Legenda Petarung

Legenda Petarung
Chapter... 103 : Saatnya Menuntaskan


__ADS_3

Zhou Fan teringat akan pedang pusaka malam, sungguh dia melupakan keberadaan pedang pusaka malam.


Padahal dia sudah berniat mencoba pedang itu, tapi karena melihat Wei Guanlin saat di kedai membuatnya menundanya, tapi siapa yang mengira dia akan melupakanya begitu saja.


"Ya, akulah orangnya." Zhou Fan menjawab singkat padat dan jelas.


Yang ada di ruangan itu tak bisa untuk tidak terkejut, meskipun sudah mendengar rumor tentangnya, tapi beberapa dari mereka hanya menganggapnya mencari sensasi.


"Sungguh?! Bolehkah kau tunjukkan kepada kami?" Salah satu tetua bertanya dengan antusias, sedangkan lainnya hanya mengangguk sependapat.


Huft....


Zhou Fan mengeluarkan pedang pusaka malam dari cincin penyimpanannya.


Tatapan mata semua orang tak bisa beralih dari pedang bernuansa hitam tersebut.


"Bocah Zhou, apa yang kau punya sedangkan kami semua dan yang lainnya tidak?" Tanya seorang pria tua yang tak lain adalah tetua pertama, membuat semua orang menoleh kepadanya.


"Semua orang pernah mencoba menariknya, bahkan aku pun pernah mencobanya, tapi tak ada yang bisa menarik pedang pusaka malam dari liangnya," Jelas tetua pertama.


Zhou Fan memasang wajah berpikir, yang membuat semua orang semakin penasaran.


"Hei, bocah! Kau keterlaluan, mambuat kami semua penasaran," Ucap seorang pria paruh baya yang siapa lagi kalau bukan Qing Si.


"Emng... mungkin tingkatanku yang berada lebih tinggi dari kalian saat itu. jadi kalian tidak bisa menariknya karena terlalu lemah," Jawab Zhou Fan polos.


Duar...


Seakan mendapat serangan fatal, semua tetua bahkan patriark terbatuk mendengar jawaban Zhou Fan.


Jawaban macam apa itu? Perkataan Zhou Fan secara tidak langsung menyindir para pria tua itu.


Lemah! Kata itu berputar dalam otak para tetua dan patriark.


Sementara para putra putri ketua dan tetua yang ada hanya memasang wajah tak mengerti, hanya Qing Yuwei dan Qing Manlu yang paham dengan arti kata itu. Mereka berdua menahan tawa agar tak menyinggung para orang tua.


Merasa sudah waktunya pulang dan para tetua lainnya sudah pada kembali ke kediamannya, Zhou Fan berniat pamit tapi Patriark menahannya dan menyuruhnya untuk tinggal di kediamannya.


Di ruangan itu hanya tersisa Patriark Qing, tetua Qing Si, Qing Manlu, dan juga Qing Yuwei.


"Sebaiknya kau tinggal disini saja, bagaimana?" Tawar Patriark Qing.


"Ide bagus ayah, aku bisa berlatih dengan saudara Zhou kalau begitu," Seru Qing Manlu semangat.


Zhou Fan melirik Qing Yuwei, tapi tatapan tajam langsung terarah kepadanya.


"Apa kau bocah?! Aku tidak akan membiarkanmu tinggal di kediamanku," Ucap tetua Qing Si tegas.


Zhou Fan tersenyum kecut, sedangkan pihak lainnya tersenyum puas.

__ADS_1


Pada akhirnya Zhou Fan harus pasrah tinggal di kediaman Patriark Qing.


Zhou Fan berpikir, di penginapan dia juga sendiri, lebih baik disini terdapat teman untuk mengobrol.


7 hari berlalu dengan cepat.


Selama tujuh hari Zhou fan selalu berkultivasi diselingi dengan berlatih tanding dengan Qing Manlu.


Dan selama tujuh hari Qing Yuwei selalu berkunjung ke kediaman Patriark klan Qing, siapa lagi kalau bukan Zhou Fan yang menjadi tujuannya.


Seperti sekarang mereka bertiga lagi duduk di sebuah taman di belakang kediaman Patriark Qing.


"Saudara Zhou, siang nanti adalah waktunya kau memberikan pelajaran kepada Yu San, kau ingat?" Tanya Qing Manlu.


"Tentu saja aku mengingatnya, kenapa kau berkata seperti itu?" Zhou Fan balik bertanya.


"Untuk menghadapinya kau tidak perlu menggunakan senjatamu, bahkan walaupun kau hanya mengandalkan fisik saja juga pasti akan menang." Qing Manlu berkata sambil melirik tubuh Zhou Fan yang tampak gagah meskipun baginya yang seorang pria.


Qing Yuwei tak berkomentar, dia hanya menganggukkan kepalanya setuju.


"Kita tidak boleh meremehkan lawan sebelum bertanding, meskipun aku sangat yakin mengalahkannya tapi aku tidak berpikir semuanya akan selesai begitu saja," Ujar Zhou Fan.


