Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 146


__ADS_3

Setelah menghabisi Patriark Bai, Zhou Fan menghampiri ibunya, kemudian mengangkat ke tempat dimana semua anggota klan lainnya.


Menyaksikan kehancuran klan Zhou, Zhou Fan menghela nafas rendah. "Andai aku bisa kembali lebih cepat."


Zhou Fan mengeluarkan banyak sekali pill pemulihan tingkat enam, lalu mulai memasukkan ke dalam mulut semua orang yang berada dalam kondisi lemah, bahkan terluka.


Beberapa saat kemudian, satu persatu mulai terbangun. Menatap sesosok pemuda yang tengah berdiri tak jauh darinya.


Gelapnya malam, serta tak adanya penerangan membuat semua orang tidak bisa melihat dengan jelas.


Zhou Fan menghampiri para tetua, karena luka yang mereka dapatkan dua kali lebih serius dari anggota klan lainnya.


Zhou Fan memasukkan dua butir pill pemulihan kepada Zhou Hu, kemudian menyalurkan tenaga dalamnya, berharap dapat membantu sang ayah lebih cepat pulih.


Sudah lebih dari dua jam, Zhou Fan membantu semua orang yang mendapatkan luka. Mereka perlahan mulai tersadar, namun Zhou Kay tidak seberuntung lainnya.


Tetua pertama klan Zhou itu mendapatkan luka yang sangat parah, mungkin akan sangat kecil kemungkinan untuk dia selamat.


Kini semua orang mengetahui siapa orang yang telah menyelamatkan mereka, meskipun belum bisa berdiri tegak, mereka mengucapkan terimakasih sambil duduk bersandar.


"Fan'er...,"


Zhou Fan seketika menoleh, mendapati ibunya tengah mengangkat tangan ke arahnya.


"Ibu, sebaiknya kau tetaplah seperti itu." Zhou Fan bergerak cepat mendekati ibunya, sembari menahan agar tidak beranjak dari tempatnya.


"Kau benar putraku, akhirnya kau pulang setelah sekian lama." Zhou Qian berkata dengan air mata terurai menuruni pipinya, namun kebahagian sangat jelas terlihat dari wajahnya.


Setelah semua orang tersadar dan merasa mendingan, mereka kembali ke kediaman masing masing, yang semula nya akan ada perayaan besar besaran, berubah menjadi malam berkabung.


Mereka seolah ingin cepat cepat mengakhiri hari ini, malam yang mendatangkan pukulan terhadap Klan Zhou.


Zhou Fan kembali dengan memapah Zhou Hu yang meskipun telah pulih, belum juga menunjukkan tanda tanda akan siuman.


***


Pagi harinya...


Semua orang klan Zhou berkumpul di aula klan, meskipun telah hancur menjadi puing puing, tak membuat tempat bersejarah itu kehilangan kualitasnya.


Di saat semua orang dalam keheningan, Zhou Fan maju ke depan.

__ADS_1


"Saudara sekalian, aku sungguh meminta maaf kepada kalian, mungkin kekacauan malam kemarin merupakan ulah dariku, aku sungguh meminta maaf kepada kalian semua, aku harap kalian memaafkan pemuda yang tidak berbakti ini." Zhou Fan mengatakan dengan suara keras, namun terdapat penyesalan yang tersirat dalam setiap perkataannya.


"Kau tidak perlu meminta maaf, ketentraman klan Zhou di usik, sebagai patriark aku harus mempertahankan klan Zhou, jika tidak aku tidak akan mempunyai muka untuk bertemu dengan leluhur yang telah berjuang membangun klan Zhou." Zhou Fei dengan tiba tiba sudah berada di samping Zhou Fan, menepuk pelan pundak pemuda yang telah melampauinya.


Mendengar perkataan Zhou Fei semua orang seketika bergelora, berteriak setuju dengan pandangan patriark mereka.


"Patriark benar! Sebagai anggota klan Zhou aku tak akan diam saja melihat klan Zhou diinjak."


"Meskipun aku harus mengorbankan nyawa, aku tak akan membiarkan klan Zhou terhina."


"Aku terlahir dengan marga Zhou, nyawaku adalah milik klan Zhou, sampai kapanpun aku akan berdiri di barisan terdepan jika ada yang menantang klan Zhou."


Mendapatkan sambutan hangat, Zhou Fan menggeleng dengan mata sembab, inilah yang namanya keluarga, semua saling mendukung.


Inilah keluarga yang dia impikan, tak pernah mengira akan datang setelah kekacauan yang terjadi.


Mungkin ini adalah hikmah dibalik musibah, pikir Zhou Fan.


Hah...


