Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 97 : Antara Iseng Dan Kesal


__ADS_3

Rourou yang dari tadi menguping pembicaraan dua insang itu sedikit tidak menerima.


"Lin'er kau terlalu lembek kepadanya." Rourou menggeleng.


Ingin rasanya ia mengungkapkannya kepada adik seperguruannya, tapi melihat senyum Wei Guanlin membuatnya mengurungkan niatnya.


"Semoga kau bahagia tuan putri!"


Rourou dan He Li meninggalkan Wei Guanlin sendiri bersama Zhou Fan di kedai, semantara mereka melanjutkan perjalanannya ke sakte pedang suci.


Keduanya merasa Wei Guanlin membutuhkan lebih banyak waktu bersama kekasihnya, oleh sebab itu dia meninggalkan Wei Guanlin sendiri di Kota Kapur Putih.


"Permisi nona, ada sebuah surat untuk anda." Seorang pelayan menyerahkan sepucuk surat untuk Wei Guanlin.


Meskipun sedikit terkejut, Wei Guanlin tetap menerima surat itu.


Tatapannya menjadi bengis kala membaca surat itu.


"Ada apa Lin'er?" Zhou Fan segera bertanya saat melihat raut wajah Wei Guanlin.


"Huh...." Wei Guanlin menghembuskan nafas kasar, lalu menoleh ke arah Zhou Fan.


"Aku di tinggal!"


Hening sesaat, karena Zhou Fan masih mencerna ucapan singkat itu.


"Bukankah bagus?!" Seru Zhou Fan senang.


Mendengar seruan Zhou Fan, gadis itu termenung dalam pikirannya.


Tuk...


"Apa yang kau pikirkan, aku berniat akan membawamu bertemu dengan Wei'er." Zhou Fan menyentil dahi Wei Guanlin.


"Tapi kalau kau menginginkannya aku juga tidak akan keberatan." Zhou Fan tersenyum nakal.


Huh...


Wei Guanlin mendengus, lalu kembali duduk di tempatnya sebelumnya.


***


Kabar seorang pemuda mendapatkan pedang pusaka malam mulai meyebar di seluruh kota, tapi tak ada yang mengetahui nama pemuda itu.


Gosip mengenai hubungan pemuda itu dengan putri tetua kedua Klan Qing juga ikut menyebar.


Klan Yu yang mendengar kabar itu secara langsung dari Yu Zhong, menjadi sangat murka, bukan hanya karena pedang pusaka malam, tapi masalah yang Klan Qing tak lagi menganggap klannya.


Pertunangan antara Yu San sudah lama di ketahui oleh semua orang, memang Qing Yuwei tak pernah menerima pertunangan itu, tapi klannya, atau lebih tepatnya tetua kedua telah menerimanya dengan tangan terbuka.


Kabar ini tentu membuat Klan Yu merasa tak dianggap keberadaannya oleh Klan Qing.


.


.


.


Sementara itu di kediaman tetua kedua klan Qing...


"Wei'er, apakah kau sadar apa yang kau lakukan?" Ayah Qing Yuwei bertanya kepada anaknya.


"Apa yang aku lakukan ayah?!" Qing Yuwei bertanya kapada ayahnya.


"Kau sudah tahu, kau dijodohkan dengan Yu San, tapi kau malah bersama dengan pemuda tak jelas." Qing Si meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Ayah tahu aku tak menyukainya, dia itu pria brengsek ayah, kau tak tahu apa yang dia lakukan di luar!" Ucap Qing Yuwei membela.


"Lagi pula aku sudah mempunyai Fan disisiku," Tambahnya pelan.


"Kau menyia-nyiakan calon penerus Klan Yu hanya demi pemuda tak berlatar belakang?!" Qing Si meninggikan nada bicaranya.


"Terserah apa maumu ayah. Yang jelas tak ada pemuda lain dalam hidupku." Qing Yuwei sudah lelah berdebat dengan ayahnya.


"Oh iya, ini adalah hadiah dari Fan. Dia membuatnya dengan susah payah, kau harus menerimanya..." Qing Yuwei melemparkan sebuah botol pill.


Qing Si menangkap botol itu, tapi dari wajahnya, sudah terlihat jelas memandang rendah isi dalam botol.


"Memang apa isinya, paling hanya pil tingkat 1?" Gumam Qing si.


Matanya membulat, mulutnya terbuka lebar, tapi tak ada suara darinya. Pria paruh baya itu tak dapat lagi berkata.


Setelah membuka tutup botol itu, aura pill tingkat tinggi menyeruak kemana mana, membuatnya tak bisa berpikir sejenak.


Qing Si membalikkan botol pill di tangannya dan menampungnya dalam tangan satunya.


Pluk...


Sebuah pill mengkilau menggelinding ke telapak tangannya.


"Ini..." tanpa sadar Qing Si menahan nafasnya.


Dia juga bukanlah orang awam yang tak tahu jenis pill, dia mengetahui dengan jelas, jenis pill yang sekarang berada di tangannya.


