Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 54 : Hukuman?!


__ADS_3

Babak kualifikasi sudah berakhir beberapa saat yang lalu. Zhou Fan yang tidak ingin begitu menonjol, berpura pura kalah pada saat sudah mengantongi tiket turnamen.


Sekarang Zhou Fan bersama dengan Lee berada di kedai tempat pertama kali mereka mengobrol. Merasa nyaman dengan suasana di sana, akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke sana lagi.


"Lee, kau setelah ini akan pergi?" Zhou Fan bertanya pada temannya itu sambil meneguk gelas anggurnya.


"Mau bagaimana lagi, bukannya aku tak ingin bersamamu tapi aku harus terus berkembang, saat kita bertemu lagi nanti, aku harap kau tidak...." Lee sengaja menghentikan ucapannya setelah melihat temannya itu menunggu ucapan selanjutnya.


"Tidak...


"Tidak apa?!" Zhou Fan memukul bahu lee sedikit keras, pemuda itu sudah kesal menunggu ucapan temannya itu, terlebih Lee terlihat sengaja membuatnya penasaran.


"Kau tidak sabaran sama sekali!" ucap Lee dengan wajah cemberut, seraya menggosok bahunya yang di pukul Zhou Fan.


"Kau yang membuatku kesal!" Zhou Fan berdiri dari duduknya ingin memukul pemuda itu lagi, yang menurutnya sangat menyebalkan, tangannya bahkan sudah mengepal keras.


"iya, akan aku lanjutkan, tenanglah dulu" nyalinya menciut melihat wajah menyeramkan Zhou Fan.


"Aku harap kau tidak akan lebih lemah dariku jika nanti kita bertemu," ucap Lee terkekeh.


"Cih... itu tidak akan terjadi! kau saja menyerah dihadapan seorang wanita, apa kau yakin bisa mengalahkanku?" tanya Zhou Fan sambil melirik Lee yang sekarang berwajah sedikit jelek setelah mendengar ucapan Zhou Fan.


"Aku bukannya kalah, hanya 'mengalah'," elak Lee


**


Zhou Fan telah berada di kediamannya, setelah berpisah dengan lee di kedai, ia langsung bergegas pulang, kembali ke desa Giok.


sampai di kediamannya, Zhou Fan tidak menemukan siapapun disana, bahkan ibunya yang biasanya selalu dirumah tidak terlihat batang hidungnya.


Zhou Fan memutuskan untuk pergi ke kamarnya setelah menyantap makanan yang ada di meja makan, mungkin ibunya tahu dirinya akan pulang jadi menyiapkan makanan untuknya.


Zhou Fan tak tahu jika makanan tersebut bukanlah makanan untuk dirinya.


Baru beberapa menit Zhou Fan memejamkan matanya, sebuah teriakan dari luar memaksanya untuk kembali terjaga.


"Zhou Fan!" seseorang terdengar memanggil namanya dengan marah.


Zhou Fan yang sudah terbangun tiba tiba merasakan perasaan tidak enak, ia merasa akan mendapatkan suatu masalah.


"Ibu tahu kau ada di dalam!" orang itu tidak lain adalah Zhou Qian.


Zhou Qian baru saja kembali, saat ia melihat meja makan ternyata makanan di atas meja tersebut sudah tinggal sedikit.

__ADS_1


Padahal ia memasak begitu banyak karena akan ada tamu yang akan datang ke kediamannya. jika bukan untuk menjamu tamu yang akan hadir, ia tidak akan mempermasalahkannya bahkan jika Zhou Fan menghabiskan seluruh makanan yang ada.


"Ngiiiikkk...." suara pintu terbuka dan memperlihatkan seorang pemuda dengan wajah tanpa bersalah.


Melihat wajah putranya yang tidak ada rasa bersalah sedikitpun, Zhou Qian semakin geram.


"aduh duh... ampun ibu..." Zhou Fan menampilkan ekspresi memelas sambil menatap wajah ibunya.


"Siapa yang menghabiskan makanan di meja makan?" tanya Zhou Qian dengan ekspresi yang masih terlihat kesal.


"Mm... makanan?" Zhou Fan pura pura menampilkan tampang bodohnya, ia sekarang sudah tahu akar permasalahan yang membuat ibunya marah.


Zhou Qian tersenyum smirk ketika menyadari ada sisa makanan di mulut putranya, ia menatap putranya dalam dalam.


"glekk... "


Zhou Fan yang belum menyadari ada sesuatu yang menempel di atas bibirnya pun menelan ludahnya secara paksa melihat senyuman ibunya.


Zhou Fan berusaha mencari cari alasan yang terlihat masuk akal, tapi bersamaan dengan itu ibunya memberikan Zhou Fan sebuah kain.


Zhou Fan melihat ibunya, seakan akan meminta penjelasan.


"Untuk mulutmu..." ucap Zhou Qian menyeringai, sambil menunjuk ke arah mulut putranya.


