
"Tunggu tuan muda!"
Zhou Fan berbalik setelah mendengar teriakan yang ditujukan kepadanya, Zhou Fan memperbaiki tudungnya, ia khawatir yang memanggilnya adalah salah satu perwakilan Klan Zhou.
"Ehh..." Zhou Fan terkejut saat mengetahui siapa yang memanggilnya.
Seorang gadis cantik berjalan kearahnya dengan tergesa gesa, dia memicingkan roknya supaya memudahkannya berjalan.
"Tunggu sebentar sebentar tuan muda Su....," ucap gadis itu setelah dihadapan Zhou Fan.
Zhou Fan terkejut saat gadis itu memanggilnya dengan marga Su, kenapa? pikir Zhou Fan.
Dia kemudian mengingat identitas gadis dihadapannya itu yang tidak lain adalah murid langsung Ketua Chen, Zhou Fan menyebutkan namanya sebagai Su Fan, mungkin gadis ini diberitahu orang Ketua Chen, pikir Zhou Fan.
"Ada keperluan apa Nona Hui mencari saya?" Zhou Fan bertanya dengan sopan kepada gadis dihadapannya yang ia ketahui bernama Hui Sa.
Zhou Fan sebenarnya sudah menebak Hui Sa akan menanyakan tentang gulungan teknik yang ia menangkan dilelang.
"Sepertinya tidak enak berbicara sambil berdiri...., silakan." Sambil tersenyum Hui Sa mempersilahkan Zhou Fan untuk duduk di sebuah kursi panjang yang letaknya tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.
Zhou Fan hanya mengangguk mendapat perlakuan seperti itu dari Hui Sa.
"Mm.... tentang gulungan yang tuan muda menangkan, mm... apakah tuan muda tau tentang gulungan teknik itu ?" Hui Sa bertanya dengan ragu, takut pemuda dihadapannya iri tersinggung.
Zhou Fan tersenyum tipis kerena ia sudah menebaknya sejak awal pihak paviliun obat tentu sangat ingin mengetahui gulungan teknik yang mereka bahkan tidak bisa mengetahui tingkatannya itu.
"Ah, gulungan ini?" Zhou Fan pura pura terkejut dengan ucapan Hui Sa.
Hui Sa mengangguk cemas melihat Zhou Fan menunjukkan gulungan itu kepadanya.
"Kenapa kau terlihat seperti sedang dalam tekanan seperti itu ?" Zhou Fan menatap heran gadis dihadapannya itu.
Bagaimana tidak dalam tekanan jika dihadapannya itu adalah pemuda berpakaian sangat misterius, bisa berbicara saja sudah suatu keberhasilan, pikir Hui Sa.
"Sebenarnya aku merasa gulungan ini tidak asing, jadi aku ingin saja memilikinya." Zhou Fan berkata yang sebenarnya meskipun tidak semuanya dikatakan olehnya.
Hanya ingin ?, terlihat kerutan di dahi putih Hui Sa saat Zhou Fan memberitahunya alasannya.
Sebenarnya Hui Sa ingin tidak mempercayai perkataan pemuda dihadapannya, tapi melihat sorotan matanya saat menjawabnya tadi ia tidak bisa menyimpulkan ada kebohongan di ucapan Zhou Fan.
Meskipun tidak begitu puas dengan jawaban yang diperolehnya, ia tetap harus berpamitan dengan pemuda dihadapannya kerena lelang utama akan segera dimulai.
__ADS_1
Begitu juga dengan Zhou Fan, pemuda itu sudah berada dibiliknya tapi lelang utama belum dimulai juga, ia memejamkan matanya sedetik kemudian ia tersenyum tipis saat mengingat ekspresi Hui Sa.
Zhou Fan sedikit terhibur dengan melihat ekspresi Hui Sa saat mendengar Zhou Fan menawar gulungan itu hanya karena 'ingin', Zhou Fan jadi kepikiran kekasihnya setelah melihat Hui Sa tadi.
"Bagaimana keadaannya sekarang, aku harap dia selamat sampai tujuan." Zhou Fan berkata didalam hati.
****
Masih di Kekaisaran Wei, di sakte pedang suci.....
Seorang gadis muda yang cantik, dan menawan sedang memperdalam ilmu pedangnya, dia berlatih dengan menggunakan pedang yang merupakan hadiah dari kekasihnya.
Gadis muda itu tidak lain adalah Wei Guanlin, yang setelah melakukan perjalanan selama 2 hari penuh akhirnya sampai pada pagi hari tadi.
"Lin'er sepertinya teknik pedang sucimu sudah hampir di tingkat sempurna." Wei Guanlin menghentikan latihannya saat mendengar suara yang tidak asing dari arah belakangnya.
"Guru..." Wei Guanlin memberikan hormatnya kepada gurunya.
"Guru terlalu berlebihan, Lin'er bisa seperti ini karena bantuan seseorang." Wei Guanlin berkata kepada gurunya sambil tersenyum kemudian memeluk pedangnya itu.
