Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 181 : Bertarung Melawan Wei Jia


__ADS_3

Saat sampai di desa karang hijau, dapat dilihatnya kekacauan yang terjadi, melihat banyaknya mayat bergeletakan serta bangunan hancur di desa tersebut mengingatkan pertempuran malam di desa Giok.


Zhou Fan langsung melesat ke atas benteng, dia menghabisi semua orang yang merupakan orang perkumpulan gerhana.


Dia dapat membedakan lawan dan kawan karena dia ingat betul zirah Kekaisaran Wei.


Kedatangan pemuda dengan kekuatan dahsyat yang sanggup menghabisi lawan sekali tebasan membuat pasukan Kekaisaran bernafas lega, tapi mereka masih penasaran dengan identitas pemuda itu.


Tak membutuhkan waktu lama untuk Zhou Fan membersihkan hama yang ada di atas benteng, baru saja dia datang orang berzirah hitam sudah terlumpuhkan.


"Terimakasih tuan, ak..."


"Jangan terlalu senang, pertempuran baru saja dimulai." Beberapa orang hendak berterima kasih tapi Zhou Fan terlebih dahulu memotong.


Dari ketinggian Zhou Fan mengamati semua gerak gerik pertempuran, dia dapat melihat beberapa orang yang dia kenal.


Saat pandangannya ke arah Wei Huan yang dikepung tiga orang bersama seorang pemuda, dia mengerutkan kening.


Zhou Fan masih belum bertindak sampai melihat sebuah serangan mengincar Wei Huan dari belakang, sementara pemuda yang bersamanya terlihat tidak lagi sanggup bertahan.


Blar!


Zhou Fan membalas serangan itu dengan tebasan ganda miliknya, seketika terjadi ledakan yang hampir saja mengenai Wei Huan dengan pemuda di sampingnya.


"Jangan lupakan aku, ayah mertua... Kau bisa beristirahat memulihkan dirimu, biar aku yang menangani mereka." Zhou Fan melirik Wei Huan tanpa ekspresi, wajahnya dipenuhi dendam juga amarah.


Melihat karakteristik wajah pria yang melawan We Huan, juga penatua Du bersamanya, membuat Zhou Fan berpikir pria paruh baya di hadapannya itu adalah Wei Jia.


"Bocah sombong!"


Penatua Du melesat dengan sangat cepat, dia sangat ingin menghancurkan wajah pemuda yang sudah sangat mengesalkan baginya.


Trang...


"Belum saatnya pak tua!"


Zhou Fan menahan serangan pedang penatua Du dengan hanya ayunan ringan pedang darah malam.


Trang.... Sret...

__ADS_1


Dengan satu kali hentakan pedang darah malam penatua Du terlempar, tapi dengan cepat pria tua itu menyeimbangkan tubuhnya.


"Hati hati Yang Mulia, dia ternyata tidak lemah." Penatua Du berpesan kepada Wei Jia.


"Dasar tidak berguna, hanya petarung grand Master saja kau takut?" Wei Jia maju menerjang dengan belatinya, dia sangat percaya dapat mengalahkan pemuda di hadapannya dengan sekali serangan.


Mendengar Wei Jia mengatakan kultivasi Zhou Fan kedua orang di sampingnya menoleh kaget, mereka tidak bisa melihat tingkatan pemuda itu, tapi kenapa Wei Jia bisa melihatnya.


Penatua Du merasakan firasat buruk terhadap Zhou Fan, pemuda ini tidak semudah yang terlihat, bahkan Wei Huan yang sangat sulit mempercayai orang dapat mudah sekali akrab dengannya hanya dalam beberapa hari.


"Yang Mulia, mohon anda jangan gegabah." Penatua Du berusaha menghentikan Wei Jia, tapi pria paruh baya itu sudah terlanjur memandang remeh Zhou Fan.


"Tak perlu kau khawatirkan, hanya sampah bagiku!" ucap Wei Jia sambil mulai melancarkan serangan.


Trang...


Dengan mudah Zhou Fan menghalau serangan belati Wei Jia, kejadian itu tak ayal membuat pria paruh baya tersebut membulatkan mata.


Wei Jia melompat ke belakang, dia terus memutar otaknya untuk berpikir. "Tidak, aku pasti hanya terlalu meremehkannya."


Wei Jia sekali lagi menyerang Zhou Fan, tapi kali ini dia menggunakan seluruh kekuatannya.


Wei Jia mengeluarkan teknik belati andalannya, tapi seolah bukan masalah besar Zhou Fan menghentikan gerakan Wei Jia dengan beberapa gerakan.


Trang!


Belati Wei Jia terlempar jauh dan menancap di sebelah Penatua Du berdiri.


