
Di kota kapur putih, Kediaman Klan Yu. Semua orang memiliki satu beban pikiran yang sama, kematian patriark mereka, patriark Yu.
Di tengah malam sebelumnya, tiba tiba giok kehidupan patriark Yu retak.
Tidak hanya sampai di situ, perlahan retakannya semakin besar dan giok yang seharusnya berwarna kehijauan mulai timbul guratan putih di setiap sisinya.
Dan beberapa saat kemudian, giok kehidupan patriark Yu mendadak hancur berkeping-keping, membuat pria tua yang kebetulan berada di tempat penyimpanan giok beranjak keluar dengan panik.
Pria tua yang juga merupakan tetua klan Yu itu sambil berlari berteriak kencang, tak lupa dia menyelipkan tenaga dalam di setiap perkataannya, Pria tua itu memanggil semua orang, mengumpulkannya di aula klan Yu.
Pengumuman yang begitu mendadak membuat penghuni kediaman klan Yu berhamburan keluar dengan wajah cemas.
Saat semua sudah berkumpul tetua pertama, membuka suaranya, menyampaikan kabar yang sungguh menyayat hati.
Degh... Saat tetua sudah menyampaikan, keheningan tercipta begitu saja, menggantikan bisikan panik dan cemas dengan cepat.
Mendengar kematian ayahnya, Yu San serta Yu Zhong melesat memburu tetua pertama. Kedua pemuda itu mencengkram tubuh tetua pertama, matanya menatap tajam pria tua tersebut.
Kedua putra patriark Yu menjadi agresif, namun tetua pertama yang merupakan petarung tangguh dapat dengan mudah mengatasinya, dengan menepuk tungkuk kepala keduanya, seketika tubuh mereka jatuh terkulai.
Sementara para anggota klan Yu membicarakan kematian patriark Yu, segala kemungkinan penyebab kematiannya.
Beberapa hari lalu patriark Yu beserta beberapa tetua memimpin orang orang nya menuju kota batu hitam, mereka tidak tahu apa yang di lakukan oleh patriarknya, namun kabar penyerangan terhadap salah satu klan kota batu hitam membuat semua orang mendapat gambaran samar.
Bukan karena kehendak sendiri, keinginan untuk menyerang klan Zhou bukan merupakan murni pimikiran patriark Yu.
Malam sebelumnya, patriark Bai datang dengan sebuah pernyataan bahwa dirinya sudah mendapatkan informasi tentang pemuda yang telah membunuh putranya, Zhou fan.
__ADS_1
Meskipun awalnya sedikit ragu, patriark Bai terus mencoba meyakinkan patriark Yu agar pergi bersamanya ke kota batu hitam.
Namun patriark Yu masih enggan, dan mencoba mundur tanpa menyinggung patriark Bai, dia dapat merasakan kekuatan patriark Bai telah berada satu tingkat di atasnya.
Mendapatkan penolakan terus menerus, akhirnya patriark Bai membuka alasan keyakinan dan keputusannya.
Patriark Bai mengatakan bahwa terdapat seseorang yang membantunya untuk melenyapkan klan Zhou, bahkan dia mengatakan kekuatannya yang tiba tiba melejit juga kerena 'nya' yang mau menjual pill kultivasi tingkat tinggi kepadanya.
Mendapat sebuah pernyataan yang sungguh mengejutkan patriark Yu tertegun untuk beberapa saat, kemudian memandang meminta penjelasan.
Patriark Bai menarik sudut bibirnya, lalu menjelaskan satu persatu, serta dia juga menjelaskan keuntungan apa yang akan klan Yu dapatkan jika keinginan 'dia' terlaksana.
Seolah akan mendapatkan harta karun, patriark Yu menggebrak meja dengan senang, kemudian menyetujui kerja sama antara keduanya.
Patriark Yu berpikir, dia juga memiliki dendam kesumat dengan Zhou Fan, tentu dia tak akan dirugikan dalam kerja sama ini.
Sebelum menyetujui patriark Yu juga membeberkan ambisinya, dia bersedia jika semua harta yang menjadi rampasan akan menjadi miliknya.
Mendapatkan penawaran yang mengerikan patriark Bai mengernyitkan keningnya, menatap patriark Yu dengan kesal.
