
Alangkah terkejutnya Zhou Fan saat mengetahui yang mengetuk pintu ruangannya adalah Qing Yuwei, ia mengira yang mendatanginya adalah sang ibu yang biasanya mencoba membujuk ketika ia akan pergi.
Qing Yuwei langsung masuk tak menunggu tunangannya mempersilakan.
"Wei'er, apa yang kau cari?" tanya Zhou Fan sembari membalikkan badan menatap Qing Yuwei yang tengah berdiri membelakanginya.
"Tidak, aku hanya ingin bersama denganmu malam inj, ini adalah malam terakhir kau berada di sini," ucap Qing Yuwei santai.
Zhou Fan menarik tangan Qing Yuwei agar berbaring bersamanya, keduanya terjatuh dengan tangan Zhou Fan masih memeluk gadis itu.
"Bisakah kau melepaskan tanganmu?" Qing Yuwei mencoba mengangkat tangan Zhou Fan yang berada di atas tubuhnya.
"Setelah melakukannya, Wei'er." Zhou Fan beralih mengungkung Qing Yuwei.
Qing Yuwei memalingkan wajahnya menghindari tatapan Zhou Fan yang sudah dipenuhi nafsu. Dia diam tak menjawab.
Diam berarti setuju ... Pikir Zhou Fan.
Dia dengan cepat menerkam bibir Qing Yuwei, kedua tangannya masih mengapit gadis itu.
Sementara di luar ruangan, seorang pria dewasa menempelkan telinga pada pintu ruangan.
"Hoho... Putraku sudah dewasa," batin Zhou Hu saat mendengar suara gaduh dari ruangan Zhou Fan.
Dia tak sengaja melihat Qing Yuwei mengetuk pintu ruangan putranya dan masuk kedalamnya, awalnya dia tak pernah berpikir akan terjadi suatu hal menakjubkan, tapi begitu mendengar suara khas menyejukkan hati, dia seketika tersenyum dan lebih berkonsentrasi untuk menguping.
Andai dia tahu, putranya sudah pernah melakukannya, bahkan tidak hanya sekali dua kali, mungkin dia akan menyesal karena mengira putranya begitu 'bersih'.
"Apa yang kau lakukan, suamiku?" tanya Zhou Qian yang tiba tiba sudah ada di sebelah Zhou Hu.
Zhou Hu yang berdiri dengan tubuh sedikit membungkuk seketika menengadahkan kepalanya.
Sstt!
__ADS_1
Zhou Hu mendesis, menoleh sambil mengangkat jari telunjuk di depan bibir. Dia kemudian kembali menatap ke depan sambil mendekatkan telinga ke pintu ruangan.
Zhou Qian mengerutkan kening, tapi matanya seketika menajam saat mendengar samar suara dari dalam ruangan putranya.
"Apakah kau tak malu, menguping putra serta menantu mu, ha?!" Zhou Qian menarik kuat telinga Zhou Hu, membawanya pergi menjauh dari ruangan Zhou Fan.
"Arg..." pekik Zhou Hu, bukan karena sakit tapi lebih karena terkejut.
Suara keduanya sontak membuat penghuni ruangan, menghentikan aksinya. Zhou Fan merobohkan dirinya di samping Qing Yuwei.
Zhou Fan terus menggerutu, sementara Qing Yuwei begitu malu, dia ingin sekali pergi saat itu juga dari kediaman tetua kelima.
"Tak usah kau pikirkan," ucap Zhou Fan sembari memeluk Qing Yuwei dan mulai menutup matanya.
"Heem..."
Meskipun bergumam, Qing Yuwei tak benar benar membuang pikirannya, dia masih memikirkan, bagaimana dia menghadapi kedua mertuanya keesokan hari.
Perlahan keduanya mulai terhenyak, dengan saling memeluk keduanya seakan tidak akan terpisahkan. Dengan hanya menggunakan selimut kulit, mereka tidur dengan nyenyak.
Malam berganti pagi, dan sekarang Zhou Fan sudah bersiap untuk melakukan perjalanannya.
"Ehem, ayah... Bisakah kau tidak terus memandang kami seperti itu?" ucap Zhou Fan kepada ayahnya yang terus tersenyum menatap dia dan juga Qing Yuwei.
Zhou Qian yang berada di samping suaminya seketika menyikutnya pelan, kemudian memberikan tatapan mata tajam.
Zhou Hu langsung menghela nafas, dan memusatkan pandangan ke arah putranya.
"Fan'er, bagaimana malammu kemarin?" tanya Zhou Hu sembari mengedipkan matanya.
Mendengar hal itu, Zhou Qian menggeleng, sementara Qing Yuwei tak lagi mempunyai muka untuk ditunjukkan, seolah wajahnya tertempel pemberat hingga membuatnya terus menunduk.
Zhou Fan tak menghiraukan ucapan ayahnya, dia menarik tangan Qing Yuwei dan keluar kediaman.
__ADS_1
Zhou Qian juga mengikuti kedua putra putrinya.
"Kau harus hati hati, tak perlu mengkhawatirkan Wei'er karena di sini, dia akan aman bersama ibu." Zhou Qian membelai kepala putranya.
"Baiklah, aku berangkat ... Oh ya, Wei'er.. Kau katakan saja jika kau merindukan ayahmu, ibu pasti tak akan keberatan, ya 'kan Bu?" Zhou Fan beralih menatap Ibunya.
"Tentu saja... "
.
.
.
"Apakah ini ... Tempat di mana keluarga Cao sebelumnya tinggal?" Zhou Fan memandang desa biduk, desa yang di dalamnya terdapat kediaman keluarga bangsawan Cao.
Namun, itu hanya tersisa kenangan. Sekarang hanya ada puing puing yang berserakan, bahkan setelah belasan tahun berlalu tak ada yang mencoba memperbaikinya.
Zhou Fan memasuki sebuah kediaman yang tampak merupakan bangunan utama, karena memiliki ukuran paling besar.
"Apakah dia orang keluarga Cao yang tersisa, keluarga Cao adalah pengkhianat, pantas mereka mendapatkan itu."
"Apakah kau tidak tahu, keluarga Cao sudah dipastikan bukanlah pengkhianat, mereka dijebak oleh perkumpulan gerhana. Bahkan Yang Malia Kaisar sudah mengeluarkan dekrit atas hal tersebut." Seorang lainnya ikut menyambung.
"Oh ya? Aku baru mengetahuinya, jika bukan mendengar darimu, aku akan menganggap keluarga Cao adalah pengkhianat."
"Pemberontakan yang dilakukan oleh perkumpulan gerhana satu bulan lalu katanya dapat dimenangkan karena pemuda yang berstatus menantu Yang Mulia Kaisar, juga dia merupakan keturunan keluarga Cao yang tersisa...," jelas seseorang yang kebetulan tahu akan kabar yang tengah hangat di Kota Teratai.
Zhou Fan membalikkan tubuhnya, melihat beberapa orang tengah berkerumun memandang dirinya dari kejauhan.
"Dia menatap kemari, cepat pergi ... Atau kita akan mendapat masalah!" Kerumunan orang bergosip itu seketika lari tunggang langgang.
Zhou Fan menyipitkan matanya, lalu kembali mengamati reruntuhan kediaman keluarga Cao sambil menundukkan kepala layaknya orang yang tengah berdoa.
__ADS_1