Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 145


__ADS_3

Burs...


Patriark Bai tersedak mendapat kejutan yang tak terduga. Begitupun dengan Patriark Yu, dia sampai melompat karena terkejut.


Tidak merasakan keberadaannya, tiba tiba muncul di hadapannya, aneh jika mereka tidak terkejut.


Hanya sekilas saja mereka berdua terkejut, kemudian merubah ekspresi dengan cepat, wajah keduanya bersinar cerah.


"Kau datang tak diundang, tapi kami akan mengantar kepergianmu.... Menemui leluhurmu!" ujar Patriark Bai dengan senang, senyum puas dari wajahnya tak bisa di sembunyikan.


"Kau jangan khawatir akan kesepian, karena semua yang ada di sini akan menemanimu pergi. Hahaha... " Patriark Yu tertawa dengan pandangan menatap tajam, wajahnya tidak lagi dapat dikondisikan, keinginan untuk membunuh pemuda di hadapannya terlukis jelas di dahinya.


"Kau jangan mengambil jatahku, atau aku tak akan memberimu sepeser pun hasil jarahan." Patriark Bai melirik patriark Yu yang terlihat sekali hasrat membunuhnya.


Patriark Yu dengan segera memejamkan matanya, mencoba menyelaraskan pikirannya. "Kau tenang saja, Bai tua. Asal kau memberiku seluruh hasil jarahan aku tak akan mencampuri urusan balas dendammu, bagiku, melihat juga sama saja."


"Hahaha... Kau tenang saja, aku tak akan mengambil apapun." Patriark Bai tertawa, kemudian menambahkan dengan suara berbisik.


"Semua akan menjadi milikmu, kecuali benda 'itu'." Patriark Bai mengatakan dengan suara pelan, bahkan jika tidak terlihat bibirnya bergoyang mungkin tidak ada yang tahu dia sedang berbicara.


"....."


Patriark Yu mengerutkan keningnya, meskipun dia tak tahu apa yang dimaksud dengan benda 'itu' dia tak memikirkan lebih dalam.


Plak... Plak...


Patriark Yu menepuk tangan dua kali, mencoba memanggil orang yang dia bawa.


"...."


Lagi lagi tak ada tanggapan dari orang orangnya.


Patriark Yu melirik Patriark Bai, kemudian memandang pemuda di hadapannya.


"Kurang ajar, pasti ulah bocah ini," batin kedua Patriark bersamaan.


"Aku akui kau memang cukup berkemampuan, kau berhasil menghilangkan hawa keberadaanmu dan lolos dari pengamatanku, serta kau menghabisi seluruh pasukanku dari kegelapan...,"


"Aku sungguh kagum kepadamu ... Phak... Phak.. Phak..." Patriark Bai perlahan mendekat, sambil berjalan dia bertepuk tangan.


"Namun sayang, kau harus tetap mati di tanganku!" ujar Patriark Bai dengan tenang.


"Heh!" Zhou Fan mendengus, bayangan ibunya yang diseret di depan mata kepalanya membuat tubuhnya bergejolak.


"Kau..." Perkataan Patriark Yu tersekat di ujung mulutnya, ludahnya serasa akan meluncur keluar jika dia tak menahannya.


"Untuk apa kau masih basa basi, kalian berdua telah masuk ke dalam daftar hitam di kepalaku, aku tak akan melepaskan kelian begitu saja."


Dhak...


Zhou Fan memukulkan pedang darah malam ke ke permukaan lantai.


"Aku sependapat denganmu, akan aku akhiri dengan cepat ... "


Swus!


Sebelum memberikan akhiran titik pada kalimatnya, Patriark Bai melesat dengan pedang terbuka.


Zhou Fan pun ikut melesat kala melihat Patriark Bai bergerak ke arahnya, ekspresi wajahnya tak sekalipun berubah semenjak kedatangannya.


Saat jarak hanya beberapa langkah, keduanya melompat dengan kaki sebagai pegas.


Shut...


Pertarungan berlangsung di udara, sementara Patriark Yu yang baru terlepas dari keterkejutan memasang sikap bertarungnya.


Wush...


Patriark Yu melompat, mengayunkan pedangnya, berniat membokong Zhou Fan.


Merasakan sesosok bayangan dari arah belakang, Zhou Fan meluruskan kakinya ke belakang, menendang Patriark Yu yang tengah meluncur.


Namun Patriark Yu dapat menghindari tendangan Zhou Fan, kemudian menebas mengincar leher pemuda tersebut.


Sambil menghalau serangan Patriark Bai dia menunduk, menghindari terkaman pedang Patriark Yu.


Srut....


Ketiganya pun menapakkan kakinya di atas permukaan, namun pertarungan masih terus berlangsung.


Zhou Fan mengeluarkan teknik dewa pedang, kobaran api perlahan menyebar, disertai dengan percikan layaknya kembang api.

__ADS_1


Seolah tak menghiraukan kobaran api yang menyambar, Patriark Bai terus mengincar tubuh Zhou Fan dengan padangnya.


