
"Kau tahu aku menunggumu sejak pagi?" Seorang pria tua dengan pakaian hitam legam berkata sambil menyesap gelas di tangannya.
"Tetua Shun, murid sudah mengatakannya, akan menemui tetua begitu selesai dalam kelas lapisan formasi." Zhou Fan tak salah, dia memang telah mengatakan hal itu sebelumnya.
Meski sebenarnya dia hampir lupa, dia juga tidak sengaja. Mempelajari formasi ruang lebih menyenangkan dari pada yang dia kira. Mungkin itu karena dia berambisi untuk menguasainya, jadi seberat apapun halang rintang di depan, tak ragu dia terjang.
Tetua Shun juga tak menyalahkan Zhou Fan, bagi seorang murid luar, memang masih diperkenankan untuk mendalami beberapa keterampilan pendukung. Jikalau sudah masuk ke pelataran dalam, murid akan berfokus pada pengembangan kultivasi dan teknik bertarung.
"Apa kau sudah ke perpustakaan sekte?" Tetua Shun menurunkan gelas di tangannya, sambil menikmati sensasi hangat di tenggorokan, dia mencoba masuk mencari topik pembicaraan.
Untuk sejenak Zhou Fan terdiam, melihat wajah tetua Shun, kemudian menjawab dengan hormat. "Perpustakaan murid luar memang digunakan untuk keperluan murid luar, murid belum ke sana, tapi pasti akan ke sana."
"Tetua Shun, anda tak benar benar begitu senggang kan?" Zhou Fan menatap tetua Shun dengan tak sabar. "Tidak mungkin, mengundang hanya untuk menanyakan kabar dan beberapa pertanyaan tak tentu arah."
Ekspresi tetua Shun sedikit buruk, tapi pria tua itu begitu pandai mengatur emosi, dia tersenyum dan berusaha tak menampilkan kekesalan yang dia rasakan.
"Begini saja, bagaimana jika kau menjadi murid ku? Dengan kau menjadi murid tetua dalam, kau mendapat banyak sekali keuntungan." Tetua Shun berkata sambil mengeluarkan giok miliknya, itu adalah tanda pengenal nya.
Zhou Fan menghela nafas, dia tak mengharapkan hal seperti ini terjadi. Dia berdiri sambil berkata. "Tetua, tawaran anda sangat membuat orang tergiur, tapi aku sudah memiliki guru, dan peraturan di sekte mengatakan seorang murid hanya diperkenankan memiliki satu guru pribadi."
"Kau dapat menjadi murid ku, memang siapa gurumu?" tanya tetua Shun.
Mendengar penuturan Zhou Fan, tetua Shun sedikit geram. Siapa yang dapat dibandingkan dengannya, adalah hal konyol seorang murid menolaknya karena sudah memiliki guru.
Jika itu orang lain, akan pindah menjadi muridnya, tapi pemuda di hadapannya ini benar benar teguh pendiriannya.
"Tetua Louxi, beliau adalah tetua di lapisan formasi."
Mendengar nama 'tetua Louxi', wajah tetua Shun berubah, dia terlihat agak gentar.
"Tetua Louxi? Kau adalah murid tetua Louxi?" Mendapati anggukan dari Zhou Fan, tetua Shun spontan menahan nafas.
"Karena kau sudah memiliki guru, tak baik untuk aku terus memaksa menjadi guru mu." Tetua Shun kembali meraih gelas di depannya, menyeruput nya dengan wajah berkeringat.
"Jika demikian, mohon murid undur diri." Zhou Fan langsung pergi meninggalkan tetua Shun yang sudah dengan mimik wajah tak percaya.
__ADS_1
Setelah kepergian Zhou Fan, seorang pemuda datang dan langsung berdiri di hadapan tetua Shun. Jika Zhou Fan melihat wajahnya, tentu dia akan langsung mengenalinya, karena itu adalah orang yang datang menemuinya.
"Guru, apakah dia tertarik dengan tawaranmu?" Pemuda itu bertanya dengan penasaran.
"Tidak." Satu kata itu sudah sangat membuat pemuda tersebut menjadi bingung.
"Dia sudah memiliki guru," tambah tetua Shun.
Pernyataan itu langsung disambut dengan guratan pertanyaan di wajah pemuda itu.
"Di sekte bulan sejati, hanya dua orang yang tidak boleh disinggung. Pertama tentu saja adalah patriark, sedang yang kedua adalah tetua Louxi." Setelah berkata tetua Shun pergi meninggalkan muridnya yang tak paham maksud pembicaraan sang guru.