"Pill pembersih jiwa!" Serunya terkejut.


Qing Si kembali mengingat perkataan putrinya.


'Oh iya, ini adalah hadiah dari Fan. Dia membuatnya susah payah, kau harus menerimanya.'


"Apakah.... Ah sudahlah, besok saja aku akan memperjelasnya." Dalam hatinya sudah sedikit perasaan kagum dengan pemuda yang memberikannya pill pembersih jiwa.


Pria paruh baya itu masuk ke kamarnya kemudian menutupi pintu kamarnya rapat rapat, terdengar hembusan angin berkecamuk dari dalam kamarnya, yang berarti Qing Si telah memulai berkultivasi.


Bersamaan dengan itu, Qing Yuwei menatap perubahan ayahnya dengan wajah penuh senyum. Ia tahu pill itu akan mengubah pandangan ayahnya terhadap Zhou Fan.


Huft....


Qing Yuwei ikut masuk ke ruangan miliknya saat melihat ayahnya memasuki ruangannya.


Pagi hari...


Qing yuwei yang memang sudah berniat menemui Zhou Fan, sudah bersiap dengan pakaian anggunnya.


Saat melangkah melewati ruang tamu, ia berlalu melewati ayahnya yang sedang santai di sana.


"Apakah kau akan menemuinya?" Tanya sang ayah.


Dengan memasang senyum paling manisnya, Qing Yuwei mendekati ayahnya lalu meminta izin kepadanya.


"Sudah sudah, kau sudah dewasa, kau bisa memilih sendiri dengan siapa kau akan bersanding." Qing Si melambaikan tangannya, yang disambut seketika oleh pelukan sang putri.


"Apakah ayah sudah menerima Fan?!" Tanya Qing Yuwei.


"Hemm, bagaimana lagi. Dia adalah pilihan putri kecilku..." Qing Si menarik hidung Qing Yuwei.


"Hehe.... Terimakasih ayah.." Qing yuwei semakin mengeratkan pelukannya.


"Lagi pula, mempunyai menantu seorang alkemis hebat juga tidak buruk," Ucap Qing Si sambil membelai puncak kepala anaknya.


"Jangan lupa mengajaknya ke kediaman, ayah akan manyambutnya." Qing Si tersenyum misterius.

__ADS_1


Qing Yuwei yang tidak mengetahui seringai ayahnya hanya mengangguk patuh, ia juga senang jika Zhou Fan berkunjung ke kediamannya.


.


.


.


Di depan pintu penginapan Zhou Fan...


"Fan?!" Panggil Qing Yuwei seraya mengetuk pintu kamar.


Tok tok tok...


Tak lama pintu terbuka dan menampakkan seorang wanita cantik.


Eh?! Qing Yuwei terkejut, lalu dia menengok sekitar.


"Benar, ini adalah kamar Fan?" Gumam Qing yuwei meyakinkan.


Sementara Wei guanlin, menatap dengan senyum licik.


"Siapa yang kau cari nona?" Tanya Wei Guanlin.


"Emn... Fan. Zhou Fan!" Qing Yuwei sedikit ragu.


"Owh... Fan gege, dia sedang mandi, kami selesai berolahraga." Ucapan Wei Guanlin disalah artikan oleh Qing Yuwei.


Olahraga? Apakah Fan.... Qing Yuwei mencoba mengintip kedalaman kamar Zhou Fan dan benar saja kamar itu berantakan.


"Bolehkah saya tahu, siapakah nona ini?" Qing Yuwei merasakan hatinya tersayat sayat.


"Saya adalah kekasihnya."


Duar...


Seolah tersambar petir, Qing Yuwei mendadak lemas dan tak sanggup lagi berdiri.


Apakah Fan seorang yang mempermainkan wanita?


Meskipun sedikit tidak percaya, dalam pikirannya mulai terbesit prasangka terhadap Zhou Fan.


Wei Guanlin tak ayal, dia menahan tawa dalam diam.


Anggap saja pembalasan, adik! pikir Wei Guanlin.


Wei Guanlin tahu yang ada di depannya adalah wanita yang dibicarakan Zhou Fan karena dia pernah melihat wanita dihadapannya itu memberikan semangat kepada Zhou Fan.


Hiks... Hiks..


Eh! Wei Guanlin kaget melihat Qing Yuwei menangis sesegukan dihadapannya.


"Haih..." Dengan terpaksa dia harus menghentikan sandiwaranya.


Wei Guanlin melangkah, meraih Qing Yuwei lalu mengajaknya ke dalam.


Qing Yuwei tak menolak, karena ia ingin mendengar penjelasan langsung dari Zhou Fan.


Bersamaan dengan itu seorang pemuda keluar dengan balutan pakaian hitam dari kamar mandi.


"Lin'er apa yang kau lakukan?"


Mendengar nama yang Zhou Fan sebut, Qing Yuwei mendongakkan kepala, menatap Wei Guanlin dan Zhou Fan bergantian.


Lin'er?

__ADS_1


__ADS_2