
Putaran pertama prajurit senior itu menampilkan wajah sinis, dia beranggapan sikap tegar Zhou Fan hanyalah sebuah topeng yang menutupi keasliannya.
Dia sangat yakin, pemuda yang ia hukum merupakan sampah yang mencoba menjadi prajurit.
"Tidak bisa ber kultivasi ingin menjadi prajurit? Prajurit Kekaisaran bukanlah tempat bermain orang tak berguna sepertinya," desis prajurit senior tersebut.
Lima putaran, prajurit senior mulai mengerutkan kening.
"Bukankah dia tak bisa ber kultivasi, bagaimana dia melakukannya?" Prajurit senior mengatakan dengan ekspresi tak percaya.
Dia tak ingin percaya, tapi kenyataan sudah terpanjang dalam pandangannya.
Tidak hanya prajurit senior, calon prajurit yang yang tidak dapat melihat kultivasi Zhou Fan mengatakan hal serupa.
"Bagaimana bisa, apakah dia melatih tubuhnya? Pasti begitu ... jika tidak, tidak mungkin dia masih bertahan." salah satu pemuda berkata kepada temannya.
"Yah ... Pasti begitu, jelas jelas dia hanya seorang sampah, untuk apa aku memikirkannya." Prajurit senior terus mengamati Zhou Fan.
Putaran demi putaran dia lakukan, seolah tidak menjadi rintangan, dia melakukan dengan wajah tenang, tidak sedikit pun terlukis kelelahan atau keluhan darinya.
"Anggap saja, latihan ... Aku sudah sangat jarang melatih kekuatan fisikku, semenjak keluar dari hutan mati." Zhou Fan bergumam sambil terus berlari.
"Sudah tiga puluh putaran, tapi dia bahkan tidak kelelahan, bahkan masih sempat untuk memikirkan hal lain." salah seorang pemuda menunjuk Zhou Fan yang menepuk otot bahu yang bagi pemuda itu terasa regang.
"Saat itu dia dapat menekan petarung mahir hanya dengan auranya saja, apakah sulit baginya untuk melakukan itu? Bahkan aku tak tahu seberapa besar kekuatannya sekarang." Lee mengedikkan bahu sambil memandang Zhou Fan.
Sebagai seorang yang melakukan perjalanan antar kota, Lee selalu mengumpulkan informasi, berita Zhou Fan saat turnamen kota sudah menyebar ke seluruh Kota Batu Hitam, tidak ada yang tak tahu nama pemuda itu, walau sebagian besar tidak mengetahui bagaimana wajah pemuda itu.
"Putaran terakhir ... " Zhou Fan bergumam, sambil mempercepat langkahnya.
Sert...
Zhou Fan berhenti tepat di hadapan prajurit senior yang memberikannya hukuman.
Prajurit senior itu masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Bagaimana mungkin?!" Prajurit senior menunjuk Zhou Fan dengan wajah syok.
"Apanya yang tidak mungkin, aku sudah melakukannya, apakah aku bisa kembali ke barisan?" Zhou Fan mengatakan dengan wajah acuh, ia seperti tidak peduli dengan pandangan kagum dari calon prajurit sekitarnya.
Ehem...
__ADS_1
Prajurit senior berdiri dengan senyum terpaksa, dia berusaha bersikap sewajarnya.
"Kalian akan sepertinya jika tidak mematuhi peraturan, bahkan lebih ... Jadi, jangan sampai melakukan kesalahan sepertinya." Prajurit senior mengatakan dengan suara tegas.
"Sekarang kembali ke kemah kalian masing masing ... Bubar!" Prajurit senior berteriak membubarkan barisan calon prajurit.
Satu persatu calon prajurit membubarkan diri, berjalan berdampingan dengan teman seperjuangan.
Menjadi prajurit tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang, mereka yang menjadi prajurit ialah orang terpilih, banyak warga yang tak memiliki sekte ataupun klan, memilih mempertaruhkan nasib mereka menjadi seorang prajurit, selain bisa mendapat upah, mereka juga mendapatkan teman juga tempat tinggal.
Zhou Fan tak langsung beranjak dari tempatnya, saat hanya tersisa dia dan juga Lee, dia baru melangkahkan kakinya, berjalan di samping temannya.
"Lee, apakah tujuanmu kemari berniat untuk membalas dendam?" Zhou Fan bertanya dengan suara pelan, dia tak ingin percakapannya di dengar orang lain.