"Ternyata dia sangat kuat, tapi ... " Wei Jia tidak dapat memikirkan bagaimana lawannya menyembunyikan kultivasi.


Shut... Shut...


Penatua Du serta Tang Yu'er muncul di samping Wei Jia, tak lupa pria tua itu membawakan kembali senjata tuannya.


"Yang Mulia, kita harus melawannya bersama, kekuatannya tak jauh dari Wei Huan!" bisik Penatua Du tepat di samping telinga Wei Jia.


Dengan sekali anggukan ketiga orang sudah memutari Zhou Fan, pemuda itu tidak menampakkan wajah takut atau ragu, wajah serius masih mendominasi ekspresinya.


"Perkumpulan gerhana!" Zhou Fan mengatakan dengan suara rendah, nada dingin mengandung amarah sangat dapat terasa.

__ADS_1


"Mati kau sialan!" Wei Jia berteriak sambil melompat menyerang Zhou Fan, dia merasa terhina dikalahkan oleh pemuda itu, dia tak lagi memandang remeh Zhou Fan dia menyerang bersama dua orang lainnya.


Zhou Fan bersiap mengeluarkan teknik dewa pedang, udara panas meluap-luap dari pedang darah malam. Aura intimidasi pedang pusaka tersebut membuat orang disekitarnya merasakan kengerian pedang darah malam.


Kekuatan Zhou Fan meningkat tajam, pedang darah malam mulai menyuplai kekuatan untuknya. Bahkan Wei Huan yang tak jauh darinya ikut merasakan kekuatan Zhou Fan di luar nalar.


Seolah tidak peduli, ketiga orang itu tetap melompat menyerang Zhou Fan.


Perbedaan kekuatan yang sungguh besar membuat Zhou Fan tak kesulitan mendesak ketiga lawannya, hanya dalam kurun waktu terbilang cepat dia memaksa ketiga orang itu terhempas dengan tubuh penuh luka.


Mendengar jeritan ngeri yang mengiris jiwa, semua orang spontan melirik ke arah pertarungan Zhou Fan. Alangkah terkejutnya mereka semua melihat tiga orang terduduk dengan tubuh penuh luka.


Yang paling terkejut tentu saja Tuan Besar Tang, dia sangat mengetahui kekuatan sepupunya, dia tak akan pernah berpikir sepupunya itu akan terluka oleh seorang pemuda jika tidak melihat dengan mata kepalanya sendiri.


"Sepertinya, Kaisar memiliki menantu yang luar biasa!" gumam Tuan Besar Li, dia masih mengingat pemuda yang mengikuti pertemuan di aula pertemuan, dia baru tahu beberapa hari saat dia bertanya kepada Wei Huan bahwa pemuda itu adalah menantunya.


Mendengar gumaman Li Shimin, Tang Min dengan cepat melesat ke arah ketiga orang, dia tak mengira Wei Huan memiliki kartu As di belakangnya.


Sementara Wei Yun memandang heran pemuda yang berdiri di memunggunginya. Bukan hanya karena kekuatan yang ditunjukkan pemuda itu yang membuatnya penasaran, tapi sebutannya kepada sang ayah di saat kemunculannya.


"Ayah?" Wei Yun melirik ayahnya yang masih terlihat tak percaya.


Wei Huan hanya mengangkat kedua bahunya, kemudian melompat mencari tempat untuk memulihkan tenaga dalamnya.


Mendapat jawaban seperti itu tentu tidak membuat Wei Yun puas, tapi dia tidak bisa memaksa ayahnya untuk menjelaskan, setidaknya sekarang bukan saat yang tepat.


Wei Huan dapat merasakan kekuatan menantunya sekarang meningkat, tapi dia tak berpikir Zhou Fan akan dapat mengatasi ketiga lawan yang bahkan tidak bisa dia imbangi.


Dia diam diam merasa beruntung dengan keberadaan Zhou Fan, pemuda itu membuat dirinya merasa dia adalah pemuda yang tepat bagi putri semata wayangnya.


Bukan hanya Wei Yun, tapi seluruh orang kini memandang Zhou Fan dengan ngeri, khususnya orang berzirah hitam.


Banyak yang bertanya siapa pemuda yang berdiri gagah dengan membawa pedang gelap di tangannya, benyak juga yang memuji kekuatannya.


Bahkan pertempuran seolah berhenti karena ulang Zhou Fan, jurus yang mengeluarkan kobaran api membuatnya menjadi pusat perhatian.


Di tangah kerumunan, seorang pemuda berwajah hitam menatap Zhou Fan dengan penuh kekaguman.


Dia adalah Lee, pemuda itu menengok ke lawannya yang juga tangah memandang ke arah Zhou Fan.

__ADS_1


"Lihat, dia adalah temanku!"


__ADS_2