
"Tuan, siapapun anda, kami tidak menerima keributan di tempat kami." Zhang Xiaoyu berkata tanpa memandang Zhou Fan.
Walaupun tak memandangnya, Zhou Fan tahu untuk siapa perkataan barusan.
"Aku tak mencari masalah. Semua orang menjadi saksi, aku tak peduli apakah kau mempercayainya atau tidak." Zhou Fan berkata acuh.
"Pemuda ini..." Zhang Xiaoyu menggeram marah, namun ia sekuat tenaga untuk menahan kekesalannya.
Bagaimanapun dia harus menjaga nama baiknya, saat di hadapan orang ramai seperti sekarang.
"Siapapun itu, kami tak peduli. Kau harus meninggalkan tempat ini sekarang." Meskipun terdengar lembut, nampak jelas Zhang Xiaoyu menekan beberapa kata ucapannya.
"Apakah seperti ini pelayanan paviliun obat pada pelanggannya? Aku benar benar kecewa." Zhou Fan mengelengkan kepalanya.
"Hei, bocah rendahan! Apakah kau tak sadar tempatmu berdiri?" bentak Tuan Muda Shang kepada Zhou Fan.
"Memangnya apa yang salah?" tanya Zhou Fan acuh.
"Orang tuamu pasti salah mendidikmu, kau..." Sebelum berkata lebih lanjut, Tuan Muda Shang telah terjatuh dengan sebuah tangan mencekik lehernya.
"Jangan kau sebut orang tuaku!" Sebuah kilatan dari mata Zhou Fan yang sungguh membuatnya terlihat sangat mengerikan.
ZhouFan menindih badan Tuan Muda Shang, sembari mencekik lehernya kuat.
"A...Apa yang akan ka...kau lakukan?" tanya Tuan Muda Shang yang kini gemetaran di lantai.
"Kau takkan bisa membunuhku, aku adalah Tuan Muda Shang. Aku adalah putra kepala keluarga Shang, keluarga bangsawan nomor 2 di Ibukota." Tuan muda Shang berusaha menekan Zhou Fan menggunakan latar belakangnya.
Dia tak lagi dapat berontak, kekuatannya tak memadai untuk melakukannya.
Melihat bagaimana kecepatan pemuda berpakaian kumal dihadapannya, Zhang Xiaoyu merasa pemuda kumal tersebut tak semudah kelihatannya.
"Apakah dia berasal dari sakte besar?" Pertayaan tersebut melintas di benak Zhang Xiaoyu, kerena hanya latar belakang sakte besar yang tidak gentar saat berhadapan dengan keluarga bangsawan.
"Apa yang kalian berdua lakukan!" Teriakan lebih keras terdengar mengintimidasi. Seorang pria tua mendekat dengan beberapa pelayan di belakangnya.
"Guru!" sapa Zhang Xiaoyu kepada pria tua tersebut.
"Kenapa kalian ribut di paviliun obat-ku?!" tanya pria tua itu yang tak lain adalah Sin Taihan dengan nada tinggi.
Zhou Fan melepaskan cengkramannya pada Tuan Muda Shang saat melihat siapa yang datang.
Mendengar Zhang Xiaoyu memanggilnya dengan sebutan guru, tentu Zhou Fan langsung mengetahui siapa pria tua tersebut. Kepala paviliun obat, sang alkemis agung.
Tuan Muda Shang juga berdiri tak lama setelah Zhou Fan melepaskan cengraman di lehernya.
__ADS_1
Sambung berusaha berdiri tuan muda Shang nmenepuk-nepuk pakaiannya, melirik Zhou Fan dengan dengusan kecil keluar darinya.
"Apa yang kau lakukan anak muda?" Sin Taihan bertanya kepada Zhou Fan.
"Memukul orang, tapi kau menghentikan nya." keluh Zhou Fan.
Eh...
"Hei, apakah kau tak tahu siapa yang ada di hadapanmu!" Zhang Xiaoyu berteriak kesal, baru pertama kali dalam hidupnya menjumpai orang yang tak hormat kepada gurunya.
"Kau berteriak di hadapannya, apakah kau tak menganggap dia ada?" Pertanyaan Zhou Fan membuat Sin Taihan tersenyum, tapi hanya sesaat, jadi tak ada yang mengetahuinya.
Sementara Zhang Xiaoyu terdiam, dia tanpa sadar lepas kendali di hadapan gurunya.
"Apa yang kau katakan..." Belum sempat tuan muda Shang menyelesaikan ucapannya lirikan tajam sudah mengarah ke arahnya.
Seketika tuan muda Shang menutup mulutnya rapat rapat kerana melihat tatapan mengerikan Zhou Fan.
"Tuan Muda Shang, sebaiknya kau kembali terlebih dahulu. Kau terlihat pucat," saran Sin Taihan dengan senyum ramah.
Dengan wajah enggan tuan muda Shang pergi meninggalkan paviliun obat, dia pergi sambil terus menggerutu.
"Dan kau anak muda, ikutlah denganku!" Sin Taihan beranjak setelah mengatakan hal tersebut.
