
Siang hari...
Tiga orang duduk dengan masing masing seorang di belakangnya, ketiganya duduk memutar dengan meja di tengahnya.
"Sepertinya Wei Huan sudah mengetahui pergerakan kita, dia bahkan sudah mulai bergerak, mungkin dia berpikir untuk menghadang laju pasukan kita dengan memblokir jalan." Wei Jia berkata sambil membuka sebuah peta di atas meja.
"Mungkin sekarang mereka sudah berada di desa karang hijau, dan menyiapkan sebuah jebakan untuk pasukan kita." Wei Jia mengatakan sambil menunjuk peta bertuliskan nama desa karang hijau.
"Jalan masuk satu-satunya adalah gerbang dengan benteng setinggi lima meter, jika itu adalah benteng biasa tak masalah, tapi benteng tersebut terbuat dari beton yang bisa menahan serangan petarung raja ... "
"Kita akan kehilangan banyak pasukan hanya untuk bisa masuk ke kota Teratai, meskipun sudah masuk, kita akan kesulitan untuk menangani pasukan Wei Huan." Wei Jia kembali menjelaskan.
"Yang menjadi masalah bukan pasukan mereka, tapi wei Huan sendiri, dia sekarang berada di tingkat petarung raja bintang enam, itu sebanding denganku, lagi ada tua bangka dari sekte pedang suci, si pak tua Ban, kekuatannya sama seperti Wei Huan, bahkan mungkin lebih kuat." Tuan besar Tang mengatakan dengan wajah kesal, mengingat kekuatan dia orang itu akan sangat membahayakan rencananya.
"Apa yang kau permasalahkan, biar aku yang melawan tua bangka itu, sudah lama aku tak melawannya."
Seorang pria tua berambut panjang layaknya biksu dengan kuncir kebelakang, masuk dan bergabung dengan tiga orang yang sudah terlebih dahulu berada di dalam.
"Anda akhirnya datang juga, Patriark Xue?" Wei Jia berdiri menyambut dan mempersilakan Patriark sekte tombak angin itu agar duduk di tempat yang memang sudah disediakan.
"Yah, asal kau ingat janjimu aku akan berdiri di pihakmu." Que Ye duduk, wajahnya yang selalu menampakkan ekspresi arogan menjadi ciri khas pria tua yang terkenal dengan teknik tombaknya.
"Tentu saja, aku tak akan mengingkari ucapanku... Setelah membuka aula peninggalan yang ada di istana, aku akan mengizinkan sekte tombak angin untuk memasukinya." Wei Jia berkata ramah.
"Dengan bantuan aula peninggalan sekte tombak angin akan menjadi sekte terkuat, menggusur sekte pedang suci yang akan sebentar lagi tinggal nama." Tuan Besar Tang memberikan selamat kepada Patriark Que.
"Heh... Tentu saja, memang dari awal sekte pedang suci tak pantas untuk mendapatkan gelar sekte terkuat, hanya sekte ku lah yang pantas menyandang nya." Que Ye mengatakan dengan nada arogan.
"Meskipun aku belum mendapatkan kunci giok itu untuk membukanya, biarlah membohongi tua bangka ini dulu, perlahan kuncinya pasti akan aku dapatkan." Wei Jia membatin dengan wajah termenung.
"Menurut kitab yang ditinggalkan oleh ibu sebelum dia meninggal, aula peninggalan hanya dapat digunakan sekali, tapi itu sudah cukup untuk seorang petarung raja bintang lima sepertiku menjadi petarung raja bintang delapan ... Tak mungkin aku akan menyerahkan harta berharga seperti itu kepada orang lain ... "
"Setelah berkultivasi di aula peninggalan aku akan menjadi orang terkuat di Kekaisaran Wei... Heh heh.." Wei Jia menyeringai sambil membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang terkuat se-Kekaisaran.
"Ei... Kenapa berhenti, ayo lanjutkan pembahasannya, aku disini untuk ikut berembuk, kalian malah saling diam." Que Ye menyadarkan ketiga orang yang entah kenapa terdiam.
"Ah.. Ya, sampai dimana kita?" ucap spontan Wei Jia setelah tersadar.
"Cih... Mana kutahu, aku baru datang dan kau bertanya sampai mana?" Que Ye membalas dengan suara sengak.
__ADS_1
"Hng... Pak tua ini ... "
Keempatnya pun merundingkan strategi sampai matahari tenggelam, mereka akhirnya sepakat untuk melakukan penyerangan sehari setelah mata mata mereka kembali.
Mereka mengutus mata mata untuk mengetahui jumlah serta kekuatan pasukan lawan yang berada di desa karang hijau.
Akan sangat ceroboh jika mereka bergerak tanpa mengetahui kekuatan lawan, bisa-bisa rencana yang sudah tersusun matang gagal begitu saja karena kesalahan analisis.