"Ssrett... " Zhou Fan mengelap mulutnya.


Ia melihat kain di tangannya dan matanya melebar saat mendapatkan sebuah potongan sayur di kain yang ia pegang.


"Hehe....oh ibu bertanya siapa yang menghabiskan makanan itu, Fan'er yang memakannya ibuu..." Zhou Fan tertawa canggung, ia tidak akan mengira akan terdapat potongan sayur di sekitar bibirnya.


"Sungguh bodohnya diriku, seharusnya aku mandi terlebih dahulu sebelum memutuskan tidur tadi," sesal Zhou Fan dalam hati.


Ttak tak tak


Zhou Qian menghentakkan kakinya pelan, dengan kedua tangan bersendekap, menunggu penjelasan lebih lanjut dari putranya.


"Maaf...." hanya kata itu yang bisa Zhou Fan keluarkan, dia menundukkan kepalanya sebagai tanda rasa bersalah.


Fiuh....


Zhou Qian menghembuskan nafas kasar untuk menenangkan pikirannya.


Melihat wajah putranya yang terlihat menyesal, Zhou Qian tidak berniat memperpanjangnya.

__ADS_1


Ini juga bukan sepenuhnya kesalahan putranya, dia keluar sebentar untuk membeli barang di pasar, ia tidak menyangka putranya akan tiba dirumah dan menghabiskan makanan yang sebenarnya ia siapkan untuk jamuan makan malam.


Zhou Fan yang merasa bersalah mendekati ibunya dan bertanya, "Untuk siapa sebenarnya makanan itu ibu?"


"Tetua ketiga nanti malam akan ke sini, ayahmu mengundangnya makan malam, tapi sepertinya makan malam itu akan gagal...,"


"Melihat bahan makanan sudah tidak tersedia, pergi ke pasar juga akan sia sia karena hari sudah petang, tentu mereka sudah menutup dagangannya masing masing," ucap Zhou Qian dengan nada sedikit sedih.


Ia merasa tidak enak dengan tetua ketiga jika harus mengantarkannya kembali tanpa menyediakan makan malam untuknya.


Zhou Fan yang melihat perubahan ekspresi ibunya juga dapat melihat kesedihan ibunya, ia memikirkan sebuah cara untuk bisa membantu ibunya.


Mata Zhou Fan berbinar ketika mengingat ada beberapa daging beast di dalam cincin penyimpanannya, di dalam sana juga terdapat teh hadiah dari Ketua Chen.


"Ibu, aku mempunyai daging beast. Ibu dapat mengolahnya untuk makan malam nanti, aku juga mempunyai teh yang sangat istimewa," ucap Zhou Fan dengan semangat.


Mendengar ucapan putranya, wajah sedih Zhou Qian sudah tidak terlihat lagi.


"Benarkah? bagus kalau begitu, dan kau harus membantu ibu menyiapkan makan malamnya," ucapnya tegas, layaknya sebuah perintah mutlak.


Dengan sedikit tidak rela Zhou Fan membantu ibunya memasak daging beast itu, Zhou Fan memilih daging beast tingkat 2 untuk dimasak oleh ibunya, karena beast tingkat 2 lah yang terendah dari keseluruhan daging yang Zhou Fan miliki.


"Kenapa harus aku yang memasaknya, huh kukira aku hanya membantu...," gerutu Zhou Fan setelah melihat ibunya tidak melakukan apapun saat di dapur.


Memang Zhou Fan lah yang melakukan semua hal di dapur itu, Zhou Qian hanya bertugas memantau dan sesekali memberitahu putranya jika putranya itu melakukan kesalahan.


"Kenapa kau melirik seperti itu, ibu tidak akan membantumu meskipun kau memohon sekalipun. Kau yang sudah memakan makanan itu, dan menjadi kewajibanmu menggantinya," ucap Zhou Qian setelah melihat putranya mencuri curi pandang kepadanya.


Zhou Fan hanya bisa menghembus nafas pasrah, kemudian melanjutkan kegiatannya, meskipun beberapa kali ia menggerutu kesal.


"Ibu, selesai..."


Setelah menghabiskan beberapa saat di dapur, akhirnya Zhou Fan sudah berhasil membuat beberapa hidangan yang semuanya menggunakan bahan utama daging beast tingkat 2.


Zhou Qian yang tidak sadar tertidur di kursi dekat putranya pun terkejut mendengar suara putranya.


"Ah..apa? sudah selesai?" ucapnya.


"Heem..." Zhou Fan bergumam sambil menganggukkan kepalanya.


Melihat beberapa hidangan di depannya, Zhou Qian pun mengangguk puas.


Ia menoleh ke arah putranya, lalu menyuruh putranya itu segera bersiap untuk makan malam bersama, melihat sebentar lagi akan memasuki waktu makan malam.

__ADS_1


__ADS_2