Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 66 : Turnamen Kota... 9 (Pertandingan Yang Mudah)


__ADS_3

Tok tok tok...


"Bisakah kau buka sebentar?" Zhou Yin mengetuk pintu ruangan Zhou Fan lagi.


Di dalam ruangan Zhou Fan menghela nafas, kemudian membuka pintu dengan malas.


Zhou Fan mandang Zhou Yin dari atas sampai ke bawah.


"Kenapa kau mencariku?" melihat gadis dihadapannya begitu menyesal, Zhou Fan seakan melupakan ucapan yang dulu pernah ia katakan.


"Bisakah kita seperti dulu?" Zhou Yin bertanya dengan mata berkaca kaca.


"Kau pasti tahu jawabannya, kau sendiri yang memintaku menjauhimu. Kau melupakan hubungan kita saat aku tidak bisa menunjukkan bahwa aku dapat ber kultivasi." Zhou Fan tersenyum pahit.


Zhou Yin semakin menunduk mengingat perlakuannya, ia tahu bahwa yang ia lakukan adalah salah, tapi mendengar Zhou Fan mengatakannya secara langsung membuat rasa bersalahnya berkali kali lebih besar.


"Sekarang dengan mudahnya kau berkata 'bisakah kita seperti dulu?', heh. Bagaimana menurutmu?" Zhou Fan membalikkan badannnya menatap Zhou Yin.


Orang bodoh sekalipun tidak akan sebegitu mudahnya melupakan kenangan pahit dalam hidupnya.


"Maaf...," Cicit Zhou Yin pelan, sangat pelan, sampai Zhou fan hampir tidak bisa mendengarnya.


Zhou Fan menghela nafas kemudian menggaruk pelipisnya.


"Hufftt... kau tahu, aku tidak pernah menyalahkan orang yang telah merendahkanku. Aku malah ingin berterimakasih kepada mereka karena telah membuatku menjadi seperti sekarang." Zhou Fan mengepalkan tangannya.


"Seandainya aku tidak mendapatkan hinaan aku tidak akan pernah berani mengambil resiko. Dan juga aku sudah memaafkanmu, tapi untuk kembali seperti dulu...," Zhou Fan memandang Zhou Yin, kemudian menggeleng pelan.


"Itu tidak akan pernah terjadi. Jalani saja seperti kau masih memandangku sebagai seorang sampah, aku sudah terbiasa dengan itu." Zhou Fan mengatakan maksudnya dengan sangat jelas.


Wajah Zhou Yin yang semula sudah cerah setelah mendengar Zhou Fan memaafkannya, kembali memasang wajah sedih saat mendengar kalimat terakhir pemuda itu.


"Kenapa? apakah..." saat akan bertanya alasan pemuda itu dengan yakin bahwa mereka tidak akan seperti dulu.


"Aku sudah memiliki seseorang yang telah menunggu kedatanganku," Ucap Zhou Fan dengan cepat.


Seseorang? apakah Zhou Fan telah memiliki seorang kekasih?


Akhirnya Zhou Yin pergi setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, meskipun sedikit sedih tidak dapat kembali seperti dulu, ia berpikir itu sudah cukup, mendengar Zhou Fan telah memaafkannya hatinya sedikit tenang.


Bayang bayang seseorang yang dikatakan Zhou Fan terus membekas di pikiran Zhou Yin, gadis itu kembali ke kamarnya dengan membawa beban pikiran bersamanya.


Pagi datang begitu cepatnya....


Turnamen kota batu hitam telah memilih 16 peserta yang akan bertanding hari ini. Semuanya adalah peserta yang lolos dari babak sebelumnya.

__ADS_1


Zhou Fan, itu adalah nama pemuda yang kini tengah hangat hangatnya dibicarakan, seorang yang tidak pernah di prediksi akan menjadi kandidat juara, tetapi memperlihatkan kapasitasnya sebagai petarung tangguh.


Semua orang telah menyaksikan bagaimana pemuda itu mengalahkan musuhnya dengan hanya menggunakan auranya saja, bahkan Zhou Han, Shui Hen, ataupun Ling Chen yang dipercaya akan menjadi tiga peserta teratas pun tidak akan bisa melakukannya.


Sebutan sampah yang selalu menempel di punggungnya pun sudah hilang bagaikan tak pernah ada, kini Zhou Fan mendapatkan julukan baru. 'Kuda hitam'


"Zhou Fan!!"


Saat namanya disebut, Zhou Fan dengan cepat naik ke atas arena. Dan menunggu lawannya dengan wajah tak sabar.


Cui Ke!


Seorang pemuda maju dengan badan berkeringat dingin, pemuda berambut ikal itu terus memasang senyum canggung yang diarahkan kepada Zhou Fan.


Sampai di hadapan Zhou Fan, Cui Ke tak segera menyerang atau sekedar bersiap, dan itu membuat sebagian orang penasaran.


Termasuk Zhou Fan, dia mengernyitkan dahinya, "Apa yang kau lakukan?"


"Aku.... Aku menyerah!" Cui Ke mengangkat sebelah tangannya ke atas, sambil menoleh ke arah juri.


