Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 55


__ADS_3

Tanpa berkata Zhou Fan menuju kamarnya dan membersihkan dirinya, setelah itu dia kembali menemui ibunya di ruang makan karena ia disuruh ibunya untuk ikut makan malam bersama tetua ketiga.


Jika Zhou Fan dibiarkan untuk memilih, tentu ia akan memilih untuk tetap diam di dalam kamar, alasan pertama ia sudah kenyang karena sudah menghabiskan begitu banyak makanan yang sudah ibunya siapakan, kedua ia malas untuk ikut makan malam.


"Qian'er.... Qian'er..." Terdengar suara teriakan dari luar kediaman mereka, Zhou Qian dan Zhou Fan saling pandang lalu mereka berdua memutuskan untuk keluar menyambut orang tersebut.


Zhou Qian yang berjalan di depan Zhou Fan membuka pintu kediamannya dan ia dapat melihat 3 orang sedang menunggu dipersilahkan masuk olehnya.


Dari ketiga orang itu, satu diantaranya adalah suaminya, Zhou Hu.


"Oh, ada tetua ketiga dan juga...," ucap Zhou Qian sengaja menggantung karena tidak mengingat nama seseorang disamping ketua ketiga.


"Zhou yin beri hormat pada bibimu!" Suruh tetua ketiga kepada anaknya yang berdiri di sampingnya.


"Salam bibi!" ucap gadis muda itu tanpa menyebutkan namanya karena dia berpikir ayahnya sudah menyebutkan namanya untuknya.


Zhou Qian kemudian mengingat siapa gadis muda disamping tetua ketiga itu, jelas dia mengingatnya, gadis muda itu dulu adalah teman anaknya, tapi gadis muda itu malah menjadi orang pertama yang menjauhi anaknya pada saat 'itu'.


"Fan'er, kau sudah kembali?" Zhou Hu tanpa sengaja melihat seorang pemuda sedang berjalan kearah mereka.


"Sudah ayah! Fan'er baru saja kembali," ucap pemuda itu yang tidak lain adalah Zhou Gan.


"Salam tetua ketiga," Zhou Fan sedikit membungkuk ketika berada didepan lelaki paruh baya itu.


"Panggil saja paman Fan'er, jangan sungkan haha." Tetua Ketiga bersikap hangat dengan Zhou Fan, sedangkan gadis disampingnya terlihat tidak nyaman berada di dekat Zhou Fan.


Zhou Fan beralih menyapa gadis di sebelah tetua ketiga, tapi bukannya mendapat balasan, ia malah diabaikan.


Gadis yang diketahui bernama Zhou Yin itu terlihat jijik dengan Zhou Fan, bahkan untuk membalas sapaan Zhou Fan saja seperti begitu sulit, andai tidak ada tetua kelima dan ayahnya mungkin ia akan menghina pemuda itu seperti biasanya.


Melihat sikap gadis disamping tetua ketiga yang seperti enggan melihat anaknya, Zhou Qian menatap sinis gadis itu.

__ADS_1


"Andai kau tahu pemuda yang kau abaikan sekarang bukanlah pemuda yang sama seperti sebelumnya, bahkan jenius klan Zhou tidak dapat dibandingkan dengannya," batinnya.


Zhou Hu yang melihat ketidaksukaan pada wajah istrinya pun segera mengajak tetua ketiga masuk untuk makan malam, Zhou Hu sangat jelas mengetahui mengapa istrinya bisa berubah seperti itu.


"Silahkan, jangan sungkan!" Zhou Hu membuka tudung saji di atas meja, dibukalah tudung itu oleh Zhou Hu, nampak beberapa makanan aneka daging terlihat begitu menggoda.


Bukan hanya tetua ketiga yang terkejut melihat hidangan di atas meja, Zhou Hu pun terkejut melihat hidangan tersebut.


"Apakah kau membuat hidangan lain Qian'er?" Zhou Hu menatap istrinya bergantian dengan hidangan di atas meja.


Ia tahunya istrinya itu membuat beberapa makanan yang berbahan dasar sayur, tapi di atas meja sekarang semua hidangan berbahan dasar daging, tentu ia bertanya kepada istrinya itu.


Zhou Qian menggelengkan kepala, lalu menatap putranya dengan bangga.


"Fan'er lah yang membuat ini semua, makanan yang aku masak sebenarnya.... " Zhou Qian menceritakan apa yang terjadi sebenarnya dengan semangat.


Dua pria paruh baya itu terlihat menyimak dengan hikmah cerita Zhou Qian, sementara Zhou Yin terlihat tidak tertarik ataupun ingin tahu sedikitpun.


Menurutnya, Zhou Fan masih tetap seorang sampah dimatanya. Ia masih berpikir Zhou Fan tidak bisa ber kultivasi, karena ia tidak bisa memeriksa tingkatan kultivasi pemuda itu, padahal kenyataannya tidak seperti itu, dia tidak dapat melihat karena kekuatannya belum cukup untuk mengetahui tingkatannya.