Zhou Fan tak membiarkan dirinya dalam kungkungan dua pria tua tersebut, dia berusaha mendesak Patriark Yu yang dapat ia rasakan mempunyai kekuatan di bawah Patriark Bai.


Swus... Shut...


Perputaran pedang Zhou Fan semakin liar, Patriark Yu yang mempunyai kultivasi tingkat petarung raja bintang satu terus mundur sambil terus menangkis serangan Zhou Fan.


"Sialaaan! Bai tua, apa yang kau lakukan, serang dia!" Patriark Yu berseru dambil terus berusahalah melakukan diri dari serangan Zhou Fan.


Hng...


"Siapa dia, menyuruhku dengan begitu seenaknya," gumam dalam hati Patriark Bai.


"Kau diam saja, salahkan saja dirimu yang terlalu lemah," ujar Patriark Bai dengan acuh, seolah mereka bukan dalam pihak yang sama. Namun, dia terus bergerak berusaha menyerang Zhou Fan.


Ugh...


Seketika mata Patriark Yu melotot tajam, menatap pria yang tadinya rekan, tapi tidak sekarang. Dia akan mencari kesempatan untuk menusuk Patriark Bai dari belakang, setidaknya setalah mengalahkan Zhou Fan.


Perkataan Patriark Bai sungguh menghancurkan kepercayaannya, ia tak mengira akan diperlakukan selayaknya sampah yang dapat di buang begitu saja.


Namun, dia tidak bodoh dengan menunjukkan secara langsung, dia tidak yakin dapat mengalahkan Patriark Bai.


Yu Dan Rui masih berusaha lepas dari Zhou Fan yang terus melancarkan serangan. Sementara Patriark Bai terus memburu Zhou Fan, ketiganya bergerak layaknya orang kejar mengejar.


"Kaparat! aku akan serius!" teriak Patriark Yu sambil menggumamkan sebuah teknik.


Mendadak tubuh Patriark Yu memancarkan cahaya redup berwarna kekuningan, Patriark Bai yang mengenal teknik Patriark Yu dengan segera melompat menjauh.


"Tch... Dia sangat nekat, menggunakan teknik terlarang Klan Yu hanya untuk menghadapi bocah ini." Patriark Bai menyayangkan apa yang di lakukan Patriark Yu.


Dalam kepala Patriark Bai sangat jelas mengenai teknik terlarang klan Yu, teknik yang menggunakan amarah sebagai pengendali tubuhnya, otaknya akan kehilangan kendali bahkan hanya untuk sekedar berpikir.


Meskipun dapat meningkatkan kekuatan secara signifikan, tentu terdapat bayaran mahal yang harus dikeluarkan.


"Dia akan kehilangan satu tingkatan kultivasinya setalah bangun dari kesadaran," gumam Patriark Bai sambil menggeleng.


Di sisi lain Zhou Fan mulai merasakan kekuatan Patriark Yu bergejolak, dia tahu pria tua di hadapannya mengalami peningkatan, meskipun dia tidak tahu dari mana kekuatan itu berasal.


"Ck!" Zhou Fan berdecak kesal, pertarungan akan lebih merepotkan kedepannya


Trang... Tring...


Hyat!!


Zhou Fan mengeluarkan jurus tebasan ganda, kedua tangannya menggenggam pedang darah malam dan mengayun dengan tegas.


Bhoom!


Karena jarak yang terlalu dekat, Patriark Yu tak sempat menghindari serangan Zhou Fan, tubuhnya terlempar dan menghantam sebuah bangunan.


Zhou Fan mengerutkan keningnya, pria tua yang baru saja menerima serangan jurusnya sekarang masih berdiri tegak di seberang.


"Sialan, sepertinya pertahanan tubuhnya juga semakin meningkat!" batin Zhou Fan sambil menatap tajam Patriark Yu.


Grtrrrrr...


Desisan Patriark Yu terdengar nyaring, kelopak matanya berubah hitam, tidak ada pupil di dalamnya.


Patriark Yu terlihat layaknya seekor beast yang sedangan mengamuk.


Shut...


Patriark Yu melesat dengan sangat cepat, dia tak lagi menggunakan pedang sebagai senjata, kukunya tumbuh panjang meruncing, tangannya membentuk layaknya cakar.


Hyat!


Tangan Patriark Yu menjulur mengincar wajah Zhou Fan. Namun, dengan memalingkan wajahnya ke samping Zhou Fan dapat menghindar.


Tak sampi di sana, Patriark Yu yang sudah dikuasai teknik terlarang menyerang membabi buta, tangannya terus mengais berusaha mencabik Zhou Fan.


Patriark Bai yang merasa saatnya bertarung langsung melompat membaur dalam pertempuran.


Zhou Fan berdecih mengetahui hal itu, dia lalu melancarkan teknik dewa pedang. Perlahan kobaran api semakin membesar, pemuda itu mulai merangsek mendesak kedua pria tua lawannya.


Tring....


Pedang Zhou Fan menebas memburu tubuh Patriark Yu, tapi kuku pria tua itu dapat menahan dan menimbulkan bunyi nyaring.


