan guyuran air, Zhou Fan keluar dan langsung beristirahat di atas tempat tidur.


Pagi datang tanpa diundang, matahari telah bersinar terang memamerkan senyuman mengagumkan.


Zhou Fan yang berada di dalam ruangannya, tak tahan untuk tidak membuka mata, suara bising dari lantai bawah menyebar hingga ke dalam ruangan tanpa adanya peredam.


Zhou Fan turun ke lantai satu. Setiap anak tangga yang dia injak, seolah membungkuk hormat.


Dia mengenakan pakaian lain, dia mengenakan pakaian berwarna hitam dengan ikat pinggang yang juga hitam.


Meskipun hanya ada satu warna yang menjadi dasar pakaian yang dikenakannya, terdapat aksen garis emas melengkung dari kerah turun hingga ke pinggang.


Zhou Fan keluar penginapan, orang orang yang melihatnya kemarin malam tak kuasa untuk terus memandang. Zhou Fan bagai harta berjalan, kilauan mata memandang bak serigala yang tengah mengintai mangsa.


Baru selangkah dia keluar dari penginapan, tapi suara berat terdengar dari depan.


Zhou Fan yang sempat merendahkan pandangannya, menengadahkan kepala, dan dapat melihat jelas belasan orang berdiri menghalangi jalannya.


"Paman, apakah kau berniat bermain denganku lagi?" Zhou Fan berkata sembari memandang pria berambut keriting, seolah hubungan mereka sangatlah dekat.


"Paman, aku rasa yang kau maksud bermain itu berbeda dengan yang aku maksud. Namun jika kau ingin 'bermain', aku dengan senang hati memberikan permainan yang memuaskan." Zhou Fan sudah memperkirakan hal ini akan terjadi, tapi tak mengira Bin Tuang akan menyerang begitu terang terangan.


"Benar seperti yang dikatakan pria kemarin, Bin Tuang merupakan penguasa nyata desa ini, oleh sebab itu dia tak takut dengan ancaman orang orang." Zhou Fan membatin sambil pandangannya menyisir ke sekitar.


Sangat banyak pasang mata yang memandang ke arahnya, tapi tak ada satupun diantara mereka yang berniat ikut campur urusannya.


"Jika kau menginginkan mereka membantumu, maka hapus lah pikiran itu, mereka tak akan melakukannya!"


Bin Tuang meraih pedang di tangannya, dia yang merupakan petarung raja bintang delapan sepenuhnya yakin dapat mengalahkan pemuda di hadapannya.


Dia membawa sepertiga dari bawahannya untuk berjaga agar sasarannya tidak melarikan diri, sedang untuk bertarung, dia akan maju sendiri.


Hem...


Zhou Fan mendengus dingin, dia tak merespon apa yang dikatakan pria berambut keriting tersebut.


Hal itu kontan memancing amarah Bin Tuang, dengan satu kali hentakan dia melesat bak anak panah yang meluncur dari busur.

__ADS_1


"Cincin api!"


Bin Tuang sambil terbang menodongkan pedang, kemudian berteriak mengeluarkan jurus andalan.


Tiga cincin terbentuk dari api yang bergejolak. Ketiga cincin api bergerak membentuk sebuah barisan.


Zhou Fan yang melihat hal itu tak bergeming dari tempatnya, mengeluarkan pedang dari cincin penyimpanan dan dengan cepat melakukan tebasan.


"Tebasan ganda!"


Dua tebasan meluncur dengan begitu cepat, bentuknya yang cekung bak bulan sabit melaju tak menghiraukan cincin api yang bergerak berlawanan.


Blar!


Cincin api terbelah dan hancur seketika, tapi siluet tebasan masih terus bergerak mengincar lawan.


Mata Bin Tuang melebar sempurna, beberapa orang di belakangnya tak kalah terkejut.


'Bagaimana mungkin!' Itulah kalimat yang dapat dilihat dari ekspresi mereka.


Boom!


Ledakan terdengar memekakkan telinga, beberapa orang yang terkena tumbang dengan pakaian tercabik. Sementara Bin Tuang dengan beberapa orang lainnya yang berhasil menghindar, memasang ekspresi buruk.


"Tuan, tuan muda. Aku salah, mohon ampun tuan muda."


Bin Tuang yang selalu memasang wajah arogan, kini duduk bersimpuh memohon ampunan dari seorang pemuda.


Semua orang termasuk bawahannya sendiri tak menyangka akan hal ini, mereka tak akan percaya jika tak melihatnya dengan mata kepala sendiri.


Bin Tuang tak peduli pandangan heran semua orang, dia tahu kekuatan jurus miliknya. Itu adalah jurus terkuat yang dia miliki, tidak seorangpun petarung raja dapat menahannya.


Dengan kata lain pemuda di hadapannya merupakan petarung tingkat kaisar. Menjadi petarung tingkat kaisar dengan usia yang begitu muda tentu memiliki latar belakang hebat, dengan memikirkan hal itu, Bin Tuang rela merendahkan harga dirinya.


Zhou Fan tak kalah terkejut, dia mengira pertarungan akan sangat menguras tenaga, tak dia sangka akan berakhir dengan satu kali jurus.


Pemuda itu kemudian menarik kaki yang senantiasa di peluk oleh Bin Tuang.


"Paman, waktu bermain belum selesai."

__ADS_1


__ADS_2