
Zhou Fan memandang padang pasir yang luas, membentang memisahkan dua Kekaisaran.
Semua orang Kota Mawar menamakan padang pasir itu dengan nama bataya, bukan sekedar memberikan nama, mereka memilih nama bataya mengadopsi dari sebuah kisah peperangan antar kekaisaran yang terjadi sudah ratusan ribu tahun.
Bataya adalah julukan tiga petarung Kekaisaran Wei yang merupakan tokoh penting dalam perang antar Kekaisaran.
Bukan rahasia lagi jika Kekaisaran Wei merupakan Kekaisaran terlemah, saat itu Kekaisaran Xiao berusaha memperluas kekuasaannya, mencoba merebut kota mawar yang berada dalam wilayah Kekaisaran Wei.
Namun, dengan keberadaan tiga petarung asal kota mawar tersebut, Kota Mawar tidak berhasil ditaklukkan. Perang terjadi di pedang pasir tersebut melibatkan ratusan ribu orang.
Meski menderita kerugian yang terbilang tidak sedikit, berkat ketiga petarung itu Kota Mawar berhasil dipertahankan. Sejak saat itu padang pasir tempat pertempuran dinamakan padang pasir bataya, untuk mengapresiasi jasa ketiga orang tersebut.
Waktu berlalu, dan tahun terus bertambah. Namun, sejarah padang pasir tersebut tidak pernah terlupakan, seakan sudah meresap pada setiap insan kehidupan.
Zhou Fan berbalik, menatap perbatasan Kekaisaran Wei dengan pandangan sedu. "Tunggu, aku akan segera kembali ... "
Zhou Fan mulai melesat melalui padang pasir bataya, yang merupakan jalan satu-satunya bila ingin menuju ke Kekaisaran Xiao.
Zhou Fan melaju tanpa dapat melihat sesuatu yang lain selain padang pasir, menurut informasi yang ia dapatkan, dia membutuhkan waktu beberapa hari dengan kecepatannya, tapi dia tidak mungkin terus melaju tanpa berhenti sedikitpun.
Sambil melesat matanya terus mencari oasis yang katanya berada di tengah padang pasir bataya, tapi tak kunjung juga ia temukan.
Setelah melakukan perjalanan membosankan begitu lama, Zhou Fan melihat dari kejauhan sebuah titik hijau yang ia pikir adalah oasis.
Sontak Zhou Fan semakin mempercepat agar dirinya segara sampai ke tempat tersebut.
Semakin dekat, Zhou Fan dapat melihat jelas, yang ia pikirkan memang benar.
Di tengah padang pasir, sebuah lingkungan hijau ditumbuhi pohon tampak rimbun dari luar.
"Woah..."
Zhou Fan tak akan percaya jika tidak melihatnya dengan mata kepalanya sendiri, sebuah surga keindahan yang tak dapat terdefinisikan.
Kolam seluas satu kilometer terbentang indah dengan air jernih, terlihat hamparan pasir keperakan di dasar kolam.
Zhou Fan melepas pakaiannya, dan melompat ke kolam dengan semangat.
Byur....
Zhou Fan langsung menyelam, berenang menyegarkan tubuhnya yang sudah kering karena terik matahari.
__ADS_1
Puah!
Kepalanya menjumbul keluar mengambil nafas, kemudian kembali menyelam. Hal itu dia lakukan berulang kali, sampai dia marasa tubuhnya sudah kembali segar.
Srak... Srak...
Seketika Zhou Fan jadi waspada, dia dengan cepat keluar dari kolam dan menyambar pakaiannya.
Zhou Fan perlahan mendekati semak belukar yang berada tak jauh darinya, dengan rambut basah berantakan dia memasang raut wajah siaga.
Zhou Fan melangkah mengendap, kakinya berjinjit berusaha minimalisir suara yang dihasilkan.
Srak!
Tanpa aba aba, Zhou Fan membuka semak belukar dengan kedua tangan, dahinya mengerut saat tak menjumpai siapapun di sana.
"Aneh... Aku merasakan ada makhluk hidup di sini," gumam Zhou Fan yakin, dia merasakan pergerakan dari balik semak belukar tadi, tapi saat ia cek sudah tak ada.
Zhou Fan mengedarkan pandangannya, dia mengamati sekitaran kolam tempatnya berada. Namun hanya semilir angin yang dapat dia rasakan.
Saat dia hendak beranjak, matanya tanpa sengaja melihat ranting di atas permukaan. Ranting tersebut patah, menjelaskan bahwa ada yang baru saja menginjaknya.
