
Waktu terus berjalan, akhir dari babak ketiga semakin dekat. Saat semua orang menantikan siapa yang keluar lebih dulu dari ketiga orang yang masih bertahan, sebuah bayangan melesat tanpa tujuan.
Bruak...
Sosok tersebut menghantam sebuah bangunan di sana, semua orang seketika memusatkan perhatian kepadanya.
"Uh..." Sosok tersebut berdiri sambil memegangi kepalanya yang nampak terdapat beberapa luka.
"Loin Gu, ternyata dia lebih dahulu keluar." Seorang di sana berkata dengan semangat begitu mengenali sosok yang baru saja keluar dari menara.
"Meski dia telah keluar, peringkatnya masih nomor dua, dia berhasil mencapai tahap ke delapan belas, itu sudah sangat baik." Seorang tetua murid luar berseru sambil mengelus janggut panjangnya.
Loin Gu yang mendengar perkataan orang di sekitarnya nampak tak percaya, dengan wajah dongkol dia melihat ke arah tiang penilaian.
Melihat namanya berada di baris ke dua, ekspresi wajahnya langsung berubah buruk. Dia yang merupakan peserta dengan kultivasi tertinggi, tentu merasa terhina dengan hasil yang didapatkannya.
Dia tidak tahu, bahwa terdapat peserta yang memiliki kekuatan setara, bahkan lebih kuat darinya.
Bersamaan dengan itu nama Yin Cun di tiang penilaian perlahan meredup, dan tak lama setelahnya cahaya itu seketika lenyap.
Dari pintu menara, seorang pemuda keluar dengan langkah tertatih. Pakaiannya sedikit kumal dengan noda darah yang berbau amis, juga di balik punggung menggantung tongkat kebanggaannya.
"Tahap ke lima belas adalah batasan ku, tapi dengan itu sepertinya posisiku sudah aman." Yin Cun mengamati sekitar, kini semua mata tertuju kepadanya.
Yin Cun yang penasaran akan hasil yang dia dapatkan, menengadahkan kepala melihat tiang penilaian.
Mendapati namanya berada di barisan ke tiga, pemuda itu langsung bersemangat, dia seolah melupakan derita yang sebelumnya dia dapatkan.
"Hahahah... Tiga besar adalah suatu yang pantas aku dapatkan." Yin Cun tertawa sembari mengangkat wajahnya dengan begitu bangga.
"Oh ya, di mana saudara Zhou? Aku sangat menantikan dia memanggilku dengan sebutan kakak." Yin Cun mencari sosok Zhou Fan, tapi tak kunjung dia temukan.
'Dia pasti melarikan diri, bahkan bersembunyi untuk menghindari ku.' Yin Cun membatin dengan nada dibuat kesal, dia masih berpikir Zhou Fan berada di bawahnya.
"Tak ku sangka, Zhou Fan dapat bertahan sampai tahap ke dua puluh. Waktu masih tersisa beberapa menit, jika dia bisa menyelesaikan tahap ke dua puluh dan menginjakkan setengah langkah di tahap ke dua puluh satu, dia akan masuk ke jajaran peringkat murid luar."
__ADS_1
"Sungguh membuat orang iri, dengan pencapaian ini dia akan mendapatkan perhatian lebih dari para tetua."
Perbincangan hangat itu begitu mencengangkan bagi Yin Cun, dia merasa mendengar nama yang seharusnya tidak ingin ia dengar.
"Tidak, tidak mungkin... " Yin Cun berkata dengan suara lemah, wajahnya nampak memperlihatkan rasa frustasi.
Dengan berat hati, Yin Cun kembali menengadahkan kepala. Namun matanya belum terbuka, dia tak sanggup untuk melihat kenyataan yang terjadi.
Meski hati menyangkal, pikirannya terus bergelut dengan hal itu.
Perlahan kelopak mata terbuka, melihat nama di baris pertama benar benar Zhou Fan, pemuda itu langsung lemas seolah tak memiliki semangat.
Yin Cun celingukan, seolah memikirkan cara untuk menghindar dari kesepakatan. Matanya tiba tiba berbinar, kepalanya mendapatkan pencerahan atas suatu pemikiran.
"Aku akan pura pura bodoh saja, Hehe..." Yin Cun menggosok kedua telapak tangan sambil memikirkan rencananya.
...
Sementara di sebuah hutan belantara, Zhou Fan memandang mayat beast tingkat enam dengan nafas memburu. Tak hanya satu, melainkan dua mayat beast monyet mata tiga.
