
Zhou Fan menatap kagum Rogue, gadis kecil itu benar benar lawan tangguh. Dia mengingat, jika bukan karena bubuk bunga kenanga, tidak mungkin dapat mengalahkan Rogue dengan keadaan yang masih terbilang baik.
Pria berpakaian merah mendengus lalu melesat ke tempat temannya, keduanya lalu berdiri, dan saling lirik. Mereka dengan kompak mengangguk, di tangan sudah tersedia sebuah bom sinyal.
Pria berpakaian merah lantas melemparkan bom sinyal tinggi ke atas. Saat sudah mencapai batas, bom sinyal meledak dan menyemburkan warna merah bercampur biru.
"Tunggu sampai saudara kami datang, kalian tak akan bisa lari. Hahahaha!" Pria berpakaian merah tertawa kesetanan.
Zhou Fan menyipitkan mata, dia lali mengeratkan genggaman pedang darah malam. "Itu jika kau masih memiliki waktu yang lebih lama untuk hidup."
Zhou Fan melesat dengan kecepatan tinggi, tangan kanan yang memegang pedang mengibas mengincar leher.
Trang!
"Kau kira aku akan diam? Jangan mimpi!" Pria berpakaian merah melompat menjauh sambil menempatkan golok di depan tubuh.
Zhou Fan menarik pedang, dia lalu menyeret kaki ke samping. Tangan kiri bergerak menyambar pinggang.
Phak!
Namun, tangan kiri pria berpakaian merah masih sempat menahan.
Sekali lagi Zhou Fan menarik tangannya, pedang darah malam ganti menyerang.
Trang..
Zhou Fan mendorong pedangnya, sontak hal itu membuat pria berpakaian merah terhuyung.
Dalam keadaan seperti itu, Zhou Fan tak tinggal diam.
"Tebasan ganda!"
Melihat siluet tebasan, pria berpakaian merah hanya menatap remeh. "Tidak untuk yang kedua kali!"
Dengan percaya diri pria paruh baya itu mengeluarkan jurusnya, api menyambar menghantam tebasan.
Namun, setelah siluet tebasan hancur, bayangan hitam melesat dengan sangat cepat.
"Salam perpisahan dariku!"
Crash...
Gludak!
Kepala pria berpakaian merah sudah terpisah tanpa dia duga, matanya melotot memancarkan ketidak relaan.
"Merah?!" teriak pria berpakaian hijau saat melihat temannya terbunuh.
"Kau jangan khawatir, pria jahat sepertimu akan mengalami nasib yang sama dengan saudaramu." Rogue mengangkat tangan membentuk cakar yang menghadap ke atas.
Lebah jarum berkerumun dan membantuk sangkar, tak sampai di sana, lebah jarum melesat dan menerkam pria berpakaian hijau sesuai arahan tangan Rogue.
__ADS_1
"Mati kau!" Rogue bergumam, tapi belum sempat lebah lebah itu menyentuh tubuh pria berpakaian hijau, sebuah lesatan tanaga dalam menghancurkan formasi.
Berz...
Lebah memecah dan kembali ke belakang Rogue, mata gadis itu menyipit dan memandang beberapa orang yang baru datang.
"Adik?!" Tiga pria paruh baya datang bersamaan, serempak mereka berseru memanggil saudaranya.
Pria berpakaian hijau menoleh, dan dapat melihat tiga saudara yang akhirnya datang. Ketiganya memakai pakaian beraneka ragam, mulai dari kuning biru dan juga hitam.
"Kakak, akhirnya kalian datang!" Pria berpakaian hijau lantas dengan cepat berdiri, meski tubuh terasa sakit tak menyurutkan niat untuk menghampiri ketiga saudara.
"Dimana adik ke-lima?" tanya pria berpakaian hitam, dia terlihat merupakan tertua diantara mereka. Wajahnya terlapisi brewok tebal dengan alis yang juga tebal.
Pria berpakaian kuning dan juga biru ikut mencari, tapi tak melihat orang yang mereka cari. Keduanya lantas melirik pria berpakaian hijau, seolah meminta petunjuk.
Wajah pria berpakaian hijau menjadi merah karena marah, dia lalu berbalik dan menunjuk Zhou Fan dengan tatapan mata tajam.
"Dia... Dia yang telah membunuh adik ke-lima!" Setelah menunjuk Zhou Fan, pria berpakaian hijau mengalihkan telunjuk ke tubuh yang terbujur di tanah.