"Wahh.. Makanan buatanmu sangat lezat Fan'er, kau sungguh pandai memasak." Puji tetua ketiga setelah berhenti memakan masakan Zhou Fan karena terlalu kenyang. Andai masih tersisa ruang di perutnya tentu ia akan menghabiskan makan diatas meja tanpa sisa.


"Tidak hanya itu, kekuatanku seperti meningkat sedikit, setelah memakan daging itu." Zhou Hu merasakan perubahan pada dirinya.


Tetua yang mendengar ucapan Zhou Hu memeriksa kondisi tubuhnya, matanya melotot saat mengetahui tubuhnya penuh energi, dia kemudian menatap daging yang masih tersisa di atas meja makan.


"Apakah daging ini daging beast!" ucapnya tak percaya.


Tetua ketiga sungguh tak mengira daging tersebut merupakan daging beast, dalam pikirannnya makanan yang dia makan adalah daging hewan ternak yang biasanya dijual di pasar pada umumnya.


Zhou Yin yang mendengar ucapan ayahnya, menoleh kearah daging itu juga.

__ADS_1


"Apakah benar daging itu adalah daging beast? bodohnya aku menolaknya tadi," ucap gadis itu sedikit menyesal.


Daging beast dapat sangat membantu seseorang meningkatkan kultivasi nya, tentu semua orang tidak akan menolak jika diberi daging beast, tapi gadis itu secara terang terangan menolak daging beast yang bahkan sudah diolah menjadi makan lezat.


Beberapa saat yang lalu, Zhou Fan yang melihat Zhou yin tidak menyentuh makanan dimeja, berinisiatif menawarkan salah satua makanan di meja itu, tapi lagi lagi tidak mendapat respon dari gadis itu, Zhou Fan pun tidak melanjutkannya, ia menawari gadis itu karena merasa tidak enak dengan tetua ketiga.


Zhou Hu manatap istri dan anaknya, seolah meminta penjelasan.


Pasangan ibu dan anak itu mengangguk membenarkan ucapan tetua ketiga, dan Zhou Qian menjelaskan bahwa daging tersebut Zhou fan lah yang memberikannya.


Mendengar ucapan Zhou Qian, Zhou Hu mempercayai semua ucapan istrinya karena ia mengetahui betul kekuatan anaknya sekarang.


Sedangkan tetua ketiga sedikit agak ragu dengan cerita Zhou Qian kali ini, ia dapat menerima jika Zhou Fan yang memasak makanan lezat yang ia makan tadi, tapi untuk mendapatkan beast tingkat 2 yang kekuatannya setara dengan seorang kultivator tingkat petarung mahir sepertinya tidak mungkin, apalagi mempertimbangkan kondisi Zhou Fan yang ia ketahui.


"Kau tidak perlu melebih lebihkan anakmu bibi, seluruh klan sudah mengetahui bahwa anakmu seorang yang tidak ber kultivasi. Untuk mengalahkan beast tingkat 2 menurutku terdengar hanya membual." Zhou yin tidak tahan mendengar ucapan Zhou Qian yang menurutnya terlalu memandang tinggi anaknya.


Tanpa sadar Tetua Ketiga ikut mengangguki ucapan anaknya, memang benar apa yang dikatakan anaknya, memang ia dapat melihat Zhou Fan sudah bisa berkultivasi tapi yang ia lihat pemuda itu masih merupakan petarung pemula. Merupakan hal mustahil untuk mengalahkan beast tingkat 2.


Zhou Qian yang mendengar ucapan gadis muda itu ingin sekali menampar wajah gadis itu, tapi ada sebuah tangan yang menahannya.


Zhou Qian melihat tangannya, sebuah tangan menggenggam tangannya, ia menelusuri tangan itu dan melihat anaknya yang menatapnya sambil tersenyum, mau tidak mau ia harus menahannya karena ia merasa anaknya sudah memiliki rencana untuk menanganinya.


Zhou Fan yang melihat ibunya sudah sedikit emosi, maraih tangan ibunya dari bawah meja yang kebetulan ia berada tepat disamping tempat duduk ibunya.


Tapi diamnya yang tidak ingin memperbesar masalah di pandang miring sebagai bentuk penyesalan oleh Zhou Yin.


Melihat kebisuannya, Zhou Yin semakin manatap sinis Zhou Fan. Ia semakin yakin, apa yang di bicarakan tadi hanyalah bualan saja.


Setelah beberapa saat hanya keheningan yang tersisa, Zhou Hu melihat suasana agak canggung berusaha menghidupkannya kembali.


"Ehem....Qian'er katamu tadi, Zhou Fan juga membawa teh istimewa, bisakah kau menyeduhkannya?"

__ADS_1


__ADS_2