
"Namun sayang aku tak bisa menyaksikan pertandingan, aku terlalu sibuk sekarang, bahkan mungkin pertandingan akan segera dimulai."
Boom...
Begitu mendengar kalimat tersebut, Zhou Fan seketika mematung, lalu berganti dengan ekspresi buruk.
"Sial... Kau pasti bercanda." Zhou Fan melesat dengan kecepatan tinggi, dia harus segera sampai di pusat kota atau dia akan terlambat.
Zhou Fan terus menggerutu dalam perjalanan, ada saja yang dapat ia jadikan pelampiasan.
Begitu sampai di pusat kota, keadaan belum seramai yang ia bayangkan.
"Apakah sudah selesai?" gumam Zhou Fan sambil celingukan ke sana kemari.
"Akan aku pastikan aku lah yang akan menjadi pemenang," ucap seorang pemuda yang berjalan melalui Zhou Fan.
"Hei... Apakah acaranya belum dimulai?" tanya Zhou Fan sambil memegang bahu pemuda yang melintas di depannya.
Dua pemuda itu berhenti dan melirik Zhou Fan dari atas sampai ke bawah, keduanya lalu mendengus bersamaan.
"Sebaiknya kau lupakan tentang duel itu," ucap salah satu diantaranya.
"Ha?" Zhou Fan menaikkan sebelah alisnya.
"Iya, sebaiknya kau pulang dan tidur bersama ibumu. Kau tak pantas untuk ikut pertandingan, sekali pukul juga tepar." Pemuda lainnya menyahuti, lalu berjalan menjauh bersama temannya.
"Seorang sampah mau ikut bersaing? Heh!" perkataan keduanya masih terdengar walau jaraknya sudah agak jauh.
Kedua pemuda itu melangkah sambil menggelengkan kepala, mereka tidak dapat melihat kekuatan Zhou Fan, mereka menganggap Zhou Fan hanya pemuda biasa.
"Sepertinya acaranya belum dimulai," gumam Zhou Fan sambil menghela nafas lega.
Zhou Fan teringat perkataan pria tua yang membuatnya lari tunggang langgang ke pusat kota, ia pikir akan terlambat mengikuti pendaftaran, tapi saat berada di tempatnya bahkan belum banyak orang yang datang.
Memikirkan hal itu membuatnya sangat kesal, dia merasa dipermainkan.
Beberapa saat kemudian pusat kota mulai ramai, beberapa orang berpakaian mewah datang beserta pengawal yang berdiri di samping kanan juga kiri.
Zhou Fan yang tak tahu bahwa dia berada di tengah jalan, tiba tiba terdengar sentakan dari arah belakangnya.
"Minggir kau orang liar! Beraninya kau menghalangi jalan tuan muda Jun!" pengawal pria bermuka garang berkata dengan suara lantang.
Suara yang menggelegar membuat beberapa orang mengalihkan pandangan.
__ADS_1
Jun Yelu yang merasa tak asing dengan pemuda di hadapannya mencoba mengingat wajah tersebut.
Hahahah
Tiba tiba Jun Yelu tertawa keras, kemudian berjalan mendekati pemuda yang dia ingat pernah mempermalukannya di sebuah kedai.
"Apakah kau ingat aku?" tanya Jun Yelu dengan senyuman merendahkan, di sampingnya berdiri petarung raja bintang lima, dia seolah tak lagi mempunyai ketakutan dalam dirinya.
Zhou Fan memangku dagunya, mengelusnya perlahan.
Em?
"Siapa kau_-" tanya Zhou Fan dengan wajah datar, telunjuknya terbuka tapi masih berada di daerah dagu.
Krt....
Gemertak gigi dari dalam mulut Jun Yelu terdengar jelas.
Phak!
Jun Yelu mengayunkan tangannya, mengincar kepala sebelah kiri Zhou Fan, tapi dapat dengan mudah ditangkap olehnya.
"Oh... Aku ingat sekarang," ucap Zhou Fan sambil terkekeh.
"Keparat! Apa yang kau tertawakan!" tunjuk marah Jun Yelu.
"Kalian, pukul dia!" perintah Jun Yelu kepada kedua pria yang menjadi pengawalnya.
Kedua pria itu maju dan memasang tinju, tapi sebuah suara berat memecah pertengkaran.
"Apakah kalian, akan membuat acara sendiri?!"
Semua orang memandang ke atas arena yang khusus disediakan untuk acara ini, bahkan sebelumnya tidak terdapat arena pertarungan di tengah tengah pusat kota.
