Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 135


__ADS_3

Krak!


Cincin di jari Wei Guanlin retak dan kemudian hancur, tenaga dalam di tubuhnya seketika menyebar, tubuhnya terasa lebih ringan, seperti sediakala.


"Cincinnya sudah dilepas, sekarang apa?" tanya Rourou setelah menghancurkan cincin di jari Wei Guanlin.


"Tentu saja keluar dari penjara ini, lebih lama disini aku akan semakin merasa marah, dan kecewa."


Keduanya melesat tanpa ada yang menghentikannya, begitu mudah, membuat Rourou mengernyit heran.


"Lin'er, apakah kau tidak merasakan keanehan?" Setelah berada dalam jarak yang begitu jauh dari istana, Rourou berhenti dengan tangan terbentang, menghentikan Wei Guanlin.


"Aneh?" Wei Guanlin memiringkan kepalanya, memandang seniornya penuh tanya.


"Ya aneh, bukankah kita terlalu mudah meninggalkan istana, bahkan para penjaga dan prajurit yang berpatroli seakan tidak di tempatnya, seolah memang telah dibuatkan jalur untuk kau melarikan diri," ujar Rourou sambil memandang jauh kebelakang.


"Aku tak peduli dengan semua itu, yang ada dalam pikiranku hanya bagaimana caranya agar aku secepatnya meninggalkan Kekaisaran ini." Wei Guanlin menatap Rourou dengan acuh.


Huft...


Rourou menghela nafas, kemudian memandang lekat wajah Wei Guanlin.


"Meskipun kau kecewa terhadap yang mulia kaisar, kau tidak bisa tidak peduli kepadanya, bisa saja kaisar tengah menghadapi masalahnya sendiri dan sedang dalam suasana hati yang buruk, hingga mengeluarkan kata kata yang sebenarnya tidak ingin dia sampaikan."


"Aku rasa kau salah menangkap ceritaku, 'Yang Mulia Kaisar' hanya manfaatkan ku sebagai pionnya hanya untuk memperkokoh kekuasaannya, apakah salah jika aku kecewa kepadanya, memanfaatkan anaknya hanya demi keuntungannya, Heh.. " Wei Guanlin yang sudah diliputi rasa kecewa dalam hatinya tidak ada lagi perasaan sedih ataupun ragu untuk meninggal kekaisarannya.


"Seandainya dia dalam keadaan sulit, setidaknya dia dapat menjelaskannya kepadaku, tidak langsung mengurungku dan memaksaku menikah," tambahnya yang masih dengan wajah penuh kekecewaan.


Rourou menatap sedu wajah Wei Guanlin, dia dapat melihat betapa besar rasa kecewanya terhadap kaisar Wei, bahkan dia seolah enggan menyebutnya ayah.


"Senior, sebaiknya kita berpisah disini saja, aku akan pergi seorang diri," pamit Wei Guanlin, saat hendak melesat, gadis itu berpesan.


"Jangan katakan apapun kepada siapapun, termasuk guru ataupun Fan gege. Jika ada yang bertanya dimana aku, jawab saja tidak tahu."


Sedetik kemudian Wei Guanlin sudah tak berada di tempatnya berdiri, Rourou masih memandang ke arah Wei Guanlin pergi.


"Semoga apa yang kau lakukan merupakan yang terbaik, aku hanya berharap kau tak menyesal di kemudian hari." Rourou menengadahkan kepalanya, memandang langit yang tampak berawan.

__ADS_1


***....


Ibu Wei Guanlin, Huang Rouyou merupakan putri jendral besar Kekaisaran Shi, dia bisa menikah dengan Kaisar Wei karena pertemuan singkat di acara perjamuan di istana Kekaisaran Shi, yang kebetulan Wei Huan yang saat itu masih menjadi putra Mahkota juga hadir di sana.


Kecantikan Huang Rouyou yang sungguh melewati batas wajar, tak ayal membuat hati Wei Huan bergetar.


Tanpa bantuan Kaisar Wei saat itu, atau ayahnya, dia datang ke kediaman jendral besar, bermaksud mengutarakan niat baiknya.


Jendral besar Huang yang belum mengetahui niat pangeran mahkota Kekaisaran Wei, menyambut baik kedatangan Wei Huan, dia mempersilakan putra mahkota Kekaisaran Wei itu untuk masuk dan berbincang.


Mendapat sambutan baik dari jendral besar Huang, semangat Wei Huan untuk mempersunting Huang Rouyou seketika meluap luap.


Saat dirasa suasana telah mendukung, dia mengungkapkannya dengan tanpa ragu.


Jenderal besar Huang yang tak mengira ini akan menjadi lamaran, hanya mematung sejenak, kemudian berkata. "Semuanya ada di tangan putriku, aku tak akan mencampuri pernikahannya."