Huh? Zhou Fan terkejut bukan main, ini adalah pertandingan yang ia nantikan, tapi dengan mudahnya lawannya berkata menyerah. Keterlaluan!


Pada pertandingan kali ini dia tidak mendapatkan perlawanan dari lawannya, dia dinyatakan menang saat lawannya baru saja masuk ke dalam arena.


"Kakak Fan," Panggil seseorang saat Zhou Fan akan meninggalkan tempat berlangsungnya turnamen.


Zhou Fan menghentikan langkahnya, dan mencari seseorang yang memanggilnya.


"Ada apa?" Tanya Zhou Fan balik dengan acuh.


Meskipun Zhou Fan sudah berkata memaafkannya, ia tidak akan melupakan secepat itu sikap dan peralakuan gadis itu kepadanya.


Zhou Yin tertegun, dia sadar bahwa dirinya lah yang menyebabkan semua ini, dan dia pantas menerimanya.


Zhou Yin menggeleng, kemudian melangkah pergi dengan wajah nampak kusut.


"Hmm?!" Zhou Fan menautkan alisnya, ia tak paham jalan pikiran gadis itu.


Zhou Fan mengedikkan bahunya kemudian melaju pergi tanpa peduli pandangan semua orang.


Zhou Yin memandang kepergian Zhou Fan yang nampak tak peduli dengannya sedikitpun.


Tersirat penyesalan pada ekspresi Zhou Yin.


****

__ADS_1


Tak terasa turnamen sudah mencapai puncaknya...


Turnamen kota batu hitam hanya menyisakan empat generasi muda, sesuai prediksi semua orang, kuda hitam bersama ketiga jenius masing masing klan besar akan menjadi peserta yang lolos ke babak tersebut.


Zhou Hu yang sedang duduk di tempat duduknya tersenyum melihat bagaimana sepak terjang putranya, tidak dapat dipungkiri ia begitu bangga dengan Zhou fan. Ia tidak mengira putranya akan menjadi seperti sekarang setelah sekian lama mereka berharap.


"Qian'er, andai kau melihatnya secara langsung bagaimana putramu mulai mencatat jalan kultivatornya, pasti kau juga sangat bangga," Gumamnya mengingat istrinya yang berada di kediamannya.


"Tetua kelima?!" panggil tetua ketiga yang kebetulan berada di samping tempat duduknya.


"Hmm..." Zhou Hu menoleh dengan wajah yang masih terlihat senang.


"Kau lihat! mereka kembali terlihat akrab." seru tetua ketiga sambil menunjuk ke arah Zhou fan dan Zhou yin yang terlihat asik mengobrol.


"Heem..." Zhou Hu hanya bergumam, ia tahu tetua ketiga tidak hanya ingin mengatakan itu saja, ia menunggu penjelasan lebih lanjut dari orang yang sudah ia anggap saudara itu.


"Mereka terlihat cocok, apakah kau tidak ingin melanjutkan keinginan kita yang sempat tertunda?" Ucap tetua ketiga.


Zhou Hu yang sebelumnya tidak terlalu memerhatikan siapa yang dimaksud tetua ketiga, mengerutkan keningnya lalu menoleh ke arah yang tangan tetua ketiga menunjuk.


Dia memelototkan matanya saat melihat anaknya sedang asik berbicara dengan Zhou Yin.


Yang membuatnya terkejut, sejak kapan mereka kembali dekat? setahunya putri tetua ketiga itu selalu dingin bahkan terlihat tidak suka terhadap anaknya, kenapa sekarang jauh terbalik? pikir Zhou Hu


Tapi yang sebenarnya, Zhou Fan tidak berbincang dengan Zhou Yin, hanya saja gadis itu yang terus menempel padanya, sedangkan Zhou Fan nampak acuh tak acuh terhadap Zhou Yin.


Zhou Yin yang dari tadi di acuhkan Zhou Fan mulai merengek.


"Kakak Fan...?"


Hufft...


"Apa yang kau mau? Aku adalah sampah klan, semua orang menghinaku, kenapa kau begitu ingin aku menganggapmu saat kau sendiri tidak melakukan hal yang sama kepadaku saat itu...,"


"Kenapa kau berubah?" Tanpa sadar Zhou Yin bertanya.


"Heh... Bukan aku yang berubah tapi kau." Zhou Fan berkata acuh.


"Aku adalah sampah, tidak pantas bersama denganmu yang jenius, jangan buang waktu berhargamu hanya untuk mengurusi sampah seperti diriku." Setiap kata yang Zhou Fan keluarkan bagaikan belati yang menyayat hati.


"Aku...." Zhou Yin tak bisa berkata, wajahnya menunduk karena malu atas sikapnya selama ini.


"Kalau begitu, maaf.... Karena telah menggangu waktu berhargamu." Zhou Yin pergi dengan wajah sedu.


Zhou Fan tak peduli dengan hal tersebut, dia lebih memilih untuk memejamkan matanya, sambil menunggu pertandingannya.

__ADS_1


__ADS_2