Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 242 : Kediaman Jendral Besar


__ADS_3

Mata Zhou Fan memicing memperhatikan dia menjadi pusat perhatian. Pemuda itu mendengus mencoba tidak menghiraukan tatapan mereka.


"Meskipun aku tahu wajahku tampan, tidak seharusnya mereka memperlihatkan kekaguman mereka dengan begitu jelas." Zhou Fan terkekeh lirih, dia lalu melajukan diri ke area depan.


"Rou'er, apakah kau mau?" Zhou Fan menyodorkan roti kering ke hadapan Rogue, gadis itu meraihnya dengan tanpa sungkan.


Keduanya kini duduk di atas sebuah tabung kayu, sambil memandang pemandangan di depan, mereka menyantap roti kering dengan hikmat.


"Kau mau?" Zhou Fan menawari Zhou Jim yang rebahan di samping Zhou Fan.


Serigala itu hanya diam, dia tidak tertarik dengan roti kering, meski Zhou Fan beberapa kali mencoba menggodanya dengan aroma roti kering.


Tangannya terus bergerak mengusap moncong Zhou Jim menggunakan roti kering yang dia genggam.


Rogue menggeleng, dia sebenarnya tidak tahan dengan kelakuan Zhou Fan yang menawari seekor serigala dengan makanan berupa roti. Namun dia hanya diam dan menyaksikan.


Setelah beberapa waktu hanya duduk diam di atas kapal, akhirnya kapal singgah di dermaga tujuan.


Dermaga ini begitu berbeda dengan dermaga di kota Quan, nampak lebih tertata rapi.


Di sekitar dermaga tidak ada orang yang melakukan perdagangan, karena tak jauh dari pinggir danau, terdapat area khusus yang disediakan untuk para pedagang.


Kios kios berjajar rapi di sana, dari yang berjualan senjata sampai dengan sumberdaya.


Kota Xiyu memang bukan kota kecil, itu terlihat dari bagaimana terkoordinasinya petugas yang berkeliling menjaga keamanan.


Walau kekuatan mereka tak lebih dari petarung grand master bintang lima, tapi itu sudah cukup untuk mengatasi permasalahan ringan yang biasa terjadi.


Jika mereka tidak sanggup mengatasi, beberapa dari mereka akan melapor ke pusat pelaporan dan selang beberapa waktu akan ada orang terpilih yang datang membantu.


Karena tak ada yang istimewa, Zhou Fan hanya menumpang lewat. Dia terus melesat menuju ibukota.


Satu bulan kemudian, Zhou Fan sudah berada di kawasan ibu kota, dari luar gerbang masuk, dapat di lihat ramainya kota Chennai, Ibukota Kekaisaran Shi.


Bangunan bangunan besar berjajar rapi di setiap sisi jalan, setiap bangunan memiliki plakat nama yang tertera dengan tulisan berwarna hitam.


Sambil berjalan, Zhou Fan memandang ke sekitar, matanya terus berputar mengamati semua yang dapat ia amati.


Setelah mencari dan bertanya ke beberapa orang yang bersimpangan dengannya, Zhou Fan memandang gerbang kediaman yang luasnya mungkin setara dengan luas istana Kekaisaran Wei.

__ADS_1


Dua orang berjaga di depan, masing masing menggunakan zirah senada, pelindung kepala juga tombak menjadi pelengkap penampilan mereka.


"Siapa kau?!" Salah satu penjaga berseru lantang dengan nada tak bersahabat.


Zhou Fan yang berdiri memandang gerbang dari jauh mendekat ketika mendengar ucapan penjaga.


"Namaku Zhou Fan, aku ingin bertemu dengan jendral besar." Zhou Fan menggenggam kedua tangannya di depan dada.


Kedua penjaga itu saling pandang, bagaimana bisa ada seorang yang begitu tidak tahu diri. Bahkan kaisar sendiri tidak bisa datang sesuka hati, tapi pemuda di hadapan mereka berkata dengan percaya diri.


"Pergilah, kami sudah sering menghadapi orang sepertimu. Menjauh lah sebelum terlambat." Penjaga yang lain mengibaskan tangan mengusir Zhou Fan serta Rogue.


Rogue yang diperlakukan demikian amarahnya memuncak, dengan wajah marah dia mengangkat tangannya, tapi lebih dulu di tangkap Zhou Fan.


"Tidak perlu kau yang turun tangan, biar aku saja." Zhou Fan berkata tanpa keraguan, membuat kedua penjaga tertawa sampai terbahak-bahak.


"Sudah cukup berlagak nya, pergi pergi!" Sekali lagi penjaga itu mengibaskan tangan.


