Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 167 : Kaisar, Sang Ayah Mertua


__ADS_3

Dengan pandangan menunduk dia mulai masuk barisan, dia berdiri di samping seorang pemuda seusianya.


Saat Zhou Fan masih memandang kebawah layaknya orang yang telah berbuat salah, pemuda di sampingnya menepuk bahu.


"Hei, kawan... Lama tidak bertemu." pemuda itu menyapa dengan suara pelan, lebih tepat berbisik.


Zhou Fan mengangkat wajahnya, memandang pemuda berkulit hitam, Zhou Fan menajamkan matanya, dia seperti pernah melihat pemuda di sampingnya.


Dia mengingat dengan keras. "Siapa pemuda bermuka hitam ini?"


'Hitam'


Ketika mengatakan kata hitam dia membulatkan matanya, dia memandang lekat pemuda itu.


"Lee?"


"Yah... Akhirnya kau mengingatku," ucap Lee masih dengan suara pelan.


"Aku tak mengira akan bertemu denganmu, tapi kenapa kau berniat menjadi prajurit? Juga penampilanmu ... " Lee terkekeh dengan tangan mengarah ke wajah Zhou Fan.


"Cih, diam kau!" sentak Zhou Fan dengan suara tertahan.


"Semuanya ... Diam!" Prajurit itu berteriak lantang, pandangannya menatap tajam ke arah Zhou Fan juga Lee.


Prajurit itupun membawa puluhan orang ke tempat penampungan prajurit pemula, tempat di mana para prajurit baru menyesuaikan diri dengan peraturan istana.


Saat melihat belokan beberapa kaki dari rombongan, Zhou Fan mendekatkan wajahnya ke telinga Lee.


"Aku harus pergi, aku akan menemuimu nanti," pesan Zhou Fan pada temannya.


Baru saja Lee ingin bertanya apa yang akan dilakukan Zhou Fan, tapi pemuda itu sudah melesat menghilang.


....


"Sial, kenapa banyak sekali ruangan!" ujar Zhou Fan dalam hati, dia sudah berputar putar, tapi hanya ada ruangan kosong, dan juga beberapa prajurit yang sedang berpatroli.


Beruntung Zhou Fan dapat menghindar, atau dia akan diteriaki penyusup sebelum bertemu dengan 'ayah mertua'.


"Yang Mulia sungguh terlalu memaksakan diri, beliau menggunakan pill naga untuk memaksa menerobos tingkatannya."


Zhou Fan menarik dirinya untuk bersembunyi saat dua orang prajurit melintas di depannya, tapi bukan itu yang menjadi perhatiannya, perkataan keduanya lebih memikat pikirannya.


Pill naga? Zhou Fan sangat jelas dengan jenis pill ini, meskipun dapat membantu menerobos tingkatan dengan paksa, tapi akan menimbulkan letupan di dalam tubuh, jika tidak segera di atasi akan menyebabkan kerusakan fatal, dan bertahap akan kehilangan nyawa.


Zhou Fan dengan cepat melesat ke arah ruangan yang baru saja dua prajurit tersebut masuki, Zhou Fan memeriksa dari luar, dia dapat merasakan kehadiran dominan yang ia tebak adalah Yang Mulia Kaisar.


Ngeeek.... Brak!


Zhou Fan menutup pintu ruangan setelah membukanya sedikit, dia masuk dan menemukan Kaisar Wei tengah duduk bersemedi dengan wajah berkeringat.

__ADS_1


"Terlalu memaksakan diri," ucap Zhou Fan sambil mendekati Wei Huan, dia kemudian duduk dan menempelkan telapak tangannya di punggung Kaisar.


Perlahan ekspresi Kaisar Wei berubah, keningnya yang mengerut perlahan kembali normal, meskipun dalam keadaan mata terpejam dia merasakan kehadiran seseorang, tapi dia memilih untuk tetap meneruskan kegiatannya, karena menilai tidak ada niatan buruk darinya.


Zhou Fan menyalurkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuh Kaisar Wei, dahinya berkerut, keringat sudah membasahi tubuhnya, tenaga dalamnya tak cukup.


"Pill naga memang bukan pill kaleng, sepertinya Kaisar Wei akan berutang budi kepadaku," ucap Zhou Fan sambil mengeluarkan pill pemulihan dan segera menelannya.


.


.


.


Kaisar Wei yang semula masih menutup kedua matanya, perlahan membuka mata.


Zhou Fan yang melihat Kaisar Wei sudah selesai, berdiri kembali menelan pill pemulihan.


"Terima..." ucapannya menggantung melihat yang membantunya adalah seorang pemuda berpakaian lusuh.


Dalam pikirannya orang yang membatunya adalah penatua Du, penasihat sekaligus orang kepercayaannya.


Melihat wajah bingung Kaisar Wei, dengan segera Zhou Fan mengenalkan diri.


"Salam, ayah mertua?!" Zhou Fan membungkuk setengah badan.


Kaisar Wei, Wei Huan alisnya berkedut, ekspresi tak percaya terlukis di wajahnya.


