
"Ketua Sin, apakah kau sungguh tidak mengulurkan tangan untuk mencegah Wei Jia?" tanya Zhou Fan.
Meskipun paviliun obat tidak memiliki kekuatan besar kayaknya sekte pedang suci, mereka adalah pemasok utama pill dalam wilayah Kekaisaran Wei, jika mereka berpihak ke salah satu kekuatan besar, dapat dipastikan akan sangat membantu.
"Tidak, tidak ada untungnya bagiku jika malakukannya, lebih baik diam dan menunggu pertempuran berakhir, siapapun yang memang pasti paviliun obat yang diuntungkan." Tetua Sin beranjak dari kursi goyang.
"Maksud anda?"
Huh...
"Siapapun yang menang tidak berpengaruh terhadap paviliun obat, dengan adanya pertikaian ini, malah dapat menguntungkan paviliun obat ... "
"Kekacauan dimana-mana, demi menjaga dirinya, ataupun hasrat menjadi kuat semua orang akan membutuhkan sumber daya, di situlah celah paviliun obat mendapatkan keuntungan." Ketua Sin duduk di kursi kerja miliknya, dan mulai membuka lembaran lembaran yang ada di sana.
"Apakah anda akan benar-benar membiarkan Kekaisaran Wei jatuh ke tangan orang yang salah? Apakah anda benar benar merupakan orang Kekaisaran Wei?" Zhou Fan tampa sadar meninggikan suaranya.
"Khe khe... Kau jangan bicara sembarangan, aku adalah orang Kekaisaran Wei, aku lahir dan besar di Kekaisaran Wei, tapi jangan lupakan aku adalah seorang pebisnis, tidak akan melakukan sesuatu yang merugikan." Ketua Sin berhenti memeriksa lembaran, tapi pandangannya masih tertuju ke arah lembaran di tangannya.
Zhou Fan pergi setelah berpamitan, wajahnya tampak murung, dia tak mengira paviliun obat yang seharusnya dapat menjadi dukungan besar akan memilih angkat tangan.
Saat Zhou Fan keluar, dia berpapasan dengan Zhang Xiaoyu.
"Kau sudah sele ... " ucapannya menggantung di bibir, gadis itu menyapa tapi Zhou Fan tidak menghiraukannya, dia terus berjalan dengan tatapan serius.
"Apa yang terjadi?" Zhang Xiaoyu membatin sambil menggaruk tengkuk kepalanya.
Zhang Xiaoyu mengedikkan bahunya setelah berpikir dan tak berhasil mendapatkan jawaban.
Zhou Fan tak tahu hendak pergi kemana, dia pun memutuskan singgah di sebuah kedai.
Zhou Fan duduk di pojokan, terlarut dalam pikirannya, dia merasa tujuan perkumpulan gerhana tidak sederhana.
"Jika hanya sekedar merebut kekuasaan, dia tidak perlu susah payah menghancurkan Klan juga keluarga hanya demi sebuah giok," Zhou Fan memandang liontin peninggalan Klan Zhou.
Zhou Fan kembali menyimpan liontin berbentuk prisma itu dalam cincin penyimpanan, saat mendapati seorang wanita paruh baya mendekat dengan nampan berisi makanan yang ia pesan.
Ah!
__ADS_1
Zhou Fan mendesah kesal, kepalanya sampai berdenyut memikirkan tentang perkumpulan gerhana.
Zhou Fan makan dengan perlahan, sambil menyuapkan makanan dia sesekali berpikir, tapi tidak ada juga yang dapat ia simpulkan.
Zhou Fan berdiri dan mendekati kasir, dia mengeluarkan sejumlah koin yang dikatakan.
Bersamaan dengan itu seorang pria botak berotot mendekat dan berkata kepada kasir wanita.
"Ambil saja kembaliannya!" Dia berkata sambil tersenyum menggoda pelayan wanita di sampingnya.
Zhou Fan menatap aneh pria botak yang terlihat berumur tiga puluhan tahun.
"Petarung raja?" Zhou Fan menyipitkan mata saat melihat tingkatan pria botak, kemudian mengalihkan pandangannya ke semua sudut ruangan.
Matanya semakin menyipit saat menjumpai beberapa petarung raja lainnya. Meskipun petarung raja tidak sedikit, petarung raja masih tergolong tingkatan langka, tapi ada beberapa petarung raja di satu kedai membuatnya berpikir di luar akal.
