
"Benar-benar sakte nomor satu," gumam Zhou Fan saat melihat betapa luas sekte yang baru saja dia masuki, padahal itu hanyalah wilayah depannya saja.
Zhou Fan mengikuti beberapa orang yang seperti nya memiliki tujuan yang sama dengannya.
Di sebuah coloseum sekarang Zhou Fan berada. Di hadapannya sekarang tertampang nyata arena pertarungan.
Zhou Fan mencoba memerhatikan sekitarannya, dan dia menemukan beberapa orang memakai pakaian sangat mewah dan sedang duduk di tempat khusus.
Zhou Fan merasa orang yang memiliki ciri itu siapa lagi kalau bukan Kaisar.
Zhou Fan kembali fokus ke arena, karena seorang wanita tua tengah berjalan menaiki arena.
Sambutan dari para penonton mulai terdengar mengerikan, sorakan dan teriakan mengiringi tepuk tangan yang mereka berikan.
Wanita tua di atas arena yang mengaku sebagai wakil patriark sekte pedang suci mulai memberikan pidatonya.
Penonton yang tak sebar mulai bergelora, dan berbuat onar, tapi seketika berhenti kala wanita tua itu menyatakan turnamen antar sekte telah di mulai.
Pertandingan demi pertandingan berjalan membosankan bagi Zhou Fan, kerana dia hanya memiliki satu tujuan, melihat Wei Guanlin.
"Apakah dia tak mengikuti turnamen? Melihat kultivasi peserta yang telah bertanding seharusnya dia menjadi yang paling menonjol."
Zhou Fan mengelus dagunya dangan tatapan heran.
Saat nama tuan putri disebut, semua orang tak dapat mengalihkan perhatiannya dari arena, semua menantikan putri kaisar yang dikatakan sangat cantik.
Meskipun Zhou Fan tak begitu tertarik dengan yang namanya 'tuan putri', tapi rasa penasaran tak akan pernah luput darinya.
Tak lama seorang gadis muda dengan pakaian serta cadar berwarna merah muda menaiki arena dengan anggunnya.
Zhou Fan tak menyadari tuan putri dan wanita yang di harapkan muncul adalah wanita yang sama.
Sedangkan untuk para penonton, meskipun tak dapat melihat dengan jelas wajah tuan putri yang dibicarakannya, mereka tetap bersorak layaknya musik yang mengiringi seorang penari.
Tak lama seorang wanita yang juga merupakan lawan dari Wei guanlin, menaiki arena.
Wajahnya yang juga termasuk cantik membuat beberapa pria berteriak menggoda.
"Apakah sudah siap?" tanya seseorang yang juga berada di atas arena.
Seorang pria yang dari tadi sudah di atas arena mulai mengangkat sebelah tangannya.
Kedua peserta mengeluarkan senjata masing masing.
Wanita muda yang mengaku bernama Zhi Yue bergerak melesat menyerang Wei Guanlin dengan pedang di tangannya.
Wei Guanlin menggeser tubuhnya, membuat pedang Zhi Yue hanya membelah angin.
Wush...
Angin berhembus kencang, membuat pakaian Wei Guanlin mengibar dengan indah.
__ADS_1
Namun serangan dari gadis itu tak sampai di situ, dia mengayunkan pedangnya dan memburu kepala Wei Guanlin.
Wei Guanlin menarik kepalanya ke bawah, merasa pedang lawannya telah melewati kepalanya, dengan cepat Wei Guanlin berdiri dan menyarangkan tebasan mengincar perut Zhi Yue.
Merasakan bahaya mengarah ke samping tubuhnya, Zhi Yue menarik pedangnya dan membentangkan di perut bagian samping.
Trang...
Pedang keduanya beradu, menimbulkan suara nyaring yang terdengar menggema.
Wei Guanlin mendorong pedangnya keluar, membuat Zhi Yue terhuyung kesamping.
Tak menyia-nyiakan kesempatan Wei Guanlin maju memburu Zhi Yue yang masih berusaha berdiri tegak.
Trang.... Trinh....
Meskipun dalam posisi tidak menguntungkan, wanita berponi itu terus menangkis dengan segenap usaha yang dia kerahkan.
Bruk!
Zhi Yue yang terus melangkah mundur sambil menangkis serangan Wei Guanlin, tiba tiba kehilangan keseimbangan, dan akhirnya terjatuh.
Sebelum Zhi Yue kembali bangkit, sebuah pedang tergolong ke arah lehernya.
Gleg!
Zhi Yue meneguk kasar ludahnya, kemudian mengangkat wajahnya perlahan.
"Aku menyerah," ujarnya dengan kecewa.
"Pemenangnya adalah... Tuan Putri Wei." Pria yang menjadi wasit berseru sembari mengarahkan tangannya ke arah 'Tuan Putri Wei'.
Keduanya pun menuruni arena, lalu menuju tempatnya masing masing.
"Apakah Lin'er tak mengikuti turnamen, tapi mengapa, seharusnya dia tidak kalah dengan Tuan Putri Wei jika dia ikut bertanding." Zhou Fan membatin dengan kecewa, dia datang hanya untuk melihat kekasihnya, tapi dia tak kunjung bertemu dengannya.
"Mungkin aku harus mencarinya sendiri, tapi sebaiknya setelah turnamen ini saja. Jika tidak salah turnamen hanya akan diberlangsungkan satu hari saja," Zhou Fan Memangut dagunya sambil membatin.
Setelah menghabiskan seluruh peserta dalam babak pertama, akhirnya telah tersisa enam belas peserta yang lolos ke babak selanjutnya.
