
Hari berganti, waktu terus berlalu. Tak terasa sudah satu minggu Zhou Fan berada di kediaman Klan Qing, selama di sana dia tinggal di kediaman Qing Si.
Zhou Fan merasa ini sudah waktunya kembali ke kota batu hitam, mengingat dia punya janji untuk menjemput Wei Guanlin. Dia akan pulang untuk berpamitan kepada kedua orang tuanya.
Qing Yuwei yang mendengar Zhou Fan hendak kembali ke Kota Batu Hitam ingin ikut bersamanya, dengan alasan ingin mengenal keluarga tunangannya.
Tak mendapat alasan untuk menolak Qing Yuwei, Zhou Fan akhirnya mengiyakan keinginan untuk ikut bersamanya.
Saat Fajar menyingsing Zhou Fan sudah siap dengan keberangkatannya, begitupun dengan Qing Yuwei, keduanya berjalan berdampingan keluar kediaman.
Sebelum berangkat tak lupa keduanya berbincang dengan Qing Si, sebenarnya pria paruh baya itu agak keberatan, tapi mengingat kekuatan Zhou Fan dia akhirnya memberikan izin.
Tak membutuhkan banyak waktu, Zhou Fan sudah kembali menginjakkan kakinya di Kota Batu Hitam.
"Apakah ini Kota Batu Hitam?" tanya Qing Yuwei dengan semangat, dia tak sabar untuk bertemu dengan orang tua Zhou Fan.
Zhou Fan hanya menganggukkan kepala ringan, kemudian menuju desa Giok, tempat Klan Zhou berada.
Memasuki halaman kediaman, dia melihat meja makan panjang di halaman samping kediaman, diatasnya terdapat makanan yang berjajar dengan rapi.
"Apakah ini adalah sambutan untukku?" gumam Zhou Fan dengan percaya diri.
Namun, wajahnya berubah masam, saat mengingat tidak ada diantara keluarganya yang tahu dia akan kembali hari ini.
Dengan mengajak Qing Yuwei masuk, Zhou Fan mencari Ayah-Ibunya.
"Ayah... Ibu! Pemuda tampan pulang!" Zhou Fan teriak begitu memasuki pintu kediaman.
Qing Yuwei dibuat cekikikan oleh tingkah konyol Zhou Fan, tapi pemuda itu nampak tidak begitu peduli.
Dari dalam kediaman gemuruh langkah kaki terdengar, tak lama seorang wanita paruh baya datang dengan wajah sumringah.
"Fan'er akhirnya kau pulang juga, kau tahu ibu sangat mengkhawatirkanmu." Zhou Qian memeluk Zhou Fan dengan erat.
Saat tengah berpelukan dan wajahnya melintas ke belakang, dia melihat seorang gadis muda tersenyum ramah ke arahnya. Sontak Zhou Qian mendorong tubuh Zhou Fan dan dengan cepat mendorongnya ke samping.
"Siapa ini Fan'er?" Zhou Qian menelisik Qing Yuwei sambil sesekali melirik Zhou Fan yang ada di sampingnya.
"Dia Qing Yuwei, Ibu... " jawab Zhou Fan.
Zhou Qian nampak tidak suka dengan jawaban yang diberikan putranya.
"Maksudku, apa hubungannya denganmu?" Zhou Qian menarik Zhou Fan untuk agak menjauh, agar tak di dengar Qing Yuwei.
Pertanyaan Ibunya membuat Zhou Fan menggaruk tengkuk kepalanya, hendak menjawab, Zhou Qian terlebih dahulu berpendapat.
"Kau itu memang anak kurang ajar, dari mana kau mendapat sifat bajingan itu, ha?" Sebagai seorang wanita dia tentu tahu bagaimana rasanya dimadu.
__ADS_1
Zhou Qian menjewer telinga anaknya dengan gemas, kesal dengan apa yang Zhou Fan lakukan.
Huh...
"Ayo Wei'er, kita tinggalkan bajingan kecil ini!" Zhou Qian mengajak Qing Yuwei pergi ke halaman samping.
Qing Yuwei yang tidak mengira akan semudah itu mendapat akuan hanya diam mengikuti langkah sang ibu mertua.
Sementara Zhou Fan berwajah kecut, melihat kepergian kedua wanita itu.
"Kau pantas mendapatkannya!" seru Zhou Hu yang tiba tiba berada di samping Zhou Fan.
"Ayolah ayah... Aku tak bersalah di sini, mereka berdua juga tidak keberatan, apakah ini salahku?" tanya Zhou Fan dengan nada mengeluh.
"Lantas kalau bukan salahmu, salah siapa?" Zhou Hu membalik pertanyaan yang anaknya lontarkan, kemudian berjalan mengikuti Zhou Qian.
Huh...
