Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 151 : Desa Daun Hijau


__ADS_3

Satu bulan telah terlewati, selama satu bulan Zhou Fan di paksa kerja lembur oleh Zhou Fei. Dia membuat pill kultivasi tingkat tiga yang jumlahnya tidak sedikit, setidaknya itu dapat memenuhi kebutuhan Klan Zhou dalam satu tahun.


"Kau sungguh pemuda yang berbakti..." Zhou Fei mengatakan dengan menepuk pelan pundak Zhou Fan, tak ketinggalan juga dia memasang senyum puas di wajahnya.


"Huh.. Jika bukan ibu yang memaksaku, aku tak akan menyanggupi keinginan pria tua ini." Zhou Fan menggerutu kesal dalam hati.


Semua orang Klan Zhou sekarang sudah mengetahui, bahwa mereka mempunyai alkemis hebat, tapi mereka tak tahu siapa alkemis tersebut, yang mereka tahu alkemis tersebut tidak lebih rendah dari alkemis tingkat dua.


"Sudahlah, aku kembali saja. Di sini pemandangannya sangat merusak mata, hanya ada pria tua." Zhou Fan mengatakan sambil berlalu pergi.


"Dasar sialan!" Zhou Fei seketika berdiri dari duduknya, seakan ingin menyerang Zhou Fan. Namun dia tak akan melakukannya, karena pemuda itu sungguh berjasa bagi klan Zhou.


Zhou Fei menghela nafas rendah, kemudian kembali duduk di kursi kebesarannya. "Pemuda jenius telah terlahir dalam Klan Zhou, entah apa yang menutupi mataku, sehingga tak bisa mengenali rubi, yang aku kira adalah batu kali ternyata adalah rubi."


Zhou Fei diam diam menyesali perlakuannya kepada Zhou Fan, andai pemuda itu ingin, dia bisa memilih untuk acuh kepada Klan Zhou, Klan yang tak pernah memandangnya, tapi dia tak melakukannya.


....


"Ibu, aku akan pergi ke Kota Kapur Putih." Ucapan Zhou Fan yang sangat tiba-tiba membuat Zhou Qian membuka mata lebar.


"Kau baru saja kembali, kenapa kau sangat suka berpergian?" tanya Zhou Qian dengan wajah sedu.


"Ibu, masalah penyerangan Klan Zhou merupakan pemikiran orang luar, bukan hanya kedua Klan itu yang terlibat, jika tidak mencarinya, maka Klan Zhou tak akan tenang. Juga pelaku sesungguhnya kemungkinan merupakan dalang di balik kematian kakek."


Zhou Fan membeberkan apa yang menjadi pertimbangannya, ia mengatakannya agar sang ibu mendukung serta mendoakannya.


"Ibu, aku meminta restumu, aku berjanji akan baik baik saja, aku sudah berada di tingkat petarung raja bintang bintang dua, aku akan baik baik saja." Zhou Fan terus membujuk Zhou Qian.


Mendengar perkataan putranya dia tak lagi bisa tenang, meskipun sudah bertahun-tahun berlalu, masalah fitnah terhadap keluarganya adalah sesuatu yang sangat membuatnya terpuruk.


"Aku akan ikut bersamamu!" Tiba-tiba suara tegas terlontar dari belakang Zhou Fan.


Spontan Zhou Fan membalikkan badannya, mendapati ayahnya sudah berdiri dengan rahang mengeras.


"Ayah, kau tak perlu ikut bersamaku," ucap Zhou Fan.

__ADS_1


"Apakah kau meragukan ayahmu?" tanya Zhou Hu dengan suara serak.


"Bukan begitu ayah, Kau merupakan tiang penting dalam Klan Zhou, jika kau pergi, serta ada yang menyerang Klan Zhou, dapat dipastikan Klan akan hancur tak tersisa, tolong ayah pertimbangkan." Zhou Fan melirik Ibunya agar sangat ibu dapat membantu manahan ayahnya.


"Yang dikatakan Fan'er ada benarnya, kau harus tetap tinggal, karena jika kejadian penyerangan terulang kembali, akan sangat sulit mempertahankan Klan Zhou jika tanpa kehadiranmu, suamiku." Zhou Qian mendekati Zhou Hu.


"Tapi aku juga ingin menghadapinya," Zhou Hu masih bersikukuh.


"Kau harus tetap tinggal tetua kelima, jika kau pergi, maka Klan Zhou akan kehilangan satu pelindung tingkat petarung raja."


"Patriark?" Zhou Fan serta kedua orang tuanya sedikit terkejut akan kemunculan Zhou Fei yang sangat tiba-tiba.


