
Masih berada di oasis...
Zhou Fan duduk berkultivasi, setelah menelan pill kuktivasi tingkat ketujuh yang telah ia buat saat berada di kediamannya.
Selama satu bulan lebih berada di kediaman, Zhou Fan terus mengolah pill, dengan tanaman herbal yang didapatkannya dari perang, dia membuat berbagai jenis pill.
Selain untuk dirinya sendiri, dia juga tak lupa membuatkan untuknya kedua orang tua serta Qing Yuwei yang tinggal di sana.
Sementara untuk klan Zhou tak lagi menjadi permasalahan, karena setiap bulan akan ada yang mengirimi persediaan pill ke gudang klan.
Setelah berkultivasi selama berminggu minggu, dia akhirnya membuka kelopak matanya. Dapat dirasakannya 'tenaga dalam' dalam tubuhnya semakin bergejolak, membuat tubuhnya seakan terbang karena terasa terlalu ringan.
Dia dapat merasakan sekarang berada dalam tingkatan petarung raja bintang enam. Sudah cukup untuk menghadapi petarung raja bintang delapan.
Grgr....
Jim menggosokkan kepalanya sambil mengeram ketika mengetahui Zhou Fan telah membuka mata.
"Apakah kau lapar?" tanya Zhou Fan sambil mengelus kepala Jim.
Jim mengangguk, dia sudah berada di sisi Zhou Fan sejak pemuda itu memulai kultivasinya, dan selama itu dia tak pernah meninggalkan Zhou Fan. Dia berdiri layaknya penjaga, yang siap menerkam jika ada beast atau apapun yang mengancam nyawa Zhou Fan.
"Sepertinya, di dalam cincin penyimpanan masih tersisa beberapa daging beast." Zhou Fan bergumam sambil memeriksa isi di dalam cincin penyimpanan.
"Ini dia..." Zhou Fan mengeluarkan sebongkah daging berukuran sedang, setidaknya lebih besar jika dibandingkan dengan Jim.
Zhou Fan dengan cepat membelah daging menjadi dua bagian, kemudian dia memberikan daging berukuran kecil kepada Jim.
"Kau jangan makan banyak banyak, atau kau akan tersedak...," ucap Zhou Fan menasehati.
Zhou Fan beralih ke daging di tangannya, dua pertiga dari ukuran semula sekarang sudah siap ia olah. Zhou Fan mulai membakar dengan api yang menyala dari tangannya.
Aroma daging bakar begitu menggoda, bahkan Jim yang sedang mengelamuti daging mentah melepaskan dagingnya, dan mendekat ke arah Zhou Fan.
"Hei... Apa yang kau lakukan, Jim? Bukankah kau sudah mendapatkan jatahmu?" tanya Zhou Fan saat serigala itu memandang daging Zhou Fan dengan mata berbinar.
Auk...
Zhou Jim menggeleng, dia semakin gencar memperlihatkan ekspresi memelas.
"Ck... Kau ini," Zhou Fan akhirnya memotong dagingnya menjadi dua bagian, dan memberikannya kepada serigalanya.
Dengan wajah bersemangat Zhou Jim melompat dan menangkap daging pemberian Zhou Fan dengan mulutnya.
"Wah... Daging bakar ini memang luar biasa, aku memang sangat bertalenta." Zhou Fan mengatakan sambil terkekeh setelah menghabiskan seluruh daging bagiannya.
Zhou Fan merasakan perutnya masih meminta lagi, dia pun mencari daging milik Zhou Jim sebelumnya.
"Ah!"
Zhou Fan menjerit kesal, daging yang sebelumnya serigala itu buang sekarang sudah ludes tak tersisa. Sang pemakan malah terlihat tak peduli dan terus menjilati kakinya.
Fiuh....
Zhou Fan membuang nafas kasar, mencoba menenangkan gejolak emosinya.
__ADS_1
.
.
.
"Sebaiknya kau menyingkir, anak muda ... Atau kau akan bertemu dengan raja yama." Pria botak berkulit hitam mengatakan dengan perasaan dongkol.
"Bagaimana aku harus pergi, saat ada orang yang membutuhkan bantuan?" ucap Zhou Fan seolah tak peduli dengan ancaman pria botak berkulit hitam.
"Anak muda, sebaiknya kau pergi, kau tak seharusnya membahayakan dirimu hanya untuk pria tua sepertiku." Pria tua berambut putih dengan jinggo panjang berkata dengan nada menasehati.
"Kau tak perlu khawatir, kakek... Percaya lah aku dapat mengatasi kelima bandit ini." Zhou Fan menoleh ke arah pria tua di belakangnya sambil tersenyum tipis.
Setelah meninggalkan oasis, Zhou Fan tak sengaja melihat seorang pria tua di kepung lima orang, setelah mengamati situasi beberapa saat, dia akhirnya mengetahui situasi sebenarnya.
Kelima pria yang rata rata berkulit gelap merupakan bandit, mereka menyebut diri mereka sebagai bandit penguasa padang pasir.
