Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 72 : Teknik Dewa Pedang Bagian Kedua


__ADS_3

"Ada apa ayah?!" Zhou Fan sedikit meninggikan suaranya.


Pikirannya jauh melayang kemana mana menebak apa yang akan dikatakan oleh orang tuanya.


Saat yang tepat untuk memberitahumu? kata itu terus berputar dikepala Zhou Fan, pikiran pemuda itu sudah tidak dapat dikondisikan.


Ayahnya mengatakannya dengan seserius ini, apakah ini ada hubungannya denganku, apakah identitasku? Pikir Zhou Fan.


"Kau harus tahu, ibumu bukanlah asli orang Klan Zhou." Zhou Hu menoleh ke wajah anaknya yang sudah terlihat mengerutkan keningnya.


"Keluarga ibumu sudah tidak ada. Beberapa tahun yang lalu keluarga ibumu difitnah, karena fitnah itu semua keturunannya di eksekusi. Andai ibumu tidak ikut kembali bersama ayah, mungkin... Ah, kenapa jadi ngelantur. Intinya ibumu memiliki sebuah warisan dari kakekmu." Zhou Hu menoleh manatap istrinya.


Zhou Qian tersenyum lalu mengeluarkan sebuah peti kecil berukuran sejengkal tangan. "Ini adalah satu satunya yang tersisa dari keluarga ibu, mungkin sudah saatnya kau yang menyimpannya."


Zhou Fan tidak begitu peduli dengan warisan di dalam peti, yang menjadi fokus pemuda itu adalah cerita ayahnya tentang asal ibunya.


"Tidak usah banyak berpikir, kau akan tahu dengan berjalannya waktu. Kau tidak akan dapat berbuat apapun meskipun kau tahu." Melihat anaknya gelisah tak nyaman, Zhou Qian memperingati nya agar tak bertindak gegabah.


"Sebaiknya kau buka peti ini dulu, ibu pernah membukanya tapi tak memahami sedikitpun apa yang tertulis di dalam gulungan itu." Tambahnya pada sangat anak.


Zhou Fan dengan segera mengikuti saran ibunya.


Klak...


Suara peti terbuka yang menunjukkan betapa tuanya peti itu.


Zhou Fan mengambil gulungan yang ada di dalam peti, aura yang di pancarkan nya begitu tidak asing menurut Zhou Fan.


Dengan perlahan Zhou Fan membuka gulungan berpita merah yang sudah di tangannya.


"I.. ini..." Zhou Fan terkejut bukan kepalang, yang membuat sepasang orang berbeda gender dihadapannya itu mengerutkan keningnya.


"Apakah kau tahu isi dari gulungan itu, nak?" Zhou Qian bertanya dengan semangat.


Melihat keantusiasan ibunya Zhou Fan tak tega untuk menutupinya, bagaimanapun ini adalah pusaka keluarga ibunya, wajar jika ibunya ingin mengetahuinya. pikir Zhou fan.


Dengan wajah berseri seri Zhou Fan, menatap kedua orang tuanya bergantian. "Ibu, apakah kau tahu. Ini adalah bagian kedua teknik dewa padang."


Zhou Fan sudah memutuskan untuk bercerita tentang semua rahasia yang ada pada dirinya. Dia memulainya dengan gua sang guru. Tak ada lagi sepenggal cerita pun yang menjadi rahasia Zhou Fan sendiri, dia memberitahukannya kepada kedua orang tuanya.


"....Dan aku sudah mempunyai ketiga bagian teknik dewa pedang itu." Akhir Zhou fan dengan wajah ceria.


Seketika wajah Zhou Hu membeku mendengar ucapan anaknya, ia sangat ingat betapa mengerikan teknik pedang anaknya, kalau gulungan itu adalah bagian kedua, berarti yang dikuasai anaknya adalah bagian pertama.


Zhou Hu tak habis pikir, bagian pertama saja begitu mengerikan. Apalagi kalau disempurnakan dengan bagian keduanya, 'mematikan'.

__ADS_1


Sementara Zhou Qian tampak bingung, ia tak mengetahui keterampilan teknik pedang anaknya, ia hanya tahu anaknya kini telah menjadi kultivator jenius di Kota Batu Hitam.


"Ayah, setelah aku mempelajari bagian kedua teknik dewa padang. Bagaimana kalau kita adu teknik lagi?" Tantang Zhou Fan sambil menaik turunkan alisnya.


Gluk...


Zhou Hu menelan ludahnya kasar, dia berpikir kekuatan anaknya mungkin seterah dengannya dengan bantuan teknik dewa padang. Tapi untuk kekuatan fisik, anaknya lebih unggul sedikit dibandingkan dengannya.


"Mmm... Sepertinya itu tidak perlu Fan'er, sebagai keluarga kita harus tetap rukun." Zhou Hu berusaha menghindar dari tantangan anaknya.


"Ayah sungguh senang kau dapat bertemu gurumu," Tambahnya.


