Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 166


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu, total tiga bulan Zhou Fan berkultivasi, dia sekarang berada di tingkat petarung raja bintang empat.


Krtk...


Zhou Fan meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku, dia mulia melemaskan tangan, kaki juga lehernya.


"Tch... Tiga pill kultivasi tingkat tujuh tidak mampu membuatku menerobos ke tingkatan petarung raja bintang lima." Zhou Fan membuang nafasnya dengan mengeluh.


Sebenarnya dia hendak melanjutkan untuk mengkonsumsi pill yang keempat, tapi dia merasakan perasaan gelisah, semacam peringatan kepadanya.


Zhou Fan dengan cepat membenahi dirinya, kemudian pergi menuju kota Teratai yang berbatasan langsung dengan hutan tempatnya ber kultivasi.


Saat Zhou Fan baru memasuki kota Teratai dia disuguhkan banyaknya petarung grand master berkeliaran, juga tidak sedikit yang merupakan petarung raja.


Sambil berjalan Zhou Fan terus mengamati sekitarnya. "Sepertinya perkumpulan gerhana sudah tidak sabar."


Siapa lagi jika bukan perkumpulan gerhana, meskipun orang orang yang berkeliaran tidak melakukan apapun, semua warga menjadi waspada, bahkan ada yang memilih tidak melakukan aktifitasnya karena khawatir akan keselamatannya.


Pandangan matanya tak sengaja mengarah ke seorang wanita yang tengah menggandeng seorang bocah laki-laki berusia sekitar sembilan tahun.


Pasangan orang tua dan anak itu berjalan dengan tergesa-gesa, menghindari cacian orang sekitarnya. Sang ibu terus berjalan tanpa peduli lontaran beberapa orang, sementara sang anak menangis sambil tangannya di tarik oleh sang Ibu.


Zhou Fan menghentikan langkah kakinya, dia kemudian bertanya kepada seorang kakek yang kebetulan berada di sebelahnya.


"Permisi, kakek... Kenapa semua orang terlihat tidak menyukai pasangan Ibu dan anak barusan?" tangan Zhou Fan menunjuk ke arah wanita serta anaknya pergi.


"Kau pasti bukan berasal dari sini," ujar Kakek yang diangguki oleh Zhou Fan.


"Meskipun aku pernah datang ke kota Teratai, aku tidak melewati tempat ini, tidak salah kan jika aku membenarkan ucapan kakek ini?" gumam Zhou Fan sambil menantikan penjelasan kakek.


"Mereka adalah pasangan ibu dan anak yang paling dihindari, masalahnya bukan pada si ibu, melainkan anaknya yang merupakan sampah," Kakek itu menggeleng.


Zhou Fan menyipitkan matanya, dia merasakan sedikit goresan saat mendengar penuturan kakek di hadapannya.


"Tapi bukanlah di masih berusia sembilan tahun?" tanya Zhou Fan heran, bukankah wajar jika anak berusia sembilan tahun masih belum menjadi kultivator.


"Itu masalahnya ... Aku juga akan berpikir sepertimu jika aku tidak mengetahui jelas siapa dia, meskipun terlihat seperti anak sembilan tahun, dia berusia dua puluhan tahun..."

__ADS_1


Mendengar ucapan sang kakek, Zhou Fan melotot kaget. "Bagaimana bisa?"


"Konon katanya, wanita atau si ibu tak sengaja menelan tanaman herbal langka, kau tahu sendiri kan, jika tidak semua bahkan sebagian besar tanaman herbal tidak bisa dikonsumsi langsung?"


"Sang Ibu tidak sengaja memakannya ... Yang aku dengar begitu, tapi beberapa orang mempunyai cerita tersendiri." Kakek itu pergi setelah mengatakan kalimat terakhir.


"Dengan umurnya yang dua puluh tahun lebih, dia masih memiliki sifat anak berusia tujuh tahun ... Aku sungguh masih beruntung dibandingkan dengannya." Zhou Fan kembali merenungi masa lalunya.


"Benar kata pepatah, di atas langit masih ada langit, di bawah tanah masih ada tanah, kita tidak sadar bahwa ada yang mempunyai takdir yang lebih buruk dari pada diri kita ... "


" ... Aku masih beruntung, meskipun aku pernah akan menyerah, akhirnya aku bisa bangkit dan menjadi seperti sekarang."


Zhou Fan tanpa sadar menitikkan air mata, dia kemudian melesat ke arah wanita juga anaknya pergi.