"Sekali lagi kau beruntung, jangan sampai kau mengikuti pertandingan, atau aku sendiri yang memberikan pelajaran tambahan untukmu!" tekan Jun Yelu kepada Zhou Fan, tapi tak ditangkap sama sekali oleh Zhou Fan, seolah masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
Perlahan Jun Yelu beserta kedua pengawalnya menjauh dan berdiri di seberang tempat Zhou Fan berada. Tinggi arena yang hanya sepinggang membuat kedua pemuda itu saling memandang.
Jun Yelu memandang dengan tatapan kesal sekaligus marah, sementara Zhou Fan terlihat lebih acuh.
Tuan kota turun dari arena dan digantikan oleh seorang pria tua lainnya.
"Aku adalah orang yang akan menjelaskan tentang acara duel ini, ... duel hanya diperuntukkan bagi usia tiga puluh atau kurang, ... Untuk hadiah utama, hanya untuk satu orang pemenang, tapi setiap peserta juga mendapatkan satu butir pill kultivasi tingkat ke-enam."
__ADS_1
Begitu mendengar perkataan pria tua di atas arena, semua orang riuh mempertanyakan apa hadiah utama yang sudah disiapkan.
"Mungkinkah tuan kota akan memberikan putrinya sebagai hadiah?" gumam salah seorang pemuda.
"Walau aku juga berharap demikian, kemungkinan sangat kecil, bahkan hanya satu persen, karena pesertanya tidak hanya pria, melainkan juga wanita." Timpal lainnya.
Zhou Fan sedikit tertarik dengan hadiahnya, mengingat acara perburuan saja memberikan total sepuluh butir pill kultivasi tingkat delapan, bagaimana mungkin acara utama lebih buruk hadiahnya.
Pria tua itu kemudian turun dan menyuruh para calon peserta mengambil sebuah nomor.
Setelah mengambil nomor semua orang mulai menunggu giliran, untuk bertanding.
Zhou Fan melihat nomor di tangannya, angka enam terbalik diikuti dengan angka satu.
"Satu dan seratus tiga!" ucap tuan kota dari tempat duduknya, dia sendiri yang mengambil dan mengumumkan nomor yang akan bertanding.
Dua orang pemuda baik dengan tangan memegang senjata, keduanya nampak menampilkan wajah percaya diri.
Zhou Fan yang berada di bawah arena bersama Zhou Jim di sampingnya, mencoba menelisik kekuatan semua orang satu persatu yang berada di sekitarnya.
Dari keseluruhan orang hanya tiga orang yang tidak dapat lihat tingkatan kekuatannya, berarti kuktivasinya berada di atas tingkat kultivasi Zhou Fan.
Tiga orang itu adalah tuan kota, serta dua orang yang duduk disebelahnya. Walau tidak dapat melihat langsung kekuatan mereka, Zhou Fan memperkirakan kekuatan mereka berada di tingkat petarung raja bintang sembilan.
Pertarungan demi pertarungan telah terlalu, peserta yang telah kalah harus rela tersingkir, tapi mereka tidak nampak sedih meskipun wajah kecewa menghiasi raut mukanya.
Dengan kepastian mendapat hadiah, membuat peserta yang tersingkir mendapat hiburan untuk mengalihkan perhatian.
Xiao LingYun juga mengikuti acara tersebut, dengan kultivasinya yang berada di tingkat petarung grand Master bintang sembilan sangat mudah mengalahkan lawan pertamanya.
Hanya tinggal beberapa orang saja yang belum bertanding, salah satunya adalah nomor sembilan puluh satu, Zhou Fan.
Setelah menunggu sangat lama, akhirnya waktu Zhou Fan beraksi telah tiba, begitu dua memasukki arena, wajah Xiao LingYun seketika menyeringai.
"Akhirnya aku menemukanmu, pemuda cabul!" geram Xiao LingYun dengan tangan mengepal karena terlalu gemas dengan pemuda itu.
Zhou Fan merasakan bulu kuduknya tiba tiba berdiri tanpa sadar meraih tengkuk kepalanya. Dia kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut.
Matanya terpaku pada seorang gadis bercadar yang menatapnya dengan pandangan penuh kekesalan.
"Apakah dia mempunyai masalah denganku?" gumam Zhou Fan sambil bersiap bertarung, bahkan lawannya saja sudah dalam posisi menyerang.
Zhou Fan terus memperhatikan Xiao LingYun yang seolah mempunyai dendam besar kepadanya.
__ADS_1
Huh...
"Dasar gadis aneh!"