Gurunya yang melihat wajah muridnya yang seperti itu menatap muridnya dengan heran, guru Wei Guanlin adalah wakil patriack sakte pedang suci, bernama Li Mei.
Seseorang? Li Mei menatap muridnya seolah meminta penjelasan kepada Wei Guanlin.
Wei Guanlin baru sadar ia telah mengatakan hal yang seharusnya ia sembunyikan.
"Mmm... guru, ayo kita bertanding..." Wei Guanlin mencoba mengalihkan perhatian gurunya.
Li Mei terkekeh melihat tingkah muridnya, dia memegang kedua pundak muridnya lalu berkata.
"Gurumu ini tidak satu dua bulan bersama denganmu Lin'er, aku tau kau sedang menyembunyikan sesuatu dari gurumu." Li Mei menatap wajah muridnya.
Wei Guanlin semakin gelagapan mendengar perkataan gurunya.
"Apakah Lin'er sudah tidak mempercayai guru lagi?" Li Mei berusaha berkata dengan nada sesedih mungkin.
"Ah guru, kau membuatku merasa bersalah." meskipun Wei Guanlin tau gurunya tidak bersungguh-sungguh ia tetap tidak tega melihatnya.
"Baiklah.... aku akan menceritakannya." Wei Guanlin pun akhirnya menyerah.
Berbeda dengan Wei Guanlin yang berwajah kecut, Li Mei menampakkan senyum diwajahnya.
__ADS_1
Wei Guanlin menceritakan semuanya kepada gurunya itu, tapi Wei Guanlin mengganti semua tentang Zhou Fan dengan sebutan 'dia', 'desanya', 'kediamannya', semuanya diganti.
Mendengar cerita muridnya Li Mei mengerutkan kening, ia menatap Wei Guanlin, ia seperti sedang dipermainkan dengan karena muridnya itu bercerita namun isinya hanya ada dia, kediamannya, orang tuanya, dan lain-lain.
Melihat ekspresi tidak puas dari gurunya, Wei Guanlin berhenti bercerita, lalu bertanya kepada gurunya,
"guru kenapa?" Wei Guanlin bertanya dengan wajah tanpa bersalah.
"Huh.... kau bercerita isinya hanya dia dia saja, siapa 'dia' yang kau maksud?" Li Mei bertanya dengan menatap muridnya sedikit kesal.
"Dia.... dia adalah seseorang yang paling berharga bagiku selain keluargaku." Wei Guanlin menjawab pertanyaan gurunya dengan pernyataan yang sulit dimengerti, menurut Li Mei.
"Lin'er, kau membuatku semakin penasaran, sekarang aku mulai kesal." Li Mei manatap wajah Wei Guanlin.
"Iya baiklah.... baiklah guru, Lin'er ceritakan secara terperinci dan menjelaskan tentang 'dia'." Wei Guanlin merinding merasakan gurunya sedikit kesal kepadanya.
Meskipun dengan terpaksa, Wei Guanlin menceritakannya dengan jelas sekarang.
Saat Wei Guanlin selesai bercerita, Li Mei mengambil pedang Wei Guanlin sambil berkata,
"Ini pasti hadiah dari si Zhou Fang itu?" Li Mei bertanya sambil membolak-balik pedang rank epic milik Wei Guanlin.
"Zhou Fan guru! namanya Zhou Fan..." Wei Guanlin mengingatkan gurunya, entah kenapa ia sedikit kesal saat gurunya salah menyebutkan nama Zhou Fan.
"Iya iya....terserah kau saja, ya kan?" Li Mei kembali menanyakan soal pedang di tangannya.
"Bagaimana kau mengetahui hal itu guru." Wei Guanlin melihat gurunya dengan tatapan yang sangat rumit.
Sebelum berpisah dengan Zhou Fan, Wei Guanlin menerima sebuah hadiah di dalam sebuah kotak, Wei Guanlin tidak mengetahui bahwa itu adalah sebuah pedang, ia baru mengetahui itu sebuah pedang adalah saat pertama kali sampai di saktenya, ia membukanya tepat saat ia memasuki kediamannya, ia terkejut saat melihat sebuah pedang yang sangat indah dengan warna birunya yang memukau mata.
"Cih....kau tidak perlu terkejut seperti itu, bahkan anak kecil pasti tau kalau pedang ini dari si Zhou Fan itu, kau selalu memeluk pedang ini saat kau menyebutkan namanya dan kau juga selalu tersenyum setelah itu." Li Mei mencibir Wei Guanlin.
Wei Guanlin menunduk malu saat mendengar penjelasan gurunya, pipinya merah saat memikirkannya.
"Dia pasti sangat tampan, sampai bisa membuatmu seperti ini," ucap Li Mei tiba tiba sambil melihat Wei Guanlin.
Wei Guanlin hanya membalas dengan senyuman saat mendengar ucapan gurunya itu.
"Bagaimana kabar Fan gege disana, aku hanya berharap dia baik baik saja." Wei Guanlin berkata didalam hatinya.
****
__ADS_1