Setelah lama mencari dia akhirnya menemukan tempat mereka bernaung, sebuah gubuk kumuh yang berada di pinggiran kota.


Zhou Fan memantau dari jauh, dia dapat melihat kedua itu mulai masuk dan menutup pintu. Saat menutup pintu, dinding gubuk bergetar, menandakan bangunan itu sudah rapuh, mungkin akan roboh jika tertipu angin sedikit kencang.


Zhou Fan mendekat, dia mengintip dari sela sela gubuk yang memang berongga besar.


Ekspresi iba terlukis di wajahnya, dia dapat melihat jelas kedua insan itu saling memeluk sambil terisak, sang ibu mencoba menenangkan sang anak dengan mengusap kepala anaknya.


Jika digunakan dengan benar, koin sejumlah itu dapat digunakan dalam kurun waktu beberapa tahun, Zhou Fan mengetuk pintu pelan.


Saat mendengar sahutan dari dalam, Zhou Fan meletakkan kantong tersebut di permukaan, dia kemudian pergi agak jauh dari tempat gubuk berada.


"Siapa yang datang?" Wanita itu menengok ke sana-kemari, tapi tak juga menemukan orang hidup di sekitarnya, dia hendak menutup kembali pintu gubuknya, tapi pandangannya menangkap kantong kulit berwarna coklat tergeletak di depan pintu.


Wanita itu terlihat waspada, dengan mengendap endap dia menendang kantong kulit tersebut.


Kric!... Kricik!


Wanita itu mengerutkan kening, begitupun dengan Zhou Fan yang tak habis pikir dengan kelakuan wanita paruh baya itu.


"Apa yang dia lakukan, dia seperti menjumpai jebakan saja. Apakah aku sangat jahat hingga setega itu?" Zhou Fan menepuk dahinya pelan.


Wanita itu perlahan merendahkan tubuhnya, berjongkok dan mulai membuka kantong pemberian Zhou Fan.

__ADS_1


Akh!


Wanita itu memekik, terperangah dengan apa yang ada dalam kantong. Dia lagi lagi memutar kepalanya, mencari dermawan yang memberi koin emas kepadanya.


Setelah lelah mencari, dia akhirnya menyerah, dia bersujud setelah menangkupkan telapak tangan dengan pandangan ke atas.


Hem...


Zhou Fan tersenyum samar, melihat ekspresi bahagia wanita itu membuat dirinya sedikit puas.


Shut...


Zhou Fan melesat kembali ke pusat kota, tujuannya sekarang adalah istana, karena dia berpikir bekerja sama dengan 'ayah mertuanya' akan memaksimalkan langkah selanjutnya.


....


Memasuki wilayah istana, sangat terlihat penjagaan yang sangat ketat, banyak prajurit yang minimal petarung master berjaga di semua area.


"Sepertinya akan sangat sulit untuk bisa masuk ke dalam," batin Zhou Fan sambil terus memikirkan cara masuk.


"Sial... Jika malam hari akan lebih mudah menyelinap, tapi sekarang masih pagi," gerutu Zhou Fan.


Saat kepalanya sudah buntu dan berniat akan menerobos masuk, dia melihat rombongan orang berpakaian lusuh yang hendak memasuki wilayah istana.


"Sepertinya mereka adalah orang yang hendak mengajukan diri sebagai prajurit," pikir Zhou Fan.


Otaknya seketika berjalan, terlintas ide untuk menyamar. Dia dengan cepat mengotori pakaiannya, dia memasukkan pedang darah malam ke dalam cincin penyimpanan.


"Hei, kau... Dari mana saja kau?!" Seorang prajurit yang memimpin rombongan calon prajurit berkata dari tempatnya.


Zhou Fan menoleh ke arah prajurit tersebut, dia kemudian mendekat dengan langkah panik.


"Ah... Maaf, aku tak sengaja terpisah, hampir saja aku tersesat." Zhou Fan mengatakan dengan nada menghela lega.


"Cepatlah bergabung dengan barisan, kau ini membuat repot saja." Prajurit tingkat petarung master itu berkata dengan nada mengeluh.


Zhou Fan masuk ke dalam barisan dengan wajah menunduk, wajahnya yang sudah dibuat kucel layaknya orang pinggiran.

__ADS_1


Seseorang tiba-tiba menepuk pundak Zhou Fan.


"Yoo, lama tidak bertemu?!"


__ADS_2