Zhou Fan tak ingin tinggal diam, menyaksikan pria tua dengan kultivasi petarung tingkat grand master menghadapi beberapa petarung raja bintang satu juga dua.
Entah apa yang mereka incar dari sang kakek, mereka seolah tak peduli dengan keberadaan Zhou Fan, bahkan menyuruhnya pergi.
Hal itu membuat Zhou Fan semakin kekeh membantu kakek berambut putih.
"Kutu kampret! Kau yang mencari ajal! Anak anak ... Serang!"
Pria botak berkulit hitam berteriak lantang, bersamaan dengan itu dia melompat menerjang Zhou Fan bersama keempat anak buahnya.
Zhou Fan menjauh dari posisi sang kakek, agar tak melibatkan kakek dalam pertarungan.
Kelima bandit menyerang dengan kombinasi sempurna, mereka sangat terlihat begitu solid bertahan lagi menyerang.
Salah seorang bandit menjajakkan kakinya menendang mengincar tubuh Zhou Fan. Namun, dengan sekali tinjuan pria itu terhempas terbang melayang.
Zhou Fan memburu sebelum tubuh lawannya jatuh ke atas padang pasir, dia melesat sambil menodongkan pedangnya.
Crash!
Bruk...
Satu kepala sudah terpisah dari tempatnya, bersamaan dengan tergeletaknya tubuh pria itu.
Zhou Fan membalikkan badan menatap keempat lawan yang tersisa, para bandit itu semakin waspada terhadap Zhou Fan.
Sebelumnya mereka mengira Zhou Fan merupakan petarung rendahan, tapi melihat satu dari mereka terbunuh di tangannya membuat mereka berpikir ulang.
Zhou Fan mengibaskan pedangnya, darah yang menempel di ujungnya seketika berceceran menyebar.
Keempat bandit yang tersisa saling pandang, kemudian menguatkan tekad masing masing.
"Serang! ... Tidak mungkin dia berhasil mengalahkan kita berempat!"
Pria botak berkulit hitam mengarahkan pedangnya ke arah Zhou Fan, membuat ketiga anak buahnya sekali lagi maju.
Zhou Fan tak menampakkan wajah panik, dia bergerak luwes menghindari serangan ketiga orang itu. Melihat anak buahnya tak bisa berbuat banyak, sang kepala bandit ikut menyerang.
__ADS_1
Pria botak berkulit hitam mengangkat tinggi pedangnya. "Jurus Pedang iblis!"
Pria botak berkulit hitam menusukkan pedangnya layaknya tombak, begitu dia bergerak sebuah siluet kehitaman berwujud pedang melesat ke arah Zhou Fan.
Wosh...
Pasir beterbangan diikuti suara riuh angin. Zhou Fan melompat, sambil melompat dia menebaskan pedangnya dua kali.
"Tebasan Ganda!"
Shingn...
Blar!!
Kedua jurus bertabrakan, tapi tebasan yang kedua milik Zhou Fan masih tersisa, dan bergerak cepat ke arah pria botak berkulit hitam.
Wajah pria botak berkulit hitam seketika memucat, dia berusaha menghindari, tapi dia sudah terlambat.
Bhoom!!
Pria botak berkulit hitam terlempar dengan tubuh terkoyak, pakaiannya bahkan gosong akibat ledakan jurus.
Bruk.. Srak... Bhoom!
Pria botak berkulit hitam menghantam sebuah batu dan mengakibatkan batu tersebut hancur berkeping-keping.
Melihat pimpinannya terbunuh, bahkan dengan tubuh remuk, membuat nyali ketiga orang tersisa menciut.
Bruk...
"Ampuni kami, tuan ... Kami janji tak mengulangi lagi!" Ketiganya bersujud dengan kepala menyentuk permukaan pasir, tak peduli wajahnya melepuh akibat panasnya pasir di padang pasir bataya.
Zhou Fan menaikkan sebelah alisnya, tak mengira ketiga bandit berubah sangat cepat.
"Kakek, menurutmu bagaimana?" tanya Zhou Fan menoleh ke arah pria tua.
Pria tua itu sungguh tak mengira, pemuda yang sempat ia khawatirkan memiliki kekuatan tak terbayangkan.
Pria tua diam tak menjawab, seakan dia menyerahkan semuanya kepada Zhou Fan.
Andai tak bertemu dengan pemuda itu mungkin dia sudah berada di perjalanan bertemu sang kuasa. Pikir pria tua berambut putih.
"Aku jadi merasa tak enak ... "
Crash...
Bruk bruk bruk....
Zhou Fan mengatakan dengan wajah canggung, tapi sedetik setelahnya dia menghilang dan diikuti dengan terjatuhnya kepala ketiga bandit yang tersisa.
Glek!
Pria tua itu menelan ludahnya kasar, dia memandang Zhou Fan layaknya iblis neraka.
"Satu kata untuknya ... Mengerikan!"
__ADS_1