Zhou Hu bisa saja mengalahkan anaknya jika mengeluarkan seluruh kemampuannya, tapi istrinya akan marah kepadanya jika ia membuat Zhou fan terluka.


Kalah menang merupakan jalan buntu baginya, oleh karena itu ia ingin mengindari tantangan anaknya.


Flashback on...


Di malam setelah pertarungan antara ayah dan anak...


"Kamu tidur di luar!" Zhou Qian melemparkan selimut kepada Zhou Hu.


"Kenapa Qian'er, kau tega membiarkanku tidur sendirian di sini?" Zhou Hu memasang wajah sedihnya.


"Kenapa kau bilang, kau membuat anakku terluka, kau pantas mendapatkannya!" Zhou Qian berkata tanpa mempedulikan Zhou Hu yang memasang wajah sedih.


"Aku tidak peduli..." Zhou Qian berjalan ke kamarnya tanpa menoleh ke suaminya.


"Huft.... nasib nasib," Gumam Zhou Hu sambil merebahkan tubuhnya di kursi panjang di ruang keluarga.


"Dasar bocah badung! Kau membuatku tidur di sini sendiri," Ucap Zhou Hu dalam hati.


Kriekkk....


Melihat pintu terbuka kembali, Zhou Hu mendapat sedikit harapan.


"Aku tahu, istriku pasti tak bisa tidur tanpa ku," Gumam Zhou Hu dengan bangga.


Melihat istrinya keluar, Zhou Hu segera menghampirinya dengan senyum di wajahnya. Tapi ucapan istrinya membuatnya terbangun dari khayalan.


"Tetap di sana! Aku hanya keluar cari angin, kau tetap tidur di sana."


Ekspresi Zhou Hu kembali muram, dengan pasrah pria paruh baya itu menidurkan badannya di kursi panjang lagi.


Flasback of...

__ADS_1


**


Di kamar Zhou Fan...


Zhou Fan mempelajari gulungan yang baru saja dia dapatkan dengan serius, tapi pemuda itu masih memiliki beberapa pertanyaan di dalam pikirannya.


Hubungan apa yang dimiliki keluarga ibunya dengan gurunya? Lalu masalah fitnah itu seperti masa lalu Lee, apakah hanya kebetulan?


Zhou Fan meyakinkan dirinya untuk tidak memikirkannya sekarang, prioritasnya sekarang adalah menjadi kuat.


Zhou Fan mengeluarkan semua bagian teknik dewa pedang, kitab emperor, dan kedua gulungan lainnya.


"Memang benar, ini adalah sobekan dari kitab emperor. Tapi kenapa bisa terpisah?!" Gumam Zhou Fan.


"Aku akan mulai berlatih besok," Zhou Fan membaringkan badannya di atas singgasananya.


....


Pagi hari begitu indah, dengan di temani sang mentari seorang pemuda melatih teknik barunya.


Tak lama kemudian pemuda itu mengakhiri latihannya setelah merasa sudah cukup menguasai teknik tersebut.


Zhou Fan melempar sebuah batu berukuran sekepalan tangan, ia berniat mencoba teknik pedangnya kepada batu itu. Ia ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya.


Shutt....


Sebuah batu melesat keatas, kemudian batu itu perlahan turun dengan kecepatan berlipat.


Zhou Fan memasang kuda kuda, kedua kakinya melebar dengan tubuh sedikit merendah.


"Teknik dewa pedang!" Gumam pemuda itu, kemudian melesat cepat dengan pedang di tangannya.


Duar...


Batu sekepalan tangan itu hancur tak bersisa tepat saat bersentuhan dengan pedang Zhou Fan.


"Benar benar menakutkan." Zhou Fan menerapkan teknik dewa pedang yang sudah sempurna. Ia sungguh tak mengira teknik dewa pedang akan se mengerikan itu.


"Bahkan kekuatannya menjadi 10 kali lipat." Zhou Fan menggeleng. "Entah seberapa besar kekuatan teknik ini saat aku sudah meningkatkan kultivasiku."


Zhou Fan yang sebelumnya berniat berpetualang, harus menunda keinginannya. Ibunya memberikan syarat kepadanya, ia harus bisa mencapai petarung grand master terlebih dahulu.


Zhou Qian tak tahu anaknya itu telah di tingkat petarung master bintang 9, sebenarnya Zhou Qian memberikan syarat seperti itu untuk mencegah kepergian anaknya. Tapi syarat yang diberikannya malah membuat semangat Zhou Fan berkobar.


Pemuda itu mulai membuat berbagai macam pill, "Lultivasiku telah lama tersendat di tingkat master bintang 9, aku harus fokus berkultivasi."

__ADS_1


Andai semua orang tahu apa yang dipikirkan oleh pemuda itu, mungkin semua orang akan menggebukinya hingga tak dapat dikenali.


Semua orang membutuhkan setengah tahun bahkan lebih untuk naik satu bintang, pemuda itu dengan entengnya mengatakan sudah tersendat lama, padahal baru beberapa bulan ia berada di tingkat tersebut.


__ADS_2