Zhou Fan membuang nafas kasar, mencoba menenangkan dirinya, sembari tangannya mengusap pelan sudut matanya.


"Meskipun kerugian yang di alami klan Zhou tidak dapat di katakan sedikit, dan banyak di antara kita yang kehilangan sanak saudara. Aku berjanji satu hal kepada kalian, aku akan membuat klan Zhou semakin bersinar, layaknya bintang yang bersinar di langit malam ...,"


Melihat guratan keraguan di wajah sebagai besar orang di sana, Zhou Fan kembali berkata. "Kalian harus yakin hal itu akan terjadi, percaya atau tidak hal itu akan terjadi. Akan segara terjadi."


Zhou Fan mengepalkan tangannya, dan mengangkatnya ke atas.


Beberapa detik semua orang terhenyak, namun suara tegas menyambar dengan keras.


"Hidup klan Zhou!"


Zhou Fan melirik ke sebelah kanannya, telah berdiri tetua klan Zhou lainnya, dengan tangan yang ikut terangkat ke atas.


"Hidup klan Zhou!" Zhou Fan menarik sudut bibirnya, kemudian kembali memandang kerumunan orang di hadapannya.


"Hidup klan Zhou!" Seketika teriakan teriakan bersahutan, menggelegar membakar semangat.


"Aku akan menjaga klan Zhou," ucap pelan Zhou Fan pada dirinya sendiri.


Zhou Fan juga sudah mendengar garis besar cerita semalam dari ayahnya, sungguh tak mengira semua orang akan mendukungnya.

__ADS_1


"Saudaraku, kondisi klan Zhou sangat kacau, sebaiknya kita membersihkan sisa pertarungan, juga kita harus menguburkan saudara kita yang gugur membawa nama klan Zhou...,"


"Sebagai patriark, aku turut berduka, mari kita hormati jasa saudara kita yang telah berjuang." Pinta Zhou Fei dengan wajah memancarkan penyesalan sekaligus kesedihan.


Serentak semua orang menundukkan kepala mereka, menggumamkan sesuatu yang entah apa itu, kemudian kembali memandang Zhou Fei.


Orang klan berangsur pergi dan kembali ke kediamannya, membereskan sisa pertarungan juga mayat yang berserakan.


Meskipun sebagian besar kediaman telah hancur, beberapa kediaman yang berada agak jauh masih berdiri kokoh meski kerusakan juga tidak dapat dihindarkan.


Mayat mayat baik dari pihak sendiri maupun lawan, mereka pungut dan sisihkan dengan teliti.


Sementara untuk mayat dua patriark sudah Zhou Fan bakar sampai tak tersisa, tidak lupa juga dia mengambil semua barang berharga milik keduanya.


"Kau telah menjadi pemuda yang tangguh, sungguh aku tak mengira perkembanganmu sungguh di luar nalar," ujar patriark Zhou sambil melirik Zhou Fan.


"Tetua kelima sungguh sangat beruntung memiliki putra sepertimu," ujar patriark Zhou.


Zhou Fan menggeleng. "Justru aku merasa akulah yang beruntung mempunyai mereka menjadi orang tuaku." Zhou Fan mengatakan dengan memandang kedua orang tuanya, sembari tersenyum hangat.


Zhou Fan kemudian memandang lurus ke dapan. "Hasil tidak akan mengkhianati usaha."


"Ini juga berkat klan Zhou," ujar Zhou Fan seraya tertawa kecil.


"Khe.. Kau sungguh dapat bercanda, klan Zhou bahkan tak menganggapmu dulu." Zhou Fei ikut terkekeh.


Semua orang di di dekat keduanya, lantas tertawa mendengar percakapan kedua pria berbeda generasi tersebut.


Namun di tengah hiruk pikuk kebahagian, seorang pemuda tertunduk lesu.


Zhou Fan yang menyadari bergerak ke arahnya, kemudian menepuk pundaknya pelan.


"Jika kau percaya kepadaku, aku dapat menyembuhkan tetua pertama." Zhou Fan mengatakan dengan nada tanpa keraguan.


Zhou Han seketika menengadahkan kepalanya mencari setitik kebohongan di mata Zhou Fan, namun ia tak menemukannya.


"Kenapa kau mau membantu ayahku?" tanya Zhou Han spontan.


Zhou Fan menyipitkan matanya, seolah meminta Zhou Han berkata lebih jelas.


"Sikapku kepadamu sungguh buruk, bahkan aku selalu merendahkanmu di manapun aku bertemu denganmu. Kenapa kau mau menyembuhkan ayahku?" Zhou Han mengatakan dengan tersedu.

__ADS_1


Zhou Fan menghela nafas, kemudian berkata santai.


"Karena kita adalah keluarga."


__ADS_2