Zhou Fan kembali ke ruangannya, dan langsung masuk ke kamar mandi. "Salahkan saja langit yang memberikan aku wajah tampan nan rupawan."
....
Di halaman samping...
"Ayah, ibu sebenarnya untuk apa makanan sebanyak ini, tidak mungkin 'kan untukku?" Zhou Fan mendekati Ibunya yang masih sibuk dengan beberapa makanan dibantu dengan Qing Yuwei.
Entah sejak kapan keduanya menjadi sangat akrab, bahkan tak jarang keduanya saling berbincang ringan di sela apa yang mereka lakukan.
Zhou Fan yang melihat Qing Yuwei tengah memasak di dapur dadakan perlahan mendekatinya.
Namun, saat jarak hanya beberapa langkah Zhou Qian menarik lengan Zhou Fan, hingga pemuda itu menoleh ke arah ibunya.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Zhou Qian dengan wajah galak.
"Jangan ganggu Wei'er yang sedang memasak, atau kau ... " Zhou Qian melipat lengan pakaiannya, dan menunjukkan tinju yang sudah siap meluncur.
"Fan'er, biarkan para wanita melakukan tugasnya, kita lebih baik duduk sambil minum teh." Zhou Hu memanggil putranya agar duduk diam tak mencari masalah, atau dia juga yang terimbas akibatnya.
Dengan wajah kusut Zhou Fan menghampiri ayahnya, dia kemudian duduk dan menyeruput teh dalam jangkauannya.
"Eh bocah sial, teh siapa yang kau minum?" Dengan kecepatan tingkat maksimum Zhou Hu menyambar kembali teh miliknya.
"Bukankah kau sendiri yang menawariku, ayah?!" ucap Zhou Fan dengan nada mengeluh.
"Tapi tidak minumanku, kau 'kan bisa membuat sendiri!" tukas Zhou Hu masih kesal.
"Mau kemana, kau?" tanya Zhou Hu melihat Zhou Fan beranjak dari duduknya.
__ADS_1
"Buat teh!" jawab Zhou Fan singkat tanpa menoleh ke arah Zhou Hu, dia terus berjalan menuju tempat bubuk teh berada.
"Buatkan aku sekalian, tehku habis kau minum," pinta Zhou Hu yang kemudian duduk dengan tenang.
Zhou Fan tak menjawab perkataan ayahnya, dia terus melangkah.
"Cih... Bilang saja mau aku buatkan, dasar ayah...," keluh Zhou Fan dalam benaknya.
"Tak perlu mengeluh," seru Zhou Hu tanpa bergerak dari duduk santainya.
Eh...
Huft... Zhou Fan menghembuskan nafas pasrah.
....
"Ini untuk ayah, dan ini untukku," ucap Zhou Fan sambil menaruh gelas berisi teh yang ia buat.
"Haha... Kau memang anak yang baik," puji Zhou Hu dengan tertawa puas.
"Heem..." Zhou Fan hanya bergumam.
Zhou Hu mulai mengangkat teh yang baru saja putranya buatkan, dahinya mengerut saat tak sengaja melihat anaknya yang senyum-senyum tak jelas.
Zhou Hu tak mencoba untuk peduli, dia perlahan mulai meminum apa yang ada dalam genggaman tangannya.
Saat teh sudah masuk ke dalam mulut, wajah Zhou Hu berubah masam, dahinya mengerut merasakan sebuah sensasi aneh.
Buahahaha....
Zhou Fan tertawa sambil memegangi perutnya, membuat Zhou Hu memelototkan mata.
Bhuah!
Sesaat suasana menjadi hening, Zhou Fan yang semula tertawa berubah kusut.
Hahahaha...
Ganti Zhou Hu yang tertawa, semburan minumannya tepat mengarah ke wajah putranya.
"Hahaha... Kau itu kualat mengerjai orang tua, Hahaha...," Zhou Hu terus menertawakan wajah Zhou Fan yang sudah basah terkena semprotannya.
Zhou Fan berdiri, kemudian dengan langkah besar dia pergi masuk ke ruangannya.
"Aku harus mandi untuk kedua kalinya," keluh Zhou Fan dalam benaknya.
Zhou Hu masih tertawa di tempatnya, sementara kedua wanita hanya geleng kepala melihat kelakuan ayah dan anak itu.
__ADS_1
"Kalau tahu seperti ini aku tak akan memasukkan lima bubuk teh dalam satu wadah." Zhou Fan mengatakan dengan wajah tersenyum, meskipun dia kesal harus membersihkan diri lagi, dia tak dendam kepada ayahnya.
Satu wadah normalnya satu bubuk teh, semakin banyak bubuk teh yang dimasukkan akan membuat rasanya semakin dominan dan hal itu terasa aneh saat sudah memasuki mulut.