
"Klan Bai?! Apakah kalian dengar, wanita itu berasal dari Klan Bai. Sungguh sial nasib pemuda tampan itu." Seorang pengunjung menyayangkan nasib yang dialami Zhou Fan.
"Bukan hanya berasal dari Klan Bai, dia juga mengatakan dirinya sebagai nona muda Klan Bai. Aku setuju denganmu teman, mungkin sebentar lagi pemuda itu hanya tinggal kenangan." Teman semeja wanita itu ikut berpendapat.
Klan Bai bukanlah klan biasa, klan ini termasuk lima klan besar di Kota Kapur Putih. Bahkan kekuatannya lebih besar dari kekuatan Klan Zhou di kota batu hitam.
"Heh..." Quinzi melipat kedua tangannya dan memperlihatkan ekspresi bangga setelah mendengar ucapan beberapa pengunjung.
Zhou Fan tidak peduli dengan semua drama yang terjadi, pemuda itu dengan acuh terus duduk di tempatnya.
"Pergilah! Kau mengganggu pemandangan." Zhou Fan berkata tanpa memalingkan wajahnya.
"Kau!" Quinzi tak bisa berkata kata lagi, lidahnya kelu karena terlalu kesal sekaligus marah.
Baru pertama kali dia dipermalukan dihadapan banyak orang seperti ini. Dia adalah Nona Muda Klan Bai, bersikap angkuh adalah sifat bawaan yang ditanamkan kepadanya.
Bai Quinzi bersikap begitu berani juga bukan hanya mengandalkan latar belakangnya saja. Wanita itu adalah jenius Klan Bai, di umurnya yang baru memasuki 25 tahun, dia sudah berada di tingkat petarung master bintang 2.
Jika dibandingkan dengan Zhou Fan ataupun jenius Ibukota, Quinzi memang bukanlah orang istimewa, tapi di Kota Kapur Putih, bakatnya termasuk langka.
"Jika kau tidak mau, aku saja yang pergi." Zhou Fan berdiri, lalu berjalan berniat ingin pergi, saat melintasi pelayan wanita paruh baya yang menyambutnya saat pertama kali memasuki kedai, Zhou Fan memasang senyum, kemudian berkata.
"Bibi, berapa makanan yang aku pesan." Tanya Zhou Fan.
Pelayan itu tertegun, mendengar nama bibi dari mulut pemuda tampan itu membuatnya sedikit terkejut. Bukan karena wajah tampannya, tapi dia ingat betul siapa yang pertama kalinya menyebut dirinya bibi saat ia menjadi pelayan.
"Bibi?!" Zhou Fan kembali memanggil pelayan wanita paruh baya itu.
"Ah ya, semua tujuh koin emas," Ucapnya setelah hilang terkejutnya.
Zhou Fan mengeluarkan kantong berisi koin emas lalu menyerahkannya ke pelayan wanita paruh baya di hadapannya, entah berapa yang terdapat di dalamnya ia tidak tahu pasti.
"Sisanya untuk bibi saja!" Ucapan Zhou Fan kembali mengejutkan pelayan itu.
Sedangkan Zhou Fan meninggalkan kedai tanpa peduli dengan tatapan semua orang.
__ADS_1
Dengan cepat pelayan itu membuka kantong di tangannya, matanya melebar sempurna saat mengetahui jumlah koin emas di dalamnya.
100 koin emas bukanlah suatu hal besar bagi Zhou fan, tapi tidak untuk kalangan biasa seperti pelayan wanita paruh baya itu, gajinya hanya satu koin emas setiap bulan, itupun harus dikurangi dengan biaya makan untuknya.
Bibi? wanita paruh baya itu kembali berpikir, saat mengetahui dengan pasti siapa pemuda berpakaian serba kuning, dia berkata tanpa sadar.
"Bukankah dia pemuda yang berpakaian lusuh, aku tak pernah mengira dia begitu loyal. Beruntung aku tak memandang rendah dirinya saat memasuki kedai," Ucap pelayan wanita paruh baya itu dengan penuh syukur.
Sementara beberapa orang yang mendengar perkataan pelayan itu, diam mematung.
Apakah benar, pemuda itu adalah pemuda yang sama dengan pemuda berpakaian lusuh? semua orang memiliki pertanyaan yang sama.
Saat keluar dari kedai, Zhou Fan dihentikan seorang wanita berpakaian ungu. siapa lagi kalau buka si Nona Muda Klan Bai.
"Kau begitu arogan dengan menolak keinginanku, aku akan mengabulkan keinginanmu untuk menyambangi leluhurmu." Quinzi berkata dengan sangat yakin bahwa dia bisa mengalahkan pemuda berpakaian serba kuning di hadapannya.