"Sepertinya Lin'er memang tak mengikuti turnamen, apakah dia dihukum oleh gurunya, karena terlambat kembali dari penjelajahan makam?" Zhou Fan semakin mengusut dagunya, seakan dia tengah di hadapan dengan situasi hidup mati.
"Jika seperti itu, aku merasa menjadi penyebabnya...," Zhou Fan menghela nafas rendah.
Babak enam belas besar tidak jauh berbeda dengan babak pertama, para peserta yang masih tersisa harus mengalahkan lawannya agar dapat melaju ke babak delapan besar.
Dari sebelas sakte yang berdiri di wilayah Ibukota Kekaisaran, hanya delapan yang bersedia ikut serta, yang masing masingnya mendapatkan empat tempat untuk berkompetisi.
Wei Guanlin sebagai salah satu kandidat juara mendapatkan perhatian penuh dari pihak lain, terutama putra perdana menteri, yang juga merupakan kandidat lain, memerhatikannya dengan begitu dalam, seakan tak ada obyek lain selain wanita berusia dua puluh satu tahun tersebut.
Tak terasa babak delapan besar berlangsung begitu cepat, sekarang hanya tersisa empat peserta termasuk Wei Guanlin dan juga Putra perdana menteri, Tang Guyu.
__ADS_1
....
"Suatu kehormatan dapat berhadapan dengan Tuan Putri Wei...," Seorang pemuda dengan pedang ganda sebagai sejatanya menangkup tangannya sembari sedikit membungkuk.
Wei Guanlin tak menjawab, dia hanya menirukan apa yang dilakukan pemuda lawannya tanpa mengucap sepatah kata pun.
Pemuda yang terlihat berumur dua puluh tujuh tahun itu tersenyum kecut, meskipun sudah mengetahui sifat Tuan Putri Wei yang begitu dingin, dia tak mengira akan sangat sangat dingin.
"Dia begitu diingin, bahkan tak mau membalas perkataan lawannya," Zhou Fan membatin dengan kening mengerut.
"Sangat berketerbalikan dengan sifat Lin'er," batin Zhou Fan, tanpa sadar dia membandingkan sifat Tuan Putri Wei dengan kekasihnya, Wei Guanlin.
Andai dia tahu, sifat Wei Guanlin yang memang akan sangat hangat jika bersama dengan orang terdekatnya, begitu pun sebaliknya. Selama ini Zhou Fan tidak tahu bagaimana sifat Wei Guanlin, karena wanitanya selalu bersikap hangat bahkan cerewet kepadanya, tidak seperti sosok Tuan Putri Wei yang ia lihat sekarang.
Pertarungan antar keduanya pun berlangsung sengit, sampai pemuda bernama Bu Kan menyerah dengan senjata terlepas dari tangannya.
Setelah menunggu satu pertandingan lagi, Wei Guanlin bersiap menghadapi lawannya pada pertandingan final. Siapa lagi jika bukan Tang guyu, yang menjadi lawannya.
Meskipun bukanlah tandingan dari Wei Guanlin, Tang Guyu juga merupakan pemuda jenius yang diakui oleh kekaisaran, tidak ada yang tak mengenalnya di kalangan Ibukota.
Pertandingan final antara dia jenius yang paling terkenal tentu mendapat sambutan meriah dari berbagai orang, termasuk yang menjadi lawan mereka sebelumnya.
"Tuan Putri, apakah kau mau berjanji satu hal kepadaku?" Tang Guyu mengatakan dengan senyum seringai yang terlukis di wajahnya.
Wei Guanlin diam, tapi keningnya nampak mengerut.
Tang Guyu yang melihat reaksi lawan bicaranya, melanjutkan perkataannya. "Apakah kau bersedia menjadi istriku jika aku berhasil mengalahkanmu?"
Lontaran kata tak masuk akal tak hanya mendapat tanggapan dari Wei Guanlin, tapi juga para penonton. Mereka seketika saling berbisik dengan orang di sampingnya.
"Tuan Muda Tang begitu berani, bahkan di hadapan Yang Mulia Kaisar dia tak sungkan."
"Pemuda jenius memang berkelas, begitu terus terang dalam membuat penawaran."
"Apakah kau pantas?" Wei Guanlin berucap pendek, tapi cukup menusuk.
Ugh...
Tang Guyu menahan nafasnya, seolah mendapat penghinaan yang amat sangat memalukan.
"Apakah Tuan Putri takut kalah, jika seperti itu aku akan memahaminya, tentu sebagai seorang pria aku tak akan memaksa Tuan Putri untuk menyetujuinya." Tang Guyu berkata dengan tersenyum ramah, tapi tersirat ejeken di dalamnya.
"Bagaimana jika kau kalah?" Wei Guanlin bertanya tanpa merubah nada bicaranya.
"Khe khe.. Jika aku kalah ... " Tang Guyu memiringkan kepalanya, sedikit tidak mengira dengan perkataan Wei Guanlin.
Namun wajahnya berubah senang, dan kemudian berseru dengan cepat. "Cincin penyimpangan yang berisi seluruh harta milikku akan aku berikan sebagai hadiah."
Sekali lagi semua orang di buat terperangah, karena siapa yang tidak dapat memperkirakan isi di dalam cincin seorang putra perdana menteri.
"Akan aku terima cincinmu tanpa sungkan." Wei Guanlin melesat tepat setelah mengatakannya, karena bersamaan dengan wasit yang menurunkan tangannya, tanda pertandingan sudah di mulai.
__ADS_1
"Kenapa tidak dia terima saja, putra perdana menteri juga tidak buruk. Meskipun berada di bawahnya dalam kultivasi, mereka terlahir dalam latar belakang yang sama." Zhou Fan berguman dalam benaknya.