Mendapatkan lampu hijau, wajah Wei Huan semakin cerah, tak lama seorang wanita muda datang dangan nampan di tangannya.


Dia tak lain adalah Huang Rouyou, saat hendak masuk kembali ke dalam, Jenderal besar Huang mencegahnya dan menyuruhnya untuk tetap berada di ruangan tersebut.


Setelah putrinya duduk, Jenderal besar Huang pamit kebelakang, memberikan kesempatan Wei Huan untuk mengungkapkan niatnya.


"Ehem... Nona Huang, kedatanganku kemari hanya memiliki satu tujuan...," Wu Huan menjeda kalimatnya, membuat Huang Rouyou mengernyitkan dahinya.


"Saat pertama kali aku melihatmu, aku sungguh terpana akan paras cantikmu, entah kenapa, sejak aku melihatmu, wajah cantikmu selalu terbayang dalam pikiranku."


"Maukah kau menjadi istriku, pendamping dalam hidupku?" Wei Huan turun dari tempatnya duduk, kemudian berjongkok dengan satu lutut tertanam ke lantai.


Mendapatkan pernyataan mendadak, Huang Rouyou sedikit merasa terlalu cepat, wajahnya menunjukkan rasa tidak nyaman.


Mengetahui ekspresi tak nyaman dari gadis dihadapannya, Wei Huan dengan segera berdiri, kemudian kembali berkata.


"Mungkin ini terlalu cepat bagimu yang hanya sekali bertemu denganku, tapi apalah dayaku yang tak bisa berpikir jauh darimu." Wei Huan meraih tangan Huang Rouyou yang senantiasa meremas pakaiannya.


"Bisakah kau berikan aku sedikit waktu untuk berpikir?" tanya Huang Rouyou dengan suara pelan.


"Tentu saja, aku akan memberikan waktu sampai kapanpun kau mau, aku akan menunggumu," ujar Wei Huan dengan cepat, wajah tegasnya membuat hati kecil Huang Rouyou tercubit.

__ADS_1


"Tidak perlu selama itu, aku hanya memerlukan satu hari penuh," ucap Huang Rouyou.


Mendapatkan jawaban dari wanita pujaannya, Wei Huan kembali ke istana, yang memang menjadi tempatnya bermalam saat berada di Kekaisaran Shi.


Wei Huan kembali dengan wajah senang, dia sungguh berharap hari cepat berlalu.


Seolah langit bergerak lambat, dia menatap bulan yang masih di atas, "Kenapa aku merasa hari ini sangat lambat, atau hanya perasaanku saja?"


Pagi pun datang, Wei Huan bangun dengan wajah semangat. Pergi ke kediaman jendral besar dengan antusias.


Setelah memikirkannya semalaman, Huang Rouyou akhirnya bersedia menerima lamaran Wei Huan, pernikahan keduanya pun di gelar seminggu setelahnya.


Meskipun tak terlalu besar, pestanya digelar dua hari dua malam, Wei Huan memang berkata ingin melangsungkan pesta saat sudah sampai di Kekaisaran Wei, jadi pesta di kediaman jendral besar hanya sebagai acara pembuka saja.


Sebulan setelahnya Wei Huan kembali ke Kekaisaran Wei, membawa Huang Rouyou sebagai buah tangan.


Seminggu setelah kedatangan Wei Huan, pasta besar besaran dilaksanakan, bertepatan dengan diangkatnya Wei Huan sebagai kaisar, menggantikan ayahnya yang sudah sepuh.


***


"Aku tak mengira akan meninggalkan tanah kelahiranku," ucap sedih Wei Guanlin yang terus melaju dengan wajah penuh air mata, sesekali dia melirik ke belakang.


Dia melesat ke arah timur, menuju kota mawar, kemudian menuju ke Kekaisaran Shi, tempat kakeknya berada.


.


.


.


Sementara di istana, ruangan Kaisar Wei...


"Yang mulia, tuan putri sudah pergi," lapor pria berjanggut panjang kepada pria paruh baya yang tak lain adalah kaisar Wei.


"Terimakasih penatua Du, aku merasa tenang jika dia tak berada di sisiku, mungkin dia akan lebih aman jika dia kembali ke kediaman kakeknya...,"


"Tapi, apakah Yang Mulia tidak berpikir tuan putri akan membenci anda, dengan memperlakukannya seperti itu?" tanya pria tua berjanggut yang diketahui sebagai penasihat Kaisar.

__ADS_1


Kaisar Wei menghela nafas panjang, kemudian berkata sedu.


"Aku tak kuasa jika harus kehilangannya."


__ADS_2