Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 62 : Turnamen Kota... 6 (Penyesalan)


__ADS_3

Zhou Yin yang baru saja dinyatakan lolos, kembali ke tempat duduk klannya. Dia tidak dapat berkata apapun melihat pemuda yang selalu ia pandang rendah sekarang berdiri dengan gagah.


Bahkan seorang kultivator tingkat petarung mahir bintang 1 ia kalahkan dengan mudah.


Dalam pikiran gadis itu bertanya tanya, apakah dia sudah bisa berkultivasi? apakah pemuda yang ia anggap sampah telah bangkit?


Didalam hati gadis itu terdapat sedikit keinginan untuk kembali ke sisi Zhou Fan, sebenanya dia memiliki rasa terhadap pemuda itu sejak dulu, tapi melihat dia hanya seorang sampah, Zhou Yin menjauhinya bahkan merendahkannya.


Melihat Zhou Fan yang sekarang Zhou Yin merasa tidak ada lagi alasan untuk dirinya menjauhi pemuda itu, tapi tanpa ia ketahui, dirinya telah kehilangan kesempatan.


Saat Zhou Fan akan kembali ke tempat duduknya, banyak pandangan kagum mengarah kepadanya tetapi ada juga yang tampak tidak suka dengannya.


Siapa lagi kalau bukan Zhou Han, dia dan kedua temannya begitu melihat kemampuan Zhou Fan seperti sebuah ancaman yang sewaktu-waktu bisa membahayanannya.


Zhou Yin yang melihat Zhou Fan kembali ke tempatnya semula pun menghampiri pemuda itu.


"Kakak Fan..." ucapannya terhenti saat melihat Zhou Fan tidak menanggapinya.


Zhou Fan dengan sengaja menghiraukan gadis itu, ia sudah amat sangat kecewa dengannya.


Gadis kecilnya sudah tiada, digantikan seorang gadis dewasa yang menilai berdasarkan kekuatan yang dimiliki.


"Kakak Fan? andai kau masihlah hadis kecil yang aku kenal, aku akan sangat senang mendengar panggilan itu," Batinnya sambil tersenyum kecut.


Andai ia tidak menunjukkan kemampuannya, ia sangat yakin seratus persen jika gadis itu masih menjadi orang pertama yang meremehkannya.


Sedangkan Zhou Yin menundukkan kepala merenungkan apa yang telah ia lakukan kepada 'kakak Fan-nya', memang ia menyadari perlakuannya selama ini tidak bisa dimaafkan.


"Kakak Fan.. " ucap Zhou Yin lemah sambil membayangkan tangannya meraih tangan pemuda itu.


Dia sungguh menyesal. Andai waktu bisa di putar kembali dan memperbaiki kesalahan yang telah ia lakukan, pasti sekarang ia masih berada di samping pemuda itu.

__ADS_1


Memang ini merupakan kesalahannya, ia tidak lagi punya muka untuk menghampiri atau bertemu pemuda itu, ia melangkahkan kakinya masih dengan wajah menunduk.


"Apa yang ayah katakan benar!" Ucapnya mengingat nasihat ayahnya.


Flashback...


"Yin Yin, kenapa akhir akhir ini kamu terlihat menjauhi Zhou Fan? apakah kamu ada masalah dengannya?" Seorang pria paruh baya yang tak lain adalah tetua ketiga.


Zhou Yin yang sedang asik dengan makanan di hadapannya pun mengalihkan pandangannya menatap wajah ayahnya, "Ayah pasti lebih tahu alasannya aku bersikap demikian, hanya pemuda jenius yang pantas berdiri di sampingku."


"Tidak untuk selamanya dia akan seperti itu, kau tidak dapat melihat jalan takdir seseorang." Tetua ketiga menasihati Zhou Yin yang terlihat acuh tak acuh.


"Semoga kau tidak menyesalinya suatu hari nanti...," Ucap tetua ketiga pelan.


Zhou Yin menghentikan makannya dan menatap ayahnya, "Apanya yang menyesal?! dia sudah sekian tahun berlatih keras, tapi apa yang ia dapatkan. Aku juga sudah memberikan waktu setahun untuknya saat itu, karena merasa masih ada kesempatan untuknya berkultivasi."


Huft..


Ia hanya berharap keputusan yang diambil putrinya tidak akan mendatangkan penyesalan untuknya.