Semua orang yang tadinya berkumpul mulai membubarkan diri, mereka percaya pemuda kumal itu akan mendapatkan pelajaran dari ketua Sin Taihan.
"Masuklah!" Sin Taihan menyerah Zhou Fan masuk ke dalam ruangan pribadinya.
Zhang Xiaoyu pun mengekor tanpa di suruh, karena dia sudah terbiasa dengan itu.
Sin Taihan duduk di sebuah kursi santai, menyisakan Zhou Fan dan Zhang Xiaoyu berdiri di dekatnya.
"Aku tahu kau adalah pemuda yang dibicarakan di kota kapur putih." Sin Taihan menatap Zhou Fan.
Sedangkan Zhang Xiaoyu nampak terkejut dengan perkataan sangat guru.
"Paviliun obat memang memiliki arus informasi yang mengagumkan. Tapi bagaimana ketua dapat mengetahui hanya dengan sekali pandang," ucap Zhou Fan penasaran.
"Haha... Jika orang lain, aku yakin tak bisa mengenalimu. Tapi aku sangat mengenal pedang di punggungmu, meskipun kau balut seberapa tebal pedang itu," jawab Sin Taihan bangga.
Zhou Fan melirik pedang di belakang punggungnya yang sudah terbalut kain hitam tipis.
"Kau tak perlu begitu terkejut. Meskipun aku gagal aku dulu pernah mencoba mengangkatnya, jadi aku sedikit familiar dengan aura yang dikeluarkannya. Seorang alkemis sangat peka dengan hal hal sepele seperti itu," ucapnya kembali.
Zhou Fan hanya mengangguk mendengar penjelasan ketua paviliun obat tersebut.
__ADS_1
Sementara Zhang Xiaoyu tengah bergulat dengan pikirannya.
Wanita itu sangat mengagumi pemuda yang sanggup mengalahkan petarung raja bintang 1 di kota kapur putih, dia tak menyangka pemuda yang dia kagumi sekarang berdiri tepat disampingnya.
Zhang Xiaoyu menatap Zhou Fan dengan mata berbinar.
Zhou Fan yang merasa seseorang manatapnya pun mencari sosok tersebut, dan saat dia menoleh ke samping kanannya, Zhang Xiaoyu menatap dirinya dengan mata penuh bintang.
"Kanapa wanita ini?" tanya Zhou Fan dalam hati.
Ehem!
Deheman ketua Sin Taihan membuat Zhang Xiaoyu tersadar, wanita itu dengan cepat memalingkan wajahnya kemudian pamit undur diri dengan wajah memerah.
Sin Taihan menggeleng melihat prilaku Zhang Xiaoyu, wanita muda yang sudah dianggapnya sebagai putrinya sendiri itu tak pernah bertingkah seperti apa yang dia lakukan terhadap Zhou Fan.
Zhou Fan hanya diam, dia tak mengerti ada apa dengan Zhang Xiaoyu.
Mereka berdua akhirnya berbincang bincang di ruangan pribadi Sin Taihan.
Pembicaraan mereka tak terlepas daripada pedang darah malam yang Zhou Fan miliki.
Sin Taihan masih penasaran akan pedang yang membuat semua orang kecewa karena tak bisa memilikinya.
Sin Taihan bahkan mencoba pedang tersebut. Zhou Fan memperbolehkannya, karena dia tahu tak akan ada yang bisa mengeluarkan potensi pedang darah malam kecuali pemilik sahnya, yang saat ini adalah dia.
"Pedang ini tak ada bedanya dengan pedang biasa. Bahkan pedang ku lebih baik darinya." Sin Taihan menyerahkan pedang darah malam kepada Zhou Fan dan mengeluarkan pedang miliknya.
"Hehe..." Zhou Fan terkekeh kemudian menjelaskan alasannya.
"Pedang pusaka ini hanya akan mengeluarkan potensinya saat digunakan oleh pemilik sah yang dipilihnya. Jika di gunakan oleh orang lain pedang ini akan seperti besi batangan tak memiliki kelebihan," jelas Zhou Fan.
Sin Taihan terkejut mendengar penjelasan Zhou Fan. "Kau menjelaskannya kepadaku, apakah kau tidak curiga aku akan mengambil pedang itu darimu?"
"Huh... meskipun kau membunuhku, kau tak akan bisa mendapat pengakuan darinya," ujar Zhou fan dengan santai.
"Bukankah berarti, kau tidak akan khawatir pedang darah malam ini direbut darimu?" Sin Taihan mengut mangut.
"Tidak juga, meskipun tidak dapat mengguanakannya, pedang darah malam merupakan barang berharga, sarat akan nilai sejarah." Zhou Fan hanya memasang wajah tersenyum bangga, sambil sesekali melirik pedangnya.
***
Sementara di luar ruangan seorang wanita berdiri membelakangi pintu dengan tangan memegang dadanya.
"Hatiku berdebar saat mengetahui dia adalah pemuda yang aku cari," seru Zhang Xiaoyu dengan pipinya yang bersemu merah.
__ADS_1
Ekspresi wajah wanita itu perlahan memburuk saat mengingat apa yang telah terjadi.
"Apakah dia mau bersamaku setelah aku memandang rendah dirinya?"