
"Tuan!" Seorang pria berpakaian tertutup menghadap tuannya dengan satu kaki ditekuk.
"Apakah kau sudah mendapatkannya?" tanyanya tanpa basa basi.
"Sudah, apakah kita akan bergerak sekarang, tuan?" tanya pria berpakaian tertutup.
"Tentu saja, ayo!" ucap pria yang di panggil tuan itu dengan semangat.
**
"Lin'er, apakah sekte pedang suci begitu senggang sehingga kau begitu mudahnya keluar masuk sesukamu?" tanya Zhou Fan yang sekarang sedang bersama Wei Guanlin.
"Kenapa kau terlihat begitu enggan denganku?" ucap Wei Guanlin tak terima.
"Bukan begitu, aku merasa kau begitu leluasa, apakah di sana tidak ada peraturan yang melarang muridnya keluar layaknya sakte lain?" jelas Zhou Fan.
"Heh... Aku ini istimewa, aku akan kembali jika aku menginginkan untuk kembali, tidak ada siapapun yang akan melarangku ataupun menghukumku," seru Wei Guanlin dengan bangga.
Ugh...
"Aku baru ingat, disampingku adalah seorang tuan putri, siapa yang berani melawannya." Zhou Fan mengerling seraya terkekeh pelan.
Mereka pun saling bergurau, sampai di sebuah tanah lapang di dekat sebuah danau mereka berhenti.
"Kenapa kau mengajakku kamari, Lin'er?" tanya Zhou Fan heran sambil memandang sekeliling.
Wei Guanlin diam, kemudian dengan yakin dia berkata. "Aku ingin kau menjadi lawan tandingku."
Zhou Fan menaikkan sebelah alisnya, lalu memandang Wei Guanlin. Dia terkejut mendengar ucapan Wei Guanlin.
"Ayolah Fan, kau sangat lambat." Entah sejak kapan gadis itu sudah menggengam pedang di tangannya.
"Sebentar. Kau tahu, tidak ada yang gratis di dunia ini," ujar Zhou Fan.
"Baiklah, akan aku bayar. Tapi nanti saja kita bahas." Wei Guanlin berpikir seberapa banyak koin emas yang akan dia berikan kepada Zhou Fan.
Gadis itu tidak menyadari seringai licik Zhou Fan, dan dengan polosnya menyetujui syarat darinya.
"Kau sudah menyetujuinya, kau tidak boleh menarik perkataanmu sendiri," ucap Zhou Fan mengingatkan.
"Um..." Wei Guanlin mengangguk yakin.
"Dengan senang hati akan aku layani." Zhou Fan berseru senang sambil mulai mengeluarkan pedangnya.
Melihat Zhou Fan tak meraih pedang di punggungnya membuat Wei Guanlin menyipitkan matanya.
"Kenapa kau tak menggunakan pedang di punggungmu?" tanya Wei Guanlin.
__ADS_1
"Tidak ada, aku lebih suka dengan pedang ini," jawab asal Zhou Fan dengan mengangkat pedang rank epic miliknya.
Cih..
Wei Guanlin mencibir Zhou Fan, menurutnya jawaban yang di berikan terlalu dibuat buat. Tapi dia tak ingin memperpanjang masalah pedang tersebut.
Mereka pun berlatih tanding, tapi sebenarnya lebih tepat dibilang sebagai pembelajaran bagi Wei Guanlin, karena Zhou Fan selalu menasehatinya di setiap gerakan yang dia kerahkan.
.
.
.
Dua orang duduk berdampingan di atas rumput, melepas penat selepas berlatih.
Wei Guanlin tiba tiba berdiri, mengeluarkan wajah panik, dia seperti baru mengingat sesuatu hal yang amat sangat penting. Dia memandang Zhou Fan sekilas, kemudian pergi sambil berkata. "Aku harus kembali."
Zhou Fan mengernyitkan dahinya, menatap Wei Guanlin dengan tatapan ingin tahu.
Tapi akibat terlalu panik, Wei Guanlin tak menggubris Zhou Fan, dia dengan cepat pergi, melesat layaknya angin.
Zhou Fan menghembus nafas rendah, melihat punggung Wei Guanlin yang semakin menjauh dan perlahan lenyap.
Zhou Fan meluruskan tubuhnya, tiduran di atas rumput, memandang langit yang tampak mendung.
Zhou Fan merasakan beberapa orang berkerumun mengitarinya, berjarak beberapa meter darinya.
Zhou Fan diam, seolah tak mengetahui keberadaan mereka. Dia kembali berbaring, mengangkat sebalah tangannya tinggi sebari berkata.
"Langit tampak mendung, entah berapa banyak orang yang mendambakan pelangi akan hadir setelahnya." Zhou Fan mengeraskan suaranya, berharap sampai ke telinga para penguntit.