"Nona, kita sudah sama sama dewasa. Tidak perlu mengunakan cara yang menurutku ya.." Zhou fan menjeda ucapannya. "Em... Kekanak-kanakan."
"Kekanak-kanakan katamu!!" Bai Quinzi berteriak marah. Membuat semua orang menghentikan kegiatannya sejenak.
"Lihat! bukankah dia Nona Muda Quinzi, dia pasti baru saja di tolak pria muda dihadapannya itu. Sampai membuat keributan seperti ini." Salah satu pria muda yang tahu betul sifat Bai Quinzi.
"Sial sekali kalau begitu nasibnya." Pria muda itu menggelengkan kepalanya.
Sementara pemuda lainnya hanya menganggukan kepalanya tanda ia sependapat dengan pemuda di sampingnya.
"Kau jangan naif! Ini adalah dunia kultivator, dunia yang kejam! Semua urusan diselesaikan dengan kekuatan." Quinzi merasa pemuda dihadapannya takut menghadapinya. "Kenapa? menyesal? bersujudlah tiga kali dan temani aku semalam, aku akan mempertimbangkan untuk melepaskanmu."
Quinzi menjilat jarinya dan mengulum nya perlahan, andai bukan Zhou Fan yang dalam posisinya, mungkin sudah tergoda olehnya.
Semua orang yang mendengar perkataan Quinzi meneguk salivanya dengan paksa, bukan karena iri dengan Zhou Fan, tapi prihatin dengan pemuda itu.
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa Quinzi adalah wanita yang suka menyiksa lawan mainnya. Bahkan beberapa minggu lalu, dikabarkan seorang pemuda mati karenanya.
Semua orang bukannya tidak ingin melakukan tindakan, tapi melihat latar belakangnya membuat semua orang memilih untuk berpura pura tidak tahu.
__ADS_1
"Sudah aku katakan, aku tidak tertarik dengan barang bekas!" Zhou Fan berkata dengan sedikit acuh.
Semua orang membelalakkan matanya, tidak mereka sangka pemuda tampan dihadapan mereka memiliki keberanian tingkat tinggi.
Tapi ada beberapa orang yang mencibir Zhou Fan, mengatakan Zhou Fan adalah pemuda bodoh yang tidak tahu batas sendiri.
"Cih! kau tidak perlu berpura pura, sekarang terimalah akibatnya!" Quinzi menyerang Zhou Fan dengan jurus miliknya.
Quinzi masih berpendapat bahwa Zhou fan tidaklah lebih kuat darinya, padahal wanita itu tidak dapat melihat tingkat kultivasi Zhou Fan, tapi masih berpikiran seperti itu, sungguh naif atau bodoh?
Duar!
Ledakan jurus yang begitu keras, membuat Quinzi tertawa puas. Wanita itu merasa sudah berhasil mengalahkan pemuda berpakaian serba kuning itu.
"Haha... Sebenarnya sangat disayangkan wajah tampannya, andai dia lebih bisa berpikir mungkin dia masih bernafas." Quinzi sedikit sedih karena tidak dapat mendapatkan pemuda yang dia inginkan.
Quinzi ingin berbalik, tapi sebuah suara menyadarkannya dari fantasi kemenangan.
"Bukankah terlalu awal jika merayakan kemenanganmu sekarang nona?" Cibir Zhou Fan.
Tidak hanya Quinzi yang terkejut, semua orang yang berada di tempat kejadian pun ikut terkejut.
Asap ledakan perlahan menghilang dan menampakkan seorang pemuda berdiri dengan gagah tanpa lecet sedikit pun, bahkan tidak ada noda di pakaian serba kuningnya.
"Tidak perlu terkejut seperti itu, bahkan kau tak layak menjadi lawanku!" Ucapan Zhou Fan selanjutnya membuat semua orang melongo.
"Seperti yang aku pikirkan. Tidak mungkin pemuda lemah jika berani menyinggung Nona Muda Klan Bai." Seorang pria tua berjanggut putih berbicara seolah telah meramalkan apa yang telah terjadi.
Swust...
"Diam kau penipu! bukankah kau tadi mengatakan bahwa pemuda itu akan mati di tangan Nona Quinzi?!" Seorang pemuda melempar pria tua itu dengan sendal miliknya.
"Anak muda, semua bisa berubah. Aku telah menebaknya akan seperti ini, meskipun di dalam hatiku." Pria tua berjanggut putih itu berkata dengan bijaknya.
Swust...
__ADS_1
Sebuah sendal lagi lagi lewat di depan kepala pria tua itu.
"Diamlah pak tua! Semua orang tahu kau adalah penipu!"