Mayat beast tingkat enam itu perlahan mulai bercahaya, dan seketika lenyap sama seperti sebelumnya.
Bam... Bam... Bam...
Ketika Zhou Fan sudah mulai pulih, seekor beast dengan tubuh tinggi dan juga tubuh besar melangkah dengan langkah besar.
Getaran mengiring setiap hentakan kakinya, begitu dekat, Zhou Fan dapat melihat sosok beast berkaki empat dengan tubuh seperti kerbau. Namun itu jauh lebih besar dibandingkan dengan kerbau yang pernah Zhou Fan temui.
"Banteng tanduk emas!" Zhou Fan menatap dengan penuh keterkejutan, beast di depannya setidaknya merupakan beast tingkat enam, tapi kekuatannya setara dengan petarung kaisar bintang delapan.
"Eh... Kenapa token ini berkedip tak jelas?" Zhou Fan mengamati token yang menggantung di pinggangnya, itu adalah token yang digunakan untuk keluar.
Zhou Fan belum mengaktifkannya, tapi token itu seolah beraksi sendiri. Perlahan Zhou Fan tak lagi dapat melihat, dan dia tiba tiba sudah kembali ke tempat sebelumnya.
"Mungkinkah waktu yang diatur telah habis?" Zhou Fan membatin sembari mulai melangkahkan kakinya keluar.
__ADS_1
Baru satu langkah Zhou Fan bergerak, semua mata memandangnya dengan penuh semangat juga kekaguman. Namun juga tak sedikit yang menyiratkan perasaan iri terhadapnya.
"Ternyata masih di tahap ke dua puluh, tak ada perubahan. Sayang sekali, satu tingkatan lagi, dia akan mendapatkan peringkat pada bagian murid luar."
"Kau benar, setidaknya dia akan langsung masuk ke dalam peringkat lima puluh besar."
Semua orang kini menatap bergantian Zhou Fan dan juga tiang penilaian. Sedang yang dibicarakan masih diam di tempatnya.
"Sepertinya memang waktunya telah habis," ucapnya sambil melirik token yang sudah dalam genggamannya.
"Eh... Lihat itu, dua puluh satu. Tahap dua puluh satu!" Seorang pemuda dengan begitu semangat berteriak memberi tahu semua orang.
Tidak diragukan lagi, karena teriakan yang cukup keras semua orang mengalihkan pandangan ke tiang penilaian.
Nama Zhou Fan berada di barisan paling atas dengan angka '21' di samping kanannya. Tak hanya itu, di sisi lain tiang penilaian, nama Zhou Fan juga masuk ke dalam peringkat murid luar.
"Berita besar, ini adalah berita besar!" Beberapa tetua ikut senang saat melihat kejadian itu. Sebelumnya peristiwa seperti ini belum pernah terjadi, setidaknya dalam kurun waktu puluhan tahun.
Zhou Fan yang belum melihat peringkat nya pun ikut memandang kala semua orang heboh dengan sendirinya. Melihat namanya berada di barisan pertama, senyuman puas tersungging di bibirnya.
"Yin Cun?" Tanpa sengaja pandangan Zhou Fan mengarah ke seorang pemuda yang sangat akrab dengannya.
Mengetahui dirinya telah diketahui keberadaannya oleh Zhou Fan, pemuda itu memalingkan wajah sambil perlahan menyelinap melarikan diri.
Zhou Fan yang sempat melupakan kesepakatan antara dia dan Yin Cun langsung terangsang akibat ulah temannya itu.
Tanpa basa basi, Zhou Fan melesat mengincar Yin Cun. Pemuda itu yang melihat Zhou Fan mengarah ke arahnya dengan spontan melompat menghindar, tapi sudah terlambat, karena kerah pakaiannya bagian belakangnya sudah berada dalam cengkeraman Zhou Fan.
"Kau mau kemana, ha?" Zhou Fan menampilkan wajah mengintimidasi, membuat Yin Cun meringkuk di sana.
"Saudara Zhou, ak - "
"Kau panggil apa?" Zhou Fan menatap dengan matanya yang sudah setajam serigala lapar.
"Kakak... Iya kakak, aku memanggilmu kakak." Yin Cun mengatakan dengan ekspresi tak berdaya.
__ADS_1
Zhou Fan tersenyum puas, dia melepaskan cengkeraman pada pakaian Yin Cun.
"Hahaha... Adik pintar."