Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 216 : Memanasi Xiao Tang


__ADS_3

Mendengar hal itu, telinga Xiao Tang serasa terbakar, wajahnya memerah pudar, ingin rasanya menghajar pemuda yang dengan lancang menggandeng tangan putrinya.


Dia dengan cepat mengayunkan pedangnya lagi, tapi saat hanya beberapa inci dari tubuh Zhou Fan, pria tua itu harus menahan serangannya, melihat putrinya berdiri memasang badan.


Zhou Fan pun maju, dia tidak ingin berada di belakang seorang wanita. Dia pun menggandeng tangan Xiao LingYun, yang juga disambut gadis itu.


Zhou Fan terus menggoyangkan tangan kiri yang menggandeng tangan Xiao LingYun, dia sengaja melakukan itu agar pria tua di hadapannya kesal.


Tak lupa senyuman tersungging dalam wajahnya, tersirat sebuah ungkapan menjengkelkan yang dapat Xiao Tang terjemahkan.


"Heh... Aku mau lihat apa yang bisa kau lakukan sekarang," ucap Zhou Fan tak bersuara. Namun ekspresi di wajahnya terlihat mengatakan itu.


Kedua pria berbeda usia itu saling memandang, memancarkan aura permusuhan.


"Aku akan mencabik tubuhmu!" arti sorotan tajam yang Xiao Tang berikan.


Xiao LingYun yang berada di samping Zhou Fan menatap bergantian kedua pria itu, dalam benaknya dia sedikit risih dengan keduanya.


Cih...


Xiao Tang melengos, membuang muka ke samping lalu berjalan kembali ke tempat duduknya.


"Aku tidak menerima menantu lemah!" ucap Xiao Tang yang dimaksudkan kepada Zhou Fan.


Zhou Fan tersenyum mencibir, kemudian maju beberapa langkah setelah melepas genggaman tangan Xiao LingYun.


"Bukankah kau sudah merasakannya, ayah mertua?" tanya Zhou Fan sambil tersenyum.


Meski terdengar santun, itu terdengar sindiran halus bagi Xiao Tang. Pria tua itu meraba pipinya, bekas pukulan Zhou Fan masih membekas dalam ingatannya.


"Sialan!" desis Xiao Tang dalam hati.


Semua orang yang berada di sana, hanya diam mendengarkan, tidak ada yang berani menyanggah dialog antar dua pria berbeda usia tersebut.


Dan mereka tidak mengetahui akar permasalahan, jadi semua yang ada di sana hanya bisa menerka nerka apa yang sebenarnya terjadi.


"Bukankah kami pasangan yang serasi, ibu mertua?" Zhou Fan beralih ke wanita yang berada di samping tempat duduk Xiao Tang.


Thu Anyu, nama dari ibu Xiao LingYun. Dia adalah putri perdana menteri Kekaisaran Xiao.


Thu Anyu yang mendapati pertanyaan jebakan hanya diam, jika dia membetulkan pernyataan Zhou Fan dia akan mendapat masalah dari suaminya, tapi jika mengatakan tidak dia berbohong karena kedua muda mudi itu terlihat bagaikan pasangan langit.


"Diam menyatakan persetujuan, bukankah begitu ibu mertua?" ucap Zhou Fan, yang langsung mendapat pelototan mata dari Xiao Tang.


"Pertemuan bubar!"


Xiao Tang tiba tiba berseru lantang, membuat semua orang lari tunggang langgang.


Sekarang hanya tersisa empat orang di ruangan, tapi itu tidak membuat Zhou Fan merasa tertekan.

__ADS_1


Xiao Tang tentu tak ingin semua orang mengetahui ketidakberdayaannya di hadapan putri serta pemuda mengesalkan itu.


"Yun'er, apakah kau mau meninggalkan ayah hanya untuk... Pemuda tidak jelas seperti-nya?!" Xiao Tang berkata memohon, tapi begitu mendeskripsikan Zhou Fan dia melirik pemuda itu sambil menekan perkataannya.


Xiao LingYun hanya diam tak menjawab, dia sebenarnya tidak tega untuk melihat ayahnya bersedih. Bagaimanapun, ayahnya melakukan semua itu karena dia menyayanginya.


Xiao LingYun berusaha bersikap tenang, dia mencoba untuk memantapkan hatinya. "Ayah, semua ini adalah pilihanku, sudah saatnya aku menentukan pilihan."


Xiao Tang mengusap matanya, meskipun itu hanya akal akalan pria tua itu.


Xiao LingYun yang melihat semakin tidak tega, dia kemudian melirik Zhou Fan.


Sedangkan yang diharapkan memberikan masukan malah hanya diam menonton.


Huft...


Xiao LingYun menghembuskan nafas kasar, menatap ayahnya dengan pandangan mengiba, tapi berubah datar kala menyadari kepalsuan ekspresi Xiao Tang.


"Aku tak akan merubah keputusanku, ayah." Xiao LingYun sekali lagi menegaskan.


"Phuft... Harimau sudah kehilangan taringnya." Zhou Fan mengatakan tanpa memandang obyek perkataannya, dia menatap lurus ke depan, menghindari tatapan sengit dari Xiao Tang.


Phak!


Tangan Xiao Tang melayang mengincar kepala Zhou Fan, tapi dapat dengan sigap pemuda itu menangkisnya.


"Ayo sini, kita selesaikan sekarang!" tantang Xiao Tang sambil melipat lengan pakaian.