Tak direspon Zhou Fan penjaga itu membulatkan mata, kedudukan mereka setelah menjadi penjaga kediaman jendral besar tidak lagi sama seperti orang biasa.


Namun, masih saja ada orang yang tidak mempedulikan ucapan mereka. Benar benar cari mati, pikir mereka.


Shut...


Tombak berputar kencang, ujungnya yang berbentuk segitiga berkilau memperlihatkan ketajaman.


Trang...


Tombak terpelanting ke atas, pedang darah malam sudah keluar unjuk diri.


Penjaga itu melotot tajam, tidak percaya serangan tombak yang telah dilatih bertahun tahun dihempaskan hanya dengan ayunan ringan sebuah pedang.


Tombak yang melayang kembali jatuh, Zhou Fan melirik sekilas, lalu dengan tangan kiri dia menangkap dan langsung melemparnya ke tempat dua penjaga.


Jleb!


Tombak menusuk merobek permukaan tanah, penjaga sebelah kanan melebarkan kakinya. Andai dia tidak melakukan hal itu, bukan tidak mungkin tombak itu akan menghancurkan masa depannya.


Butiran keringat menetes membasahi zirah berwarna coklat, wajahnya sudah pucat pasi sejak Zhou Fan dapat menangkis serangannya, dan semakin pucat saat tombak bergerak mengarah ke arahnya.

__ADS_1


"Beraninya kau menyerang kediaman jendral besar!" Penjaga sebelah kiri seolah baru kembali dari keterkejutan, dia langsung berkata marah sambil menunjuk Zhou Fan.


"Aku hanya ingin bertemu dengan Jendral Besar Huang, tapi kalian tanpa basa basi menyerang orang. Jangan salahkan aku jika melawan." Zhou Fan berkata santai.


Sikapnya yang santai menarik perhatian beberapa orang yang tak sengaja melintas.


Belum pernah ada yang berani mencari masalah dengan kediaman jendral besar, tapi dua orang muda ini dengan tegak berdiri berhadapan dengan penjaga kediaman.


"Apa yang terjadi?" Suara serak nanti berwibawa terdengar di udara, bersamaan dengan itu seorang pria tua berpakaian layaknya kasim berjalan dengan tangan terlipat di punggung.


"Kasim Kao?" Kedua penjaga memalingkan tubuh dan memberikan wajar kepada seorang yang memiliki pangkat lebih tinggi dari mereka.


"Apa yang terjadi, kalian membuat ribut sampai terdengar hingga ke dalam. Jangan sampai jendral besar mendengar, atau kalian semua akan menerima akibatnya." Kasim Kao, pria tua berambut putih dan juga kumis tipis yang juga putih berkata dengan kening mengernyit.


Matanya menelisik kekuatan dua generasi muda yang berdiri berseberangan dengannya.


Air mukanya berubah terkejut saat melihat tingkatan gadis kecil berjubah longgar, dalam pikirannya dia bertanya tanya, bagaimana mungkin gadis yang terlihat berumur dua belasan tahun sudah mencapai petarung grand master bintang tujuh.


Menakutkan!


Satu kata yang langsung terlintas dalam kepala, andai dia tahu tingkatan Zhou Fan mungkin dia harus memikirkan kata yang lebih bermakna.


Namun dia tidak bisa melihat apapun, bagai tembok yang dilihat dari jarak begitu dekat, tidak ada celah yang dapat dia lihat.


"Bagaimana bisa aku tidak bisa melihat kultivasi nya, aku sudah berada di lapisan alam kaisar bintang satu." Kasim Kao berkata heran, kumis putihnya dia putar hingga memanjang.


Dia tidak tahu mengapa hal itu bisa terjadi, tapi dia merasa pemuda di hadapannya memiliki kekuatan yang teramat besar.


"Anak muda, sebenarnya apa yang membuatmu membuat keributan di kediaman jendral besar? Tahukah kau tidak ada yang berani melakukan apa yang kau lakukan sebelumnya?" Kasim Kao menyatukan tangannya, telapak tangan saling menghadap dan menggenggam.


"Aku tak berniat mencari masalah, tapi kedatanganku ingin bertemu dengan jendral besar." Zhou Fan berkata tanpa raut wajah ragu.


Kasim Kao mengerutkan kening, belum pernah dia mendapati orang seperti Zhou Fan, yang sangat tenang walau sedang terlibat dengan kediaman jendral besar.


"Apa tujuanmu datang ingin bertemu dengan jendral besar?" Kasim Kao bertanya dengan pandangan yang masih mengarah ke Zhou Fan.


Zhou Fan menarik sudut bibirnya, walau hanya sekilas. Dia lalu melangkah maju dengan langkah pendek.


"Menjemput istriku!"

__ADS_1


__ADS_2