Setelah berpikir agak lama, patriark Bai menyetujui, namun patriark Yu harus memberikan bayaran yang setimpal untuk para orang orang yang ikut, tidak masalah jika dirinya tidak mendapatkan apapun, karena tujuannya adalah nyawa pemuda yang membunuh anaknya sekaligus mempermalukannya
Di kediaman klan Bai juga tak kalah ramai, semua orang yang merasakan kehilangan menjadi histeris.
Setelah kehilangan tuan muda penerus mereka, sekarang malah kehilangan patriark, seorang yang sangat berarti dalam sejarah klan Bai.
Di tengah duka kedua klan, sesosok pria berjubah hitam berdiri di puncak bangunan tinggi menjulang.
__ADS_1
Pandangannya menatap ke bawah dengan remeh, memandang sekumpulan orang yang sudah menjadi pion permainan caturnya.
Di sampingnya tiba tiba muncul seorang wanita, dari perawakannya terlihat berumur sekitar tiga puluhan tahun.
"Yang mulia, apakah anda akan terus bermain?" tanya wanita itu dengan suara menggoda.
"Bagaimana aku bisa bermain jika lawan mainku baru saja datang." Pria berjubah hitam mencengkram rahang wanita di sampingnya.
"Aku sudah sangat lama menantikan menjadi seorang permaisuri, namun kau tak kunjung juga melengserkan saudaramu dari posisinya." Gerutu sang wanita dengan tangan mulai menjamah kemana mana.
"Bisakah kau lebih bersabar?!" Pria berjubah hitam menghempaskan tangan wanita tersebut, kemudian kembali membuka mulutnya.
"Aku akan selalu menantikan hari dimana kau menjadi Kaisar, penguasa Kekaisaran Wei, kerena di saat itu juga aku menjadi permaisurimu." Wanita itu mengatakan dengan nada berharap.
"Aku sudah sangat lama merencanakan semua ini, meskipun tanpa kedua benda itu, aku yakin dapat melakukannya. Tak lama lagi, Kekaisaran Wei akan berada di bawah kekuasaanku, di saat itu, aku akan menjadikanmu permaisuri...," Pria berjubah melirik wanita di sampingannya, yang di balas dengan senyum manis olehnya.
"Karena hanya aku, Wei Jia.. Yang pantas menjadi kaisar, bukan Wei Huan yang tak berguna itu. Beberapa bulan dari sekarang, aku akan merobohkan kekuasaan Wei Huan, dan akan mengeksekusinya di hadapan semua orang ... Semua orang yang menghalangi atau berniat memberontak maka itu adalah akhir darinya ... Hahaha!" Pria berjubah yang mengklaim dirinya sebagai Wei Jia berseru dengan suara di tahan, tangannya terbentang dengan wajah menengadah ke atas.
Wei Jia melirik wanitanya, mendapati ekspresi sedu di matanya membuat Wei Jia kembali mencengkram dagu wanita tersebut.
"Tang Yu'er! kenapa kau terlihat sedih, apakah kau masih menyimpan Wei Huan dalam hatimu?!" Wei Jia melotot marah, cengkeraman tangannya semakin kuat.
Tang Yu'er mengernyit kesakitan, tapi ia tak dapat berteriak ataupun menjerit, rahangnya di apit tangan kokoh yang memaksanya untuk terus terbungkam.
"Ba-bagaimana mungkin, dia dengan teganya meninggalkanku hanya demi putri jendral, bahkan jika ada yang masih tersisa diantara aku dan dia, itu adalah kebencian dan dendam yang tak akan pernah hilang." Tang Yu'er melepaskan cengkraman di wajahnya, lalu memeluk Wei Jia sembari mengelus pundak pria itu dengan manja.
"Aku sudah menyerahkan semuanya, bahkan hidupku kepadamu, tapi kau masih saja mencurigai diriku..." Sebelum Tang Yu'er menyelesaikan perkataannya, Wei Jia menatap tajam wanita berumur setengah abad tersebut.
__ADS_1
"Sebaiknya yang kau katakan merupakan apa yang kau pikirkan, atau kau akan merasakan akibatnya karena mengkhianati ku," ujar Wei Jia yang kemudian melesat pergi, di ikuti oleh Tang Yu'er.