Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 172


__ADS_3

Zhou Fan kembali ke ruangannya, dia langsung duduk bersila, dia memejamkan mata setelah menelan pill kultivasi tingkat ketujuh miliknya yang terakhir.


Dia harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk menjadi lebih kuat, andai pill kultivasi tingkat rendah dapat berpengaruh besar untuknya, itu akan sangat menguntungkan baginya, tapi hanya pill tingkat enam keatas yang berguna bagi petarung raja.


Zhou Fan fokus untuk berkultivasi, tak sekalipun matanya terbuka sejak memejamkan mata, tubuhnya terus bergelut dengan riuhnya angin yang terus berputar di sekelilingnya.


Sementara Zhou Fan tak keluar dari ruangannya, Wei Huan terus memupuk kekuatan, dengan kegigihannya, ia berhasil meyakinkan beberapa pihak yang semula dalam keadaan netral.


Beberapa sekte juga turut menyatakan keberpihakan mereka, salah satunya adalah sekte pedang suci, memang tidak diragukan lagi hubungan baik antara keduanya.


Namun, kekuatan yang ia kumpulkan masih jauh dibandingkan dengan pihak lawan.


Perkumpulan gerhana tidak hanya diam menyaksikan lawannya mengumpulkan dukungan, mereka ikut bergerak mempengaruhi klan juga sekte yang masih belum memihak, mereka menjanjikan keuntungan yang menggiurkan demi mendapatkan uluran tangan.


Hari berganti, dan terus berlalu...


Tak mengira sudah satu bulan lebih sejak Zhou Fan mengurung diri, kekuatan dalam tubuhnya bergejolak, memancarkan aura lebih kuat dari sebelumnya.


Tubuhnya terselimuti cahaya merah darah, tiba tiba pedang darah malam keluar dari dalam cincin penyimpanan.


Pedang darah malam berputar di atas kepala Zhou Fan, sedangkan pemuda itu masih dalam keadaan semula, matanya masih tertutup rapat, dia belum menyadari peristiwa yang tengah terjadi.


"Akh!"


Zhou Fan memekik terkejut saat menyadari dirinya berada dalam ruangan tak asing.


"Lama tak berjumpa bocah?"


Sekali dengar Zhou Fan langsung mengenali suara yang menggema di seluruh ruangan.


"Kenapa aku bisa kembali ke dunia ini lagi?" tanya Zhou Fan pada dirinya sendiri.


"Kau memang bocah yang beruntung, bahkan kaisar Rui tidak mendapatkan kesempatan sepertimu,"


Zhou Fan mengerutkan keningnya, dia tak tahu maksud perkataan suara misterius.


"Kau tak perlu banyak berpikir, yang pasti kau akan mendapatkan suatu yang sangat bermanfaat."


"Dalam dirimu tersimpan sebuah kekuatan besar, bahkan sejak kau lahir."


"Kau pasti keliru, aku bahkan tidak bisa berkultivasi saat aku remaja, bahkan orang orang mengataiku sebagai sampah." Zhou Fan menyangkal ucapan suara misterius.

__ADS_1


"Kau tidak mengerti, kekuatan dalam tubuhmu sangat kacau sampai kau tidak bisa mengendalikannya. Kau pasti mendapatkan sesuatu yang dapat mengikat kekuatan itu."


"Ya, aku dapat berkultivasi setelah menemukan kolam air spiritual," ujar Zhou Fan.


"Ya... Mungkin air mata bintang dapat mengikat sementara kekuatanmu dan terus menyalirkannya kepadamu, kau tidak merasa peningkatanmu sangat terlalu mengerikan?"


"Terkadang aku merasakannya, seharusnya tidak akan semudah itu untuk menerobos, tapi aku dapat melakukannya." Zhou Fan mengatakan dengan heran.


"Air mata bintang atau yang kalian sebut dengan air spiritual memang membantu menyerap kekuatan kacau dalam tubuhmu, tapi tidak akan bertahan lama dan kau akan mati."


Seketika wajah Zhou Fan berubah pucat. "Jadi, aku akan mati?"


"Hohoh.. Oleh karena itu aku katakan kau adalah bocah yang beruntung, kekuatan pedang darah malam membantumu untuk menetralisir kekuatan kacau itu ... "


" ... Bukan hanya kau terhindar dari kematian, kekuatan pedang darah malam akan semakin kuat, bahkan mungkin tidak ada senjata yang dapat dibandingkan dengannya. Kau sangat beruntung, ... tapi itu juga tergantung bagaimana kau menggunakannya."


