
"Kakak, kau belum menjadi murid luar secara resmi. Berhentilah bersantai dan ayo keluar." Yin Cun menarik tangan Zhou Fan, keduanya tinggal dalam satu kediaman, meski tidak besar, juga termasuk lumayan.
"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu! Kau lebih tua dariku, aku tak sudi memiliki adik sepertimu." Zhou Fan yang lama kelamaan mendengar Yin Cun memanggilnya kakak, tak lagi dapat menahan rasa mual ketika mendengar nya.
Yin Cun memasang tampang tak bersalah, sambil melipat tangan di dada dia menampilkan senyum merekah. "Bukankah kau yang memaksaku kemarin?"
Zhou Fan sejenak mengingat kejadian kemarin, dia yang ingin melihat Yin Cun kesal tanpa sengaja malah menjebaknya dalam keadaan yang merepotkan.
"Lupakan, aku tak akan menuntut mu untuk melakukanya jika kau tak ingin." Mau menarik perkataannya, Zhou Fan merasa hal itu tidak pantas dilakukan bagi seorang pria, dia memutar fakta dengan menyangkut pautkan keterpaksaan.
Yin Cun tak bodoh, dia tahu dengan hanya melihat ekspresi Zhou Fan yang seakan enggan untuk bertatapan dengannya.
"Dari dulu aku menantikan saudara, sekarang aku sudah memiliki kakak, kenapa aku harus memutus hubungan yang baru saja dimulai?" Yin Cun mengangkat tangan sering bahu, memamerkan rentetan gigi yang berjajar rapi.
"Hubungan kepalamu! Jika kau ingin berhubungan, aku akan mencarikan babi betina yang cantik." Zhou Fan menjitak kepala Yin Cun, membuat si empunya meringis.
"Kau saja berhubungan dengan babi betina. Jika aku, tentu akan mencari pasangan yang cantik, aku dengar di sekte bulan sejati banyak sekali wanita cantik." Yin Cun mengedipkan sebelah mata dan langsung keluar meninggalkan Zhou Fan yang masih mematung di tempatnya.
"Oh ya, upacara peresmian akan segera dilaksanakan. Segera lah datang ke altar murid luar." Sebelum menutup pintu, Yin Cun berkata dengan nada sedikit lantang.
"Tak perlu kau katakan, aku tahu." Zhou Fan berdiri dari tempat tidur, dia merapikan bantal dan juga selimut yang masih berantakan akibat ulahnya.
"Kakak, cepatlah. Karena menunggu itu sangat tidak en--"
Bang...
Yin Cun sekali lagi menyebutnya sebagai kakak. Zhou Fan yang kesal langsung melemparkan bantal di tangannya, tapi Yin Cun terlebih dahulu membanting pintu dengan keras.
"Dasar babi jantan!" Zhou Fan terkekeh dan melanjutkan kegiatannya.
Begitu selesai, dia bergegas membersihkan diri dan berganti pakaian menggunakan pakaian yang baru diperolehnya.
Pakaian berwarna perak khas murid luar terlihat gagah saat melekat pada tubuh pemuda itu, dengan ikat pinggang berwarna senada, juga rambut terikat ke belakang, menambah kesan fenomenal padanya.
Zhou Fan keluar kediamannya. Yin Cun, itu adalah obyek pertama yang dia lihat saat keluar kediaman, membuatnya tidak begitu ceria seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Saudara Zhou, apa yang kau pilih nantinya. Karena aku ingin lebih mendalami alkemis, aku akan masuk lapisan alkimia. Bagaimana denganmu?"
Mendengar perkataan Yin Cun, Zhou Fan spontan menatap ke arah temannya. Dia tak percaya ternyata yang menjadi tujuan Yin Cun adalah lapisan alkimia.
"Aku akan mendalami formasi ruang, jadi aku akan masuk ke lapisan formasi."
Yin Cun mengerutkan keningnya, tapi itu kembali normal ketika mengingat kemampuan Zhou Fan.
Formasi adalah kemampuan yang hanya bisa dipelajari ketika mencapai petarung kaisar, meski telah berusaha dengan begitu gigih, tapi kultivasi masih belum mencapai petarung kaisar, sama sekali tak akan berarti.
Yin Cun tak memandang Zhou Fan tinggi, tapi dia yakin temannya itu memiliki kemampuan yang tidak bisa diremehkan.
Tak terasa, keduanya telah sampai di altar murid luar, tempat berkumpul uang telah ditentukan.