Zhou Fan yang dalam kapitan dia arah semakin membuas, dia semakin gencar melakukan serangkaian serangan.

__ADS_1


Patriark Yu mengibaskan tangan kanannya, Zhou Fan merunduk dan dengan cepat melesatkan tebasan tepat mengenai perut pria tua itu.


Blar!


Patriark Yu terjatuh dalam reruntuhan bangunan, tubuhnya tertimbun hingga menyisakan bagian atas tubuhnya.


"Tinggal satu!" ujar Zhou Fan singkat, matanya menatap tajam Patriark Bai.


Ekspresi Patriark Bai memburuk, melihat Zhou Fan dapat mengalahkan Patriark Yu yang secara kekuatan setara dengannya.


"Aku harus pergi!" gumam Patriark Bai dengan wajah cemas.


Dia seakan tahu alaram bahaya telah dibunyikan.


"Kau akan kemana?"


Zhou Fan tiba tiba muncul di hadapan Patriark Bai, seketika membuat wajah pria tua itu semakin memucat.


"Kau jangan menelan lebih dari yang bisa kau telan, sebaiknya kita akhiri perseteruan ini." Patriark Bai meragu untuk melanjutkan pertarungan.


"Setelah apa yang kau lakukan?" Zhou Fan tersenyum menyeringai, kemudian melanjutkan perkataannya. "Tidak mungkin!"


Bust....


"Sialan, aku juga bukan orang lemah!" ujar Patriark Bai sembari menerjang Zhou Fan.


Trang...


"Jangan harap lari setelah kau datang!"


Zhou Fan menyerang dengan seluruh kemampuannya, dia mengeluarkan juris serta teknik yang dapat ia gunakan.


Zhou Fan terus berputar, mengeluarkan teknik dewa pedang. Patriark Bai dibuat kewalahan dengan aksi pemuda itu.


Trang....


Keduanya bertatapan tajam, dengan jarak yang sangat dekat, Zhou Fan menarik pedangnya dan mengeluarkan jurus.


"Tebasan Ganda!"


Shing....


Bhoomm!


Desingan jurus tebasan ganda menggema diikuti dengan ledakan yang menghantam tubuh Patriark Bai.


"Kau! Huk..." Patriark Bai menyemburkan darah pekat dari mulutnya. Dia tak percaya dengan apa yang terjadi kepadanya.


Zhou Fan hanya diam memandang pria tua yang sudah tergeletak dengan mulut berlumuran darah, dia bahkan tak sanggup untuk bangun.


"Meskipun kau mengalahkan ku, kau tak akan bisa melindungi klan Zhou 'darinya' ... " Patriark Bai diam mengambil nafas yang sudah terasa sangat berat.


"Klan Zhou sudah di takdirkan hancur, dan itu pasti akan segera terjadi... Haha Huk... Haha, kau akan mengalami apa yang aku rasakan, kehilangan orang yang berarti bagimu. Nikmatilah waktumu selagi masih dapat bersama! Hahaha Huk..hah."


Patriark Bai menatap Zhou Fan tajam, tersirat dendam dan kemarahan yang sungguh tak dapat di ukur. Bahkan tengah kesulitan bernafasnya dia tak menurunkan pandangan matanya.


Zhou Fan diam terpaku, lalu dengan cepat mencengkram kerah pakaian pria tua yang sebentar lagi akan tiada.


"Siapa yang kau maksud? Siapa!" Mendengar perkataan patriark Bai, emosi Zhou Fan seketika memuncak, dia bahkan berteriak sangat kencang.


"Haha.. Semakin kau marah semakin aku puas, Huk huk... kau akan kehilangan orang terdekatmu, seperti aku yang kehilangan putraku di tanganmu! Huk huk.. " Patriark Bai tersenyum puas, meskipun dengan darah terus mengalir dari perutnya serta mulutnya.


"Siapa?!" tanya Zhou Fan dengan mengguncang tubuh sekarat patriark Bai.


"Hahaha.. Meskipun aku mati, aku tak akan mengatakannya." Patriark Bai mengatakan dengan nafas semakin lemah.


"Kau tak peduli nyawamu, tapi apakah kau tak peduli dengan klan Bai, aku akan menghancurkan klan Bai jika kau tak mengatakan semuanya kepadaku!" teriak Zhou Fan.


Cuih...


Patriark Bai meludah asal, kemudian memandang Zhou Fan dengan wajah penuh darah. "Menghancurkan? Heh, kau terlalu memandang tinggi dirimu, meskipun tanpa diriku, klan Bai tetap akan berdiri dengan bantuan 'mereka'."


Grtk...


Zhou Fan menggertakkan giginya kuat, perlahan dia mengangkat pedangnya.


"Jika kau sangat menginginkan kematian, maka...,"


Cras...


Pedang darah malam bergerak cepat menyambar leher Patriark Bai, bersamaan dengan sebuah kepala yang terlepas dari tempatnya.

__ADS_1


"Kau mati saja!"


__ADS_2