Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 195 : Menang Taruhan


__ADS_3

Pria di samping Zhou Fan seketika menoleh dan memasang wajah bingung sekaligus heran.


"Hem? Bagaimana?" Zhou Fan melirik sekilas kemudian kembali memandang ke atas arena.


"Kau pilih mana, aku pilih yang merah." Zhou Fan menunjuk pria yang merupakan juara bertahan.


Cuih!


"Kau memilih unggulan, apakah kau pikir aku bodoh memilih ampas! Bagaimana jika kau bertanding denganku?" tantang pria itu dengan yakin.


Zhou Fan menaikkan sebelah alisnya, mengalihkan pandangan sepenuhnya menatap pria di sampingnya.


"Apa... Apakah kau tak berani?" pria itu menampilkan senyuman remeh, menganggap Zhou Fan tak berani melawannya.


"Jelas bukan kultivator tapi banyak omong," cerca pria itu pelan, Zhou Fan hanya tersenyum menanggapinya.


Zhou Jim yang seolah mengerti Zhou Fan telah direndahkan, dia melolong sambil mengeram.


"Jaga anjingmu, atau aku akan menjadikannya sebagai makan siangku." Pria itu menunjuk Zhou Jim dengan tatapan jijik.


Zhou Fan melirik Zhou Jim, membuat serigala itu beranjak tenang.


Sementara di atas arena pria berpakaian merah, sudah siap dengan pedang ganda di genggamannya, sedangkan pria berpakaian hitam di hadapannya sudah menyiapkan goloknya.


Seolah menunggu timing yang telah mereka rencanakan, mereka masih saling diam, tak ada satupun yang berani mengambil gerakan pertama.


Namun, keduanya tiba tiba melesat dengan daya kejut tinggi.


Bust!


Trang...


Keduanya saling membenturkan senjata dan kembali menjauh lalu melesat lagi.


Trang... Tring...


Pedang ganda pria berpakaian merah meluncur menyabet mengincar leher pria berpakaian hitam, tapi dengan memiringkan tubuhnya dia berhasil menghindarinya.


Sambil menghindar pria berpakaian hitam menggunakan tangan kanan yang memegang golok.


Trang...


Pedang di tangan kiri pria berpakaian merah dapat menahan serangan golok yang mengincar dada kirinya. Tapi lesatan tangan lain pria berpakaian hitam tak mampu diantisipasi.


Bagh!


Bruk...


Pria berpakaian merah terpental dengan mulut mengeluarkan darah, dia meraih perutnya dengan tangan masih menggenggam pedang.


"Aku menyerah!"


Pria berpakaian merah menyerah dan turun setelah melemparkan koin taruhan.


Heh...


Zhou Fan mendengus, pria di sampingmu tersedak ludahnya sendiri. Ternyata jagoannya kalah, dia merasa rugi karena menolak taruhan yang jika diteruskan dirinya bisa menang.


Pria berpakaian hitam sekarang berdiri menantikan lawan, dia memeriksa kantong koin emas dengan wajah sumringah.


"Pilih aku! Lima belas koin emas!"


"Pilih aku ... "

__ADS_1


Sorakan sorakan kembali terdengar, banyak yang dengan antusias melompat sambil melemparkan kantong koin emas berharap menarik perhatian pria berpakaian hitam.


Pria berpakaian hitam akhirnya memilih seorang lawan, dan dia menang lagi. Pria berpakaian hitam terus melakukan pertarungan hingga tak ada lagi yang berani melawannya.


Dia sudah mengantongi ratusan ribu koin emas, membuatnya semakin percaya diri.


"Ayo... Siapa lagi!" seru pria berpakaian hitam dari atas arena, dia mulai gemas karena tak kunjung menemukan penantang.


"Semua orang telah dia kalahkan, dengan kultivasinya yang berada pada tingkat petarung raja bintang enam tak ada lagi yang sanggup mengalahkannya." Pria di samping Zhou Fan berkata sambil memandang kagum pria berpakaian hitam.


"Cih... Membosankan." Pria berpakaian hitam mulai malas menunggu, dia memutuskan untuk keluar arena, tapi saat baru saja berbalik seorang pemuda meloncat naik.


"Seratus ribu koin emas!" ucap Zhou Fan singkat.


Pria berpakaian hitam berhenti terpaku, kemudian dia membalikkan badan kembali.


Matanya menilik Zhou Fan dari atas ke bawah. "Kau?"


Zhou Fan mengangguk, tapi itu malah membuat pria berpakaian hitam tertawa terbahak-bahak.


"Hanya seorang petarung rendahan ingin melawanku? Jika kau terlalu banyak koin emas lebih baik berikan saja padaku, kau tak perlu mengemis minta dihajar." Pria berpakaian hitam tersenyum meremehkan.


Pria yang tadi berdiri di samping Zhou Fan, sungguh terkejut saat pemuda di sampingnya melompat, bahkan mengeluarkan tantangan.


"Dia pasti anak bangsawan manja, yang suka menghamburkan kekayaan orang tua ... "


"Mungkin dia ingin mencari sensasi baru, ingin merasakan rasanya dihajar habis-habisan."


"Jika itu aku, lebih baik membeli pill kultivasi dan meningkatkan kekuatan. Bukan malah mencari masalah untuk diri sendiri."