Semakin lama hubungan Zhou Yin dengan putra tetua kelima itu semakin memburuk, sampai pada tahap tidak menegur saat mereka bertemu. Tetua ketiga hanya bisa diam menyaksikan semuanya.


.....Flashback of


Zhou Fan yang melihat Zhou Yin seperti tidak barani menatapnya tahu jelas alasannya, dia sebenarnya tidak benar benar membenci gadis itu.


Walaupun Zhou Yin pernah merendahkannya dan menghinanya terang terangan, Zhou Fan tidak bisa membenci gadis itu. Bagaimanapun dia pernah singgah dalam hatinya.


"Inilah hidup! jika lemah akan dikucilkan dan dihina, tapi jika menunjukkan seberapa besar kemampuan yang kau miliki semua orang akan memandangmu tanpa harus mencari perhatian sekalipun." Zhou Fan berpikir betapa kejamnya dunia kultivator ini.


Hari kedua turnamen kota batu hitam, sistem turnamen ini adalah satu putaran per hari. Kemarin khusus untuk putaran pertama, sedangkan hari ini adalah waktu untuk putaran kedua.

__ADS_1


Sama seperti hari pertama, penonton masih terlihat begitu antusiasnya ingin menyaksikan turnamen putaran kedua.


Semua peserta termasuk Zhou Fan telah menempati tempat duduk khusus yang di sediakan untuk peserta yang akan bertanding di babak kedua.


Pandangan semua orang terhadap Zhou Fan sudah berubah seratus persen, bahkan tak sedikit yang mencoba mendekati pemuda itu khususnya yang menggunakan pedang sebagai teman bertarungnya.


Tentu mereka melihat bagaimana teknik yang Zhou Fan kenakan, meskipun tidak mendapatkan nama teknik tersebut dari orang yang menggunakannya.


Mereka yang pernah melihat teknik pedang terbaik dari sakte pedang suci pasti dapat membandingkan tingkatannya, kualitas teknik pedang itu tidak lebih buruk dari teknik pedang suci yang sudah sangat malang melintang namanya di Kekaisaran.


Di samping itu, ada seorang pemuda yang wajahnya sudah merah padam menahan kekesalannya.


Begitu melihat orang yang ia anggap sampah telah mendapatkan begitu banyak perhatian, ia tidak bisa untuk tidak kesal dengan pemuda itu.


Pemuda itu tidak lain adalah Zhou Han yang sekarang sedang berusaha mengontrol dirinya untuk tidak lepas kendali.


Tidak hanya seorang Zhou Han yang merasa kesal dengan begitu banyaknya perhatian yang tertuju kepada Zhou Fan, Shui Hen yang merupakan pemuda yang di rumorkan akan masuk tiga besar tentu kesal melihat pemuda yang lebih mendapat banyak perhatian darinya.


Seharusnya aku yang mendapatkan perhatian seperti itu, pikir mereka berdua.


Sementara itu Zhou Yin beberapa kali mencuri pandang ke tempat Zhou Fan, sangat ingin rasanya menghampirinya, tapi setelah memikirkan kembali apa yang telah ia lakukan terhadapnya ia mengurungkan niatnya.


Zhou Fan sebenarnya mengetahui bagaimana Zhou Yin mencuri pandang kepadanya, bagaimana tidak menyadarinya, gadis itu menatapnya begitu lama dan dengan pandangan yang sangat sulit diartikan.


"Heh..." Zhou fan mendengus pelan, berusaha membuang jauh pikirannya.


"Lebih baik aku tak memikirkannya, sepertinya putaran ini akan segera di mulai." Zhou Fan berkata dalam hati.


Melihat seorang pria paruh baya yang tidak asing tengah berjalan ke tengah tengah arena pertama, Zhou Fan dapat mengingat pria paruh baya itu adalah pria yang sama yang menjadi pembawa acara kemarin.


Setelah mengatakan beberapa kata sambutan yang sangat membosankan, pria paruh baya itu menyebutkan nama nama peserta yang akan bertanding, kali ini! tidak akan menggunakan empat arena tetapi hanya dua arena yaitu arena pertama dan ketiga yang memang sedikit lebih luas dari pada arena kedua dan keempat.

__ADS_1


Kali ini nama Zhou Fan tidak lagi menjadi yang terakhir, bahkan sekarang namanya disebutkan pertama kali oleh pria paruh baya itu.


__ADS_2