
Seleksi murid dalam terus berlanjut, Loin Gu harus menerima bahwa dia tidak bisa menjadi murid dalam dalam waktu dekat, dia harus menunggu kesempatan selanjutnya.
Namun dia masih bisa berharap masuk delapan besar, dan mendapatkan hadiah hiburan.
"Sungguh sangat di sayangkan, padahal Loin Gu sudah sangat berusaha. Namun siapa yang mengira bahwa keberuntungan nya sangat buruk hingga membuatnya bertemu dengan peringkat satu murid luar di babak dua belas besar."
Zhou Fan melirik Yin Cun, entah mengapa kali ini pemuda itu mendukung Loin Gu. Biasanya Yin Cun menjadi orang pertama yang menentang apa yang dilakukan Loin Gu.
Yin Cun menyipitkan mata, dia membalas tatapan Zhou Fan dengan angkatan kedua bahu. "Apa? Aku hanya merasa dia sama seperti kita, seorang murid baru."
Zhou Fan tak lagi mempedulikan Yin Cun, dia mengamati ke atas arena, di sana sudah berdiri seorang dengan wajah tidak asing.
"Feng Xiao." Yin Cun berkata sambil memandang ke atas arena.
"Ngomong ngomong, marga nya adalah Feng, apakah ada hubungan dengan orang Feng waktu itu?" Zhou Fan mengingat ada seorang lagi bermarga Feng dalam ingatannya.
"Feng Shuo?"
__ADS_1
Zhou Fan mengangkat kedua bahunya, entah siapa itu namanya, yang jelas ada seorang lagi berharga Feng. Mungkin memang benar dia bernama Feng Shuo.
Di atas arena, Feng Xiao berhadapan dengan seorang petarung kaisar bintang satu, dia ungguli satu tingkat di atas lawannya, dan itu membuatnya sangat percaya diri.
"Kemarilah!"
Feng Xiao mengayunkan pedangnya, seolah dia memandang rendah lawan di hadapannya.
Pria berumur tiga puluhan tahun yang menjadi lawan Feng Xiao mengerang marah, dia juga merupakan murid sepuluh besar, meski tidak lebih baik dari Feng Xiao dia mempunyai harga diri yang tidak rendah.
Dengan rambut gimbal pria itu mengeluarkan sepasang kapak, dia memutar kapak dengan kedua tangannya.
Pria berambut gimbal tidak menyia-nyiakan kesempatan, biarkan lawan meremehkannya, menambah tingkat kemenangan yang dia punya.
Sambil melesat, pria berambut gimbal menyarankan kapak tepat ke arah kepala. Namun pedang Feng Xiao berdiri di sana, menghentikan kapak yang sewaktu-waktu bisa menghancurkan kepalanya.
"Lemah!" Feng Xiao tersenyum mencibir, dia mendorong pedang dan langsung membuat tebasan.
__ADS_1
Pria berambut gimbal terhuyung ke belakang, melihat serangan mengarah ke arahnya dia menyilangkan kapak di depan dada.
Prang...
Kapak di tangannya bergetar, perbedaan kekuatan sangat jelas dapat dia rasakan. Namun bukan sifatnya untuk menyerah, dia melompat menghindari lesatan pedang yang terus bergerak.
Feng Xiao dari waktu ke waktu terus menampilkan senyum mencibir, dia menyerang sambil menekan lawan dengan permainan ekspresi.
Puluhan serangan telah mereka keluarkan, kondisi pria berambut gimbal tidak baik baik saja, tubuhnya lebih dengan ukiran berwarna kemerahan.
"Waktunya untuk mengakhiri semua ini." Feng Xiao berkata dengan arogan, seolah dia bisa menyelesaikan pertarungan sesuai keinginannya.
Pria berambut gimbal mengerang marah, tapi dia sadar tidak akan mampu menahan serangan Feng Xiao lebih lama, kepercayaan diri yang sebelumnya menguasai tekadnya perlahan terkikis dan terlahap habis.
Feng Xiao menerjang dengan menodongkan pedangnya lurus ke depan. Pria berambut gimbal spontan menaruh kapal di depan tubuhnya, dia membentuk perisai dengan sisa kekuatannya.
"Tak berguna!" Feng Xiao berteriak, dengan itu dari ujung pedangnya keluar kepala singa, menerkam ke arah pria berambut gimbal.
__ADS_1
Baam!
Ledakan hebat terjadi, debu beterbangan menghujam seluruh murid yang menyaksikan. Di atas arena, Feng Xiao sudah berdiri tanpa lawan. Pria berambut gimbal terhempas keluar dengan banyak luka memar.