Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 261 : Masih Babak Kedua


__ADS_3

Mendengar ucapan pria berambut pendek, pria paruh baya menegakkan tubuh nya, dia menatap kesal pemuda dengan rambut ikal.


Kesan pertama yang dia dapatkan untuk pemuda berambut ikal tidak lah baik, dia yang dengan sangat hati-hati dalam menjelaskan malah di balas demikian, sungguh tak memandangnya sebagai orang.


Yin Cun tak kalah marah, perkataan lawannya memperlihatkan bahwa ia tidak dianggap nyata. Namun dia masih menahan, karena mengalahkan dalam pertarungan jauh lebih memuaskan.


Dia ingin melihat bagaimana reaksi pemuda berambut pendek saat kalah darinya, jika boleh berharap, Yin Cun menginginkan pemuda itu mengakhiri hidupnya karena malu akan tindakannya.


"Ayo cepat mulai, semakin lama aku bertarung semakin sedikit waktu yang aku dapatkan untuk bersantai." Pemuda berambut pendek itu benar benar percaya diri, entah dia itu bodoh, atau ceroboh, dia tak membiarkan pria paruh baya memiliki muka untuk tetap berada di sana.


Huh...


Pria paruh baya itu menahan kegeramannya, dia ingin melihat bagaimana kemampuan pemuda yang telah membuatnya kesal.


Masih dengan ekspresi wajahnya dongkol pria paruh baya melompat ke belakang dua kali, saat berada di tepi arena dia mengangkat kedua tangan sebagai tanda bawah pertarungan dapat dimulai.


Melihat hal itu, pemuda berambut pendek langsung melesat setelah mengambil golok di pinggangnya.


Pemuda itu melaju dengan kecepatan tinggi, golok seolah bergetar ketika hendak menebas.


Yin Cun tak hanya diam, dengan tongkat yang dia miliki dia menahan serangan golok. Ketika dua senjata beradu, terdengar suara nyaring yang menggema di arena.


Golok milik pemuda berambut pendek bergetar lebih kuat, seolah tak sanggup untuk beradu dengan senjata milik Yin Cun.


Seolah tahu akan hal itu, pemuda berambut pendek menarik goloknya, tangan mengibas dan langsung menyambar lengan kanan Yin Cun.


Namun Yin Cun dengan cepat memutar tongkatnya, begitu tangan menghantam tongkat, tangan pemuda berambut pendek seolah terpental.


Keduanya mengambil jarak beberapa langkah, terlihat kerutan di dahi pemuda berambut pendek. Kini dia menampakkan wajah lebih serius, dia yang mengira kekuatan lawan dapat dengan mudah dia kalahkan, ternyata salah besar. Kekuatan mereka setara, bahkan dia kalah dalam hal senjata.


Dalam pikirannya dia mengutuk kebodohannya, dia telah meremehkan lawan yang setidaknya sebanding dengannya.

__ADS_1


Namun jika mengingat tongkat pusaka di tangan Yin Cun, pemuda berambut pendek terlalu meninggikan diri sendiri. Yin Cun bukan lawan yang sanggup dia hadapi.


Yin Cun menarik sudut bibirnya, dia tahu lawannya telah merubah pandangan terhadap nya. Namun untuk berjalan mundur, dia tidak akan membiarkannya begitu saja.


"Tongkat raja kera!" Yin Cun berteriak sambil memegang salah satu ujung tongkat dengan kedua tangan, sesaat kemudian dia membanting tongkat dengan sekuat tenaga.


Wajah pemuda berambut pendek menjadi pucat, sangat jelek. Dia yang sudah jelek semakin jelek saat melihat serangan mahadahsyat siap menggulungnya.


"Sial!" Pemuda berambut pendek berdecak dengan putus asa, jelas jurus di hadapannya benar benar di atas kemampuannya.


Namun jika dia menyerah juga sia sia, karena jurus itu sudah beberapa langkah darinya. Tanpa basa basi dia menggerakkan golok.


Perisai api!"


Pemuda berambut pendek memutar golok dengan tangannya, perputaran itu menimbulkan percikan api yang kian lama membentuk perisai.


Jurus Yin Cun menghantam perisai milik pemuda berambut pendek, pemuda itu terus menahan dengan segenap kekuatannya.