Jika terdapat suatu acara ataupun turnamen, merupakan hal wajar jika beberapa petarung raja berada dalam kumpulan, tapi ini hanyalah sebuah kedai kecil.
Saat pria botak hendak pergi, Zhou Fan menarik tangan pria botak dengan cepat.
Sambil menarik dia membalik telapak tangannya, pria botak langsung menghempaskan tangan lainnya berniat menyerang Zhou Fan.
Ayunan tangan pria botak di tahan oleh Zhou Fan.
"Aku seperti pernah melihat gelang yang kau pakai, aku kira kau adalah teman masa kecilku, ternyata tidak." Zhou Fan menggoyangkan tangan sambil memasang senyum canggung.
"Hati hati jika bertindak, beruntung suasana hatiku lagi baik, jika sedang buruk, kau pasti akan menyesalinya." Pria botak mencengkram bahu Zhou Fan dengan menggunakan sedikit tenaganya.
"Ya... Aku akan lebih hati hati." Zhou Fan menurunkan tangan pria botak.
Pria botak melongo ketika tangan kokohnya terangkat oleh pemuda di hadapannya. Pasalnya pria botak menggunakan separuh kekuatannya untuk memperingati Zhou Fan.
Pria botak berbalik pergi dengan wajah bingung, dia berjalan menghampiri teman temannya.
"Kau kenapa?" tanya salah seorang temannya.
"... Bukan masalah!" Pria botak mengangkat tangannya, dia beranggapan kejadian tadi hanyalah sebuah kebetulan.
__ADS_1
Pria botak beserta ketiga temannya pun pergi meninggalkan kedai, saat akan keluar pintu, dia melirik sekilas pemuda yang membuatnya linglung sesaat.
Zhou Fan melihat tangannya, kemudian memandang ke arah pintu. "Perkumpulan gerhana sudah mulai bergerak, seharusnya mereka merupakan anggota inti dari perkumpulan gerhana, mengingat penjelasan tua bangka itu."
.....
"Sebenarnya apa yang terjadi, kau terlihat buruk setelah berdebat dengan pemuda tadi?" Pria berpakaian hitam mendekat ke pria botak.
" ... Aku merasa pemuda itu tak semudah yang terlihat!" ujar pria botak.
"Maksudmu?" tanya yang lain, keempatnya bercakap sambil terus bergerak.
"Saat aku menapak pundaknya, dia tidak seperti mengalami kesakitan, padahal aku menggunakan seperempat kekuatanku di dalamnya." Pria botak mengatakan dengan wajah bingung.
"Cis... Aku kira penting, ternyata tidak!" Pria paling muda berkata dengan nada malas.
"Tidak hanya itu, dia bisa mengangkat lenganku saat aku mengerahkan separuh kekuatanku," tambah pria botak.
"Saat aku melihat kekuatannya, tidak ada celah sedikitpun untuk memperdalamnya, hanya ada kumparan awan hitam, gelap!" Pria botak mengatakan dengan melirik ketiga temannya.
"Aku rasa kau salah lihat, tidak mungkin seorang pemuda yang terlihat berusia dua puluh dua tahun mempunyai kultivasi di atas kita." Pria berpakaian hitam berkata sambil tertawa.
"Aku juga berpikir demikian, tidak mungkin dia mempunyai kekuatan setingkat petarung raja bintang satu seperti mu, apalagi di atasmu, kau pasti salah lihat!" ujar pria berambut kriting berperawakan cungkring.
Pria botak diam sambil berusaha menyikapi kedua rekannya, meskipun dia sendiri tidak begitu yakin dengan pemikiran tersebut.
"Disini ternyata kalian!"
Suara lantang yang seperti terdengar dari langit. Keempat pria itu seketika berhenti dan menengadahkan kepala ke atas mencari asal suara, tapi tidak juga menemukan apa yang mereka cari.
"Siapa?!" Pria berpakaian hitam berteriak sambil memutar tubuhnya, tapi pandangannya senantiasa mengarah ke atas.
Ketiga orang lainnya juga melakukan apa yang dilakukan pria berpakaian hitam, menengadahkan kepala berusaha mencari pemilik suara.
"Aku disini bodoh!"
Suara itu terdengar kesal, dia sudah berdiri di hadapan mereka, tapi malah tidak sebanding dengan langit kosong tak berawan.
__ADS_1
Perlahan keempat pria paruh baya menurunkan pandangannya, matanya menelisik sosok di hadapannya. Dan alangkah terkejutnya saat melihat jelas siapa sosok tersebut.
"Kau?!"