Cibiran serta celotehan para orang di bawah arena terdengar sampai ke telinga dua orang di atas arena.


"Kau dengar, sebaiknya kau turun... Anggap saja aku sedang berbaik hati kepadamu, karena suasana hatiku sedang dalam mode baik," ujar pria berpakaian hitam.


"Nak.. Sebaiknya kau perhalus ucapanmu, atau kau akan mendapatkan masalah karena mulutmu." Pria berpakaian hitam mengatakan sambil menasihati, tapi wajahnya memerah menahan kesal.


Jika bukan karena dia merasa tidak layak melawan orang lemah, ia tidak akan benyak bicara terhadap seorang pemuda tingkat petarung grand master bintang satu.


"Begini saja, kau boleh turun... Dan biarkan aku di sini mencari lawan." Zhou Fan beralih menatap ke bawah arena.


Pria berpakaian hitam semakin berwajah muram, guratan di wajahnya bermunculan layaknya cacing kepanasan.


"Sialan... Kau dinasehati malah mencari susah, sini biar aku lawan kau." Pria berpakaian hitam mulai kesal dengan Zhou Fan yang ia pikir terlalu memandang diri sendiri tinggi.


Zhou Fan meraih pedang darah malam, dia menarik sedikit sudut bibirnya.


Sama seperti Zhou Fan pria berpakaian hitam juga bersiap dengan memegang goloknya.


"Seluruh koin emas yang aku menangkan akan menjadi milikmu jika kau dapat mengalahkanku. Namun, jika kau kalah kau hanya perlu membayar seratus koin emas."


Pria berpakaian hitam memasang wajah meremehkan, dia sangat yakin dapat mengalahkan pemuda manja di hadapannya.


"Mulutmu harus lebih cepat dari golokku, jika tidak kau akan terlambat mengatakan kata 'menyerah'."


Pria berpakaian hitam memasang kuda kuda, yang diikuti Zhou Fan dengan pedang darah malam di tangannya.


"Mampus kau!"


Wosh...


Blar!


Sebuah lesatan energi terpancar dari golok, dan menyambar tempat Zhou Fan berdiri, tapi pemuda itu masih dapat menghindari dengan menarik tubuhnya beberapa langkah ke belakang.

__ADS_1


Pria berpakaian hitam mengerutkan keningnya, dia mulai tak menganggap enteng Zhou Fan.


"Ternyata dia punya kemampuan untuk berbicara banyak," batin pria berpakaian hitam, kemudian dia melesat menerjang Zhou Fan.


Melihat gerakan pria berpakaian hitam yang begitu cepat, Zhou Fan spontan menarik pedangnya ke atas setinggi dada.


Trang...


Benturan golok serta pedang menggema di arena.


Zhou Fan melompat, tangan kirinya mengibas mengincar kepala pria berpakaian hitam.


Plak!


Shut...


Blam!


Tangan Zhou Fan dapat dicekal, tapi kaki pemuda itu terlanjur bergerak dan berhasil masuk ke ulu hati pria berpakaian hitam. Tubuhnya terlempar dan ambruk dengan tangan masih memegang golok.


Semua orang dapat dipastikan terkejut, melihat pemuda yang sebelumnya mereka pandang sebelah mata, malah dapat membuat petarung bertahan mundur bahkan mengalami luka.


Wajah mereka yang tadinya terlihat malas, seketika berubah semangat.


"Ini baru seru!"


"Tak ku sangka dia merupakan petarung tangguh."


"Aku menarik ucapanku!"


Sayup sayup terdengar dari para penonton, mereka mendapat gambaran baru terhadap Zhou Fan.


Brak!


Pria berpakaian hitam menghentakkan kakinya kuat, kemudian berdiri dengan wajah serius.


Krak... Kratak...


Patahan tulang leher sengaja dia perdengarkan, membuat semua orang tambah bersemangat.


Mata pria berpakaian hitam melancarkan kalimat tersirat, seolah mengatakan 'aku tak terima'.


Pria berpakaian hitam menggerakkan goloknya, sepersekian detail setelahnya dia telah melesat dengan kecepatan maksimum.


Trang... Trang..


Zhou Fan bukan lawan lemah, dia menghadapi serangan golok dengan alunan pedangnya.


Keduanya terus beradu, tapi tak ada dari keduanya yang berniat menjaga jarak, mereka terus memburu masing masing dengan tangan serta kaki sebagai senjata tambahan.


Bruak!


Satu orang terpental setelah melakukan rangkaian adu serangan, dia pria berpakaian hitam, wajahnya tampak memburuk dengan luka di sekujur tubuhnya.


Sekali lagi hal itu mendapat tanggapan dari para penonton, mereka tak akan pernah mengira pemuda itu dapat mengalahkan pria yang telah mengalahkan puluhan orang.


Sekarang pria berpakaian hitam terduduk lesu dengan nafas yang mulai melemah. Namun, dia tetap menahan kesadarannya.


"Aku menyerah," ucap pria berpakaian hitam sambil mengeluarkan semua hasil kemenangannya.


Zhou Fan menangkap kantong sebesar dua kepala orang dewasa, dia kemudian membuka dan memeriksanya.


"Senang bermain denganmu, paman!"

__ADS_1


__ADS_2