Xiao Tang membeku mendengar perkataan putrinya, sementara Zhou Fan tersenyum penuh kemenangan.


"Selama ini aku selalu menuruti permintaan ayah, tapi apakah ayah pernah memikirkan apa yang aku inginkan? Bahkan ayah tak pernah bertanya apa keinginanku." Xiao LingYun berkata dengan senyuman pedih.


Xiao Tang semakin lekat memandang putrinya, tapi Xiao LingYun terlalu lelah menjalani hidup bagai putri yang terkurung, dia ingin bebas layaknya semua orang, mempunyai banyak teman untuk saling membagi.


Gadis itu menyampaikan semua keluh kesah yang selama ini selalu ia pendam dalam hati, dia selalu mengikuti kemauan ayahnya karena tak ingin ayahnya kecewa, tapi itu membuatnya menjadi barang pribadi milik sang ayah.


Perhatian yang diberikan oleh Xiao Tang kepadanya memang seperti yang ia harapkan, bahkan lebih, sampai membuat perhatian itu seolah mengikatnya pada suatu tiang.


Xiao Tang mundur satu langkah, dia seakan baru menyadari apa yang telah ia lakukan kepada putrinya. Muncul perasaan bersalah pada dirinya.


"Yun'er..." Belum selesai dia berkata, Xiao LingYun kembali berkata.


"Aku ingin bebas ayah, menjalani hidup yang kuinginkan," ucap gadis itu.


"Kau boleh melakukan apa yang kau inginkan, ayah tidak akan menghentikan atau menghalangimu, tapi jangan tinggalkan ayah." Xiao Tang berkata dengan nada suara rendah, dia bahkan merendahkan tubuhnya dan menggapai tangan sang putri.


"Aku tidak akan meninggalkanmu, ayah. Tapi aku tidak akan menetap di kediaman ini, setidaknya sampai aku puas dengan petualanganku," tukas Xiao LingYun dengan mantap.


Tak ada jawaban dari Xiao Tang, pria tua itu berdiri lalu melangkah pergi dengan raut muka kecewa.

__ADS_1


Xiao LingYun, hendak mengejar. Namun, tangan Zhou Fan menahannya.


"Biar ibu saja yang membujuk ayahmu, Yun'er." bersamaan dengan itu Thu Anyu berkata sembari melangkah menyusul suaminya.


Sepergian kedua orang tuanya, Xiao LingYun menatap Zhou Fan kesal. "Lepaskan tanganku!"


"Waktu berpura pura sudah selesai," tambah Xiao LingYun sambil menghempaskan tangan Zhou Fan lalu kembali membuka mulutnya. "Aku tahu apa yang ada dalam kepalamu, kau sekarang pasti sangat senang melihat ayahku seperti itu."


Heheh...


Zhou Fan terkekeh, lalu memandang Xiao LingYun. "Apakah aku terlihat sangat buruk di matamu?"


"Memangnya tidak?" tanya Xiao LingYun sambil mulai berjalan meninggalkan Zhou Fan.


"Tentu saja sangat senang... Ahahaha!" ucap Zhou Fan diakhiri gelak tawa agak keras, membuat Xiao LingYun menghentikan langkah kakinya.


Cih...


Xiao LingYun kembali melanjutkan gerak kakinya, berjalan menuju ruangannya.


Zhou Fan mengikuti Xiao LingYun, terus mengekor sampai pintu ruangan gadis itu.


Xiao LingYun sontak membalikkan tubuhnya, menatap Zhou Fan kesal. "Apa yang kau lakukan?!"


"Apakah seperti ini kau memperlakukan penolongmu?" tanya Zhou Fan, dia tak menjawab pertanyaan Xiao LingYun, dia malah melontar kalimat sarkastik.


Xiao LingYun diam berpikir. "Kau bahkan tidak melakukan apapun, aku yang melakukannya. Juga, bukankah kau sangat senang melihat hal itu?!"


"Jika tidak ada aku yang memperkeruh suasana, kau tidak akan bisa menyentuh hati ayahmu," ucap Zhou Fan bangga.


"Apakah dia begitu bangga menjadi pemerkeruh?" batin Xiao LingYun, dia sangat 'mengagumi' ketidakmaluan pemuda di hadapannya.


Huft...


"Terimakasih, ... Dan kenapa kau mengikutiku?" Xiao LingYun mengalah dan mengucapkan terimakasih serta mengulang kembali pertanyaannya. Namun, ekspresi wajahnya tidak sekalipun berubah, masih tetap datar.


"Tidak perlu berterima kasih jika terpaksa," ucap Zhou Fan sengaja mengembalikan ucapan Xiao LingYun kepadanya kemarin.


Xiao LingYun mengepalkan tangannya erat, kekesalan sudah menjalar di setiap bagian tubuhnya.


Huft...


"Terimakasih," ucap Xiao LingYun dengan senyum termanisnya, lalu menyambung kalimatnya. "Apakah belum puas, aku bisa mengucapkan 'terimakasih' sampai kau puas."


"Sudah sudah, aku sudah mendapatkan ketulusan dalam pengucapanmu." Zhou Fan menggoyangkan tangan kanannya.


"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Xiao LingYun, lagi.


Zhou Fan menurunkan tangannya, lalu menjawab dengan wajah santai.

__ADS_1


"Bukankah ruanganmu juga ruanganku?"


__ADS_2