"Kau siapa anak muda?" Wei Huan bertanya dengan wibawa yang terpancar keluar darinya.


"Ah... Maafkan saya ayah mertua, nama pemuda ini, Zhou Fan." Zhou Fan mengatakan sambil menangkup tangan.


"Kenapa dia selalu menyebutku ayah mertua?" batin Wei Huan sambil berusaha tetap tenang.


Wei Huan menajamkan matanya, memeriksa kekuatan pemuda bernama Zhou Fan.


"Di.. Dia petarung raja bintang empat?" Wei Huan membatin dengan suara tertahan, tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Sementara Zhou Fan tersenyum samar, dia sengaja tidak memakai cincin penekan kekuatan, karena berpikir akan lebih mudah mendapatkan kepercayaan Kaisar Wei jika dia membuka kekuatannya.


Wei Huan melirik Zhou Fan, pemuda itu tersenyum membalas lirikan sang 'ayah mertua'.


"Terimakasih, kau sudah membantuku, jika tidak aku tidak akan bisa menerobos, bahkan kehilangan nyawa." Wei Huan mengucapkan dengan suara tulus.


"Tidak masalah, Ayah mertua, sesama keluarga harus saling membantu," ucap Zhou Fan santai, tapi ucapan santainya membuat Wei Huan pusing tujuh keliling.


"Kau dari tadi menyebutku ayah mertua, sebenarnya siapa yang ayah mertuamu? Aku tak mengingat pernah mempunyai menantu seorang pemuda, apakah kau salah orang?" ujar Wei Huan bingung.


Seingatnya hanya anak pertama nya yang sudah menikah, tapi anak pertamanya adalah seorang pria, tidak mungkin kan pemuda di hadapannya adakah selir putranya.

__ADS_1


"Aku tidak salah orang, Anda lah yang kumaksud, Yang Mulia," ucap Zhou Fan.


"Apakah ini pemuda yang dimaksud Lin'er?" Sekali lagi Wei Huan mengamati Zhou Fan dari atas sampai ke bawah.


"Apakah yang kau maksud Lin'er?" tanya Wei Huan meyakinkan.


"Hem... Ya," jawab Zhou Fan ragu.


"Lalu kenapa kau kemari? Apakah kau mencari Lin'er? Kau tidak akan menemukannya," ujar Wei Huan kepada Zhou Fan.


"Tidak, bukan itu yang menjadi prioritas aku untuk kemari, aku tahu Lin'er tidak berada di Kekaisaran Wei, bahkan aku tahu apa yang membuat ayah mertua memaksa Lin'er," ujar Zhou Fan tak lagi terlalu formal.


"Memang apa yang kau tahu?" Wei Hua tak percaya pemuda di hadapannya mengetahui permasalahannya.


"Pemberontakan perkumpulan gerhana," ucap Zhou Fan singkat.


Wajah Wei Huan seketika berubah, dia memeriksa keadaan sekitar, kemudian mengajak Zhou Fan ke tempat rahasia, ruangan bawah tanah miliknya.


Brt...


Getaran kecil terasa bersamaan dengan terbukanya jalan menuju ruangan bawah tanah.


Wei Huan berjalan di depan, tangannya menarik sebuah tuas di dinding.


Jglek...


Seketika ruangan yang semula gelap gulita diterangi obor yang entah dari mana asal apinya.


Di Sana terdapat meja besar berbentuk kotak, Wei Huan duduk di salah satu kursi dan menyuruh Zhou Fan untuk dduk di dekatnya.


Zhou Fan tak bisa berkata, dia tak mengira istana Kekaisaran akan mempunyai tempat serahasia ini.


"Sekarang katakan apa yang kau ketahui tentang perkumpulan gerhana, sepertinya kau memang datang untuk masalah ini." Wei Huan menunggu Zhou Fan berkata.


Meskipun dia sudah mengetahui pergerakan perkumpulan gerhana, dia tidak mengetahui siapa dalang utama kelompok pemberontak tersebut.


Zhou Fan menceritakan semua yang ia ketahui, bahkan dia menceritakan tujuan sebenarnya perkumpulan gerhana, tapi dia tidak mengatakan tentang giok prisma yang ada padanya.


Setelah mendengar penjelasan serta kisah pemuda yang merupakan kekasih putrinya, Wei Huan tertawa bahagia.


Hahaha...


"Lin'er memang tidak salah pilih, dia mempunyai mata yang bagus, seperti ibunya." Wei Huan tanpa sadar menarik sudut bibirnya.


"Tapi aku tak akan melepaskanmu begitu saja, Lin'er bahkan lebih memilih membelamu dari pada diriku, ayah kandungnya!" sambung Wei Huan dalam hati.


Meskipun perjodohan yang ia sampaikan merupakan cara agar putrinya menjauh darinya tanpa ragu, dia merasa tidak puas saat putrinya lebih membela kekasihnya dari pada dirinya.


...

__ADS_1


__ADS_2