.....
Di desa karang hijau...
"Sepertinya mereka masih menunggu, tidak ada pergerakan yang dapat terlihat dari sini." Wei Huan berkata kepada Ban Fulong yang berdiri di sampingnya.
"Mereka pasti sudah mendengar bahwa kita menghadang di sini, oleh karena itu mereka memikirkan waktu yang tepat, kita harus senantiasa siaga, karena mereka sewaktu waktu dapat bergerak." Ban Fulong menatap tajam ke dapan, dia merasakan sebuah bayangan melesat menuju sayap kanan benteng.
"Ada apa paman?" Wei Huan yang sedari tadi memerhatikan pasukannya tidak menyadari apa yang dirasakan Ban Fulong.
"Aku seperti melihat seorang penyusup," gumam Ban Fulong dengan mata terus mencari, dia tiba tiba melompat keluar dari atas benteng.
Wei Huan hendak mencegahnya, tapi pria tua yang ia anggap sebagai paman itu sudah terlebih dahulu melompat.
Bust...
Tanah sampai berlubang akibat dijadikan bantalan kaki Ban Fulong, tepat setelah mendarat pria tua itu melesat ke arah sayap kanan, arah yang dirasa menjadi incaran penyusup.
"Dimana dia?" Ban Fulong menyebarkan indranya, memeriksa setiap jengkal wilayah luar benteng.
"Di sana kau rupanya?" Ban Fulong mempercepat langkahnya, saat jarak keduanya tinggal beberapa langkah mata Ban Fulong membelalak.
"Kau?"
"Apa yang kau lakukan, Patriark Ban?" tanya pria tua yang seumuran dengan Ban Fulong.
"Seharusnya aku yang bertanya kepadamu, Tuan besar Li?" balas Ban Fulong dengan nada sarkastik.
"Paman, apa yang kau lakukan?" Wei Huan menyusul Ban Fulong yang tangah bercakap dengan Tuan besar Li.
"Yang Mulia," Keduanya memberi hormat kepada Wei Huan.
__ADS_1
"Hamba merasakan seseorang mencurigakan berkeliaran di luar benteng, saat mengikutinya, hamba bertemu dengan tuan besar Li." Ban Fulong mengatakan dengan kalimat penuh makna.
"Tunggu, apa maksud perkataanmu, Patriark Ban? Apakah anda mengatakan saya mencurigakan?" Tuan besar Li tak terima dengan ucapan Ban Fulong yang secara tidak langsung mengatakan sebagai orang yang dimaksud.
"Paman, seperti kau salah mengira, aku yang menugaskan tuan besar Li untuk mengontrol benteng, memeriksa setiap sudut benteng." Wei Huan mencoba menjelaskan.
"Hamba tidak mungkin berniat buruk, hamba hanya melakukan apa yang Yang Mulia perintahkan." Tuan besar Li menakan kata tertentu dalam kalimatnya.
"Maafkan hamba Yang mulia, maaf juga kepadamu Tuan besar Li, pria tua ini mungkin salah lihat," ujar Ban Fulong kepada kedua pria berbeda usia di sekitarnya.
"Ini hanya salah paham, sebaiknya kita kembali ke dalam benteng, mungkin dalam waktu dekat pihak lawan mulai tak sabar dan melakukan serangan terbuka.
...
Keesokan paginya...
Belum sepenuhnya langit berubah terang, teriakan dari atas benteng menggema membangunkan beberapa orang yang masih tertidur.
"Musuh datang! Musuh datang!"
Mendengar teriakan lantang, semua tak lagi dapat santai, semua orang melompat keluar dari tenda.
Wei Huan ketika mendengar teriakan langsung menuju benteng, berdiri dengan zirah perangnya.
Pakaian logam berwarna emas dengan lambang kepala singa di bagian depan menambah kesan sangar pada pria paruh baya berusia setengah abad.
Wei Huan memandang ke dapan, dapat dilihatnya puluhan ribu pasukan sedang perjalanan menuju ke arah benteng. Dia menekuk wajahnya, ekspresi terlihat rumit.
Seharusnya pasukan lawan merupakan dua kali pasukannya, tapi sekarang yang terlihat hanya setengah seperempat dari jumlah semestinya.
"Apa yang mereka rencanakan?"
Wei Huan memaksa otaknya untuk berpikir, disaat dia sibuk memutar kepalanya, sebuah sinyal ledakan di arahkan ke atas.
Boom!
Kembang api tercipta dengan bunyi yang memekakkan telinga.
Wajah Wei Huan seketika pucat, dia menoleh ke dalam benteng, beberapa bangunan di desa kerang hijau tiba tiba mengeluarkan sinar seperti membalas kembang api tersebut.
__ADS_1
"Bersiap bertarung!"