Setelah diam sebentar, dia kembali berakata. "Orang bodoh akan mengira air tenang tidak berbahaya. Sungguh bodoh pemikirannya, mereka tidak tahu betapa dalam air yang tenang."
Zhou Fan tak lagi berkata, dia diam menunggu ikan besar datang.
Tak lama suara tapak kaki mendekat ke arahnya, membuat Zhou Fan seketika terbangun dari baringnya.
"Kalian akhirnya keluar, aku kira beberapa tikus kecil datang mengintai, ternyata bersama dengan pimpinan para tikus... Hehe," seru Zhou Fan sembil terkekeh.
Beberapa orang mulai terpancing, menggeram marah mendengar ucapan Zhou Fan.
"Kuakui kau pemuda yang berani, tapi kau telah menghina Keluarga Bangsawan Shang. Kau salah mencari lawan." Tuan Besar Shang berkata dingin.
Zhou Fan menanggapi ucapan Tuan Besar Shang dengan tawa dingin, kemudian berkata.
"Beberapa kera tak tahu diri tak sadar telah memasuki sarang harimau, mengira harimau yang tertidur merupakan seekor kucing dan mengganggunya...,"
__ADS_1
"Mereka baru akan sadar jika dihadapannya bukanlah kucing setelah mulut sang harimau terbuka lebar. Tapi itu sudah terlambat, karena harimau telah terbangun, dan dia dalam kondisi perut lapar."
Tuan Besar Shang tak tahu harus berkata apa, dia menggertakkan giginya kuat.
"Jika kalian menjadi monyet tak tahu diri itu, apa yang kalian lakukan?" tanya Zhou Fan menatap bergantian lima orang di hadapannya.
Tuan Besar Shang meradang, di samakan dengan seekor monyet oleh seorang bocah membuat harga dirinya terluka.
"Kau mengira dirimu adalah harimau?!" sentak Tuan Besar Shang terdengar nyaring.
"Haha... Tepat sekali, aku adalah harimau dan kalian kera yang.. Tak Tau Diri." Zhou Fan dengan wajah konyol menekan kalimatnya.
"Kau sungguh tak ingat daratan, sekarang kau lah yang menjadi kera, kau tengah dalam kumparan harimau, tapi kau malah membual kesana kemari," ucap Tuan Besar Shang.
"Kalian harimau? Harimau ompong?!" Zhou Fan mengatakan dengan sunggingan bibir yang terus terukir.
"Sialan kau bocah, aku benar benar ingin membunuhmu! Aku tak akan tenang sebelum membasuh rambutku dengan darahmu!" Tuan Besar Shang maraung marah.
Dia menoleh ke orang di belakangnya, kemudian berkata dengan marah. "Apa yang kalian lakukan, cepat maju!"
Keempat pria berpakaian hitam itu mengangguk serentak, kemudian melompat mengitari Zhou Fan. Tapi masih diam, menunggu perintah untuk menyerang.
"Jangan bilang aku menindasmu, salahkan saja nasibmu yang sial." Tuan Besar Shang berkata dengan menampilkan seringai kejam.
Zhou Fan yang berada dalam kepungan keempat orang tuan besar Shang memasang wajah serius. Kemudian menarik pedang di punggungnya.
Sling... Tak
Zhou Fan memanggul pedangnya, kemudian menatap satu persatu lawannya.
"Kalian boleh menyerah dan menjadi monyet yang tahu diri, setidaknya kalian masih akan terus bernafas, meskipun tidak menjadi pria yang berguna," ujar Zhou fan dengan seringai tajam di akhir kalimatnya.
"Kau masih bisa membual di tengah ancaman kematianmu, aku sungguh kagum dengan mulutmu. Aku akan membawa kepalamu keliling ibukota sebagai bentuk apresiasiku kepadamu.. Hahaha... " Tuan besar tertawa kesetanan.
"Ide yang bagus, mungkin aku akan melakukannya, dengan membawa mayatmu ke depan kediamanmu. Mungkin seluruh ibukota.... bukan, seluruh kekaisaran akan mengenang dan mungkin akan menjadikannya sebagai sejarah..," balas Zhou Fan dingin.
"Bagus, bagus sekali! Bunuh dia sekarang!" Menunjuk Zhou Fan dengan tetapan tajam, dia berseru lantang.
Keempat pria berpakaian hitam yang sudah dengan masing masing pedangnya, sekali lagi mengangguk.
Shut... Shut... Shut... Shut...
Mereka berempat maju, melompat menerjang Zhou Fan.
Zhou Fan mendengus acuh,
"Kalian yang menginginkan kematian!"
__ADS_1