Krak...


Pyar...


Blar!


Golok hancur berkeping-keping, karena tak ada lagi perisai yang menghalangi serangan Yin Cun masuk menelan pemuda berambut pendek, begitu sampai ke sasaran serangan itu langsung meledak.


Pemuda berambut pendek seketika terpelanting menerjang pembatas, dengan pakaian yang tak lagi beraturan dia terduduk di pojokan arena. Darah terus mengucur dari sela bibirnya, sedang kaki ya tak mampu bergerak karena masih lemas.


Yin Cun berjalan mendekati pemuda berambut pendek, tongkatnya sudah dia simpan di dalam cincin penyimpanan. "Jangan berlagak, karena itu adalah sifat seorang pemenang. Seorang pecundang tidak layak bersikap demikian."


Perkataan Yin Cun begitu menusuk, pria paruh baya yang juga puas akan hasil pertandingan dengan cepat mendekat dan mengangkat tangan Yin Cun.

__ADS_1


Formasi ruang yang terpasang seketika hilang, Yin Cun perlahan turun dengan banyak decak kagum dari semua orang, meskipun bukan hanya dia yang memenangkan pertarungan, tetap dia adalah salah satu pemenang babak kedua.


"Lumayan," ucap Zhou Fan sembari menepuk pundak Yin Cun.


Yang disapa tak mengindahkan ucapan Zhou Fan, dia hanya melirik sinis dan berusaha untuk tetap diam.


Pertarungan di seluruh arena telah selesai, dua puluh lima orang telah keluar sebagai peserta babak ketiga, mereka bisa bersantai sambil menikmati pertarungan antara peserta babak kedua lainnya.


"12 melawan 23, di arena pertama... 54 melawan 30, di arena kedua ...." Satu persatu peserta mulai naik ke atas arena, Zhou Fan yang tak menemukan nomornya disebut pun hanya bisa kembali menunggu.


Sama seperti sebelumnya, sebelum bertanding orang yang menjadi penengah akan menjelaskan sedikit tentang peraturan.


Dari semua yang bertanding pada putaran kedua babak kedua, pria paruh baya yang memiliki kultivasi petarung kaisar bintang dua lah yang banyak menarik perhatian.


Mereka sangat penasaran siapa yang menjadi lawan bagi pria paruh baya tersebut.


Ternyata yang menjadi lawannya merupakan petarung tingkat raja bintang sembilan, seorang pemuda dengan pedang ganda.


"Dia akan sial."


"Sungguh malang nasibnya."


Kata kata sejenis terus terlontar dari mulut beberapa orang di sana, mereka sangat yakin tak ada akhir kecuali kekalahan bagi pemuda itu.


"Saudara Zhou, bagaimana menurutmu?" Yin Cun melirik Zhou Fan yang terlihat juga memperhatikan arena ke-lima, tempat pria paruh baya dengan pemuda pengguna pedang ganda.


"Pria paruh baya itu yang akan menang, tapi kemungkinan lawannya tak akan menyerah begitu saja. Kau bisa melihat tekad membara yang senantiasa terpancar dari matanya." Zhou Fan berkata tanpa mengalihkan pandangan dari arena ke lima.


"Ini akan menjadi pertarungan seru, meski kemenangan tidak mungkin pemuda itu dapatkan." Zhou Fan kembali berkata, membuat Yin Cun mengangguk setuju.


Meskipun Zhou Fan berkata pemuda itu akan kalah, dia tak sepenuhnya berpikir demikian, karena semua orang bisa saja memiliki kartu simpanan di balik pakaiannya.

__ADS_1


Dia sendiri merupakan contoh paling sempurna untuk menunjukkan bahwa hal seperti itu benar benar nyata. Dengan bantuan pedang darah malam, setidaknya saat ini di dapat mengimbangi seorang yang berada satu tingkat di atasnya.


Petarung tingkat kaisar berbeda dengan tingkatan di bawahnya, jika sebelum naik ke tingkat kaisar, dia dapat mengimbangi seorang yang berada dua sampai tiga tingkat di atasnya, sekarang hanya satu tingkatan, tapi itu sudah lebih dari cukup.


__ADS_2