Suara misterius sedikit terkekeh mengatakan kalimat terakhir, membuat Zhou Fan memasang wajah datar.


Cih...


Zhou Fan melengos, dan berusaha keluar, tapi setelah mencoba dia tidak bisa melakukannya.


"Ini adalah pertemuan terakhir kita, dan kau tidak akan bisa kembali ke dunia semu, sebagai hadiah perpisahan, terimalah!"


Ouh....


Zhou Fan terbangun, dan mendapati dirinya sudah kembali ke ruangannya.


"Whouh.."


Zhou Fan berseri senang saat memeriksa kekuatannya kini berada di tingkat petarung raja bintang lima.


Zhou Fan mengayunkan tangannya, mengeluarkan pedang darah malam dari dalam cincin penyimpanan.


"Sepertinya aku sudah sangat lama berada di dalam ruangan entah bagaimana persiapan yang dilakukan Ayah mertua." Zhou Fan berjalan keluar.


Saat Zhou Fan keluar, dia tak menemukan siapapun, bahkan tak terlihat satu pun prajurit yang melintasi ruangannya.


Zhou Fan merasa hal ini terlalu aneh, dia melesat mencari orang untuk bertanya.


Tak lama setelah dia keluar istana, dia melihat seorang wanita paruh baya tengah berjalan dengan wajah penuh waspada.

__ADS_1


"Hei.."


Zhou Fan memanggil wanita paruh baya itu, tapi dia malah melarikan diri dengan secepat bayangan.


Dengan spontan Zhou Fan mengejarnya, merasa diikuti, wanita paruh baya yang juga merupakan kultivator mempercepat langkahnya.


"Kenapa kau lari?" Zhou Fan tiba tiba sudah berada di hadapan wanita paruh baya tersebut.


"Jangan mendekat, atau aku akan melawan!" Wanita itu memasang kuda kuda, tangannya meraih belati yang tersarung di pinggang.


"Tunggu nyonya, sepertinya kau salah paham." Zhou Fan mengangkat tangannya mencoba menjelaskan, tapi wanita paruh baya yang sudah teramat cemas tidak bisa berpikir logis.


Semakin Zhou Fan mendekat wanita paruh baya semakin siaga, saat hanya beberapa langkah wanita paruh baya itu menyerang Zhou Fan dengan belatinya.


Tch...


Zhou Fan menunduk dan menangkap tangan wanita paruh baya, dia berputar dan memitingnya, meskipun tidak ia tekan begitu kuat.


Kekuatan wanita paruh baya yang hanya petarung mahir begitu tidak berimbang dengan Zhou Fan yang setara dengan petarung raja bintang tujuh.


"Bisakah kau tenang nyonya? Aku akan melepaskanmu jika kau tenang."


Wanita paruh baya mengangguk dengan cepat, Zhou Fan pun melepaskan tangan wanita paruh baya. Namun, wanita paruh baya itu kembali melancarkan serangan.


Tangan kanannya yang menggenggam belati, ia Kibaskan mengincar leher Zhou Fan, tapi terlalu lambat bagi pemuda itu.


Lagi lagi Zhou Fan menangkap tangan wanita paruh baya. "Jika nyonya terus memaksa jangan salahkan aku, aku hanya ingin bertanya ... Jadi, bisakah anda tenang?"


Sekali lagi wanita paruh baya mengangguk, Zhou Fan menghela nafas panjang, kemudian kembali melepaskan cengkeraman tangannya.


Akh...


Wanita paruh baya itu memekik sakit saat Zhou Fan melepaskan tangannya tiba tiba, dia memegangi tangan kanannya yang terasa nyeri.


"Aku hanya ingin bertanya, kenapa istana sangat sepi?" tanya Zhou Fan.


"Bukan hanya istana, tapi seluruh kota, apakah kau tidak melihat di sekitar tidak ada satupun orang yang terlihat?"


Zhou Fan mengedarkan pandangannya, dia yang terlalu fokus mengejar wanita paruh baya tidak menyadari suasana sekitar yang begitu sepi.


Seolah menyadari kebingungan pemuda di hadapannya, wanita paruh baya itu menjelaskan. "Perang telah terjadi, dan semua orang berada di perbatasan kota teratai dan kota mawar, karena di sanalah kedua pihak saling serang."

__ADS_1


Zhou Fan membelalakkan matanya, kemudian kembali bertanya. "Sudah berapa lama perang terjadi?"


Wanita itu sedikit termenung, kemudian menjawab. "Beberapa hari yang lalu."


__ADS_2