"Kau tenang saja saudara Zhou, informasi tentang duel antara kau dan Yu San sudah sangat hangat di seluruh kota. Banyak yang akan menjadi saksi untuk pertarungan kalian...,"


"Meskipun Klan Yu tidak mau mengakuinya, mereka tidak akan bertindak gegabah." Qing Manlu berkata yakin.


"Semoga saja..." Zhou Fan bergumam pelan.


Suasana latihan diselingi dengan bermacam candaan membuat latihan semakin tak terasa.


Waktu duel yang dinantikan semua orang akhirnya tiba...


"Bocah, apakah kau perlu bantuan. Aku akan memohon untukmu kepada Klan Yu kalau kau mau..." Qing Si mengejek Zhou Fan.


"Pak tua aku akan menikahi putrimu, aku harus melawannya, oh... apakah kau rela meninggalkan pill pill itu?" Zhou Fan manaik turunkan alisnya.


Beberapa hari terakhir Zhou Fan memberikan pill kultivasi untuk Qing Si, hubungannya dengan calon ayah mertuanya itu sudah sangat akrab, bahkan mereka sering saling mengejek satu sama lain.


Tak dapat di pungkiri, pill pill yang Zhou Fan berikan sangat membantu Qing Si mencapai tingkat grand master bintang 9 yang seharusnya perlu waktu lama untuk menerobos nya.


"Bocah, apakah kau tidak mengerti bercanda!" Qing Si menjitak kepala Zhou Fan.


Sekarang mereka berdua lagi di kediaman Qing Si, keduanya berniat berangkat bersama untuk ke tempat duel.


Qing Si menemani Zhou Fan, bagaimana dia tidak menemaninya, dia merasa bertanggung jawab atas terjadinya duel diantaranya.


"Ayo!" Ajak Qing Si kepada Zhou Fan.


"Wei'er tidak akan pergi, dia akan menjadi buah bibir jika terlihat disana, kau pasti tahu, seluruh kota sudah mengetahuinya masalah ini...." Qing Si menyadari gelagat aneh Zhou Fan

__ADS_1


"Bahkan tuan kota akan hadir untuk menjadi penengah kedua kubu," Ucapnya lagi.


Oh...


Zhou Fan hanya membuka mulutnya membentuk huruf O.


Mereka berdua keluar, yang ternyata di depan kediamannya sudah ramai anggota Klan Qing yang ingin pergi kesana juga, temasuk Patriark Qing dan juga Qing Manlu.


"Saudara Zhou apakah kau gugup?" Qing Manlu dengan cepat beralih ke sisi Zhou Fan.


"Sudah biasa aku menjadi pusat perhatian, anggap saja pahlawan sedang berjalan, haha...." Zhou Fan tertawa renyah.


Sedangkan yang lainnya memasang wajah datar mendengar ucapan narsisme Zhou Fan.


"Andai aku tak mengenalnya aku sudah berpikir dia adalah orang gila yang tersesat." Salah seorang anggota Klang Qing berkata dengan candaan.


Semua orang tertawa mendengar candaan orang itu, sedangkan Zhou Fan tersenyum kecut.


"Memang susah jadi orang berbudi luhur, jujur salah, berkata bohong apalagi," Oceh Zhou Fan tak jelas.


Krik krik...


"Ah, percuma berbicara dengan sekumpulan otak separuh." Zhou Fan meninggalkan tempat itu dan menuju tempat duel terlebih dahulu.


Tawa kembali yerdengar bahkan setelah kepergian Zhou Fan.


Zhou Fan melirik kebelakang, "Sungguh yang namanya keluarga!"


Tanpa sadar matanya berkaca, sosok kedua orang tuanya terlintas dalam pikirannya.


Andai dia bisa memilih, dia tentu akan lebih senang dibesarkan dalam klan seperti klanY Qing, hangat, ramah. Tidak seperti Klan Zhou yang selalu ada intrik di dalamnya.


Zhou Fan menggeleng kuat, berusaha membuang angan angannya.


"Seperti ini juga lumayan," Gumam Zhou Fan, setelah dipikir kembali dia lebih beruntung dari sebagian orang di luar sana yang bahkan tumbuh tanpa seseorang yang memberikan dia kasih sayang.


.


.


Di pusat kota...


"Dimana lawannya, apakah dia tak berani?"


"Cih, apanya yang duel. hanya mencari sensasi saja."


Suasana mulai riuh karena para penonton yang tak sabar, mereka sudah berjalan jauh demi hanya bisa melihat secara langsung sebuah duel yang sangat hangat diperbincangkan.


"Mohon pengertiannya, pihak lawan mungkin belum siap mengakui kekalahannya," Ucap pria tua yang tak lain adalah Patriark Yu.

__ADS_1


Sampai sebuah suara menggelegar ke seluruh penjuru taman kota, membuat mereka terdiam.


"Kalah menang siapa yang tahu?!"


__ADS_2