"Kau tahu, aku tidak bisa melakukannya, aku berniat merubah diri dan melupakan dendam dalam diriku." Lee tersenyum kecut, bohong jika dia mengatakan sudah melupakan dendam, tapi dia berusaha untuk memendamnya.
"Apakah kau benar benar akan melupakannya, apakah kau tidak memikirkan betapa malangnya nasib keluargamu saat itu, dieksekusi tanpa tahu jelas penyebab kematiannya, apakah kau tega?" ujar Zhou Fan.
Brag...
Lee mencengkram kerah Zhou Fan, matanya menatap tajam pemuda itu.
"Apakah kau pikir itu mudah! Aku bahkan sudah mencari siapa dalang pemfitnahan tapi tidak juga menemukannya ... Aku sudah berusaha, tapi aku tak bisa, aku terlalu lemah, terlalu lemah untuk melakukannya.... " Suara Lee semakin melemah, sangat jelas dia tidak bisa melupakan dendamnya, tapi dia terus menyangkal.
"Kenapa kau tersenyum apakah itu lucu!"
Srak..
Lee mendorong Zhou Fan hingga keduanya saling membelakangi.
"Lupakan apa yang aku katakan, ... aku terlalu kalut saat mendengar kau berkata seperti itu." Lee menyesali perbuatannya, tidak seharusnya dia melakukan hal kasar kepada temannya.
"Kita mempunyai tujuan yang sama, musuh kita sama!" Zhou Fan mengulurkan tangan ke arah Lee.
Seketika Lee menatap Zhou Fan. "Apa maksudmu?"
"Kau pasti tak akan percaya, entah ini hanya sebuah kebetulan atau memang takdir," ucap Zhou Fan berbelit belit.
"Apakah kau merupakan bagian keluarga bangsawan Cao?" tanya Zhou Fan tiba tiba.
Lee menyipitkan matanya, dia mengingat betul jika dia tidak pernah mengatakan nama keluarganya kepada siapapun termasuk Zhou Fan.
__ADS_1
"Kau tahu dari mana?" tanya Lee dengan tatapan rumit.
Heh...
Zhou Fan tak menjawab, dia hanya tersenyum menanggapi pertanyaan temannya.
"Aku juga sama sepertimu, darah keluarga Cao mengalir dalam darahku," ucap Zhou Fan.
Zhou Fan mulai menceritakan semua tentangnya, tentang ibunya yang merupakan bagian dari keluarga bangsawan Cao, demi menutupi identitasnya ibunya harus menggunakan marga Zhou.
"Apakah yang kau katakan adalah benar, kau tidak sekedar membuat karangan agar aku senang 'kan?" Lee yang semula menampilkan senyum berubah serius.
"Tentu saja tidak, aku juga sedikit tidak mengira, tapi setelah menghubungkan ceritamu dengan cerita ibuku, aku memikirkan kemungkinan ini, dan ternyata boom... tepat seperti pemikiran," ucap Zhou Fan sambil menggerakkan alisnya naik turun.
"Tangkap..." Zhou Fan melemparkan sebuah botol ke arah Lee. Dengan cekatan pemuda hitam menangkapnya.
"Apa ini?" tanya Lee sambil melirik botol serta Zhou Fan bergantian.
"Buka saja," ucap Zhou Fan singkat.
Tanpa menunggu waktu lama, dia membuka tutup botol, kemudian dia menumpahkan isi di dalamnya.
Bulatan seukuran kerikil menggelinding keluar, dan berhenti di telapak tangan Lee.
Pill?
Sekali lagi Lee menatap Zhou Fan meminta penjelasan.
"Itu adalah pill kultivasi tingkat lima, bagaimana mungkin bisa membalas dendam jika kekuatanmu tak lebih dari petarung master," cibir Zhou Fan sambil terkekeh.
botol pill itu berisi pill kultivasi tingkat lima, pill kultivasi tingkat tujuh ia akan menggunakannya sendiri sementara dia tidak mempunyai pill kultivasi tingkat enam, jadi terpaksa dia memberikan pill kultivasi tingkat lima.
"Kau seorang alkemis?" tanya Lee tiba tiba.
"Heh... Tentu saja," Zhou Fan memasang wajah bangga, dagunya terangkat tinggi sambil melirik Lee.
Lee menatap kagum pemuda yang sudah resmi menjadi keluarganya, seolah Zhou Fan adalah bintang di gelapnya malam.
Hng...
Lee menggeleng kuat, kemudian kembali melirik pill di tangannya.
__ADS_1
"Pantas saja dia bisa sangat kuat!"