Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 45 : Hanya Menjadi Penonton II


__ADS_3

Semua peserta sudah mulai berkumpul, ada yang saling menilai kemampuan peserta lainnya, ada juga yang sedang berbincang dengan kenalannya.


Seperti ketiga pemuda yang tidak lain adalah Zhou Han, Zhou Yu dan Zhou Yi, mereka bertiga sibuk berbincang dengan topik kesukaan mereka, topik apa yang mereka perbincangkan selain tentang si sampah klan yang menurut mereka adalah topik favorit.


"Lihat si sampah itu, saat itu dia sok-sok-an karena ada yang melindunginya, sekarang lihat dia! bahkan dia tidak berani mengikuti pertandingan ini," ucap Zhou Yi sambil menunjuk Zhou Fan yang duduk di bangku penonton.


"Cih... dia memang pecundang sejati, selain lemah dia juga pengecut," cibir Zhou Yu.


"Sudahlah, untuk apa kita membahas si sampah tidak berguna itu, lebih baik kita fokus pada pertandingan." Zhou Han berkata pelan, sebenarnya dia sangat puas melihat Zhou Fan direndahkan seperti itu, tapi menurutnya pertandingan ini lebih penting dari pada mengurusi sampah seperti Zhou Fan.


"Kau benar saudaraku, untuk apa kita mengurusi si sampah itu, lebih baik fokus dengan pertandingan...," Ucap Zhou Yi yang memang sifat penjilatnya sudah mendarah daging.


"Kita sudah pasti lolos, lihat semua peserta lainnya, LEMAH! " Zhou Yu memandang rendah semua peserta lainnya.


Memang di antara peserta pertandingan internal klan kali ini, tidak ada yang dapat menyaingi tingkat kultivasi mereka bertiga, bahkan yang paling tinggi dari peserta lainnya adalah tingkat petarung pemula bintang 9, memang pantas Zhou Yu bersikap arogan, tapi tidak dengan merendahkan orang lain.


Semua peserta bisa mendengar apa yang di katakan Zhou Yu, karena dia mengucapkannya dengan suara agak tinggi, mereka mau memprotes tapi kenyataannya memang seperti itu, jadi mereka hanya bisa menerima meskipun dengan hati sedikit dongkol.


"Ehem..." deheman tersebut memanglah pelan tetapi terdapat tenaga dalam di deheman tersebut,


Setelah terdengar suara deheman, semua pandangan orang yang ada di aula tertuju pada arah yang sama, seorang pria tua dengan janggut panjang berwarna senada dengan rambutnya yang putih berdiri di atas panggung di depan para peserta, pria tua itu terlihat gagah dengan balutan pakaian berwarna serba hitam, pria tua itu tak lain adalah patriark klan Zhou, Zhou Fei.


"Saya sebagai Patriark Klan Zhou, akan mengumumkan bahwa pertandingan internal Klan Zhou akan dimulai, tapi sebelum itu tetua ketiga akan memberitahukan informasi yang berkaitan dengan pertandingan," ucap pria tua itu yang diketahui bernama Zhou Fei, dia turun dari panggung supaya tetua ketiga bisa segera menyampaikan informasi informasi yang akan ia sampaikan.


"Saya tidak akan bertele tele, pertama..." Tetua ketiga mulai membacakan informasi yang terdapat pada gulungan di tangannya.


Tetua ketiga mengatakan pertandingan internal Klan Zhou di adakan selain karena memang acara rutin, pertandingan ini juga untuk memilih 10 generasi muda untuk mengikuti turnamen kota batu hitam.

__ADS_1


Siapa yang menjadi 10 teratas akan berhak mengikuti turnamen kota batu hitam mewakili Klan Zhou, para peserta yang mendengar hal tersebut menjadi lebih bersemangat khususnya yang memang belum mengetahui informasi ini, untuk beberapa peserta seperti anak tetua atau yang memiliki hubungan dekat dengannya tidak begitu terkejut mendengar ucapan tetua ketiga, karena mereka sudah mengetahuinya dari awal.


Tetua ketiga juga menyampaikan syarat dan peraturan pertandingan internal Klan Zhou, untuk syarat tidak ada alasan khusus, untuk semua generasi muda harus memiliki kultivasi minimal tingkat petarung pemula bintang 5 dan tidak boleh berumur lebih dari 23 tahun.


Sedangkan untuk peraturan, tidak diperbolehkan menggunakan cara kotor untuk mengalahkan lawan, tidak diperbolehkan membunuh lawan, tidak diperbolehkan menyerang lawan yang sudah menyerah, dan yang terakhir jangan sampai keluar arena, itu adalah poin poin utama yang harus diperhatikan oleh para peserta supaya tidak didiskualifikasi.