....
"Pelataran dalam begitu luas." Zhou Fan memandang kertas di tangannya, sambil berjalan dia terus menelisik denah pelataran murid dalam.
Dalam perjalanan, telinganya yang tajam menangkap suara pedang beradu tanpa lawan. Zhou Fan yang penasaran dengan siapa yang tengah berlatih saat bulan sudah bersinar terang, mengikuti kemana telinganya menuntun jalan.
Ternyata suara itu berasal dari sebuah kediaman, di halaman terlihat seseorang berlatih pedang seorang diri.
Zhou Fan yang mengenal pedang di tangan sosok di hadapannya pun langsung mengenali siapa dia tanpa melihat wajahnya yang berdiri membelakanginya.
Wajahnya yang semula baik baik saja, tanpa sadar menitikkan air mata. Bukan sedih, itu adalah air mata kerinduan terhadap sosok di hadapannya.
Zhou Fan mengeluarkan sebuah penutup wajah, dia langsung memakainya dan meraih belati di pinggangnya.
"Lin'er," ucap Zhou Fan lirih yang kemudian langsung melesat menyerang.
....
Wei Guanlin tengah mengasah keterampilan berpedang miliknya, itu adalah teknik yang diberikan Zhou Fan kepadanya.
Di saat dia tengah serius melakukan tebasan demi tebasan, dia merasakan sensasi hembusan angin yang kencang dari arah belakang.
Spontan wanita itu melompat sambil membalikkan badan.
__ADS_1
"Siapa kau?" Kata pertama yang keluar begitu melihat seseorang menerobos masuk ke halaman kediamannya.
Zhou Fan tak menjawab, jika dia bersuara, bukan tidak mungkin Wei Guanlin akan mengenalinya.
"Kau murid luar, tapi kenapa sampai di pelataran dalam?" Meski bingung, Wei Guanlin tak mengurangi kewaspadaan, wajah cantiknya begitu memukau ketika sinar purnama menyinarinya.
Lagi lagi tak ada tanggapan, membuat Wei Guanlin sadar bahwa yang dia keluarkan adalah sia sia.
Zhou Fan langsung melompat sambil mengayunkan belati raja api. Begitu tangan bergerak hawa panas terasa sampai ke kulit.
Wei Guanlin yang tak mengetahui alasan mengapa sosok di hadapannya menyerang, tak bisa menahan diri. Dia melesat sambil mengerahkan teknik pedangnya.
Trang... Tring...
Pedang dan juga belati beradu puluhan kali, pedang Wei Guanlin mulai tak tahan, pedang rank epic tentu tak dapat dibandingkan dengan senjata rank legend.
Perlahan, semburat garis halus tercipta di permukaan pedangnya. Wei Guanlin yang mengetahui hal itu langsung murka. Tanpa menahan dia menyerang Zhou Fan.
Di balik penutup wajah, Zhou Fan terkekeh tak bersuara. Sambil menghindar dia kemudian berkata. "Lin'er, kenapa kau begitu ceroboh?"
Mendengar suara tak asing dalam kepalanya, Wei Guanlin melompat mundur, matanya menatap sosok di hadapannya dengan begitu lekat.
Entah dia halusinasi atau sejenisnya, kini di kepalanya penuh dengan bayangan Zhou Fan. Perlahan tapi pasti pedang yang terangkat itu turun.
"Fan?" Wei Guanlin bergumam pelan.
Sekali lagi Zhou Fan terkekeh di balik penutup wajahnya. Sambil menurunkan penutup yang menghalangi pandangan, dia mendekat. "Apakah kau tak merindukan ku?"
Melihat sosok yang selalu berada dalam kepalanya tiba tiba muncul di hadapannya, Wei Guanlin tak bisa percaya. Dengan enggan dia memejamkan mata, membuat Zhou Fan mengerutkan kening.
"Apa yang kau pikirkan, hem?" Zhou Fan menjentikkan telunjuknya, membuat Wei Guanlin seketika membuka kelopak matanya.
"Fan, ini sungguh kau?" Wei Guanlin masih begitu sulit hal ini terjadi. "Aku kira, ini hanya ilusi."
Zhou Fan berdiri bangga, senyuman indah terus mengiring ekspresi nya.
__ADS_1
"Tentu saja. Jika bukan aku, siapa lagi?"