
Kemenangan Zhou Fan mengantar Te Sha kembali ke arena pertarungan, pria botak itu harus menghadapi Yung Lao. Kedua murid luar ini sebelumnya selalu bersaing, dan mereka saling mengalahkan dalam beberapa hal.
Namun kondisi Te Sha sedikit buruk karena kekalahan yang baru saja dia derita.
Yung Lao mengambil nafas sedikit kesal, dia kemudian menuruni arena meninggalkan Te Sha. "Aku beri kau waktu untuk memulihkan diri."
Semua yang mendengar tentu saja terkejut. Jika itu orang lain, mereka akan memanfaatkan kondisi lawan yang tidak baik untuk mendapatkan kemenangan.
Namun Yung Lao memiliki harga diri tinggi. Dia ingin menang, tapi tidak ingin kemenangannya tercoreng karena alasan yang dibuat buat.
Biarkan lawannya memulihkan diri, saat menang, dia jauh lebih puas mengalahkan seorang dalam kondisi prima. Itu tidak seperti dia diberi kesempatan.
Te Sha duduk bersila di atas arena, butiran pill pemilihan terus masuk ke dalam kerongkongan nya. Perlahan tubuhnya diselimuti sebuah cahaya keemasan, dan itu menunjukkan tubuhnya telah kembali normal.
"Aku sudah bisa bertarung."
__ADS_1
Yung Lao yang semula pergi kembali dengan langkah pasti. Dia meraih tongkat yang menggantung di punggungnya, sambil berjalan dia memutar ringan.
"Aku rasa kepala Yung Lao ini bermasalah."
"Jika itu aku, akan langsung bertarung. Dengan itu akan lebih mudah mengalahkan Te Sha."
Memang yang dilakukan Yung Lao terlihat bodoh, atau dia meremehkan lawan. Namun itu adalah sifatnya, dia tidak ingin bertarung jika lawannya terluka atau dalam kondisi buruk bahkan sebelum pertarungan dimulai.
Dua murid luar itu saling pandang, mengeluarkan tatapan tajam. Te Sha sudah dengan kuda kuda nya, dia akan mengeluarkan semua teknik bertarung miliknya, termasuk pertahanan tubuh budha.
Seperti halnya saat melawan Zhou Fan, tubuh Te Sha mengeluarkan semburat sinar samar. Semakin lama semakin terang.
Bersamaan dengan itu wasit memulai pertarungan. Tepat itu juga, kedua petarung langsung menerjang.
Mereka tidak memberikan ruang sejak tanda pertarungan terdengar. Te Sha tidak ingin menelan kekalahan untuk yang kedua kalinya, sudah cukup satu saja kekalahan yang membuatnya terluka.
__ADS_1
Sementara Yung Lao juga mempunyai ambisi besar, dia tidak hanya berniat mengalahkan Te Sha, tapi juga merebut tempat pertama. Dia tidak meremehkan Te Sha, karena mereka berada pada tingkat yang sama.
Pertarungan berjalan alot. Duel antara tongkat dengan sarung tangan baja terus terjadi, dentuman jurus juga tidak dapat dielakkan lagi.
Yung Lao dapat menguasai jalan pertarungan, tapi ketahanan tubuh budha benar benar luar biasa, semua serangan yang dikeluarkan seolah sia sia.
Meskipun begitu Te Sha belum mampu menekan pergerakan Yung Lao. Mereka berada pada satu tingkat yang sama, tapi itu seolah terdapat sebuah jarak lebar diantara mereka.
Di sisi lain Yung Lao sedikit frustrasi. Kekuatan tubuh budha milik Te Sha hampir tidak bisa ditembus, jika dia hanya melakukan serangan serangan biasa, tidak mungkin akan dapat mengalahkan nya.
"Ini adalah teknik yang aku siapkan untuk pertarungan final, karena kau yang memaksa, aku akan mengeluarkannya." Yung Lao memutar tongkat dengan kuat, bersamaan dengan itu sebuah tanda 'V' tercipta di antara kedua alisnya.
"Kau mempunyai teknik pertahanan, aku mempunyai teknik serangan. Aku ingin lihat seberapa kuat tubuh budha mu dalam menahan gempuran teknik ku." Yung Lao membatin dengan semangat, dia telah terbakar api gairah pertarungan, seolah pertarungan ini adalah perjuangan hidup mati.
Tongkat semesta, begitulah Yung Lao menyebutnya.
__ADS_1
Yung Lao yang sempat mundur, melesat dengan cepat sambil mengangkat tongkat nya.
"Pertarungan baru saja dimulai!"