Murid luar yang datang hanya yang termasuk baru, sementara murid luar yang lama tidak ada sama sekali.
Altar yang cukup luas hanya diisi sekitar tiga puluh orang, dua puluh lima merupakan murid sedang sisanya merupakan tetua. Altar murid luar terlihat begitu lenggang, meski tak jarang suara orang berkata terdengar di sana.
Zhou Fan yang baru saja datang langsung masuk ke dalam barisan, tatapan kagum juga memuja senantiasa terarah ke arahnya. Seluruh murid baru itu tahu, siapa sosok Zhou Fan sebenarnya, karena mereka berada dalam satu kapal.
Seorang tetua dengan pakaian serba coklat berkata sambil berjalan memutari dua puluh lima murid luar.
"Murid baru biasanya menjadi bahan penindasan, jika kalian hanya diam, kalian akan terus di tindas. Sekte bulan sejati tidak melarang kompetisi, tapi jangan harap dapat membunuh sesama murid di sini."
"Jika ingin kuat, harus melawan! Jangan diam saat ada yang menindas." Tetua itu melirik satu persatu wajah murid luar, ketika tak mendapati ekspresi ragu atau takut, dia tertawa sambil bertepuk tangan.
"Bagus, seperti itulah petarung sejati. Aku tanya kepada kalian, siapa yang ingin kuat?!"
Aku!
Aku!
Seluruh murid berteriak tanpa mengalihkan pandangan, mereka bagai prajurit kekaisaran.
"Cih... Siapa yang tidak ingin kuat, semua orang ingin kuat." Yin Cun menggerutu sambil memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Yin Cun! Coba ulangi ucapan mu!" Tetua itu tiba tiba saja sudah berada di sebelah Yin Cun, membuat semua murid di sana terkejut.
Zhou Fan yang berada tepat di samping Yin Cun hanya diam sembari melemparkan ejekan kecil terhadapnya.
"Apa yang kau katakan, telingaku gatal, coba kau ulangi." Tetua yang sekiranya berumur delapan puluhan tahun itu menaikkan satu alisnya.
"Tidak tetua, itu - bulan bersinar cerah hari ini." Yin Cun sengaja mengangkat pandangan, tak menemukan bulan ekspresinya semakin buruk.
"Apanya yang bulan! Berdiri yang tegak!" Tetua itu menarik pundak Yin Cun hingga membuat pemuda itu meringis menahan cengkeraman pada pundaknya.
Hari masih terang benderang, tapi murid di hadapannya membual masalah bulan. Sungguh tak habis mengerti.
"Aku ingin lihat bagaimana ketahanan tubuh fisik kalian." Bersamaan dengan itu batu besar berdiameter sama dengan tinggi mereka muncul di hadapan masing masing murid.
"Tetua, sepertinya batu kami keliru." Yin Cun menunjuk batu di hadapannya, meski dari ukuran terlihat sama, tingkat kekerasan sama sekali berbeda.
Dengan melihat saja sudah tahu bahwa batu milik dia, Zhou Fan dan juga Loin Gu lebih berat dua kali lipat dari batu murid lainnya.
"Itu khusus untuk kalian, jika kurang katakan saja." Tetua itu tersenyum miring.
"Batu itu tak akan ada masalah bagi Yin Cun, dia bahkan bisa mengangkat dua batu seperti sekaligus." Zhou Fan mengatakan sembari tersenyum mengejek.
"Aku berkata kalian, itu artinya kalian." Mendengar perkataan pria tua di hadapannya, Zhou Fan langsung terdiam.
"Cepat angkat batu itu, di sini ada dupa, saat dupa habis kalian bisa meletakkannya." Tetua itu langsung berbalik dan hendak pergi.
"Satu batang dupa kan? Heh itu bukan masalah besar bagiku."
"Ini adalah pekerjaan sampingan ku."
Seluruh murid berkata dengan percaya diri, sementara para tetua tersenyum penuh arti.
"Jangan, kalian bebas sat dupa terbakar habis." Salah seorang tetua mendekat dengan di tangannya membawa batang dupa.
Melihat dupa yang dibawa, tak ada yang tak tersedak. Pasalnya dupa yang digunakan bukan dupa biasa, itu adalah ukuran jumbo, yang dapat bertahan tiga kali lipat dari pada dupa biasa.
__ADS_1
"Penindasan, ini adalah penindasan!"