Jika disebut ranting sebenarnya juga bukan, itu adalah bagian dari semak belukar yang sengaja dibuang, karena sudah tak berguna.
Ranting ini masih basah, berarti ranting ini baru saja terjatuh. Pikir Zhou Fan.
Zhou Fan semakin yakin, dia memang merasakan kehadiran sosok di balik semak belukar.
Dia memutuskan untuk mengikuti instingnya, mencari entah apa sebenarnya dia...
Setelah berjalan beberapa waktu, dia mendapati sebuah jejak kaki beast berkaki empat, dia pun semakin bersemangat dalam mencari, dia belum memakan semenjak memulai perjalanan.
Aung....
Lolongan serigala terdengar menggema, dan sampai ke telinga Zhou Fan.
Mata Zhou Fan menyipit, yang dia cari malah dengan sengaja mengundangnya, entah dia yang beruntung atau beast tersebut yang bodoh.
"Makanan, aku datang!" seru Zhou Fan melesat ke arah tujuan dengan semangat.
Begitu matanya melihat seekor beast serigala, dia langsung menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
"Kecil sekali?!" keluh Zhou Fan saat melihat serigala dengan tubuh setinggi lututnya, bahkan lebih rendah.
Saat Zhou Fan berada tepat di belakang serigala tersebut, tiba tiba beast itu terjatuh.
Ah?!
Zhou Fan membuka mulut lebar, dia belum melakukan apapun, tapi serigala itu sudah jatuh tak sadarkan diri.
"Haha... Bahkan serigala pun menyerahkan diri saat aku datang, dia tahu bahwa tidak ada ruginya mengorbankan diri untuk pemuda ini..." Zhou Fan mengatakan dengan bangga, dia lalu meraih serigala di hadapannya.
Begitu membalikkan tubuh serigala itu, matanya tak dapat teralihkan dari sebuah simbol di dahi serigala.
Zhou Fan sejenak termenung, berusaha mengingat nama beast serigala dalam dekapannya.
Matanya terbuka lebar saat sebuah informasi berhasil dia buka. "Di... Dia adalah beast serigala ... Apa ya?" Zhou Fan memangut dagunya, menggosoknya perlahan.
Zhou Fan tak tahu jenis serigala itu, tapi dia merasa serigala ini bukan serigala biasa, buktinya beast ini memiliki kultivasi yang setara dengan petarung master bintang delapan.
Zhou Fan yang semula berniat menjadikan serigala itu sebagai bahan makanan mengurungkannya, dia memperkirakan umur serigala itu belum genap satu tahun.
Dengan umur yang baru beberapa bulan, mencapai petarung master bintang delapan tidak dapat dilakukan oleh sembarangan beast.
Dengan pertimbangan demikian, Zhou Fan membawa beast serigala ke tempatnya semula, di dekat kolam.
Zhou Fan memberikan serigala yang dalam keadaan terbaring itu sebuah pill pemulihan, perlahan beast serigala mulai mengerjapkan matanya.
Begitu membuka mata yang ia lihat adalah wajah Zhou Fan, membuat beast serigala bertingkah panik, seolah dia ingin segera pergi, tapi dia tidak bisa menggerakkan kakinya yang masih lemas.
"Kau baru saja memakan ular beracun, hal itu membuatmu lemas ... Tapi sekarang kau tak perlu khawatir, teman kecil." Zhou Fan memainkan telinga beast serigala yang menurutnya sangat menggemaskan.
Secara bertahap, beast serigala mulai terbiasa dengan tangan Zhou Fan, bahkan dia seakan candu dengan belaian pemuda itu. Saat tangan Zhou Fan berhenti, dia sendiri yang menggosokkan telinganya, membuat Zhou Fan terkekeh.
"Siapa namamu, kawan kecil?" tanya Zhou Fan asal, meskipun dia tahu di hadapannya adalah seekor beast, dia tetap mengajaknya berinteraksi, walau tidak mendapat jawaban.
Namun, yang terjadi membuat Zhou Fan terperanjat, beast serigala menggelengkan kepalanya, seolah paham akan pertanyaan yang diarahkan kepadanya.
"Apakah kau paham perkataanku?" tanya Zhou Fan meyakinkan.
Seperti yang diharapkan, beast serigala mengangguk dengan yakin.
Mendapatkan jawaban dari beast serigala, membuat Zhou Fan tersenyum tanpa bisa keluar suara tawanya, suaranya tertahan karena saking senangnya.
__ADS_1
Zhou Fan kembali berpikir, sekarang dia mencoba mencari nama yang tepat untuk disematkan kepada beast serigala.
"Kalau begitu namamu, Jim ... Zhou Jim!"