"Owh... Aku hanya berniat berkunjung, tak sengaja aku mendengar perdebatan kalian, jadi tak sadar memberikan pendapat." Zhou Fei mengatakan apa yang memang sebenarnya.


Huft...


Zhou Hu menghela nafas, kemudian memandang putranya lekat-lekat.


"Kau harus hati hati, dan kau harus membalaskan dendam kakekmu serta Klan Zhou. Meskipun ayah tak bersama denganmu, percayalah ayah selalu mengharapkan yang terbaik untukmu." Zhou Hu memeluk putranya, seakan meraka akan berpisah untuk selamanya.


....


Tak membutuhkan waktu lama, sekitar satu jam Zhou Fan sudah berada di depan gerbang desa tersebut.


Zhou Fan menunjukkan token masuk ke desa, namun tokennya telah habis masa penggunaannya, dia pun kembali membuat token baru.


Setelah membuat token berdurasi satu tahun, Zhou Fan masuk dan menuju gadung paviliun obat.


Ternyata setelah satu tahun, sangat jelas terlihat perbedaan di desa ini, bangunan bangunan sudah banyak berdiri, yang sebelumnya hanya bangunan berlantai satu, sekarang berubah berlantai dua bahkan tiga.


Zhou Fan memasuki gedung paviliun obat, meskipun tidak dapat dibandingkan dengan kemegahan gadung paviliun obat di Ibukota, gedung di sini telah diperbagus.


Baru satu langkah dia menginjakkan kakinya di gedung paviliun obat, seorang pria paruh baya menghentikannya, pria paruh baya yang sama saat dia pertama kali datang, Long Jiu.


Zhou Fan tak menyapa, karena dia tak lagi memakai identitasnya sebagai Su Fan. Dia sekarang memakai pakaian biru laut dengan pedang berwarna merah darah menggantung di belakang punggungnya.

__ADS_1


"Selamat datang tuan muda, adalah yang dapat orang tua ini bantu." Long Jiu membungkuk sedikit kepalanya, dia dapat mengetahui pemuda di hadapannya sekarang bukanlah pemuda abal-abal.


Long Jiu mempunyai intuisi yang kuat dalam mengenai orang hebat, dan dia sangat yakin dengan kelebihannya, seakan orang hebat memancarkan aura lebih cerah dari yang lain di matanya.


"Hem ... Aku ingin bertemu dengan Ketua Chen, apakah beliau ada?" Zhou Fan bertanya dengan sopan.


"Ketua Chen tengah sibuk meracik pill kultivasi tingkat ke tiga, dia mungkin memerlukan seharian penuh untuk membuat satu atau dua pill." Long Jiu mengatakan dengan nada menyesal.


"Bisakah aku melihat Ketua Chen membuatnya?" tanya Zhou Fan.


"Emn... Sepertinya tidak bisa, karena Ketua Chen akan terganggu dengan hal itu, sebaiknya tuan muda kembali terlebih dahulu, besok atau lusa baru datang kembali," pinta Long Jiu.


"Aku tak bisa menunggu, aku harus segera melanjutkan perjalananku," batin Zhou Fan.


"Jika begitu apakah Tetua He dapat bertemu? Aku tak mempunyai banyak waktu," ujar Zhou Fan.


Long Jiu menyipitkan matanya, seketika dia merasakan niatan buruk dari pemuda di hadapannya.


"Apa yang sebenarnya ingin kau lakukan?" Long Jiu tak lagi memakai suara pelan.


Zhou Fan terkejut saat mendengar nada bicara Long Jiu yang berubah. "Aku..."


"Ada apa Long Jiu, kenapa kau berkata begitu terhadap pengunjung." Seorang pria tua menyela dengan suara santai.


"Tetua He, pemuda ini..."


"Kebetulan Tetua sudah datang, ada yang ingin aku bicarakan dengan tetua." Ucapan Zhou Fan membuat Tetua He mengerutkan keningnya.


Long Jiu yang menyadari raut kebingungan dalam wajah Tetua He, dengan segara menjelaskan duduk perkara, meskipun hanya sebagian besar saja.


"Baiklah, mari kita bicara di ruanganku, tidak sopan berbincang sambil berdiri," ajak Tetua He kepada Zhou Fan.


Zhou Fan pun mengekor pria tua berambut putih, tak ada sepatah kata pun yang terlontar saat keduanya berjalan, sampai Tetua He mempersilakan Zhou Fan masuk ke dalam ruangannya.


"Masuklah Tuan Muda Su!"

__ADS_1


__ADS_2