"Semua peserta diharapkan segera mengambil nomor urut di sebelah sana," ucap tetua ketiga mengakhiri dialog panjangnya dengan mengarahkan telunjuknya pada sebuah meja yang terletak tidak jauh dari panggung.


Gerombolan peserta mulai berkurang karena sudah mulai berbaris di depan meja untuk mendapatkan nomor urutnya.


"Kalian sudah mendapatkan nomor kalian masing masing?" tanya tetua ketiga melihat para peserta sudah kembali ke tempatnya semula.


"Sudah tetua.."


Semua peserta menjawab dengan kompak sambil memperlihatkan sebuah token yang terdapat sebuah angka di salah satu sisi token tersebut.


"Untuk peserta yang mendapatkan nomor 1 sampai dengan sepuluh diharapkan menaiki panggung," ucap tetua ketiga dengan tegas.


Panggung tersebut bukanlah panggung yang terbuat dari kayu, panggung itu terbuat dari bahan khusus yang memang diperuntukkan untuk arena bertarung, panggung berbentuk persegi dan memiliki luas sekitar 100 meter.


Tetua keempat menaiki panggung setelah melihat tetua ketiga menuruni panggung, ia adalah pengadil yang di tunjuk untuk pertandingan pertama ini.


Sambil berjalan ke tengah tengah arena ia memberitahu bahwa mereka akan bertarung dan hanya dua orang diantara mereka yang akan dinyatakan lolos.


"Siap?" tanyanya saat sudah berada di tengah tengah arena sambil melihat wajah beberapa peserta yang akan bertanding.


Saat melihat Zhou Yi menjadi salah satu peserta yang bertanding, di dalam hati tetua keempat sudah yakin bahwa pemuda itu lah yang akan menjadi salah satu yang akan lolos di pertandingan pertama ini.

__ADS_1


Tetua keempat memberitahu kesepuluh peserta itu untuk segera bertarung saat kain yang ia pegang jatuh di lantai arena.


Tetua pertama melemparkan sebuah kain, dan semua peserta yang ada di atas arena menatap kain tersebut secara intens, kain tersebut terbang diudara seperti sedang menari.


"...."


Beberapa saat keheningan tercipta saat kain yang dilemparkan tetua keempat sudah tergeletak di lantai arena, tapi keheningan itu tidak berlangsung lama, karena para peserta sudah maju menyerang peserta yang sudah diincarnya.


Zhou Yi....


Dihadapan Zhou Yi sekarang terlihat seorang pemuda yang seumuran dengannya, meskipun seumuran tapi dalam hal kultivasi dia bukanlah lawan sepadan untuk Zhou Yi.


Zhou Yi melihat dan memeriksa tingkat kultivasi pemuda dihadapannya, ia dapat melihat pemuda dihadapannya lebih lemah dibandingkan dengannya.


"Keluar sendiri atau mau aku bantu kau untuk keluar." Zhou Yi mengatakan itu sambil memejamkan matanya.


"Meskipun aku tahu kau lebih kuat dari pada diriku, tapi aku! Zhou Jian! tidak akan menyerah tanpa perlawanan, aku bukanlah pengecut," ucapnya sambil bergerak menyerang Zhou Yi, ia sekarang berada di tingkat petarung pemula bintang 9 dan umurnya 21 tahun.


"Kau memiliki tekad yang kuat, dan kuakui tekadmu, tapi kau tidak memiliki kepintaran untuk mengolahnya, andai kau memiliki kepintaran sedikit saja, kau pasti tidak akan melawanku dan sudah menyerah tanpa terluka sedikitpun." Jujur Zhou Yi mengagumi tekad yang dimiliki lawannya itu, tapi ia berpikir lawannya itu sangat lugu.


Zhou Yi menyerang lawannya dengan teknik sembilan pedang yang ia kuasai, dan berhasil membuat Zhou Jian menerima beberapa sabetan pedang di tubuhnya.


Setelah bertarung beberapa saat, keduanya mendadak berpencar.


"Aku menyerah!" tiba tiba Zhou Jian menyerah karena baru menyadari betapa besar jaraknya dengan Zhou Yi yang memiliki kultivasi tingkat petarung mahir bintang 2.


Di tempat duduk penonton....

__ADS_1


Seorang pemuda nampak terlihat sangat menikmati pertandingan yang sedang berlangsung itu, sesekali ia menggelengkan kepala pelan saat melihat celah yang diperlihatkan para peserta itu.


"Hanya seperti itu ingin menantangku!"


__ADS_2