Ketiga saudara lain seketika meradang, tak tahu lagi bagaimana wajah mereka yang kini sudah menggelap sempurna.
"Memang aku yang melakukannya." Zhou Fan berkata santai, seolah dia tidak dalam ancaman pertarungan.
"Sialan!"
Pria berpakaian hitam kuning dan juga biru maju menyerang Zhou Fan, tapi Rogue tak tinggal diam, dia memecah ketiga saudara itu dan menghadang pria berpakaian biru. Sementara Zhou Fan berhadapan dengan dua orang lainnya.
Mata Rogue menyipit tajam, dadanya terasa sesak hingga membuat kepalanya begitu panas. Ucapan pria berpakaian biru sangat keterlaluan, bagaimana bisa dia menyebut nama orang tua yang telah tiada.
Rogue membuka tudung yang menutup wajahnya, terlihat wajah seputih giok, dan juga rambut panjang legam.
Tangannya merentang ke samping, pria berpakaian biru yang tak tahu apa yang dilakukan gadis kecil itu hanya diam menunggu.
"Kau tak pantas menyebut orang tuaku!"
Srak....
Dengan amarah menggebu, Rogue mengepakkan tangannya ke depan, lebah di belakang seketika maju menyerang.
Pria berpakaian biru membuka mulut lebar, tapi dengan cepat dia bungkam dan melompat menghindar.
Bham...
Ledakan teredam terdengar menggema, tanah yang menjadi tempat pria berpakaian biru berpijak sepenuhnya luluh lantah akibat sergapan kawanan lebah.
Sementara itu, Zhou Fan berhadapan dengan pria berpakaian hitam dan juga kuning.
Pria berpakaian kuning meraih tongkat di balik punggung, sementara yang hitam mengepalkan tangan yang sudah bersarung logam.
"Serang!"
__ADS_1
Pria berpakaian hitam berteriak lantang, dengan komando demikian, pria berpakaian kuning menerjang dengan tongkat rank legend miliknya.
Trang...
Tongkat berbalik arah saat pedang darah malam terbentang menghalang.
Bham!
Tongkat menghantam bumi, kerikil kecil langsung melompat menghindar, sementara Zhou Fan melompat sambil mengibas pedang mengincar kepala.
Shut...
Crak!
Pedang berhenti sebelum menebas kepala, tangan logam menahan dengan satu cekalan.
Tak sampai di sana, pria berpakaian hitam memutar lengan Zhou Fan, dan mengeratkan cengkeraman.
Zhou Fan melepaskan pedang darah malam, kakinya bergerak melayang mengincar muka pria berpakaian hitam.
Melihat sepakan mengarah ke arahnya, pria berpakaian hitam sontak memundurkan kepalanya.
Memanfaatkan keadaan, Zhou Fan menarik tangan, kemudian menyambar pedang yang masing melayang.
Srak...
Satu goresan menggaris di pinggang. Andai pria berpakaian hitam tak sempat memiringkan tubuhnya, bukan tak mungkin perutnya sudah terkoyak tusukan pedang.
Pria berpakaian hitam mundur, kuning juga mengikuti apa yang dilakukan kakaknya. Keadaan biru juga tak jauh berbeda, dia dipaksa bertahan dengan kawanan lebah yang terus menyerang.
"Adik!"
Pria berpakaian hitam melirik ke tempat ketiga adiknya yang berdiri di tempat berbeda. Ketiganya lalu mengangguk serentak, seolah paham apa yang dimaksud kakaknya.
"Roh jiwa!" Keempatnya berteriak lantang setelah melukai jari telunjuk dengan gigitan.
Zhou Fan hanya menyimak dari tempatnya, dia tak tahu apa yang akan dilakukan keempat bersaudara.
Begitupun dengan Rogue, dia juga belum pernah mengetahui apa yang dilakukan mereka.
Ahk!
Arg!
Teriakan teriakan menyayat hati terdengar bersahutan dari kerumunan penduduk desa. Mereka terlihat sangat tersiksa, dengan wajah terus menghadap ke atas mereka berteriak kesakitan, dengan tangan menggaruk dada.
Sikap penduduk desa sontak membuat Rogue mengingat gambaran peristiwa yang tengah terjadi. Wajah cantiknya seketika pucat, dan mulutnya bergetar.
"Mereka sedang mengambil energi kehidupan orang yang telah menelan pill!"
Zhou Fan membulatkan mata mendengar penuturan Rogue, dia lalu mengeratkan pedang darah malam.
__ADS_1
"Tak boleh dibiarkan!"